
Sejak kaburnya sang gadis dari kediaman sang Ayah sambung, tak terasa sudah tujuh malam ia menginap di apartemen sang kekasih.
Dan malam ini akan menjadi malam terakhir baginya untuk tinggal di apartemen sang kekasih. Esok pagi ia akan kembali ke tanah air dengan membawa sejuta memori selama di negeri paman Sam.
Berbaring berdampingan di kamar Arsen, sengaja di pilih untuk menjadi momen terakhir sebelum mereka kembali menjalani hubungan jarak jauh.
Malam ini mereka memutuskan untuk sengaja tidur bersama di satu-satunya kamar yang ada di sana. Dan ini akan menjadi momen ketiga kalinya bagi mereka untuk tidur bersama. Sebelum ini, kemarin lusa mereka pun tidur bersama, hanya saja di salah satu hotel yang ada di California untuk berlibur.
"Sayang?" panggil Cla yang berada di balik selimut tebal.
Begitu pula dengan sang kekasih. Pundak mereka bersentuhan dengan tangan Arsen yang masih memegang ponsel, sedang Cla baru saja meletakkan benda pipih itu di atas meja nakas.
"Hm?" jawab Arsen lirih tanpa menoleh pada sang kekasih, namun tangan kirinya reflek meraih jemari Cla untuk di genggam dan di usap lembut.
"Kamu... mencintai aku, kan?" tanya Cla menoleh ke sisi kanan.
"Ha?" Arsen kaget dan langsung menoleh sang kekasih di sisi kirinya. Menatap tak percaya dengan pertanyaan yang di anggap sungguh konyol.
"Setiap hari aku bilang I love you, cium kamu, peluk kamu, apapun yang kamu mau selalu aku usahakan. Masih tanya apa aku mencintai kamu?" tanya Arsen keheranan. "Tentu saja aku sangat mencintai kamu, Baby!" lanjut Arsen mencium pundak Cla dengan gemas, lalu kembali menatap layar ponsel yang ada di depan wajahnya.
"Tapi..."
"Apa?"
"Selama kita disini... kita hanya berdua," ucap Cla yang di angguki Arsen. "Di apartemen hanya berdua, liburan berdua, menginap di hotel pun kita juga hanya berdua..."
"Hmm.. lalu?" tanya Arsen tanpa menoleh sang kekasih. Karena tangan kanan dan matanya masih harus fokus meneliti hasil kerja pemrogramannya tadi siang melalui layar ponsel.
"Kenapa kamu tidak pernah..." Cla menggantung kalimatnya, kemudian ia gigit bibirnya bagian bawah. Ragu untuk bertanya lebih lanjut, juga malu membahas sesuatu yang ia bahkan belum paham sepenuhnya.
"Tidak pernah apa?" Arsen mulai menoleh penasaran pada Cla.
"Tidak pernah..." Cla menarik nafas dalam dan panjang dan membuangnya dengan gugup.
"Apa, Sayang? Katakan..."
"Tidak pernah ingin menyentuhku..." lirih Cla malu-malu.
Arsen mengerutkan keningnya sembari menjatuhkan tangan kanannya ke sisi tubuh. Tidak paham dengan apa yang di ucapkan sang kekasih.
"Bagaimana mungkin aku tidak ingin menyentuh kamu, Sayang! Setiap hari aku selalu memeluk kamu, mencium kamu... Ketika kita tidur bersama pun, aku tak sedikitpun melepas pelukan..." jawab Arsen. "Minimal kita selalu berada di bawah selimut yang sama..."
"Maksud ku bukan itu..." sahut Cla malu-malu meong tanpa berani melihat mata Arsen.
"Lalu?"
"Gwen tanya..."
"Apa?"
"Apa saja yang sudah kita lakukan selama tinggal bersama selain berciuman dan berpelukan?" jawab Cla dengan polosnya.
Arsen mulai paham arah bicara sang kekasih, hingga ia menarik nafas panjang dengan sedikit menahan gelak tawa. Ia bergerak untuk meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Setelah itu mengubah posisinya menjadi miring menghadap Cla dengan menjadikan tangan kirinya sebagai penyangga kepala.
"Lalu kamu jawab apa?" tanya Arsen menatap lekat sang kekasih, dengan menautkan tangan kanannya pada tangan kanan Cla.
Obrolan Cla dengan Gwen melalui saluran video call tadi siang ....
"Memangnya apa lagi yang harus kami lakukan selain berpelukan dan berciuman?" jawab Cla menatap sang sahabat di layar ponselnya.
