Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 44 ( Hati yang Akan Ku Tinggal )


__ADS_3

Dan sampailah mereka di tepi pantai yang sudah sepi pengunnjung. Karena matahari sudah sudah tidak lagi terlihat. Hanya sisa-sisa cahaya saja yang masih menerangi langit menjelang malam. Meninggalkan angin yang berhembus kencang dan udara yang akan terasa dingin, sesaat lagi tentunya.


Bertelanjang kaki, keduanya berjalan berdampingan menyusuri tepian pantai. Saling menggenggam jemari, keduanya menapak di atas pasir pantai yang sesekali tersiram ombak air laut.


Lampu-lampu yang berada di jalanan tepi pantai pun mulai menyala. Dan beberapa penjual di sana bahkan memilih untuk menutup lapak mereka. Karena saat malam sudah pasti pengunjung bisa di hitung menggunakan jari.


Dan di tepian pantai itulah cinta semakin tumbuh, seiring tubuh yang tertabrak oleh angin malam yang sama.


"Mengenai tujuh tahun yang di ucapkan lelaki tadi... aku hanya mengarangnya saja.." ucap Cla tiba-tiba. "Kamu tidak marah, 'kan?"


Arsen melirik langit, sejak tadi ia mengejar jawaban itu, tapi sang kekasih memilih mengalihkan pembicaraan. Dan kini... tanpa di tanya, ia bicara sendiri.


"Kenapa tujuh tahun?" tanya Arsen menoleh ke kiri, di mana gadis manis ada di sisinya.


"Aku hanya menghitung waktu kita berkenalan. Bukankah hampir tujuh tahun kita saling mengenal?" Cla melirik Arsen melalui ekor matanya.


Arsen tersenyum, "Dan kita menyia-nyiakan tujuh tahun untuk tidak bersama sejak saat itu..." sahut Arsen membalas lirikan Cla dengan lirikan yang sama.


"Kalau kita bersama sejak dulu, cerita kita tidak akan seperti sekarang, bukan?" tanya Cla.


"Ya!" jawab Arsen menatap ke kanan, ke arah lautan lepas yang sudah tak lagi terlihat kebiruannya, di mana rembulan mulai terlihat kecil di sana. "Mungkin aku akan menjadi Mahasiswa Binus seperti kamu. Dan kamu tidak perlu mengenal idola kampus itu!" lanjutnya selalu kesal setiap mengingat satu orang itu.


Cla mengangguk dan tergelak kecil, "Dan bisa jadi sudah tujuh tahun kita berantem, damai berantem lagi, damai lagi. Seperti Naufal dan Gwen."


"Yang terpenting bisa seperti mereka, tidak pernah ada kata putus!" sahut Arsen.


Cla mengangguk, membenarkan kalimat Arsen, karena memang Gwen dan Naufal tidak pernah putus meski sering berselisih paham. Apalagi akibat dari LDR yang mereka jalani selama 3,5 tahun ini.


Arsen menghentikan langkah kakinya, dan Cla reflek melakukan hal yang sama. Arsen menarik lengan Cla, mengarahkan tubuh ramping itu untuk berhadapan dengan dirinya.


Dengan posisi saling berhadapan, Arsen meraih kedua tangan Cla, mengusap jemari sang kekasih dengan lembut. Menatap lekat wajah cantik yang meski belum mandi di sore hari itu tampak tetap cantik sampai saat ini.

__ADS_1


"Dan kita juga harus seperti mereka," ucapnya menatap lekat manik hitam yang pasti akan ia rindukan. "Kita harus saling percaya... Jangan mudah berpikir bahwa salah satu dari kita tengah berkhianat maupun berbohong... Apalagi kita akan seperti mereka, LDR sejak hari ke tiga kita menjalani hubungan serius ini." ucap Arsen dengan tatapan mata yang tak beralih sedikitpun dari sepasang manik hitam.


Cla yang seperti tengah di ceramahi pun membalas tatapan sang kekasih dengan tatapan sendunya. Mengangguk setuju dengan aturan atau lebih tepatnya komitmen yang di bangun oleh sang kekasih.


"Di sana banyak gadis pirang yang cantik. Kamu yakin, tidak akan macam-macam dengan mereka?" tanya Cla dengan tatapan sedikit tajam namun ekspresi wajahnya penuh rengekan manja. Dan itu membuatnya kembali mengingat gadis pirang yang menghubungi ponsel Arsen sejak semalam.


Arsen terkekeh, ia pun teringat saat ia meretas ponselnya ketika di pegang oleh sang kekasih. Pastilah itu yang di maksud oleh sang kekasih. Si pirang yang sejujurnya sudah di kenal Arsen sejak semester pertama.


"Kalau aku niat bermian-main dengan gadis pirang, pasti sekarang aku punya banyak teman kencan di sana," jawab Arsen. "Tapi aku tidak pernah menginginkan mereka. Jadi hubunganku dengan mereka hanyalah sebatas teman kuliah."


"Bahkan aku lebih sering mengabaikan mereka, baik di kampus maupun di chat," lanjut sang pemuda sejujur mungkin.


