Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 63 ( Rindu yang Menguar )


__ADS_3

Tangan Arsen bergerak dengan cepat untuk mencegah Cla kembali menutup wajahnya. Sudah lelah di hindari terus, sang pemuda sangat ingin menikmati kecantikan natural sang kekasih. Tanpa perlu make up yang menghalangi keaslian wajah sang gadis.


Tangan kanannya mengunci kedua tangan Cla yang hendak menarik selimut, tubuhnya pun reflek bergerak mendekat. Hingga kini wajahnya berada dekat dengan wajah Cla.


Tak lebih dari 20 cm saja jarak antara hidungnya dengan hidung sang kekasih. Menciptakan desiran aneh di dalam tubuhnya sebagai lelaki normal.


Ia sangat merindukan wajah cantik ini, ia sangat merindukan tubuh ini untuk dapat ia peluk dengan erat. Se-erat saat ia memeluk tubuh ramping ini di tepi pantai. Diantara angin malam yang membuat tubuh sang gadis kedinginan, hingga pelukan darinya menjadi penghangat yang luar biasa untuk sang gadis kala itu.


"Berhenti bermain petak umpet dengan ku, Baby!"


Arsen berucap dengan setengah mendesis dan suara yang cukup berat. Tawa di bibirnya sudah sirna, berganti dengan wajah serius yang menguarkan ketampanan maksimal. Tatapan matanya pun menghanyutkan pandangan Cla yang bahkan tak berkedip sejak wajah mereka berdekatan.


Bagaimana tidak hanyut, wajah tapan Arsen bagai lukisan yang indah dengan kisah seorang pangeran yang menyertai. Tidak ada jerawat, tidak ada noda hitam, dan tidak ada penghalang lain yang membuat wajah manusia satu ini berkurang kadar ketampanannya.


Di mana di saat itu juga suara teriakan Cla berhenti dan berganti diam seribu bahasa, begitu juga dengan tubuhnya yang membeku. Hanya bola matanya saja yang bergerak melihat satu-persatu dari ukiran ciptaan Tuhan di depan mata.


"Sejak tadi aku ingin sekali memelukmu... tapi takut kamu bangun karena terganggu olehku..." ucap Arsen dengan suara yang berat.


Kemudian ia gerakkan tangan kiri Cla untuk menyentuh dadanya. Meminta sang gadis untuk merasakan sesuatu yang berdetak kencang di dalam sana.


"Rasakan ini..." pinta sang pemuda. "Sejak tadi jantungku berdebar karena melihatmu hadir secara nyata di kamarku... Tanpa aku pinta."


"Tidak bisakah kamu merasakan jika debaran ini adalah nyata, Sayang?" tanya Arsen menatap lekat dan dalam pada wajah cantik di hadapan.


Cla tidak hanya merasakan jantung yang berdebar di dada Arsen. Tapi ia sendiri merasakan hal yang sama pada jantungnya. Atau bahkan mungkin lebih dari itu. Karena mendadak nafasnya terasa cukup berat untuk di tarik dan di hembuskan.


Apalagi tatapan sang kekasih, sangat menunjukkan jika ada cinta yang luar biasa besar di dalam sana.


Tak bisa berucap apapun ketika di tanya sedemikian banyak pertanyaan oleh sang kekasih. Hingga hanya sebuah anggukan kecil yang bisa ia berikan sebagai jawaban.


"I miss you, Baby..." lirih sang pemuda menatap semakin lekat pada wajah cantik Cla. "I miss you so much..." ulangnya lebih jelas sembari mengikis jarak di antara mereka.

__ADS_1


Dan apa yang memang sejak tadi di tahan oleh sang pemuda akhirnya tersalurkan. Yaitu mencium bibir tipis merah muda yang tidak terlihat di poles lipstick sama sekali. Tapi ini sudah sangat cukup untuk membuat Arsen merasa sangat senang.


Karena dengan begitu ia bisa merasakan keaslian bibir manis sang kekasih. Sungguh surga dunia yang sudah ia rindukan selama beberapa bulan terakhir.


Lama tak berciuman seperti ini, tak membuat Cla lupa bagaimana caranya menikmati sentuhan bibir yang selalu berhasil menghanyutkan dirinya pada dunia percintaan.


Tangan kiri Arsen yang semula menyangga kepalanya, kini bergerak pelan untuk menyelinap ke bawah leher sang kekasih. Dan menarik pelan leher itu agar bisa menekan bibir mereka semakin dalam.


Sementara tangan kanannya menyelinap di antara tubuh dan lengan kiri Cla, memeluk erat tubuh itu, hingga jarak dada keduanya terkikis habis.


