Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 82 ( Keliling NYC part 1 )


__ADS_3

Cla dan Arsen berjalan kaki menuju halte bus terdekat untuk sampai ke stasiun kereta api. Dan berlanjut berkeliling menggunakan kereta cepat.


"Yang?" panggil Cla ketika keduanya keluar dari area apartemen?"


"Hm?"


"Kamu sejak dulu se-cuek itu dengan Lady?" tanya Cla melirik sang kekasih di sisi kanannya. Tangannya kini melingkar di lengan sang kekasih.


"Ha?" tanya Arsen seolah tak paham dengan pertanyaan Cla.


"Apa iya, kamu sejak dulu cuek dengan Lady?" ulang Cla sedikit mengintimidasi. "Atau baru sejak saat bersamaku saja kamu jadi terlihat dingin dengannya?"


"Emm..."


"Jawab jujur!" sahut Cla sebelum Arsen berucap.


Tersenyum, "Ya... dulu kami memang berteman.. tapi dulu." jawab Arsen menoleh sang kekasih.


"Dekat?"


"Yaa... mungkin bisa di bilang begitu..."


"Akrab banget?"


Menarik nafas panjang, sang pemuda sesungguhnya sangat malas membahas masalah satu ini. Karena selalu membuat suasana hangat menjadi panas pada akhirnya.


"Bukankah aku sudah pernah bercerita?" tanya Arsen menghentikan langkah, dan membuat tubuh mereka saling berhadapan di trotoar.


"Kami memang pernah makan siang berdua satu kali, tapi kami tidak pernah berpacaran. Aku menjauhinya setelah semester empat berakhir..."


"Hanya makan siang?" tanya Cla.


"Hmm..." Arsen mengangguk. "Ya.. kalau pun pergi jalan-jalan juga tidak pernah berdua. Selalu bersama teman-teman yang lain..." jawab Arsen. "Dulu dia memang sering mengajak jalan berdua, tapi aku tau, ada yang berbeda dengan gelagatnya. Sejak saat itu aku mulau berpikir untuk mengakhiri kedekatan semasa itu.


"Yakin?" tanya Cla mencari sebuah kepastian yang membuat dirinya percaya jika Arsen tak pernah menaruh hati pada Lady, sampai ia kembali ke tanah air nantinya.


Arsen terlihat memikirkan sesuatu dengan melirik langit, namun seolah benar-benar terlupa akan sebuah cerita masa lalu.


"Aku sih yakin iya, Sayang!" jawabnya kemudian kembali menatap Cla, tersenyum manis sembari mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening yang tertutup poni sebagian. "Please ... jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak..." pintanya.


Cla menerima kecupan Arsen dengan senyum tipis. Namun dari senyum itu, ia menyimpan sebuah keraguan. Cla adalah calon sarjana psikologi. Ia juga belajar sedikit banyak tentang ekspresi seseorang. Dan ia mendapati sebuah keraguan dari jawaban Arsen.


Namun demi kebaikan dan lancarnya liburan hari ini. Cla memendam semua di dalam hati. Entah kapan, dia akan berusaha untuk mengungkap lebih jauh.


Karena sesungguhnya ia tak bisa tenang meninggalkan Arsen di New York, selama masih ada Lady yang tinggal satu gedung apartemen dengan sang kekasih.


Sebagai sesama Mahasiswi psikologi, Cla tau, jika tidak semudah itu Lady akan melepas Arsen.


Begitu juga dengan Lady. Ia yakin, tidak mungkin Cla benar-benar ramah padanya dan bersikap biasa saja seperti tadi.

__ADS_1


"Bus nya datang..." gumam Arsen merangkul pundak Cla dan masuk ke dalam bus bersama.


Turun di stasiun, mereka berlanjut menggunakan kereta cepat untuk bisa sampai di Manhattan.


"Padahal pakai bus juga bisa langsung sampai Central Park..." gumam Cla. "Lagi pula jarak apartemen dan stasiun tidak jauh. Kemarin saja aku jalan kaki! Kenapa sekarang naik bus?"


"Itu sudah biasa di lakukan orang-orang, Sayang... Kali ini kita harus mencoba sesuatu yang baru!" jawab Arsen tersenyum dengan di barengi sebuah kerlingan mata.


"Hihih!" kikik Cla. "Kamu selalu saja banyak ide jahil!"


***


Keduanya tiba di Central Park, setelah berjalan kaki dari stasiun terdekat. Taman seluas 3,41 km² dengan berbagai titik fasilitas itu, membuat semua pengunjung selalu betah dan ingin kembali lagi.


Apalagi musim gugur adalah waktu yang pas untuk mengunjungi salah satu taman yang menjadi icon kota New York itu.


"Kita harus berfoto di semua spot foto yang ada!"


