
Menggunakan mobil merah milik seorang gadis yang merupakan anak sambung dari salah satu konglomerat Ibukota, dua anak muda sedang dalam perjalanan menuju Bandara dengan sang lelaki sebagai pengemudinya.
Sudah melihat dan mengenali mobil mini cooper ini sejak lima tahun lalu, tapi baru kali ini sang pemuda masuk dan mengemudikan salah satu jenis mobil mewah yang ada di Indonesia itu.
Berbeda dengan Naufal dan Gwen yang sudah keluar masuk dari mobil itu, bahkan sejak masih sekolah dulu.
Itu semua karena kesalahpahaman dan perpisahan tanpa kabar di antara keduanya yang tidak masuk akal .
"Mau makan di luar atau saat di Bandara saja?" tanya Arsen ketika mobil yang berada di bawah kendalinya berhenti tepat di lampu merah persimpangan.
"Kalau di bandara saja, bagaimana?" saran Cla. "Supaya kamu tidak terlambat..." lanjutnya.
"Hmm..." Arsen mengangguk pelan dan dan menatap teduh pada sang kekasih.
Dengan lembut ia tarik pelan tangan kanan sang kekasih, menautkan jemari tangan kirinya pada jemari lentik Clarice. Dengan tatapan yang masih sama, ia tarik lembut jemari itu dan di dekatkannya pada bibir. Arsen mendaratkan sebuah kecupan lembut di punggung tangan sang gadis jelita.
Memejamkan mata, ia hirup dalam-dalam keharuman yang masih sangat kentara dari lotion yang di gunakan Cla. Keharuman ini kelak akan ia rindukan. Bahkan mungkin saat pesawat mulai terbang landas.
Wajah cantik merona malu-malu ketika merasakan dan melihat setiap perlakuan lembut yang di berikan oleh sang kekasih. Sentuhan yang lembut, dan kecupan dari bibir tipis sang pemuda yang terasa begitu lembut menyentuh kulit putihnya yang halus.
Belum puas tangannya di genggam dan di cium oleh sang kekasih, lampu sudah menunjukkan warna hijau, dan Arsen pun kembali melajukan mobil miliknya dengan tenang.
***
Duduk berdua di salah satu meja restauran yang ada di Bandara, Cla dan Arsen berdampingan seperti biasanya. Mereka baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Dan kini Arsen hanya menunggu penerbangannya berangkat. Di antara itu semua Cla mengajukan pertanyaan ...
"Kira-kira kapan kamu pulang?" tanya Cla melirik sendu pada sang kekasih.
"Aku tidak tau, Sayang..." jawab Arsen menyandarkan punggung pada kursinya, satu tangannya bersantai di atas sandaran kursi yang di gunakan oleh Clarice. Santainya tangan itu tidak sesantai raut wajahnya yang tampan.
Berpisah... satu kata yang berarti sangat menyesakkan karena memakan waktu yang panjang. Hingga menumbuhkan kata galau dan curiga. Tidak sesingkat saat mengucapkan kata itu.
Meskipun masih ada kata... pergi untuk menempa ilmu, dan pulang untuk cinta. Tetap saja hubungan jarak jauh tidak akan semudah yang mereka bayangkan saat ini.
Bahkan satu jam dari sekarang, pesawat komersial yang akan mengantarkan Arsen meninggalkan tanah air sudah akan terbang landas.
Dan sejak detik itu,keduanya tidak akan bisa bersentuhan sampai waktu yang tidak bisa di tentukan. Hubungan paling dekat yang bisa mereka lakukan adalah video call. Melepas rindu dengan cara yang semakin membuat rindu itu subur dan menjalar kemana-mana.
"Kamu tidak ada libur lagi?" tanya Cla penuh harap. "Bulan depan, atau bulan depannya lagi, mungkin?"
__ADS_1
Menarik nafas panjang, bahkan menggunakan mulutnya, ada sesak yang juga di tahan oleh sang lelaki. Ingin menjelaskan, tapi juga tidak tega dengan kenyataan tentang kesibukannya di negeri paman sam.
"Kamu tau?" gumam Arsen menyandarkan siku tangan kanannya pada meja makan, menahan pelipisnya untuk menoleh Cla yang berada di sisi kirinya. Sepasang mata menatap lekat dengan aura penuh cinta yang dalam.
"Bahkan jadwalku untuk dua bulan atau bahkan tiga bulan lagi sudah di tentukan, Baby..." lanjutnya dengan tangan kiri yang berayun untuk meraih jemari Cla di atas meja, dan mengusapnya dengan lembut menggunakan ibu jari.
"Sesibuk apa sih kamu?" tanya Cla terdengar sendu. "Kata Aunty Rania, bahkan kamu belum tidur jam 12 malam tadi..." lanjutnya menatap sedih pada lelaki di hadapan.
Arsen terdiam untuk sesaat, menatap wajah cantik sang kekasih dengan di penuhi rasa kagum, hingga jemari kekarnya membawa kembali jemari Cla ke bibirnya dan mengecupnya dengan lembut dan dalam.
"Setelah sampai di New York aku sudah harus kembali ke kampus. Dan sejak saat itu juga, mungkin komunikasi kita tidak akan lancar seperti saat ini," jelas sang pemuda. "Tapi aku berjanji! Aku akan selalu berusaha untuk membalas pesan chat dari kamu secepat mungkin!" jawab Arsen.
