
"I love you more..." balas Cla ketika sang kekasih mengucap tiga kata yang selalu berhasil membuat bunga-bunga di dalam hatinya bermekaran. Dan kupu-kupu ikut berterbangan di sekitarnya. Memberi keharuman dan keindahan yan tiada tara pada aura sang gadis jelita.
Perlahan Arsen melepaskan pelukannya pada leher Cla, membuat jarak keduanya mulai bisa di ukur. Bersamaan dengan itu, seorang waiters datang membawa menu makanan yang mereka pesan.
"Makasih..." ucap Cla pada pelayan itu.
Untuk pertama kali, dua anak muda yang dulunya bersahabat ini saling suap dari sendok yang sama. Saling berbagi makanan dan juga minuman yang memang berbeda rasa.
Sederhana, tapi itulah cinta. Saling berbagi tanpa perlu menyisihkan sendiri-sendiri makanan maupun minumannya.
Arsen selesai lebih dulu. Ia menyandarkan punggungnya kembali di sofa setelah menutup makan siang setengah sorenya dengan segelas air putih dan jus dingin.
Sementara Clarice masih menyantap makanannya yang tinggal sedikit dengan posisi sewajarnya ketika mereka makan di meja makan.
Dengan posisi itu, Arsen bisa dengan bebas memandangi bagian belakang tubuh Clarice. Rambut pirang yang di gerai bebas jatuh di punggung sang gadis.
Naluri kelaki-lakian nya selalu saja ingin membelai, menyentuh tubuh ramping di hadapan. Maka tangan kiri Arsen mulai beraksi tanpa di perintahkan. Meraba pinggang Cla, naik ke perut bagian samping bagian kiri. Tidak ada maksud melecehkan, tapi tu adalah wujud sentuhan yang wajar di lakukan dan di inginkan oleh sepasang kekasih.
Arsen beralih memainkan helai rambut Cla sesuka hati menggunakan jemari kokohnya. Membelai, memelintir di jari telunjuk dan juga membawa helaian rambut ke bibir dan menciumnya dengan mata yang terpejam.
Di mana keharuman bunga dari shampoo yang di gunakan Cla, sengaja ia hirup sedalam mungkin, supaya teringat sampai mereka bisa kembali bertemu setelah esok berpisah.
Merasai di cintai dan di kagumi, itulah yang tersimpan di dalam hati sang gadis.
Selesai makan dan minum, Cla mendorong punggungnya sendiri untuk ikut bersandar seperti sang kekasih. Dan Arsen sigap merentangkan tangan kirinya untuk kembali berada di atas sandaran yang ada di belakang pundak Cla.
"Terlalu kenyang!" gumam Cla tersenyum kikuk sembari menepuk pelan perutnya yang rata.
Jika biasanya banyak gadis malu-malu makan banyak, maka Cla justru apa adanya. Tidak peduli jika setelah ini sang kekasih protes karena ia makan terlalu banyak.
"Masih mau nambah?" tanya Arsen.
"No!" Cla menggelengkan kepalanya cepat. Menolak tawaran karena memang ia sudah tidak ingin makan lagi.
Untuk sesaat keduanya hanya diam. Sampai Arsen teringat sesuatu dan kembali membuka obrolan yang kali ini akan menjadi obrolan serius.
__ADS_1
"Yang?" panggilnya lirih.
"Hm?" Cla menoleh ke kanan menatap Arsen dengan menggunakan ekor matanya.
Kepala Arsen bergerak mendekati pundak sang kekasih yang terbuka akibat baju dengan lengan sabrina yang di kenakan. Dengan sengaja ia mendaratkan kecupan di pundak Cla yang putih nan mulus, membuat sang gadis reflek mengedikkan kedua pundaknya karena geli dan merinding.
"Arseeen!" pekik Cla.
Bukannya menghindar, Arsen memilih menyandarkan dagunya di sana, tanpa peduli jika Cla merasa geli akibat ulahnya. Karena sang pemuda justru menyukai hal itu.
"Besok aku sudah harus kembali ke New York..." ucapnya setengah berbisik di telinga Cla yang teramat dekat dengan bibirnya.
"Lalu?" tanya Cla melirik sang kekasih yang terlihat tengah bermanja di bahunya.
"Jangan lagi keluar dari rumah dengan baju seperti ini... tanpa aku..." lanjutnya sembari memberi sebuah kecupan singkat di leher Clarice yang langsung terkekeh geli, tapi juga... ya.. begitulah.
Semua pasti tau seperti apa rasanya ketika bagian tubuh yang teramat sensitif di sentuh ataupun di cium untuk pertama kalinya.