"Memangnya Arsen tidak ingin melakukan apa-apa sama kamu?" tanya Gwen menatap heran pada sahabat polosnya itu.
"Melakukan apa?" tanya Cla bingung.
"Cih! Kamu itu terlalu polos, Cla!" sembur Gwen. "Rasanya tidak mungkin Arsen tidak nafsu melihat kamu setiap hari!" gumam Gwen mencibir. "Apalagi kalau kamu wangi!"
__ADS_1
"Nafsu bagaimana?"
"Haduuhh Clarice sayaang... kalau Naufal, aku pasti sudah di makan setiap hari! Secara, lama tidak bertemu dan kesempatan terbuka sangat lebar!" jawab Gwen tersenyum simpul. "Kapan lagi bisa tinggal berdua kalau tidak di luar negeri!" kikik Gwen dengan wajah memerah.
"Di makan bagaimana maksud kamu?"
"Claaa, listen me!" gemas Gwen.
"Hm!" Cla mengangguk.
"Kamu tau kan? Yang di namakan dengan s*x?" lirih Gwen yang tengah berada di dalam kamarnya.
"Ya, tentu saja aku tau!"
"Apa coba?"
Cla memiringkan ujung sebelah bibirnya, ingin langsung menjawab, tapi juga malu.
"Ayo jawab! Kita sudah 21 tahun, sebentar lagi 22 tahun. Tidak perlu malu-malu!"
"Berhubungan badan, kan?" jawab Gwen.
"Ya! betul! Kamu tau caranya?" tanya Gwen. "Minimal pernah lihat?"
"No..." Cla menggelengkan kepalanya.
"Jadi selama satu minggu ini... Arsen tidak menyentuhmu sama sekali, atau mengajak kamu menonton video-video seperti itu?" heran Gwen.
"No..." Cla menggeleng pelan. "Itukan bisa membuat kita kehilangan keperawanan!"
"Oh my God!" pekik Gwen, tidak bisa percaya jika Arsen juga sama polosnya dengan Cla. "Jadi kamu memang masih perawan sampai hari ini!" pekiknya.
"Kan belum menikah, Gwen!" sentak Cla.
Gwen menggelengkan kepalanya heran. "Dengarkan aku... Laki-laki kalau cinta banget itu pasti di selimuti nafsu menggebu. Dan kalau punya waktu dan tempat untuk berduaan dengan kekasihnya, pasti yang di minta aneh-aneh! Apalagi setelah mendapat ciuman, apalagi kalian di apartemen hanya berdua!" jelas Gwen.
"Ya... awal-awal mereka akan minta buat di bolehin pegang dada kita dengan menggunakan berbagai rayuan mautnya!"
"Dada?" tanya Cla membelalakkan matanya lebar. "Maksud kamu..." Cla menunjuk bagian dadanya. "P*yudar*?"
"Ya iyalah, Cla sayangku yang cantik tiada tanding!" jawab Gwen gemas.
Cla mengerutkan keningnya, mengingat segala sesuatu yang pernah ia lakukan dengan Arsen. Ia memang biasa mendengar Arsen ingin memakannya. Tapi tak pernah sekalipun sang kekasih meminta untuk menyentuh dada nya.
"Tapi dia tidak pernah menyentuh dadaku... Atau meminta izin untuk menyentuhnya." ucap Cla.
"Yakin kamu?" tanya Gwen tak percaya.
"Iya!"
Gwen menelan ludahnya dengan kasar, antara heran dan tidak percaya. "Padahal aku yakin Arsen lelaki normal!"
"Kalau tidak normal tidak mungkin berpacaran dengan ku, Gwen!"
Gwen tersenyum kecut sembari memutar bola matanya malas. "Jadi selama seminggu ini dia tidak memanfaatkan situasi dengan baik..." gerutunya melirik langit-langit kamarnya.
"Gwen... memangnya kalau saling mencintai hal seperti itu harus, ya?" tanya Cla seperti memelaskan keadaan.
"Bukan harus, Cla! Tapi itu sudah biasa di lakukan anak muda jaman sekarang seperti kita!" jawab Gwen. "Tapi kalau kalian memang bisa menahan untuk tidak melakukan hal itu sampai kelak kalian resmi menikah... ya... itu bagus, sih! Bagus sekali malah!" lanjut Gwen tersenyum.
"Apa mungkin... kalau Arsen tidak meminta hal seperti itu, dia tidak mencintai aku sepenuhnya?"
"Bukan begitu konsepnya, Sholehah!" gemas Gwen membulatkan matanya gemas.
