
Keningnya yang tertutup poni menyamping ke kanan menyentuh dada bidang lelaki di hadapan. Bukan tanpa sengaja, tapi memang di sengaja oleh sang lelaki.
Merasakan kedekatan yang luar biasa semacam ini untuk pertama kali, membuat sang gadis jelita semakin berdebar.
Dengan memantapkan hati, menguatkan mata untuk sanggup melihat ketampanan seorang Arsenio Wilson kembali, Cla akhirnya mendongakkan kepalanya. Kembali menatap lekat sepasang mata hitam kecoklatan sang pemuda.
"Cla?" panggil Arsen lirih, sangat lirih.
"Em?" Cla kembali menjawab dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
"Apa semua itu masih sama?" tanya Arsen dengan menahan gemuruh cinta dan rindu yang bertalu-talu di dalam dada.
Cla mengerutkan keningnya, seolah tidak paham dengan apa yang di bicarakan sang pemuda. Dan hal itu membuat Arsen yang semula sudah bisa menetralkan diri, kini menjadi gugup kembali.
"Maksudnya?" tanya Clarice.
Arsen mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit toilet dengan menghela nafas panjang untuk kembali menetralkan dirinya yang semakin gugup. Menyatakan cinta dan bicara tentang cinta bukanlah hal yang mudah untuk sebagian orang.
Kembali menunduk, menatap lekat sepasang mata indah. "Apakah... rasa itu masih ada untukku?" tanya Arsen lebih serius.
DEG!
Jantung Cla yang sudah hampir kembali normal kini kembali berdetak kencang. Satu pertanyaan yang membuat dirinya tidak tau harus menjawab apa. Sang gadis melirik kanan kiri kebingungan. Nafas pun bahkan ragu untuk keluar masuk paru-parunya.
Tangan yang semula mengunci tubuh Clarice kini kembali berayun ke atas, dan ...
"Cla?" panggil Arsen sembari menangkup wajah Clarice, menyentuhkan kedua telapak tangan pada pipi kanan dan kiri Cla, dan membuat wajah cantik itu menghadap wajahnya tanpa bisa lagi bergerak.
"Hm?" Cla menurut saja ketika wajahnya di hadapkan seperti itu. Meskipun detak jantungnya terasa semakin kencang.
"Apa yang pernah aku katakan padamu melalui surat adalah nyata. Dan sampai detik ini... perasaan itu tidak pernah berubah, Cla..." ucap Arsen serius. Tidak terlihat satu kebohongan pun yang nampak di sana.
"Meskipun sudah bertindak bodoh dengan meninggalkan semua tanpa berpamitan," lanjutnya. "Apa kamu masih memiliki perasaan yang sama padaku seperti yang di katakan Naufal?" tanya Arsen serius.
Cla menatap Arsen tegang, hingga ia menelan ludahnya dengan sangat susah. Ingin sekali menjawab bahwa perasaan yang ia miliki pun masih sama. Tapi lidahnya kembali tercekat oleh tatapan Arsen yang menusuk lembut hingga ke dalam relung hati yang terdalam.
"Aku mencintai mu, Cla..." ucap Arsen serius. "Aku mencintai mu sampai detik ini... Dan perasaan itu sangat sulit untuk aku lupakan selama kita berpisah..." jelas sang pembalap.
Cla menatap mata kanan dan kiri Arsen secara bergantian. Menelusuri, dan mencari kebenaran kalimat Arsen. Tak ingin ia kecewa untuk yang kedua kali.
__ADS_1
"Jawab aku, Cla... Please!" ucap Arsen. "Apakah kamu masih menginginkan aku?" tanya Arsen dengan dada yang kembang kempis mengatur nafas.
"Apakah.... kita... bisa bersama mulai sekarang?"
Jantung berdetak bagai baru saja berlari kiloan meter ketika menanyakan kalimat terakhir.
"Aku..."
CLEKK!!
"Cla! Kenapa kamu la..." hening sesaat. "Oh my God!"
Tiba-tiba pintu utama toilet terbuka dari luar dengan sedikit gebrakan kasar. Dan bersamaan dengan itu terdengar pula suara seseorang bertanya, namun tak terselesaikan dan justru berlanjut dengan sebuah pekikan kaget.
Dua anak muda yang masih dalam posisi yang sama, sontak terkesiap dan menoleh ke arah pintu utama toilet. Cla yang salah tingkah dan takut jika ada yang salah paham langsung memundurkan wajahnya. Menarik wajah dari tangkupan tangan Arsen, hingga tangan Arsen terlepas begitu saja.
Arsen sendiri membiarkan wajah Cla terlepas dari tangannya, karena ia sendiri khawatir jika ternyata di grebek orang. Mengingat ia memasuki toilet wanita bahkan tanpa izin siapapun.
