
Jika pesawat putih bertuliskan Qatar Airways mengudara di langit menuju Bandara Indonesia dengan membawa penumpang dari tanah air yang pernah menjadi idola di sekolah, bahkan sampai detik ini, dan juga yang kini tumbuh menjadi lelaki yang mementingkan ilmu demi masa depan.
Maka di Indonesia, seorang gadis yang kini tumbuh menjadi perempuan yang semakin cantik dan dewasa tengah duduk di depan cermin sebuah salon kecantikan yang menjadi langganannya di Mall Metropolitan. Dengan izin yang di dapat dari keempat orang tuanya, kini sang gadis berambut hitam itu memilih untuk mengecat rambutnya menjadi pirang kecoklatan.
Frustasi karena harapannya untuk bisa bertemu dengan Arsen seolah pupus, sang gadis ingin mengubah penampilan seperti teman-temannya, dengan suasana yang baru. Tidak bermaksud ingin merubah diri menjadi tidak baik, ia hanya butuh terlihat seperti Clarice yang lebih ceria. Bukan Clarice yang terdiam hanya karena menunggu sesuatu yang tidak pasti.
"Bagaimana, Nona Clarice?" tanya seorang beauty therapist yang sudah cukup mengenal sang gadis. "Puas dengan hasilnya?"
Clarice menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Melihat rambut yang semula hitam kini menjadi pirang kecoklatan dengan bagian atas yang terlihat lebih gelap dari bagain bawah. Rambut itu tetap bergelombang di bagian ujung, sama seperti sebelumnya.
Tergerai indah di antara kulit putih dan mulus, tentu membuat sang gadis memang terlihat lebih fresh untuk situasi yang mana ia tengah bersedih, namun tetap harus berdiri tegak di atas kaki sendiri. Di antara gunjingan sebutan jomblo yang masih setia tersemat pada dirinya.
"Bagus! Sesuai dengan yang aku inginkan!" ujar Cla tersenyum menatap dirinya sendiri di depan cermin besar.
Setelah melakukan pembayaran, Cla keluar dari area salon kecantikan dengan rambut baru dan senyuman yang baru. Seolah beban di pundaknya telah turun sebagian. Hingga ia bisa melenggang dengan sangat santai dan ringan.
Cla berjalan seorang diri di area mall, tanpa Gwen yang saat ini tengah menikmati hari liburnya bersama Naufal entah kemana mereka pergi hari ini.
Berjalan dengan menggunakan flatshoes hitam dan baju santainya, sang gadis sama sekali tidak memperhatikan sekitar. Hingga...
"Clarice?" panggil seseorang dari sisi kanan, di mana suara itu berasal dari dalam sebuah Cafe yang berada tidak jauh dari lokasi salon kecantikan yang baru saja di masuki Cla.
Clarice menoleh ke arah sumber suara. Dan yang ia lihat pertama kali adalah sosok tampan yang akhir-akhir ini sering kali muncul di hadapannya secar tiba-tiba dan bahkan tanpa janjian terlebih dahulu.
"Hai, Kak!" jawab Clarice ketika melihat sosok itu berjalan mendekati dirinya.
"Sendiri?" tanya Victor ketika sudah sampai di hadapan Cla.
"Iya!" jawab Cla tersenyum ramah.
"Rambut baru, nih.." ucap Victor memperhatikan Clarice yang terlihat lebiih segar di banding kemarin saat ia bertemu Cla di salah satu toko buku terbesar yang ada di mall Metropolitan sekitar dua hari yang lalu.
"Hehe! Iya! Ingin sedikit berwarna saja..." ucap Cla menyisir rambutnya sebelah kiri menggunakan jemari tangan kirinya. Tentu sang gadis tak ingin mengatakan alasan dirinya merubah warna rambut.
"Oh..." Victor mengangguk dengan seulas senyum manis yang memikat pandangan para gadis. "Tapi kamu memang jadi terlihat lebih segar. Dan yang pasti... jadi terlihat lebih cantik..."
Tersenyum manis dan ramah. "Kakak bisa saja! Terima kasih, Kak! Aku jadi lebih percaya diri dengan pujian dari Mahasiswa yang paling di idolakan di kampus ini!" canda sang gadis jelita.
"Hemm... Apapun warna rambutmu, kamu akan tetap terlihat cantik!" Victor mengangguk dengan senyum yang tak bisa lepas ketika tengah bersama sang gadis.
Cla tersenyum manis menanggapi kalimat Kakak tingkatnya yang ia anggap cukup berlebihan. Karena sesungguhnya Cla tidak ingin berbesar kepala dengan pujian siapapun.
"Lalu... ini mau kemana? Atau mau langsung pulang?"
"Iya!" jawab Cla. "Jalan-jalan juga malas, kalau tidak ada Gwen!"
"Kalau kamu mau jalan-jalan... Aku bisa temani! Kebetulan aku juga sendirian!" tawar Victor berharap banyak tentunya.
"Oh, ya?" tanya Clarice mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Iya!"
"Kenapa ya, Kak? Kita sering sekali bertemu di luar, dan Kakak selalu sedang sendiri?" tanya Cla. "Padahal Kak Victor punya sahabat yang konon katanya selalu membersamai Kakak!" lanjut Cla heran.
"Hah?" pekik Victor tertegun. "Iya juga, ya? Kenapa kita sering sekali bertemu secara tidak sengaja seperti ini, dan aku selalu sendiri?" tanyanya ulang. "Atau mungkin karen akau jomblo?" tanyanya.
