Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 75 ( Menyalakan Ponsel Setelah 2 Hari Di Matikan )


__ADS_3

Makanan sudah datang, tapi baik Cla maupun Arsen tak lantas langsung menyantapnya. Itu karena setelah memesan makanan, Arsen langsung mandi dan membuka laptop di atas meja makan dan mencoba untuk mengawali tugasnya agar nanti bisa selesai lebih cepat.


Sementara Cla, ia masih di kamar dan baru saja selesai mandi. Mengambil satu set baju Arsen yang bisa ia gunakan selama di apartemen.


Tidak pergi kemanapun, jadi baju rumahan milik Arsen sudah cukup untuk hari ini, pikir sang gadis.


Ia keluar dengan celana pendek berwarna putih milik Arsen. Lalu bagian atas, ia mengenakan tank top putih tali kecil yang ia gunakan kemarin saat datang, di tambah kemeja lengan panjang salur berwarna putih dan biru milik Arsen, dengan kancing yang tetap terbuka seluruhnya.


Ya, meskipun kebesaran, tapi setidaknya masih matching untuk ia gunakan di rumah maupun di sekitaran apartemen, dengan dalih bukan untuk berkencan.


"Aku tidak tau... Kenapa kamu selalu terlihat cantik walau baju-bajuku!" puji Arsen ketika Cla muncul dari balik pintu kamarnya.


"Dan kamu selalu saja memuji ku berlebihan!" balas Cla tersenyum salah tingkah sembari berjalan mendekat pada Arsen yang duduk di kursi meja makan yang berbentuk seperti mini bar. Sehingga kursi berukuran lebih tinggi dari pada kursi meja makan pada umumnya.


"Yang jelas itu kenyataan, Baby. Bukan gombalan semata!" ujar Arsen menarik pinggang ramping itu mendekat dan kini sudah berada di tengah kakinya dan bersandar pada paha kirinya.


Dan keduanya pun kini sama-sama menghadap laptop di atas meja makan.


Satu tangan sang pemuda melingkar di perut ramping Clarice. Sedang satu tangan lainnya masih berada di sisi kanan laptop. Jemari sang pemuda beraksi dengan memasukkan beberapa kode yang sama sekali tidak di pahami oleh Mahasiswi psikologi di dalam kurungan kaki dan tangannya itu.


"Keharumanmu selalu membuat ingatan ku melayang-layang, Sayang..." bisik Arsen ketika mendaratkan kecupan pada ujung kepala Cla. Dan berlanjut mengendus helaian rambut yang masih setengah basah setelah di hair dryer di dalam kamar mandi tadi.


"Kamu juga selalu wangi maskulin..." balas Cla dengan sebuah kecupan di pipi kiri Arsen.


Tersenyum dan Arsen menambah kekuatannya untuk memeluk lebih erat tubuh Cla, hingga punggung Clarice menempel sempurna pada dadanya yang bidang. Dan sentuhan itu bagai jembatan untuk menyalurkan rasa cinta yang ia miliki untuk sang gadis.


"Kepala mu tidak pusing melihat beginian?" tanya Cla mengamati apa yang tergambar pada layar laptop.


"Segala sesuatu kalau di kerjakan sendiri sejak awal tidak akan membuat pusing..." jawab Arsen menggunakan kata kiasan.


Cla mengangguk paham sembari mengamati jemari Arsen yang menari kecil di atas keyboard. Terkadang hanya tangan kanan saja, terkadang juga menggunakan tangan kiri yang mengunci tubuhnya untuk kemudian kembali mendekap perutnya.


"Sarapan dulu lah, sudah jam delapan." ucap Cla.


"Hmm... boleh!" jawab Arsen memberikan ruang gerak untuk sang kekasih menata makanan di atas meja.


***

__ADS_1


Tepat pukul 9 pagi, Arsen bersiap untuk berangkat ke kampus dan meninggalkan sang kekasih yang katanya siap menunggunya sampai ia kembali. Meski berat, yang namanya tugas, tetap harus ia kerjakan.


"Nanti siang aku akan memesankan makan siang untuk kamu supaya di antar kemari..." ucap Arsen sembari memakai tas ransel miliknya.


"Aku bisa beli sendiri di Cafe bawah..." jawab Cla. "Tidak perlu repot untuk perutku, Sayang!"


Arsen tergelak kecil, teringat akan pesan yang di sampaikan oleh Daddy Ken. Supaya tidak membiarkan Cla kelaparan.


"Jadi mau beli sendiri atau aku pesankan?" tanya Arsen mulai mendekati sang kekasih yang bersandar pada meja mini bar.


"Aku beli sendiri saja..." jawab Cla merentangkan tangan, seolah meminta untuk di peluk.


"Baiklah... kalau aku ada waktu kosong, pasti nanti aku telepon, Sayang!" sambut Arsen dan memeluk tubuh Cla untuk kemudian mencium pipi kanan dan kiri, kening kemudian berakhir dengan sebuah ciuman yang... sampai ke ujung lidah.