"Hehehe!" Cla terkikik melihat ekspresi gemas sang sahabat.
__ADS_1
"Mungkin dia memang berjanji untuk melakukannya setelah menikah!"
"Aku harap begitu!" jawab Cla teringat beberapa kali Cla teringat akan kata nafsu laki-laki yang di ucapkan Gwen pernah ia rasakan saat mereka berciuman. Arsen bahkan beberapa kali berkata di lanjutkan di kamar, meski akhirnya tidak pernah di lanjutkan.
"Eh, Gwen!"
"Apa?" jawab Gwen sedikit ketus menahan gemas.
"Jadi, kamu..."
"Apa?" Gwen melihat keraguan di wajah Cla.
"Jadi kamu... sudah... tidak perawan?"
"Cla... Claa... berapa tahun kita bersahabat dan kamu juga tau seperti apa hubungan ku dengan Naufal. Masih mengira aku perawan!" gumam Gwen dengan santainya.
"HAAAH!!" Cla menutup mulutnya tak percaya dengan sepasang mata yang membulat. "Jadi kamu pernah melakukan hal itu?"
"Ya... Tapi hanya dengan Naufal! Itu juga karena dia pandai merayu dan aku mudah sekali terlena olehnya." jawab Gwen menghela nafas panjang.
"Kamu tidak merasa bersalah pada orang tua kamu?" tanya Cla masih menutup mulut.
"Sebenarnya...iya!" jawab Gwen. "Tapi semua sudah terlanjur, Cla... Dan aku hanya berani meminta maaf dari dalam hati..." lanjutnya bermuka sedih.
"Beruntung, Arsen tidak segila Naufal!" gumam Cla. "Kapan pertama kali kamu melakukan itu?"
"Emm.." Gwen tampak mengingat-ingat. "Rahasia!" lanjutnya terkikik.
"Ah, kamu! Selama ini kamu tidak pernah bilang!"
"Ya masa aku cerita-cerita orang! Rahasia kita, ya!" ucap Gwen menunjukkan jari kelingkingnya.
"Memangnya kamu yakin Naufal tidak cerita pada Arsen?" tanya Cla. "Kan sejak kami bertemu, mereka kembali berhubungan erat!"
"Kalau laki-laki mah, sudah pasti mulutnya ember kalau soal begituan!" gerutu Gwen.
"Gwen! Kamu ternyata nakal!" seru Cla.
"Hehehe!" Gwen terkekeh. "Yang penting dari awal sampai sekarang hanya bersama Naufal, tidak dengan yang lain!"
"Ya, jangan sampai seperti itu, Gwen! Menjijikkan sekali! Iyuuhhh!!!"
"Ya, sudahlah! Kamu boleh coba dengan Arsen kalau kamu sudah siap, dan yakin kalian berjodoh!" ucap Gwen. "Karena kalau tidak berjodoh, itu akan menjadi masa lalu yang kelam! Jadi harus hati-hati sebelum menyetujui melakukannya." pesan Gwen.
"Berarti kamu sudah yakin berjodoh dengan Naufal?"
"Ya, tentu saja!" jawab Gwen tersenyum senang.
"Aku senang jika kalian benar-benar berjodoh!" seru Cla.
Dan obrolan Cla dan Gwen siang itupun berakhir...
Arsen tersenyum lirih mendengar sang kekasih yang sedang menceritakan obrolan dengan sahabatnya. Karena sang kekasih terlalu lucu untuk menceritakan hal semacam ini.
"Jadi menurut kamu... kalau aku tidak meminta untuk melakukan hal itu, berarti aku tidak sepenuhnya mencintai kamu?"
"Aku tidak tau..." jawab Cla dengan polosnya. "Mungkin saja iya..."
"Hahaha!" Arsen tertawa terbahak mendengar jawaban sang kekasih yang sungguh polos. Hingga sang pemuda mendongak ke atas, menatap langit-langit kamar dengan tawa yang sulit untuk di tahan.
"Kamu menertawakan aku?" tanya Cla heran.
"Hahaha..." Arsen mati-matian menahan tawa akan reaksi dan setiap jawaban yang di lontarkan sang kekasih pada Gwen.
"Sayaaang!" Cla menarik-narikk kaos lengan panjang yang di gunakan Arsen karena sang pemuda membuang muka demi sebuah tawa yang di anggapnya mengejek dirinya.
__ADS_1
"Sayang! Kalau kamu terus menertawai aku, aku akan tidur di luar saja! Tidak mau sama kamu!"
...🪴 Bersambung ... 🪴...