"Ya... hari ini aku menjadi bodyguard mu, Tuan putri. Melangkah lah sesuka hati anda, Nona... Saya akan setia mengikutinya..." gurau Arsen tertawa kecil.


"Baiklah, bodyguard ku yang tampan, sekarang aku mau ke kastil!" tukas Cla ikut bergurau.


"Dengan senang hati, Nona!" jawab Arsen mengulurkan tangan, menawarkan sebuah genggaman hangat untuk Cla.


"Eh! Boleh kah, bodyguard menggenggam tangan Tuan putri?" canda Cla mengimbangi sang kekasih.


"Maafkan ke kurang ajaran saya, Nona!" Arsen berbicara dengan bijak. "Tapi bodyguard setampan saya, tidak akan membuat mereka curiga, jika hamba hanya seorang bodyguard!" jawab Arsen mendalami peran tidak jelasnya.


"Benar, Nona!"


"Baiklah, kamu boleh menggenggam tanganku!" ujar Cla menerima uluran tangan Arsen, dan kini keduanya bergandengan tangan. "Ingat! Jangan pernah lepaskan, jika bukan aku yang meminta!" ucap Cla.


"Tanpa di minta saya akan melakukannya, Tuan putri!" jawab Arsen mencium punggung tangan Cla dengan lembut.


"Beraninya bodyguard mencium tangan Tuan putri..." gumam Cla masih berperan.


"Hamba hanya memanfaatkan kesempatan yang ada, Nona..." jawab Arsen membuat keduanya kini menahan tawa di perut, supaya tidak tertawa terbahak-bahak.


Meski tak ada yang mengerti bahasa mereka, sedikit banyak orang pasti tau, jika sepasang kekasih ini tengah berbahagia dengan canda gurauan.


"Memang ada, Bu bos menjalin hubungan dengan anak buahnya?" tanya Arsen. "Setahuku... perempuan selalu mencari laki-laki yang berada di atas dirinya..." gumam Arsen ketika keduanya berjalan berdampingan di jembatan yang menarik pula untuk berfoto.


"Ada!" jawab Cla mengakhiri perannya sebagai Tuan putri.


"Pernah lihat?" tanya Arsen menoleh Cla. "Siapa?"


"Bukan pernah lihat... Tapi pernah baca!" jawab Cla.


"Di mana?"

__ADS_1


"Novel!"


Glodakk!


"Hmm.." Arsen menghela nafas panjang. Setidaknya rasa gemas pada Cla selalu bertambah setiap harinya.


"Hehehe!" kikik Cla. "Tapi lihat Daddy Ken!" ucap Cla.


"Kenapa?"


"Siapa yang kamu tentang seorang Kenzo Adhitama?" tanya Cla. "Tapi beliau justru mencintai Mommy ku, yang notabene nya adalah mantan istri anak buahnya!" jawab Cla. "Berasal dari kampung pula..."


"Hmm.. benar juga!" Arsen mengangguk.


"Ayo berfoto di sana, Sayang!" ujar Cla menarik tangan Arsen ketika keduanya sampai di ujung jembatan.


"Baiklah, Nona!"


Dan dua anak muda yang sedang di mabuk cinta itu akhirnya berfoto dengan berpindah-pindah tempat. Seperti saat mereka pergi kencan pertama kali, kali ini pun mereka berfoto dengan berbagai pose foto yang berbeda. Mulai dari lucu, juga romantis. Tak lupa mereka juga berfoto sendiri-sendiri.


Menggunakan kamera yang di keluarkan oleh brand kenamaan Fujifilm milik Arsen, keduanya tampak puas dengan setiap hasil gambar dari jepretannya.


Dari satu titik ke titik yang lain, keduanya tak terlihat kehilangan senyum sama sekali. Wajah ceria di tampilkan dengan begitu sempurna.


"Aku sudah lapar lagi..." gumam Cla ketika matahari mulai bergerak turun ke arah barat.


"Mau makan di mana?"


"Marea!" Cla menunjuk salah satu restauran yang harga setiap porsinya cukup menguras kantong.


Tapi bagi anak konglomerat seperti mereka, tentu tidak ada nada keberatan ketika Arsen menjawab...


"Okay!"


***


Ting!


Notifikasi masuk ke ponsel Cla, ketika sang gadis meletakkan benda pipih itu di atas meja setelah di mainkan.


Mengerutkan kening, sang gadis membaca pesan dengan ekspresi tak percaya.


"Ada apa?"


"Daddy mengirim uang!" jawab Cla.


"Lalu?" bingung Arsen. "Kenapa ekspresi kamu begitu?"


Sembari menyodorkan ponsel, Cla berucap...

__ADS_1


"Coba baca pesannya..."


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2