Cla menghela nafas berat, "Lalu semalam apa yang kamu kerjakan?"
"Hanya mengerjakan sebagian tugas kampus yang bisa aku kerjakan untuk saat ini..."
Cla menarik nafas panjang dan menghelanya resah. "Berarti besok kamu pasti bertemu dengan si pirang itu..." gumam Cla mulai cemberut.
Arsen mengeluarkan ponselnya, dan meletakkannya di atas meja. "Kamu masih ingat password nya, 'kan? Tanggal jadian kita..." ucap Arsen.
Cla menyipitkan pandangan matanya, memikirkan apa maksud dari sang kekasih menyerahkan ponselnya beserta password yang sesungguhnya masih sangat jelas di ingatan.
Tak perlu menunggu perintah kedua, sang gadis langsung menyambar ponsel sang kekasih. Karena berpikir, bisa jadi ini akan menjadi momen terakhir ia bisa memeriksa ulang ponsel Arsen, sebelum sang pemuda meninggalkan tanah air.
Yang pertama kali di lihat Cla, adalah layar home screen yang mana foto dirinya yang di cium secara tiba-tiba saat di Jakarta Aquarium kemarin. Cla tersenyum simpul melihat fotonya terlihat dengan sangat jelas tanpa di tutupi kotak aplikasi apapun.
"Kamu akan selalu terlihat cantik di layar ponselku!" Arsen memandangi layar ponselnya dan wajah sang kekasih secara bergantian.
"Dan kamu juga akan selalu terlihat tampan di layar ponsel ku!" balas Cla mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Arsen.
Arsen tersenyum, membalas kecupan Cla dengan sebuah cubitan gemas di pipi sang kekasih.
Cla berlanjut dengan aksinya untuk memeriksa ponsel Arsen. Dan yang ia buka selanjutnya adalah aplikasi chatting milik sang kekasih yang sudah pasti ada sesuatu di sana yang harus ia ketahui.
Hati terenyuh senang, ketika nomor ponsel dengan nama -e di tambah tanda love berwarna putih di pin, supaya selalu berada di barisan paling atas.
Selanjutnya pandangannya turun ke bawah, di mana ada nama prof. Francois. Cla membuka pesan itu, dan yang ia baca hanya lah tentang tugas-tugas dari dunia bisnis yang tak ia pahami sama sekali.
Keluar dari nama itu. Cla melihat pesan di bawahnya. Nomor tanpa nama dengan foto profil yang sudah pernah ia lihat sebelumnya. Ada pesan singkat bertuliskan see you yang masuk pukul 00.12 WIB.
__ADS_1
Cla melirik sang kekasih dengan sedikit memicing. Tentu Arsen paham maksud dari lirikan itu. Dan Arsen hanya tersenyum tipis, sembari mengedipkan satu matanya.
Cla langsung membuka chat itu, dan yang ia lihat adalah banyaknya pesan dari gadis pirang yang di anggapnya sebagai pesaing. Meski tak ada pesan yang di balas oleh Arsen, tetap saja Cla tidak suka ada yang menghubungi sang kekasih secara maraton seperti itu.
"Dia tinggal di mana?" tanya Cla sembari membaca berulang kali pesan itu.
"Kami tinggal di gedung apartemen yang sama."
Sontak Cla menoleh dan mendelik mendengar si pirang dan sang kekasih ternyata tingga di gedung apartemen yang sama.
"Hanya saja dia berada di lantai bawah. Dan aku di lantai teratas!" lanjutnya dengan senyum tenang.
"Jadi, potensi untuk kalian bisa bertemu cukup besar?" tanya Cla menatap penuh rasa cemburu pada ARsen.
"Tidak juga," jawab Arsen santai.
"Tapi kalian satu atap, bukan?" tanya Cla. "Jangan mencari alibi, ya!" keluh Cla.
Arsen menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. "Baby..." panggilnya lirih, sembari mendekatkan wajahnya pada Cla. "Kami memang berada di gedung yang sama dan atap yang sama. Tapi kami beda apartemen. Dan lagi lift yang bisa kami gunakan juga berbeda. Jadi kami jarang bertemu."
"Jarang berarti beberapa kali..."
Arsen tergelak tanpa suara, "Yang penting kammi tidak perna mengobrol seperti aku dan teman-teman, bukan?"
"Kamu yakin, tidak pernah mengobrol akrab dengannya?" tanya Cla.
"Hem.." Arsen mengangguk sembari mendaratkan kecupan di bibir tipis yang cemberut.
"Selama kita berjauhan, jangan berprasangka buruk, okay?" pinta Arsen serius. "Aku akan menjaga diriku dari gadis manapun."
"Hemm..." Cla mengangguk kecil. Meski diri tidak yakin tak akan cemburu dan berprasangka buruk.
"Dan kamu juga harus menjaga dirimu dari Victor-Victor yang lain."
Tersenyum tipis, "Siap, Tuan...." jawab Cla.
Tidak lama dari itu, suara pemanggilan penerbangan untuk Arsen terdengar. Dan hal itu membuat mau tidak mau sepasang kekasih itu harus berpisah.
Saling menatap dalam satu sama lain, masih di posisi yang sama, keduanya membeku oleh waktu bersama yang harus berakhir.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...