
Dengan membawa gelas kaca berisi air, Cla berjalan di ruang tamu yang menyatu dengan pantry dan meja makan yang hanya memiliki dua kursi saja.
Yang ingin ia tau hanyalah foto apa saja yang di pajang oleh gadis yang mengejar kekasihnya itu. Apakah sang kekasih menjadi salah satu penghuni dinding atau meja seorang Lady Charlotte?
Dan apa yang ingin ia ketahui benar ia temukan di salah satu foto yang menempel pada dinding. Sebuah foto berjumlah 5 orang, di mana terlihat Arsen berdiri di sisi paling kiri, dan Lady di sampingnya.
Terlihat sangat jelas lengan Arsen merangkul pundak Lady. Dan tangan kanan Lady merangkul pinggang Arsen dari belakang dan satu tangannya lagi di pinggang laki-laki yang berdiri di tengah. Dan Cla seperti pernah melihat laki-laki itu melintas di depan pintu apartemen Arsen ketika ia iseng mengintip siapa yang lewat dari lubang kecil.
Dan lagi ia pernah melihat laki-laki itu bertegur sapa dengan Lady saat pertama kali ia melihat Lady di Lobby.
"ini Arsen?" tanyanya pada Lady.
Tanpa mendekat dan melihat dengan jelas pun, tentu gadis yang masih berdiri di samping meja makan bisa tau jika di dalam foto itu ada Arsen.
Mengangguk pelan. "Iya..."
"Kalian sedang di mana itu?" tanya Cla santai, namun dalam hati ia tengah berusaha untuk mencari tau apapun yang bisa ia ketahui.
"Di Brooklyn..." jawab Lady sedikit gugup.
"Brooklyn..." gumam Cla terlihat datar.
' Waktu itu Arsen juga menawarkan untuk berlibur ke Brooklyn... '
Lanjutnya dalam hati.
' Apa untuk mengenang... jika ia pernah ke sana bersama Lady? '
' Tidak! Tidak mungkin! Aku harus percaya pada Arsen! Hilangkan pikiran buruk mu itu, Cla! '
' Kamu terlalu berlebihan! '
Serunya dalam hati menepis segala pikiran buruk yang menyerang isi kepalanya.
Cla kembali berjalan lambat, hingga ia kembali menemukan bingkai yang juga ada Arsen di dalamnya. Tengah duduk bertiga dengan Lady dan gadis lainnya. Di mana Lady tampak duduk di tengah.
Tiga anak muda itu mengenakan baju tebal, dan tengah berada di suatu tempat yang di yakini salah satu area di Central Park pada musim salju.
"Kalian sering pergi berlibur bersama?" tanya Cla kemudian.
Mendengar pertanyaan itu, Lady ragu untuk menjawab. Khawatir, jika pertanyaan itu akan memicu percikan api di antara keduanya, atau justru akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Yang mana dengan sangat sadar masih mengharapkan Arsen, kekasih dari gadis yang sedang bertamu ke apartemennya tanpa ia undang.
"Semua foto yang ada Arsen di dalamnya adalah foto lama."
"Maksudnya?" Cla menoleh dan menatap Lady dengan datar dan santai. Meski jantungnya sedang tidak bisa di ajak santai.
"Ya... Sudah lama kami tidak berhubungan dekat.."
"Berhubungan dekat yang seperti apa?" tanya Cla mengintimidasi.
Lady merasa ada hawa panas yang di tahan oleh Cla. Sebagai sesama Mahasiswi psikologi, keduanya bisa dengan mudah membaca gelagat lawan bicaranya.
"Dulu kami bersahabat dekat, saat awal-awal kami masuk kuliah," Lady mulai bercerita sedikit. "Namun semua berubah, saat memasuki semester 5. Kami sudah tidak pernah lagi bersama... Apalagi berlibur seperti itu..." jawab Lady tersenyum kecut, menyimpan rasa kecewa di dalam dada.
"Ia seolah menjauhi kami, terutama aku..." lanjutnya terdengar sedih.
"Jadi Arsen juga jauh dengan teman-teman yang lain?"
__ADS_1
"Dengan yang lain tidak... Karena mereka masih sering terlihat pergi dan nongkrong bersama. Tapi dengan ku... sudah tidak pernah lagi..."
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak tau..." Lady menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian dulu pernah berpacaran?" tanya Cla pada akhirnya.
Sontak Lady yang sempat menunduk rapuh mendongakkan kepalanya. Menatap mata Cla yang menanti jawaban darinya.
"Tidak pernah..." Lady menggelengkan kepalanya pelan.
"Saling suka?"
Lady menelan ludahnya sendiri. Pertanyaan dari Cla seolah membongkar kembali apa yang sedang susah payah ia kubur.
