
Gwen sengaja berjalan lebih cepat ke arah belakang panggung. Bahkan mendahului Dosen yang seharusnya berada di depan para peserta.
"Saya harus menemukan toilet secepatnya, Sir!" ucapnya ketika melintas di samping sang Dosen.
"Tidak lebih dari 5 menit!" jawab sang Dosen, karena setiap peserta hanya memiliki waktu 15 menit untuk menyampaikan presentasi dan menunjukkan hasil dari pemrograman mereka.
"Siap!" jawab Gwen sekenanya, yang penting ia harus segera sampai di belakang panggung sebelum tim Amerika Serikat naik ke atas panggung.
Gwen memasuki pintu yang mengantarkan peserta untuk bisa sampai di belakang panggung. Melihat waktu tim Jepang yang semakin menipis, membuat sang gadis harus berlari lebih kencang, mengingat jarak antara kursinya dan ruang tunggu yang cukup jauh.
"Aku menemukanmu, Sen! Aku pasti menemukanmu!"
Gerutu Gwen sembari berlari melewati lorong sepi yang hanya di jaga oleh satu panitia yang siap menyambut peserta tepat di tikungan menuju belakang panggung.
"Saya salah satu peserta dari Indonesia yang akan maju ke depan. Di mana ruang tunggunya?"
Mulut sang gadis tengah bertanya pada tim panitia, tapi telinganya tetap fokus pada apa yang terdengar di area gedung. Di mana Mahasiswa Jepang mulai berada di akhir presentasi.
"Sebelah sana!" ucap sang panitia menunjuk satu jalur yang terlihat sepi pula, namun di ujung sana, sekitar 20 meter terlihat dua laki-laki berambut pirang menggunakan almamater berwarna biru tua tampak mulai bergerak seolah bersiap untuk keluar dari ruang tunggu dan menuju panggung.
"Thanks!" seru Gwen dan kembali berlari menuju ruangan yang ia yakin tengah di isi oleh tim dari AS. Bersamaan dengan itu, tim Jepang mulai mengakhiri presentasinya tepat di detik terakhir. Dan suara pembawa acara pun sudah menyampaikan terima kasih, dan berlanjut memanggil tim dari Amerika Serikat.
"Hah! Hah! Hah!" nafas Gwen terengah ketika ia sampai di ruang tunggu yang mana... Ternyata sudah kosong.
Bertepatan dengan sampainya ia di sana, tertutup lah pintu keluar yang mengantarkan Mahasiswa yang bersiap untuk naik ke atas panggung.
"No!" pekiknya kembali terkesiap.
Gwen bergerak cepat mencoba untuk membuka pintu itu, namun sayang, pintu seolah terkunci dari luar tanpa bisa di buka olehnya.
Clek, clek, clek!
"Sial!" umpatnya.
__ADS_1
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Gwen langsung memutar arah dan kembali berlari di lorong yang sebelumnya sudah ia lewati. Dan kali ini Gwen benar-benar seperti mengalami De Javu.
Bagaimana tidak, selain melewati lorong yang sama, ia juga mendengar suara yang kemarin pagi ia dengar. Dan saat ini suara itu tengah berbicara menggunakan mic untuk melakukan presentasi.
"Arsen! Dia benar Arsen!" seru Gwen sembari terus berlari dengan detak jantung yang luar biasa kencang.
"Aku menemukannya, Cla!" gumamnya sembari terus berlari dengan dada yang berdebar.
Padahal bukan dirinya yang sedang mencari pemuda satu ini. Tapi entah, mungkin saking eratnya hubungan persahabatan antara dirinya dan Cla, membuat sang gadis ikut berjuang untuk bisa mempertemukan kembali cinta yang seharusnya menyatu sejak lama.
Di depan sana, ada empat orang yang tergabung dalam tim nya tengah berjalan berlawanan arah dengannya dengan dahi yang berkerut. Seolah bertanya, kenapa Gwen harus berlari kembali ke arah gedung dengan terburu-buru.
"Maaf, Sir! Di sana tidak ada toilet ternyata. Saya harus mencari toilet!" ucap Gwen dengan intonasi bicara yang sangat meyakinkan jika sang gadis memang tengah buru-buru buang air. Padahal tak sedikitpun sang gadis merasakan sesuatu ingin keluar dari dalam tubuhnya.