Ciuman yang panas, hingga mata mereka tertutup akibat tubuh yang merasakan kenyamanan luar biasa. Seolah menemukan tempat terbaik untuk masing-masing pulang.


Desiran demi desiran membawa mereka lupa akan hiruk pikuk duniawi. Bahkan membuat mereka lupa, jika ada orang-orang dari negara asal yang sedang kebingungan dan sedang sibuk menghakimi dua orang pemuda atas menghilangnya sang anak gadis.


"Aku mencintaimu..." lirih Arsen di tengah ciuman yang mereka ciptakan. Ia lepas sesaat bibir yang terpaut tanpa menimbulkan jarak berlebih.


"Aku juga sangat mencintaimu..." balas Cla menggerakkan tangan yang semula menarik jaket Arsen di bagian pundak dan tulang rusuk, untuk kini merambat dan melingkar erat di leher sang pemuda.


Kembali, sang pemuda menyatukan bibir mereka untuk mewujudkan ciuman yang lebih panas dari sebelumnya.


Pelukan hangat nan erat untuk pertama kali mereka lakukan di ruangan tertutup. Di mana hanya ada mereka berdua di sana. Dan yang lebih dari itu ialah, mereka berada di negara yang bebas.


Tidak akan ada yang ikut campur walau mereka hanya berdua di dalam apartemen. Tidak akan ada orang yang mengganggu walau mereka melakukan hal lebih dari sebuah ciuman. Dan tidak akan ada penggerebekan tiba-tiba selama tidak mengganggu tetangga mereka.


"Jangan lagi marah lalu tiba-tiba menghilang..." ucap Arsen mengakhiri ciuman dengan sebuah senyuman manis. "Aku pusing memikirkannya, Baby..." lanjutnya berucap sembari membelai helaian rambut pirang sang gadis.


Jarak wajah mereka tak ebih dari 15 cm saja, dan itu membuat mereka masih sama-sama bisa melihat dengan jelas kesempurnaan sorot mata masing-masing.


"Kita berjauhan.. kamu kalau ngambek aku tidak bisa begitu saja muncul di hadapan kamu untuk meminta maaf, merayu dan sebagainya..." keluh sang pemuda masih memainkan helai rambut Cla.


Cla tersenyum salah tingkah. Selain kalimat Arsen yang menyentuh, juga karena sentuhan Arsen di rambutnya membuat sang gadis merasa di perlakukan dengan sangat manis.

__ADS_1


Maklum, gadis satu ini tidak pernah di perlakukan sedemikian manis oleh laki-laki. Jadi sentuhan sekecil apapun dari Arsen adalah satu kejutan yang pasti akan ia bawa sampai kembali ke tanah air.


"Maaf..." ucap Cla tersenyum malu-malu.


Untuk sesaat hanya tatapan mata berbinar mereka saja yang beradu. Tangan lembut Cla menepuk-nepuk gemas pipi sang pemuda. Sementara Arsen masih asyik dengan apa yang ia lakukan sejak tadi. Memainkan helai rambut, juga berulang kali mengecupi setiap sisi dari wajah Clarice.


Tanpa peduli dengan sebuah ponsel yang sejak tadi bergetar di atas nakas.


***


Sementara itu di Indonesia, dua pemuda yang baru saja di sandera telah di lepaskan sejak keberadaan Cla sudah di pastikan di temukan. Meski Arsen belum bisa di hubungi kembali setelah memberi informasi.


Entah, sedang apa mereka sampai tidak bisa di hubungi lagi!


Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran tiga serigala yang melepaskan buruan mereka pagi itu.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Papa Zio pada dua orang lainnya di ruangan itu.


"Aku rasa kita harus menjemputnya!" sahut Venom yang pasti ikut khawatir dengan gadis yang sudah ia kenal sejak bayi.


"Bagaimana menurut anda, Pak?" tanya Papa Zio pada Daddy Ken yang sejak tadi duduk membeku dengan menyentuhkan semua ujung jari-jarinya di depan bibir. Sementara tatapan matanya kosong ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja.


Meski ia Ayah kandung dari Clarice, tapi ia sangat sadar jika putrinya itu jauh lebih dekat dengan Daddy Kenzo dari pada dirinya.


Dan lagi, ia sangat sadar jika Daddy Ken selalu memberikan keputusan yang terbaik untuk putrinya.


Ditanya demikian, Daddy Ken memejamkan matanya dalam. Banyak hal yang harus di pikirkan dan di pertimbangkan oleh Daddy Ken.


"Kita jemput sajalah!"


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2