"Kenapa?" tanya Cla di tengah tawanya akibat geli yang terus saja di rasakan, karena masih ada dagu Arsen di pundaknya. "Aku biasa memakai baju seperti ini saat dengan Gwen. Gwen pun sama..." ucap Cla.
"Dulu memang tidak begini, tapi sekarang... aku rasa wajar. Aku sudah dewasa," jawabnya menatap sang kekasih dengan mata berbinar. "Hanya saja biasanya baju ini aku padu pakai celana ketat. Bukan rok mini..." lanjutnya setengah berbisik.
"Terus kenapa hari ini pakai rok mini?" tanya Arsen menatap lekat sang kekasih. "Supaya aku lebih terpesona?" goda Arsen dengan percaya diri. Bahkan senyum jahil dan nakal pun terlihat di sana walau sekilas.
"Apa sih!" sahut Cla salah tingkah dengan wajah yang memerah malu.
"Bilang saja iya... Dan aku akan bilang, terima kasih sudah mau berdandan untukku... Kamu memang teramat cantik hari ini..." bisik Arsen terdengar begitu syahdu dengan kembali mendaratkan sebuah kecupan di leher Cla lebih lama dari sebelumnya.
Yang mana kecupan itu berhasil membuat Cla semakin merinding di buatnya. Rasanya sungguh berbeda dengan ketika Arsen menciumnya di pipi pertama kali.
"Yang... malu!" bisik Cla mengusapkan lengannya di dada bidang Arsen yang menempel di lengan kanannya. Meminta sang kekasih untuk mengakhiri perbuatan yang enak di rasakan keduanya, tapi tidak enak di lihat oleh orang lain.
Arsen tergelak tanpa suara dan akhirnya kembali menarik kepalanya dari pundak sang kekasih.
"Jadi benar, hari ini memang sengaja dandan cantik untukku?" tanya Arsen lagi mengulum senyuman. "Kemarin sepertinya tidak sesempurna ini..." lanjutnya membelai rambut yang tergerai di pelipis sebelah kanan.
__ADS_1
"Menurut kamu?" tanya balik Cla yang masih malu-malu untuk mengakui jika ia hampir mengeluarkan seisi almari untuk bisa menemukan baju yang cantik menawan dan tidak terlalu seksi.
"Menurut aku... tentu saja iya..." jawab Arsen. "Betul 'kan?" ulang Arsen ingin sekali mendengar satu kejujuran yang membuat jantungnya sekarang berdebar karena merasa di prioritaskan.
"Hmm..." mengangguk. "Kamu memang benar!" jawab Cla membuang muka dari tatapan sang kekasih. Menggigit bibir bawahnya bagian dalam supaya tidak terlihat jika ia tengah tersenyum malu-malu.
Dan kita pasti bisa menebak seperti apa wajah Arsen ketika mendengar pengakuan sang kekasih. Bibir yang semula mengulum senyuman, kini semakin tersenyum lebar. Jemari kokohnya meraih jemari Cla yang berada di pangkuan sang gadis. Dan dengan lembut ia cium kembali buku-buku jari Cla.
"Thank you..." ucap Arsen lirih.
Cla menoleh, membuat tatapan mereka bertemu dengan dengan tatapan yang syahdu menghanyutkan.
"Tapi kamu perlu tau, Baby... Aku menerima apa adanya dirimu. Kamu tidak perlu lagi malu menerima panggilan video call dari ku walau kamu belum mandi sekalipun..." ucap Arsen.
Cla terkikik, mengingat kejadian heboh tadi pagi. Kemudian sang gadis mengangguk, mengiyakan permintaan sang kekasih yang entah akan ia wujudkan atau tidak.
"Dan mulai besok jangan keluar pakai baju seperti ini, ya? Aku tidak suka ada yang menatapmu lebih dari 30 detik." ucap Arsen.
"What!" pekik Cla terheran.
***
Waktu sudah semakin sore, sepasang kekasih mulai meninggalkan area Neo Soho Mall. Di dalam mobil putih milik Arsen, mereka tampak asyik berbincang dan mengobrol santai. Membicarakan masa depan yang meski belum tau akan seperti apa.
Sesekali keduanya tertawa, dan sesekali salah satu nya membuang muka karena malu. Entah karena suatu gombalan, atau karena tengah membahas masa lalu. Masa sekolah yang akan selalu terkenang, meski tidak ada kenangan yang indah bagi keduanya di tahun terakhir, yaitu kelas XII.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Cla yang menyadari jalan yang di ambil sang pemuda bukanlah jalan untuk pulang.
"Ke pantai..." jawab Arsen.
"Pantai?" tanya Cla membelalakkan matanya.
"hmm..." jawab Arsen mengangguk, melirik sekilas pada Cla yang menatapnya heran.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1