"Cepatlah, Gwen!" ucap sang Dosen dengan nada memaksa.
"Siap, Sir!" sahutnya sembari kembali berlari, hingga akhirnya ia kembali ke gedung yang menjadi tempat berkumpulnya para peserta.
Nafas terengah hebat, namun mata sang gadis langsung buru-buru menoleh ke arah panggung. Dan di sana, di atas sana, empat Mahasiswa dengan menggunakan jas almamater berwarna biru tua tengah menyampaikan hasil pemrograman yang mereka lakukan.
"Arsen..." lirihnya menatap tak percaya, ketika benar menemukan sosok yang selama ini di cari-cari oleh sahabatnya.
"Aku menemukanmu, Arsen!" gumamnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan. "Aku menemukannya, Cla!"
Rambut Arsen yang dulu hitam, kini di berwarna Cinnamon Brown. Di padu dengan kulitnya yang seputih susu, tentu membuat sang pemuda semakin menarik juga lebih dewasa. Dan memang cukup sulit untuk di kenali oleh orang yang baru mengenalnya. Sang pemuda benar-benar terlihat jauh berbeda dengan Arsen yang tengil beberapa tahun silam.
Sadar jika ia harus mengabadikan foto Arsen, segera Gwen mengeluarkan ponsel dari saku jas almamaternya. Cepat ia mengambil beberapa foto Arsen. Dan mengambil video sampai satu menit lamanya.
Namun belum selesai ia berniat untuk memperpanjang durasi video, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Nama Prof. Hardi muncul di bagian atas layar.
"Oh, my God! Situasi benar-benar tidak mendukung!" gerutunya kesal.
Dan mau tak mau ia pun mengangkat panggilan Dosen pendampingnya itu demi keselamatan nilainya. Dan mengakhiri video yang hanya berdurasi 1 menit 5 detik saja.
__ADS_1
"Helo? Ya, Sir?"
"Ini sudah lebih dari 5 menit, Gwen! Sebenarnya apa yang kamu lakukan?" tanya sang Dosen dengan sedikit mengintimidasi.
"Maaf, Sir! Saya akan segera kembali!" jawab Gwen sedikit kesal. Namun ia memang memiliki tanggung jawab yang besar akan kompetisi kali ini. Nama baik Indonesia ada di punggungnya saat ini.
"Cepatlah!"
"Yes, Sir!"
Panggilan berakhir, dan Gwen langsung kembali menatap ke arah panggung. Menatap dengan puas hati dan merencanakan untuk menyusun kalimat yang tepat ketika berbincang dengan sang pemuda nantinya.
"Cla pasti senang mendengar berita ini! Setelah tim ku maju, kita harus bertemu, Sen! Ada banyak cerita yang harus kamu dengar dariku!"
Ucap sang gadis menatap lega dengan seulas senyuman ke arah Arsen yang benar adanya. Dan yakin setelah ini akan ada kisah indah untuk kehidupan sang sahabat.
Tak menyangka, kemungkinan kecil untuk bisa bertemu dengan seseorang di luar negeri tanpa janjian sebelumnya, benar-benar terjadi padanya. Dan lagi yang di temukan Gwen adalah orang yang paling di cari selama ini.
Drrtt!
Ponsel Gwen kembali bergetar, sadar jika itu sudah pasti sang Dosen, Gwen langsung kembali masuk dan kembai berlari di lorong sambil mengangkat telepon Prof. Hardi.
"Sudah berlari, Sir!"
***
Arsenio Wilson yang mewakili ketiga temannya telah mengakhiri sesi dengan sangat baik. Pemuda yang dulu terkenal sangat tengil dan suka bercanda itu berdiri dengan rasa percaya diri. Wajah centilnya yang dulu memang sudah lama menghilang. Dan kini justru lebih sering terlihat dingin, di banding terlihat humoris.
Tim dari Amerika Serikat telah turun dan itu artinya tim dari Indonesia mulai menaiki panggung.
Sepanjang jalan menuju atas panggung, Gwen mengamati sekitar untuk menemukan Arsen yang ternyata sudah memasuki pintu keluar bagi peserta yang sudah melakukan presentasi.
' Sungguh tidak tepat! Semoga tim AS tidak langsung pulang! '
__ADS_1
Gumamnya dalam hati.
...🪴 Bersambung ... 🪴...