Sementara seseorang yang mengagetkan dua anak muda yang sedang serius berbincang itu sampai detik ini masih terperangah dengan mulut yang terbuka lebar, juga sepasang mata yang membulat.
Namun saat menamatkan pandangan dan memastikan siapa yang sedang bersama Cla, sang gadis yang tak lain adalah Gwen itu tersenyum puas. Seolah ia pun mendapat kejutan luar biasa. Gwen tersenyum penuh makna, menatap Cla dan Arsen secra bergantian.
"Baiklah! Lanjutkan, anak muda! Aku sangat paham!" ujar Gwen yang bukan hanya mata dan bibirnya saja yang berbinar. Tapi juga hatinya ikut berdebar. Apalagi sempat melihat tangan Arsen yang menangkup wajah cantik sang sahabat.
"Tidak masalah! Aku paham! Siang ini, ruangan ini khusus untuk kalian!" ucap Gwen dengan senyum penuh arti. "Aku dan Naufal akan menjaga agar tidak ada perempuan mana pun yang memasuki toilet ini"! lanjutnya terkekeh.
"Eh! Tapi, Sen!" pekik Cla menoleh Arsen. "Kalau bisa jangan mengukir kenangan indah di toilet, ya!" sindir Gwen terkekeh geli.
"Gwen!" panggil Arsen sedikit kaku.
"BYE!" seru Gwen segera menutup pintu utama toilet sebelum Arsen berhasil melayangkan protes.
***
Gwen kembali ke meja di mana ada Naufal dan Victor dengan bibir yang tidak bisa menahan senyuman.
Dalam hati ia berucap. ' Sorry, Kak Victor! Sepertinya Cla memang bukan target yang tepat untuk kamu kejar! '
"Di mana Cla?" tanya Naufal menatap sang kekasih yang kembali seorang diri.
__ADS_1
Tidak langsung menjawab, Gwen kembali mengambil posisi duduk di samping Naufal dengan bibir yang benar-benar tidak bisa menahan senyuman.
"Kemana Clarice? Kenapa kamu malah senyum-senyum tidak jelas seperti ini?" heran Naufal pada kekasihnya itu.
Tersenyum penuh arti, sang gadis melirik Naufal dan Victor secara bergantian. Sementara Victor sendiri sangat menunggu jawaban dari Gwen.
"Clarice tidak bisa di ganggu untuk beberapa saat ke depan!" jawab Gwen dengan senyum penuh.
"Kenapa?" tanya Victor.
"Em..." Gwen melirik sang kekasih yang ia yaini juga tidak tau jika ternyata Arsen ada di Indonesia, dan sedang menemui Cla di toilet.
"Apa?" tanya Naufal tidak sabar.
"Cla sedang...." Gwen menggantung kalimatnya. Dan itu membuat dua laki-laki semakin penasaran tapi juga jengkel karena Gwen tidak cepat menjawab.
"Yang!" celetuk Naufal menatap gemas pada sang kekasih.
Namun detik berikutnya, sebelum Gwen menjawab pertanyaan Naufal, muncullah sosok yang sedang di bicarakan dari arah belakang Victor.
"Aaa..." Gwen menatap Cla yang muncul seorang diri dari lorong toilet dengan sorot mata berbinar.
Semua ikut menoleh ke arah lorong toilet, dan seketika mengerutkan kening mereka. Ketika melihat Cla yang terlihat kaku dan salah tingkah.
"Cla?" panggil Naufal heran.
Alih-alih Cla yang menoleh, justru sosok lain muncul di belakang Cla dengan aura wajah yang dingin dan tidak ada senyuman sama sekali.
"Sh***ttt!" seru Naufal mendelik begitu melihat sosok Arsen yang muncul dari belakang Cla dan kini berdiri di samping sang sahabat.
Sementara Victor menatap bingung pada Cla dan Arsen. Mengingat ia satu-satunya orang yang tidak mengenal Arsen di sini.
"Siapa dia?" tanya Victor lirih pada Gwen yang tak hentinya tersenyum melihat Cla dan Arsen.
"Dia teman kami sejak masih Senior High School." jawab Gwen seadanya. "Hanya saja... dia pergi sejak 3,5 tahun yang lalu."
"Lalu... Kenapa dengan Clarice? Dia sepertinya tidak nyaman..." tanya Victor.
Seketika Gwen tersenyum kikuk. Ia bingung bagaimana cara menjelaskan pada Kakak tingkatnya ini. Semua memang terjadi begitu mendadak. Dan tidak menyangka justru akan bertemu di saat momen seperti ini.
__ADS_1
"Kau memang benar-benar gila, Sen!" seru Naufal sengaja memutus obrolan Gwen dan Victor. Ia tau jika Gwen kebingungan.
...🪴 Bersambung ... 🪴...