
Cla menoleh kembali ke arah lobby setelah saling beradu bibir dengan sang kekasih. Namun gadis pirang yang tadi ia lihat dan di bilang kekasihnya sebagai Lady Charlotte, terlihat tengah memasuki lift.
"Kenapa dia kembali?" tanya Cla entah pada siapa, karena ia pun tak menoleh pada Arsen. "Bukankah tadi dia baru turun lalu bertemu dengan laki-laki yang tadi?" gumamnya lagi.
"Adakah yang penting dari dia untuk kamu, Sayang?" tanya Arsen.
"Ada!" sahut Cla cepat.
"Apa?"
"Aku ingin tau, sejauh apa dia berusaha mendekati kamu..." jawab Cla penuh seringai.
"Baby, please..." pinta Arsen memohon dengan sangat. "Sudahlah... jangan pikirkan dia, dan jangan berpikir negative thinking tentang aku dan dia."
"Aku tidak negative thinking, Sayang! Aku hanya ingin mengenalnya." keukeh Cla dengan senyum penuh seringai yang menyimpan misteri.
"Lalu, kalau sudah kenal, mau apa?" tanya Arsen.
"Aku mau dia tau, kalau Arsenio Wilson sudah punya Brighta Clarice Agasta!" serunya tersenyum culas.
"Oh my God..." gumam Arsen menghela nafas panjang. "Lagi pula dia sudah tau aku punya kekasih..."
"Aku tidak yakin dia percaya! Siapa suruh foto profile di buat seperti itu!" ujar sang gadis menyindir foto profil Arsen yang hanya sebuah foto di upgrade seolah lukisan.
"Jadi dia tidak tau seperti apa aku yang sebenarnya, kan?" tanya Cla. "Bagaimana kalau dia tak percaya kamu sudah punya aku?" tanya Cla menyodorkan wajahnya pada sang kekasih, dna terlihat begitu manja.
"Sekarang dia tau, kan?"
"Tau dari mana? Orang dia tidak kesini!'' dengkus sang gadis menoleh pada lift yang sudah tertutup.
Arsen hanya tersenyum kecil, tanpa menjelaskan pada sang kekasih jika Lady sempat melihat keduanya berciuman, bercumbu mesra.
"Kamu tidak berniat untuk memperkenalkan aku dengannya?" tanya Cla.
"Dengan cara?" tanya Arsen. "Mengundangnya makan malam bersama kita besok?" usul Arsen tak serius.
__ADS_1
"No! Aku tidak akan pernah mau mengundangnya dalam acara apapun juga!" sahut Cla bahkan dengan tangan yang terkepal menghentak meja. "Gadis seperti apapun yang menyukai mu, akan aku buatkan benteng setinggi dan sekokoh tembok besar China!" lanjutnya berucap dengan tangan yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Menggambarkan betapa besar dan kokoh tembok besar China.
Arsen tergelak mendengar kalimat panjang dari sang kekasih. Kepalanya menggeleng pelan, saking gemasnya dengan sang kekasih yang polos dan terlalu kekanak-kanakan dalam berpikir.
"Ayo selesaikan makanan kamu, Sayang! Sepertinya aku butuh istirahat." ucap Arsen.
"Hmm.. Aku rasa sudah cukup. Kita kembali ke apartemen sekarang saja!"
"Okay!"
***
Langkah kaki dari gadis berkulit putih dengan rambut pirang asli yang tadi meninggalkan lobby berhenti di depan sebuah meja belajar yang ada di dalam kamar dengan nuansa putih dan biru.
Lady, gadis itu berdiri di depan meja belajarnya. Menatap beberapa foto ukuran kecil yang di bentuk melingkar dan menempel pada meja belajarnya. Seolah menjadi alas ia belajar.
Ya! Alas belajar! Karena foto-foto itulah yang menjadi alasan ia untuk tetap semangat belajar. Menggali ilmu psikologi yang ia pelajari selama di New York.
Dari beberapa foto yang ada, ada setidaknya tiga foto berisi orang yang sama. Satu foto saat ia dan orang yang tak lain adalah Arsen itu tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan dan asyik bermain di area bermain. Foto itu di ambil ketika awal-awal pertemanannya dengan Arsen di semester dua.