Terkekeh, Cla menanggapi kalimat sang senior dengan seulas senyuman lucu.
"Kalau Kak Victor mah sesungguhnya gampang banget! Tinggal tunjuk mau gadis yang mana. Aku yakin mereka tidak akan menolak apapun alasannya!" ujar Cla.
Victor terdiam sejenak. Ia menatap Cla dengan sangat lekat sejak Cla berucap demikian. Dan hati ia bergumam...
' Apakah jika gadis itu kamu... Kamu juga tidak akan menolak? '
Kalimat yang hanya terucap di dalam hati itupun akhirnya keluar hanya dengan sebuah senyuman pahit, dan seolah tengah mengharap sesuatu yang pasti akan palsu.
"Jadi pulang...atau mau jalan-jalan bersamaku?" tanya Victor. "Kalau tidak keberatan... mau ikut aku ke Cafe?" tanya Victor. "Kebetulan kemarin aku baru opening Cafe yang aku rintis bersama salah satu teman dari fakultas tata boga..." ucap Victor.
"Wow!" seru Cla dengan sepasang mata yang membulat. "Kak Victor sudah mulai merintis karis di dunia per-Cafean?" tanya Cla dengan polosnya.
"Sesungguhnya tidak juga..." jawab sang Mahasiswa pascasarjana. "Jadi dulu kami satu tingkat dan sama-sama menjadi panitia BEM. Kebetulan setelah selesai kuliah dia enggan ikut restoran besar sekalipun. Akhirnya aku yang keluar modal, dia yang membuat menu dan sebagainya. Dia juga akan terjun langsung sebagai Chef di sana." jelas Victor.
Cla mengangguk paham dan menatap kagum pada mereka yang sudah mulai merintis karis di tengah kesibukan menempuh pendidikan.
"Di mana lokasinya, Kak?"
"Mall Kelapa Gading!" jawab Victor antusias.
"Bagaimana?"
"Boleh... tapi tidak lama ya, Kak? Karena tadi aku cuma izin untuk pergi ke salon saja!"
"Ok!" jawab Victor. "Mau satu mobil dengan ku?"
"Tapi aku juga bawa mobil sendiri, Kak!"
"Nanti aku antar balik ke sini!" jawab Victor.
"Emmm... sepertinya akan lebih baik kalau aku bawa mobil sendiri, Kak! Karena kalau bolak balik rasanya akan memakan waktu yang lebih panjang. Belum lagi macetnya."
"Oh..." Victor mengangguk kecewa tapi juga tidak keberatan. "Ok! Aku akan mengikuti kamu dari belakang!" jawab Victor.
"Ok! Setuju!"
***
"Wow! Ramai juga, Kak!" ujar Cla ketika sudah memasuki area Cafe yang berada di lantai dua mall.
"Karena memang masih banyak promosi. Jadi pasti banyak yang mengincar harga promo..." jawab Victor tersenyum.
__ADS_1
"Iya juga sih!" gumam Cla. "Sampai tidak ada tempat duduk!"
"Kita duduk di ruang VIP saja. Karena sudah pasti sepi." jawab Victor.
"Hemm.." Cla mengangguk.
Dan keduanya pun memasuki ruang VIP yang bersekat dindin kaca bergaris. Dengan beberapa kursi dan sofa yang tersedia di dalam sana. Namun terletak di jarak yang cukup berjauhan antara satu meja dengan meja yang lainnya.
"Keren juga desain yang kalian siapkan untuk Cafe masa kini."
"Aku meminta teman dari fakultas desain untuk membuat desain Cafe ini. Sungguh dia sangat berbakat!"
"Enak ya! Punya banyak teman dari berbagai jurusan!"
"Hemm.." Victor mengangguk sembari duduk di sofa yang ia pilih. Dan menatap Cla yang yang masih melihat-lihat hiasan yang di tempel pada dinding.
"Selamat siang, Tuan Victor?" sapa seorang waiters yang memasuki ruang VIP. "Ini menu tersedia untuk hari ini." ucapnya menyodorkan buku menunya.
"Ok!" jawab Victor. "Kamu pilih dulu, Clarice!"
"Okay!"
***
"Besok ajak teman kamu ke Cafe ku, ya?" pinta Victor ketika keduanya sudah berada di area parkir untuk mengantar Cla mengambil mobilnya.
"Aku tidak janji, Kak! Tapi akau akan coba mengajak!" jawab Clarice.
"Iya! aku tunggu!"
"Hemm... terima kasih untuk traktiran hari ini, Kak!"
"Sama-sama!" jawab Victor. "Mau aku traktir setiap hari juga boleh!" gelak Victor namun dalam hati ia sangat serius dengan apa yang ia ucapkan.
Cla menanggapi hanya dengan sebuah gelak tawa tanpa suara. Serius atau tidak serius akan apa yang di ucapkan Victor, tentu Cla tidak berniat untuk melakukan itu. Atau sejenis memanfaatkan makan gratis.
"Bye, Kak!"
"Bye!"
Pergilah gadis itu meninggalkan area parkir Kelapa Gading Mall dengan mengemudikan mobilnya sendiri.
Dalam hati ia berangan...
...' Andai yang bersikap baik seperti ini adalah Arsen... Semua pasti akan terasa berbeda... '...
***
Tanpa di ketahui siapapun, pesawat yang membawa Tuan muda Wilson telah mendarat di Bandara International Soekarno Hatta ketika Matahari mulai bergerak turun.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...