
' Belum apa-apa sudah bicara anak kita! '
Gumam Cla dalam hati. Meski menggerutu, nyatanya kalimat itu, khayalan itu berhasil membuatnya tersipu malu. Karena jika hari itu benar-benar tiba, maka sesuatu yang besar pasti telah terjadi.
Di mana sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelum ini. Sesuatu yang sangat sensitif untuk di bahas.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Arsen.
Cla hanya menggelengkan pelan kepalanya sebagai jawaban.
"Em..." Arsen menghentikan langkah kakinya, kemudian menghadap Cla ketika sudah hampir sampai di mobilnya.
"Hm?" tanya Cla menatap lekat kekasih hati di hadapan.
"Boleh tukar ponsel?" tanya Arsen.
Cla mengerenyitkan keningnya. "Untuk apa?"
"Aku hanya ingin memberikan perlindungan yang lebih bagus untuk ponselmu..." ucap Arsen. "Supaya tidak mudah di retas."
"Di retas?" tanya Cla.
"Ya... sekarang Victor memang hanya sering melacak mu... Tapi bisa saja kelak ia akan meretas ponsel kamu?"
"Meretas ponsel ku?"
"Hm!" jawab Arsen.
Cla tampak berfikir sekilas sebelum mengambil keputusan. "Baiklah!" jawabnya kemudian mengambil ponsel dari tas yang masih menggantung di pundaknya, kemudian menyerahkan pada Arsen.
Sedang Arsen sendiri mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menyerahkan pada Cla.
"Kode kunci ponsel ku hari ini!" ucap Arsen menyodorkan ponselnya setelah menerima ponsel Cla.
"Oh.. Okay!" jawab Clarice menerima ponsel Arsen yang satu tipe dan satu model dengan miliknya. "Kode ku 181818!"
"Kenapa membuat kode segampang itu?" tanya Arsen.
"Tidak tau, hanya asal saja!" jawab Cla seasal jawabannya. Padahal ada makna tersembunyi dari angka 18 yang di gunakan oleh Cla. "Tidak apa aku pakai ponsel ini?" tanya Cla.
"Kenapa tidak, Baby? Pakai saja sesuka mu.." Arsen mencubit gemas pipi Cla yang langsung tersenyum begitu jemari Arsen menyentuh pipinya.
"Tidak ada rahasia di sini?" tanya Cla dengan senyuman manja.
"Ada!" jawab Arsen.
"Apa?" tanya Cla menatap Arsen dengan mata yang tak berkedip.
__ADS_1
"Cari saja sendiri..." Arsen mencubit gemas hidung Cla dan menggoyangkan pelan. Sungguhlah ia ingin menggigit hidung itu jika saja tidak di sedang di sini.
"Ishh!" Cla menarik pelan tangan Arsen untuk terlepas dari hidungnya. "Tidak akan ada perempuan lain yang menghubungi kamu?" tanya seolah tengah menginterogasi kekasihnya.
"Ada!"
"Siapa?" Cla memicingkan matanya untuk masalah satu ini.
"Mama!" jawab Arsen dengan gelak kecil.
Cla mengerucutkan bibirnya karena merasa tengah di prank oleh Arsen. Dan itu memicu rasa gemas semakin terasa di dalam diri Arsen.
"Tapi hanya ada nomor kamu di sini, bukan?" tanya Cla. "Tidak ada nomor teman ku yang lain."
"Memangnya untuk apa mengobrol dengan teman yang lain. Cukup bicara saja dengan ku..."
"Yaa mengobrol santai seperti dengan Gwen, atau yang lain."
"Yang lain siapa?" tanya Arsen setengah sinis. "Victor?"
"Tidak!" sahut Cla cepat, tak ingin Arsen salah paham padanya. "Aku jarang mengobrol dengannya..."
"Baguslah!" jawab sang pembalap. "Nanti aku kirimkan nomor Gwen..." ucap Arsen.
"Okay!" jawab Cla semangat.
"Hm... Bye, Sayaang!" Cla menjawab dengan menyematkan satu sebutan yang membuat Arsen tidak jadi melangkah.
Satu panggilan yang membuat jantungnya bergetar hebat. Sebelum ini dia memang pernah berpacaran ketika masih Junior High School di Bandung. Tapi dulu hal itu terasa sangat biasa, mungkin hanya karena cinta monyet. Dan tak 100% tulus.
Dan kali ini, ketika Cla yang memanggilnya demikian, sesuatu benar-benar terasa bergetar di dalam sana. Di relung hati yang terdalam.
Arsen sedikit mengikis jarak, mendekatkan wajahnya pada Cla, dan berucap...
"I love you so much, Baby..." ucap Arsen dengan suara yang benar-benar terdengar merasuk jauh ke dalam telinga. Dan menembus hati Cla yang belum pernah terjamah siapapun.
"I love you too..." jawab Cla mentoel hidung Arsen dengan gemas. Ingin sekali di peluk tubuh gagah itu seperti tadi. Semua hanya bisa tertahan di dalam angan saja.
"See you tomorrow..." pamit Arsen.
"See You, too..." Cla mengangguk dengan memberikan sebuah senyuman untuk mengantar kekasihnya meninggalkan rumah nya.