"Jangan lupa aktifkan ponsel kamu, ya?" Arsen mengakhiri dengan sebuah kecupan di kening Cla.


"Hmm... Siap!"


Arsen mengeluarkan kartu ATM miliknya dari dompet dan menyerahkan pada Cla. Membuat Cla menatap dengan penuh tanda tanya.


"Pin nya hari jadian kita," ucap sang pemuda.


"Beli apapun yang kamu mau saat aku belum pulang..." jawab Arsen. "Tapi jangan pergi terlalu jauh... Aku harus menjaga keselamatan kamu selama di sini, Sayang!"


Cla terkikik dengan niat Arsen yang luar biasa berlebihan menurutnya.


"Kamu pikir aku tidak punya uang?" tanya Cla tanpa bermaksud menolak kasar niat baik kekasihnya. "Uang tabungan ku masih cukup, Sayang! Bahkan untuk di sini lima bulan sekalipun."


"I know... Tapi aku mau selama kamu di sini, aku yang menanggung kebutuhan kamu," jawab sang pemuda. "Bukankah kamu sudah mengeluarkan tabungan kamu cukup banyak untuk bisa sampai di sini, Sayang?" tanya Arsen. "Aku lihat kamu menggunakan first class."


"Tau dari mana?" tanya Cla, namun sang pemuda hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Dan Cla sudah sangat paham maksud dari jawaban kekasihnya.


"Yaaahh! Pacarku memang hebat!" ujar Cla mencubit hidung mancung Arsen.


"Jadi nanti pakai ATM ini untuk beli apapun yang kamu mau." ucap Arsen memaksa Cla untuk memakai kartu miliknya.


"Okay! Thank you!" jawab Cla menerima kartu milik Arsen yang entah ada berapa digit di dalamnya.

__ADS_1


Anak orang kaya di mana uang jajan setiap bulannya bahkan melebihi kebutuhan normalnya anak muda, membuat uang di dalam rekening mereka menumpuk setiap bulannya. Dan itu pula yang di alami dua anak muda itu.


"Aku pergi dulu, Sayang! Bye!"


"Hmm... Bye!" Cla melepas kepergian sang kekasih dengan sebuah lambaian tangan lembutnya dan senyum manis di bibirnya.


Melangkah meninggalkan pintu apartemennya, Arsen berulang kali menoleh ke belakang sampai ia memasuki lift, dan melambai sebelum pintu lift tertutup dan ia di bawa untuk turun ke lobby.


Tidak pernah menyangka momen seperti ini akan ia alami.


Tidak pernah menyangka, akan begini rasanya berangkat kuliah dengan sebuah lambaian, senyuman serta ciuman dari seorang kekasih.


Di mana semua itu membuatnya ingin segera menyelesaikan tugas dan kembali bertemu dengan pujaan hati.


***


Setelah kepergian Arsen, dengan menahan gugup ia menyalakan ponsel yang sudah 2 hari lebih ia matikan. Ia tau akan banyak serangan dari netizen di sana. Tapi mau tak mau ia harus menyalakan ponsel itu demi menerima kabar dari sang kekasih yang sedang berada di kampus.


Lagi pula ia bisa pingsan kebosanan jika sampai berdiam di dalam apartemen seorang diri tanpa hiburan dari sosial media miliknya, sampai waktu yang tidak di tentukan.


Berbagai bayangan tentang jumlahnya panggilan maupun pesan yang masuk ke ponselnya sudah muncul sejak ia mengeluarkan ponsel dari tas ransel miliknya.


"Oh my God... kira-kira pertanyaan dan amukan seperti apa saja yang akan aku dapatkan....?" gumamnya menatap ragu pada layar ponsel yang mulai menunjukkan gambar apel.


Perlahan namun pasti, layar sudah menunjukkan home screen dengan wallpaper foto dirinya bersama sang kekasih.


Cla sampai menutup mata menggunakan kedua telapak tangannya, saking gugupnya untuk melihat apa saja yang akan muncul di layar ponsel yang secara perlahan mulai tersambung dengan internet.


"Pasti seperti sedang di bombardir peluru tentara!" gerutunya ketika mulai mendengar suara getar dan bunyi notifikasi untuk pertama kali.


Dan benar saja, suara notifikasi dan getar ponselnya terus bersahut-sahutan tiada henti. Entah berapa puluh notifikasi yang ia dengar sembari menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan. Dan juga menutup telinga menggunakan ibu jarinya.


Ketika sudah tak mendengar lagi suara ponsel sama sekali, Cla membuka sela kedua jari tengahnya untuk mengintip ponsel yang menyala di atas meja mini bar.


Dua aplikasi hijau sungguhlah di penuhi dengan angka notifikasi yang menunjukkan persatuan angka yang cukup membuat sang gadis membelalakkan mata.


"Ya Tuhan... ini lebih gila dari nomor admin penjual online!" gerutunya melihat angka 192 dari aplikasi WA.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2