"Hm?" tanya Cla menatap lebih lekat pada Lady, namun wajahnya sama sekali tidak terlihat marah dan sebagainya.
"Tidak!" jawabnya kemudian.
"Yakin?"
Menarik nafas panjang dan menghelanya berat, Lady mengangguk meski tidak yakin Cla akan percaya. "Kami hanya bersahabat dulu..."
"Setahuku... tidak ada hubungan persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan... Minimal salah satu pasti ada yang baper! Apalagi setiap hari bertemu dan bertukar cerita."
DEG!
"Kamu tau? Aku dan Arsen dulunya juga bersahabat.. Tapi ternyata kami sama-sama menyimpan perasaan saling suka." ucap Cla menjabarkan apa yang dia maksud. "Jadi apa kalian pernah saling menyukai dalam diam seperti aku?"
"Jujur saja... Aku tidak masalah..." lanjut Cla.
Merasa jawaban Lady kali ini berbohong, Cla berjalan mendekat. Sebelum sampai di depan Lady, Cla mengeluarkan sesuatu dari balik case ponselnya. Sesuatu yang ia simpan di antara bagian belakang ponsel dan casing bagian dalam.
"Aku menemukan ini..." Cla menunjukkan lembar putih kepada Lady. "Jika kalian tidak pernah ada apa-apa... kenapa ada foto seperti ini?" tanya Cla terlihat menahan sesuatu di dalam dadanya.
Ingin marah, tapi tak bisa. Ingin bersikap lembut dan biasa saja, juga sama. Tidak bisa. Sehingga dengan jelas ia menahan gempuran nafas kasar.
Jemari lentik Lady bergerak ragu untuk meraih lembar putih di bagain belakang, namun ia belum tau gambar seperti apa yang ada di baliknya. Hanya saja ia ingat akan satu foto luar biasa yang pernah ia cetak.
Begitu ia menerima dan membaliknya, jantung Lady bagai di hantam ribuan ton batu dari langit, hingga jantungnya berdetak kian lama kian kencang. Apa yang harus ia ceritakan tentang foto itu? Ia bahkan baru saja berbohong.
Bahwa tidak ada kata suka di antara keduanya. Jika sekarang berucap, apa kata dunia? Akankah ia di percaya?
"Jadi?" tanya Cla ketika melihat Lady hanya diam membisu. "Aku menemukan foto itu di dalam sebuah novel! Dan satu-satunya novel yang ada di dalam rak buku Arsen. Tapi Arsen bilang... dia tidak pernah membacanya."
Sebelum menjawab, Lady menatap lekat wajah cantik Cla. Berharap gadis itu dalam keadaan tenang, demi tidak adanya keributan di antara mereka. Dan semoga kejujurannya akan di percaya oleh kekasih dari lelaki yang ia sukai.
"Kami berkenalan saat pertama kali kami masuk ke kampus... Dia sangat baik, dan semua Mahasiswi baru, tentu tau jika dia paling tampan di antara yang lain. Meski wajahnya ketimuran, dengan rambut hitamnya yang khas." Lady mulai bercerita.
"Aku beruntung... dia berteman baik dengan salah satu teman ku dulu, dan itu membuat aku memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat. Dan semakin dekat karena kami tinggal di gedung apartemen yang sama, meski kami tidak pernah saling mengunjungi satu sama lain."
"Dari sekian banyaknya pertemuan, rasanya sangat tidak mungkin jika aku tidak menyukai pemuda sebaik Arsen... Maaf aku tadi sudah berbohong..."
"Dia sangat baik..." gumamnya sembari berjalan ke arah nakas, duduk di sofa sampingnya dan mengeluarkan sebuah novel yang sama dengan punya Arsen, dan mengeluarkan foto yang sama dengan yang di tunjukkan Cla tadi dari salah satu halaman.
"Kami semakin dekat setiap harinya, kami sering berangkat dan pulang kampus dengan berjalan kaki bersama. Dua tahun kita sangat dekat, tentu sudah sangat banyak cerita yang saling kami bagikan berdua."
__ADS_1
"Hingga aku tau, dia pergi ke New York untuk melupakan semua kenangan di Indonesia. Yaitu tentang... cinta..."
"Saat itu aku merasa... aku beruntung karena aku memiliki kesempatan dan aku siap untuk menjadi obatnya. Aku siap untuk menggantikan posisi gadis yang membuat Arsen patah hati. Hingga aku berikan semua yang bisa aku berikan. Hadiah di setiap ulang tahunnya, tiket konser dan sebagainya. Berharap Arsen akan menjadikan aku sebagai kekasihnya."
"Apalagi sikap Arsen sangat baik dan terlihat nyaman saat bersamaku... Dan hanya aku Mahasiswi yang paling dekat dengan dia."