Namun senyum di bibir sang gadis rupanya belum terbit juga. Alias masih cemberut dan seolah tidak percaya dengan kata-kata Arsen.


"Tapi yang namanya kumbang yang tampan, terbang kemanapun... pasti ada saja bunga yang menggoda..." ucapnya sengaja memancing perasaan sang kekasih. Adakah rasa cemburu jika ada gadis yang mendekati dirinya.


Sontak jemari Cla yang semula di biarkan di genggam oleh Arsen di tariknya begitu saja dan di letakkan di pinggang kanan dan kiri. Mata lentik membulat tajam menatap wajah tampan yang justru tersenyum tanpa rasa bersalah.


Arsen tergelak dan terpingkal melihat wajah cantik itu kini mengomel bukan kepalang. Bibir yang maju, mata yang memicing tajam dan nafas yang terlihat naik turun.


Tangan kekar Arsen berayun, mendekati wajah cantik untuk menangkupnya di tangan. Namun siapa sangka, gadis itu justru melangkah mundur satu langkah, sehingga sentuhannya meleset dari sasaran dan berakhir dengan merengkuh udara.


Gelak tawa Arsen mulai berkurang, berubah menjadi senyum tipis dan tatapan mata yang teramat syahdu.


"Aku tidak bisa membayangkan, pasti banyak gadis pirang di sana yang berusaha menyentuhmu! Atau bahkan menciummu!" cerocos Cla dengan bayangan yang mulai kemana-mana.


"Kalau ada satu gadis pirang yang sering mengirim chat pada mu, itu artinya dia juga sedang berjuang mendapatkan hatimu, dan bersaing dengan gadis pirang lainnya, bukan?"


"Salah satunya yang mengirim pesan padamu semalam! Aku sudah membacanya." cerocos Cla terus berlanjut. "Di cantik, putih, mulus dan mempesona dengan rambut pirangnya!"


Arsen mengulum senyuman gemas dengan berbagai kalimat yang di ucapkan oleh Cla. Sedikit banyak, apa yang di ucapkan Cla memang ada benarnya. Hanya saja ia tidak pernah merasa senang ketika banyak gadis pirang berusaha mendekati dirinya.

__ADS_1


Tidak memungkiri terkadang ia juga merasa bangga, ketika banyak yang memperebutkan sisi kirinya untuk ia genggam tangannya ketika berjalan bersama.


"Sudah?" tanya Arsen lirih, namun sang gadis hanya diam saja.


Merasa Cla sudah selesai bicara, Arsen maju satu langkah, hingga jarak mereka kembali dekat. Dengan gerakan lebih cepat, Arsen menambah setengah langkah lagi, dan langsung menangkup wajah cantik di hadapan.


Dan Cla tidak bisa lagi mundur walau setengah langkah. Karena tatapan Arsen bagai memiliki gaya gravitasi tersendiri yang membuatnya tertarik mendekat.


"Dulu..." lirihnya. "Aku memang membawa hatiku kemana-mana, karena tidak ada yang memilikinya selain diriku sendiri..." ucap sang pemuda. "Sebelum ini, bahkan mungkin sampai saat ini... Ada saja gadis pirang maupun tidak yang berusaha mendekati ku di sana."


Tatapan sendu dari Arsen, membuat sang gadis semakin tertarik untuk menatap jauh ke dalam sana.


"Dulu... sesekali aku memang menanggapi mereka. Menerima ajakan makan siang bersama, nongkrong di Cafe, atau menonton konser. Kadang-kadang juga menonton bioskop." lanjut sang pembalap.


"Tapi tidak ada satupun gadis yang berhasil meraih hatiku. Dan itu dulu... sebelum aku pulang ke sini kemarin," ucapnnya menatap lekat pada manik mata yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya.


"Dan sekarang... aku sudah memutuskan untuk memberikan hatiku padamu... hanya padamu, Baby!" ucapnya mengecup ujung hidung mungil Cla.


"Itu artinya aku akan meninggalkan hati ku di sini bersamamu, meskipun raga dan otak ku harus kembali ke New York untuk menyelesaikan semester akhir." lanjutnya dengan nada bicara yang teramat serius dan berat, hingga merasuk ke dalam sanubari sang gadis yang di liputi rasa cemburu pada gadis-gadis pirang yang bahkan belum pernah ia lihat secara langsung.


"Yakin kamu tidak akan tergoda gadis pirang di sana?" tanya Cla masih dengan wajah yang di tekuk.


"Hm... Aku sangat yakin, Baby!" jawab Arsen mengangguk seyakin-yakinnya. "Toh aku sudah punya gadis pirang di sini..." lanjutnya membelai rambut pirang Cla dengan senyuman tampan menawannya.


Cla tersenyum salah tingkah dengan cara menjawab Arsen yang selalu membuatnya terpukau akan kelembutan sang lelaki.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


NB: Menurut kalian... Siapa sih yang cocok jadi visualnya Arsen dan Clarice?


Kadang ngebayangin ini itu benaran cocok gak sih... heheh

__ADS_1


__ADS_2