Satu foto lagi di ambil ketika mereka makan siang bersama di salah satu restauran yang terkenal di New York, saat keduanya masih duduk di semester tiga.
Siang itu mereka hanya makan berdua, kemudian di lanjut dengan menghabiskan friday night bersama teman-teman yang lain di klub malam.
Momen yang tak akan pernah terlupakan oleh Lady. Meski itu menjadi momen terakhir Arsen ikut ke klub malam.
Foto terakhir adalah saat mereka dalam perjalanan liburan ke pantai, dimana mereka duduk berdua di dalam bus. Foto itu di ambil ketika mereka sudah berada di semester empat akhir. Tingkah konyol seorang Arsen terlihat jelas di foto ini.
Semua foto menunjukkan senyum dan tawa Arsen yang tulus tanpa ragu. Dan foto ketiga adalah momen terakhir dimana sang gadis bisa mengambil foto berdua bersama. Karena setelah itu, saat semester lima, ia seolah tak lagi mengenal pemuda berdarah Indonesia yang akrab dengannya itu.
Ia tak lagi melihat sisi Arsenio Wilson yang ia kenal di awal-awal tahun perkuliahan. Arsen bukan lagi pemuda yang hangat untuknya. Canda tawa yang sering di lontarkan sang pemuda lenyap seiring berjalannya waktu.
Dari berkurangnya senyuman di semester lima, kemudian memudar dan kini sudah tak pernah lagi Lady melihat senyum itu di bibir Arsen untuknya. Semua berubah 180 derajat, tanpa alasan yang jelas.
Berbagai alasan di lontarkan oleh sang pemuda untuk menghindari dirinya. Mulai dari semakin sibuk atas dua jurusan yang di ambilnya. Sampai rasa lelah dan malas keluar apartemen di akhir pekan. Dan masih banyak lagi yang tak bisa di jabarkan oleh sang gadis pirang.
__ADS_1
Dan satu yang membuat Lady bertanya-tanya adalah...
"Kenapa sejak dulu aku tidak pernah kamu izinkan untuk main ke apartemen kamu, Arsen?"
"Apa yang kamu rahasiakan dariku?"
"Dan kenapa sejak dulu kamu enggan mengunjungi apartemen ku?"
"Padahal aku sangat ingin menjamu kamu di apartemenku... Sama seperti teman yang lain..."
Lirih sang gadis bersama dengan satu tetes bulir air mata yang jatuh dan meluncur bebas hingga mendarat di atas meja kayu berwarna putih miliknya.
"Semua terasa singkat... semua terasa begitu cepat dan dengan sangat cepat kamu lupakan kebersamaan kita..."
"Apa dia alasan yang membuatmu memilih untuk meninggalkan Indonesia dan enggan kembali?"
"Tapi nyatanya dia datang, Arsen... Dia ada di depanmu..."
Gumam sang gadis mengingat apa yang ia lihat di depan matanya beberapa saat yang lalu. Di mana Arsen terlihat begitu intim mencium gadis di sampingnya. Hingga seolah tak menyadari keberadaannya.
"Semua ini terasa begitu menyakitkan, Arsen..."
Bola mata berwarna coklat muda kembali tergenang air mata dan bulirnya kembali jatuh hingga mengenai punggung tangannya yang putih dan mulus.
"I love you... But, I have to leave you..." gumam sang gadis pirang mengusap foto-foto kecil yang menempel di atas meja.
***
Sementara itu pemuda yang sedang di tangisi oleh gadis pirang justru tengah asyik dnegan sang kekasih. Dimana keduanya bingung harus tidur dengan bagaimana.
Arsen meminta Cla tidur di kamar dan ia di sofa. Namun sang gadis merasa kasian jika Arsen harus tidur di luar sendirian.
Sementara jika tidur berdua di kamar, Bagaimana jika tiba-tiba para punggawa Adhitama Group muncul di apartemen itu?
"Oh No...." rintih Cla gemas sendiri.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...