"Dan foto ini..." Lady menunduk, menatap dua foto yang sama dengan ukuran yang sama. "Aku mengambilnya pada suatu waktu, sebelum akhirnya kami berjauhan."
"Hari itu.. Aku berhasil mengajaknya untuk makan siang bersama. Dan kami pun makan siang, hanya berdua, di mana saat itu aku memiliki niat untuk menyatakan cintaku lebih dulu... Tidak peduli jika dunia akan menertawai aku yang maju lebih dulu. Namun siang itu gagal, karena aku yang terlalu gugup."
"Dan setelah makan siang itu, kami pergi menonton konser, dimana ada Jorja Smith yang sedang membawakan lagu patah hatinya..." lirih Lady mengenang masa lalu. Ada senyum, namun terlihat sangat perih dan pilu.
"Lalu?" tanya Cla ketika jeda yang di berikan Lady terlalu lama.
"Sepertinya dia terlalu terbawa oleh suasana dan alur lagunya. Hingga ia tanpa sadar memelukku dari belakang, di antara kerumunan penonton." Lady kembali tersenyum perih. "Aku yang merasa sangat nyaman, tentu membiarkan Arsen melakukan apapun padaku."
"Hingga aku berpikir tak ingin melupakan momen itu. Jadi diam-diam aku mengambil foto ini dan mencetaknya."
"Dalam foto ini, dia memang benar memelukku seerat ini, Clarice..." lirih Lady menatap foto dirinya bersama lelaki yang membuatnya patah hati.
"Ketika ia mulai menjauhi ku... aku sungguh tak sanggup dan tak tau harus berbuat apa. Sampai akhirnya aku menemukan novel ini. Di mana jalan ceritanya sangat mirip dengan kisah cinta yang aku alami."
"Jadi aku membeli satu lagi yang baru, dan aku selipkan foto itu sebagai pembatas. Dan aku berikan padanya di hari ulang tahunnya waktu itu."
"Meski aku yakin... dia tidak akan pernah membuka novel itu. Dan tidak akan pernah tau, jika ada foto itu yang aku selipkan di halaman yang sangat mirip dengan keadaan yang kami alami..."
Cla menarik nafas panjang dan menghelanya dengan kasar. Sesungguhnya ia lega, setelah mendengar cerita dari dua sisi seperti ini. Dan apa yang membuatnya kepikiran sejak menemukan foto itu kini berangsur membaik.
"Aku harap... setelah mendengar ini, kamu tidak marah padaku maupun Arsen..." ucap Lady.
"Kita semua punya cerita masa lalu, dan seperti itulah masa lalu yang kami alami," lanjutnya. "Dan kamu harus tau, Arsen tak pernah lagi dekat dengan siapapun setelah menjauh dari ku. Sampai aku melihat dia menggunakan foto profil kalian setelah dia tak terlihat lebih dari dua hari."
"Aku tau..." jawab Cla.
"Aku tau diri, Clarice... Aku sudah berusaha untuk menjauh dan melupakan dari Arsen, hanya saja karena lingkungan kami sangat dekat, itu membuat kami masih sering bertemu secara tidak sengaja."
"Ya... aku ke sini juga ingin memberi tahu kamu.... Untuk berhenti mencuri pandang dan tersenyum manis pada Arsen! Dia sekarang sudah menjadi kekasihku... Sekecil apapun yang kamu curi, aku pasti tau!" ketus Cla dengan nada bercanda.
Tergelak tanpa suara, "Aku tau, Clarice..."
"Hm!" angguk Cla. "Maaf, aku memaksamu untuk mengubur perasaan mu..."
"It's okay! Aku sudah menyadarinya sejak lama." Lady tersenyum semanis mungkin.
"Good!"
Kemudian obrolan mereka berlanjut dari cerita ke cerita yang lain. Cla juga menceritakan, jika sejak awal dia sudah menaruh kesal ketika membaca pesan dari Lady di ponsel Arsen.
Hingga akhirnya, Cla pamit untuk kembali ke apartemen sang kekasih. Setelah merasa urusannya dengan Lady sudah selesai.
Keduanya berpisah di depan pintu apartemen Lady dengan sebuah senyuman dan pelukan hangat.
Setelah perginya Cla dari apartemennya, Lady kembali masuk ke dalam apartemen. Melihat ulang foto antara dirinya dan Arsen yang berjajar di atas meja.
tanpa terasa air mata jatuh menetes begitu saja. Membuat luka-luka dan kesedihan akan cinta yang patah kembali menguar di ruang tamu.
Masuk ke dalam kamar masih dengan mata yang basah, Lady melepas satu persatu foto yang ia tempel di atas meja belajarnya.
__ADS_1
"Good bye, Arsen..." lirihnya terdengar sangat pilu.
...🪴 Bersambung ... 🪴...