***
Sementara di ruang tengah, dimana Mommy Calina dan Daddy Kenzo masih duduk di sana setelah punggung putri mereka tak lagi terlihat. Dan ketika suara pintu tertutup terdengar, Mommy Cal menoleh pada Daddy Ken yang masih menatap lurus ke arah depan, meski putrinya tak lagi terlihat.
"Kenapa, Mas?" tanya Mommy Calina pada Daddy Ken yang tampak diam melamun.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka putri kita sudah besar..." lirih Daddy Ken. "Dia sudah menyukai laki-laki. Sudah memiliki cinta untuk laki-laki selain aku dan Papanya..." lanjutnya tanpa menoleh sang istri. Ada gurat pilu yang terlihat di wajah tampannya, seolah baru saja kehilangan sosok yang teramat di cintai.
"Aku juga baru tau... Kalau ada laki-laki yang mengejarnya selama ini. Tapi dia memilih untuk sendiri dan tak menjalin hubungan apapun..."
Mommy Calina tersenyum mendengar kalimat suaminya. "Bukankah kita sudah menikah lebih dari 20 tahun?" tanya Mommy Cal menatap penuh cinta pada lelaki yang menolongnya di tengah malam ketika ia kabur dari rumah mantan suaminya dalam keadaan hamil muda.
"Semua terasa begitu cepat..." gumam Daddy Ken dengan seulas senyum.
Menoleh sang istri, menatap teduh wajah cantik yang masih terlihat cantik di usianya yang hampir setengah abad. Mengenang kembali berbagai memori yang sudah mereka lalui bersama sejak malam itu, hingga hari ini, di mana putri yang terlahir dengan pendampingannya itu sudah dewasa.
Dan kini di cintai oleh laki-laki yang menurut mereka cukup baik dan pantas bersanding dengan putrinya. Apalagi mereka sudah mengenal laki-laki itu sejak mereka masih remaja. Di mana masih di sebut teman atau sahabat.
"Kelak... jika mereka benar-benar sampai menikah, kita semua harus siap untuk melepasnya..." gumam Mommy Cal. "Sudah menjadi marwahnya, jika kelak ia di bawa pulang oleh suaminya..."
"Dan aku akan kehilangan satu-satunya anak perempuanku..." gumam Daddy ken terdengar cukup menyayat hati.
Konon, melepas anak perempuan untuk menikah, lebih berat ketimbang melepas anak laki-laki untuk menikah. Karena khawatir anak gadis yang di jaga setengah mati dari di dalam rahim hingga tumbuh dewasa tersakiti oleh laki-laki yang tidak berperasaan.
"Lalu.... haruskah kita membuat satu anak lagi? Siapa tau lahir perempuan... Jadi Daddy Ken tidak kehilangan anak perempuannya.." ujar Mommy Calina dengan tawa candanya.
"Hahah! Ide yang tidak buruk!" sahut Daddy Ken melirik nakal istrinya.
"Eh! Aku hanya bercanda! Kita sudah masuk dalam barisan manusia lansia. Sebaiknya kita tunggu punya cucu sajalah!" celoteh Mommy Calina tersenyum penuh makna.
Daddy Kenzo tergelak dengan kalimat istrinya, membayangkan diri di panggil Opa, Kakek, Eyang atau bahkan mungkin Grandpa.
"Kita akan jadi Kakek Nenek..." gumamnya di tengah gelak tawanya. "Punya banyak cucu dari ketiga anak kita!"
"Bukankah kita memang sudah berjanji untuk terus bersama sampai maut memisahkan?" tanya Mommy Calina.
"Ya! Dan kita sudah mendekati julukan baru..." sahut Daddy Ken tersenyum bahagia, karena takdir begitu baik dengan menghadirkan dua perempuan di dalam hidupnya.
"Jika saja tidak ada Clarice bersamamu, mungkin aku tidak akan tau rasanya mengasihi anak perempuan..." gumam Daddy Ken. "Meski aku tidak bisa menjadi wali untuk pernikahan nya kelak."
Menghela nafas panjang dan tenang, Mommy Calina menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, sembari meletakkan kepalanya di pundak sang suami yang masih kokoh meskipun sudah berusia setengah abad.
"Tapi Cla jauh lebih banyak mendapat kasih sayang dari kamu, Mas!" jawab Mommy Calina. "Sejak dia di dalam perutku, kemudian lahir hingga kini, ia masih lebih sering berada di sisi mu, bukan?"
"Hemm..." jawab Daddy Ken mengangguk sembari mencium pucuk kepala sang istri yang ada di sisi kirinya.
"Mas, apa menurut kamu Arsen sungguh laki-laki yang baik untuk Cla? Mengingat dia sudah lama tinggal di luar negeri... Aku khawatir dia terbawa pergaulan bebas di sana, dan berimbas pada putri kita..."
"Sepertinya Arsen tidak seperti itu," jawab Daddy Ken. "Di lihat dari tingkat kesibukannya di sana sebagai Mahasiswa di dua fakultas, aku rasa tidak akan ia punya banyak waktu untuk mengikuti pergaulan anak muda di sana.."
"Semoga saja begitu, Mas..." jawab Mommy Cal berharap hal yang sama.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1