Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 22 ( Kita Bersama )


__ADS_3

Gwen menutup pintu toilet dengan sedikit menghentak. Sengaja memberi ruang dan waktu untuk Arsen dan Cla melanjutkan obrolan yang mungkin terputus akibat ulahnya yang muncul secara tiba-tiba.


Selain merasa senang karena Arsen sudah bertemu dengan Cla, Gwen juga merasa bersalah karena sudah membuat momen yang seharusnya romantis malah berakhir dengan kaget akan kehadirannya.


Sementara setelah kepergian Gwen, yang terjadi di dalam sana adalah ...


"Bagaimana ini?" gumam Clarice melihat Arsen dan pintu secara bergantian.


"Bagaimana apanya?"


"Bagaimana kalau mereka menyusul kesini?"


"Memangnya kenapa?" tanya Arsen mulai tidak peduli jika ada yang mengetahui keberadaannya.


Cla menggigit bibirnya bawahnya bagian dalam dengan seulas senyuman yang teramat kaku.


"Kita keluar ya? Aku merasa tidak enak kalau ketahuan banyak orang kita berada di dalam toilet berdua begini..." ucap Cla. "Ini bukan Cafe milik ku ataupun milik kamu... Kak Victor bisa saja mempermasalahkan kamu yang masuk ke toilet wanita tanpa izin."


"Siapa Victor?" Arsen menyebut nama Victor dengan cukup dingin.


"Dia Mahasiswa pascasarjana. Dia pemilik Cafe ini..."


"Yang duduk bersamamu tadi?" tanya Arsen semakin dingin.


"Hemm..." Cla mengangguk lemah, tau ada yang berbeda dengan sikap Arsen.


"Kalian berpacaran?" tanya Arsen to the poin.


"Hah!" pekik Cla. "Tidak! Siapa yang berpacaran?"


"Kamu terlihat santai bersamanya... duduk juga berdampingan..." jawab Arsen mencari kepastian sebelum kembali bertanya tentang hubungan keduanya.


"Terus aku harus duduk dengan siapa? kursinya hanya 4?" tanya Cla. "Dengan Naufal?" tanyanya lagi. "Bisa-bisa Kak Victor di cekik Naufal kalau dia duduk dengan Gwen.


"Kan bisa kamu duduk dengan Gwen, dan Naufal duduk si Victor itu!" ucap Arsen setengah risau membahas tentang laki-laki yang tengah dekat dengan Clarice.


"Bukankah kamu sudah mengikuti aku sejak di parkiran?" tanya Cla. "Jadi seharusnya kamu sudah tau dong... Kalau Naufal tidak bersikap baik pada Kak Victor..."


Menghela nafas kasar... "Ya! Aku juga tau!"


"Nah itu!" sahut Cla yang tiba-tiba bisa berbincang senormalnya dirinya. "Jadi kita keluar, bagaimana? AKu takut di gerebek!"


"Kalau mereka melakukan itu, aku akan membeli Cafe ini untuk kita tempati sampai urusan kita selesai!" jawab Arsen dengan entengnya.


Ya! Membeli lahan dan seisinya bukan hal berat untuk di lakukan seorang Arsenio Wilson. Anak pengusaha batu bara yang uang jajan nya setiap bulan selama di luar negeri bagai uang belanja para istri pejabat.


Belum lagi uang hadiah hasil prestasi dan kompetisi yang ia dapatkan selama menjadi Mahasiswa di Columbia University.


"Hah!" pekik Clarice. "Sampai segitunya?" tanyanya dengan polos.

__ADS_1


"Why not!" jawab Arsen sama sekali tidak peduli dengan masalah-masalah yang di takutkan oleh Clarice.


"Jawab dulu pertanyaan ku, Cla..." ucap Arsen. "Baru kita keluar dari toilet ini..." lanjutnya kembali menatap lekat pada sang gadis jelita.


Cla menarik nafas panjang dan menghelanya pelan sebelum kembali melanjutkan kalimat yang tadi sudah ingin ia sampaikan pada Arsen.


Arsen yang sudah tidak sabar kembal mengurung tubuh Clarice di hadapan. Dengan kembali menyandarkan telapak tangannya pada tepian wastafel.


"Jawab aku, Cla... Apakah kamu masih memiliki cinta untuk ku?" tanyanya lirih, namun menyentuh sampai ke dalam hati. "Apakah mulai hari ini.. kita bisa bersama?" tanya Arsen.


"Bukankah Gwen bilang... Jangan mengukir sesuatu yang indah di dalam toilet?" tanya Cla dengan menahan senyum malu-malu.


Kali ini Arsen tergelak tanpa suara. Memang ruangan ini sama sekali tidak menggambarkan keindahan untuk dua anak muda yang sudah lama tidak bertemu tengah mengungkapkan rasa cinta.


Arsen meraih pergelangan tangan Cla, dan menariknya pelan menuju pintu keluar toilet. Dan kembali mendorong pelan tubuh Clarice hingga punggung Cla menempel sempurna pada dinding lorong toilet. Dan Arsen kembali mengunci tubuh ramping itu.


"Sekarang jawablah..." ucap Arsen dengan menempelkan kedua telapak tangan pada dinding tepat di sisi kanan dan kiri lengan Cla.


Cla tersenyum dengan wajah yang kembali memerah di kurung sedemikian posesif oleh sang pemuda. Belum lagi tatapan yang sangat mendominasi pandangan matanya. Beruntung lorong tempat keduanya berada tak terlihat dari meja yang di duduki oleh Gwen dan yang lain.


"Hmm..." Cla mengangguk dengan mengulum senyuman, dan tatapan mata yang langsung di alihkan karena tak berani melihat pada wajah tampan di hadapan.


"Hmm apa?" tanya Arsen memastikan jawaban yang lebih jelas. Bukan sekedar 'Hm' yang terdengar ambigu.


"Iya..." jawab Cla salah tingkah.


"Ya...." Cla tidak bisa menahan senyum yang ingin sekali mengembang sempurna.


Arsen kembali meraih rahang Cla. Kali ini hanya tangan kanan yang menyentuh rahang kiri Cla dan mengarahkan wajah yang terus saja bergerak ke kanan kiri itu untuk berhadapan dengan wajahnya. Agar mata mereka bertemu dalam satu garis lurus yang mendebarkan.


"Jawab dengan jelas.... Aku tidak mau jawaban singkat yang tidak jelas..." desis Arsen sangat lirih dan menahan senyum menawannya.


"Iya! Mulai sekarang... kita bersama!" jawab Cla dengan sangat yakin. "Selama ini aku masih selalu menunggu mu menjelaskan semuanya..." lanjutnya dengan kembali membuang pandang ke arah lain. Sangat malu hingga senyum seketika terbit dari bibirnya.


Arsen tersenyum puas melihat wajah cantik yang mulai detik ini bisa ia sebut sebagai miliknya.


"Katakan kamu mencintai ku?" pinta Arsen terdengar sangat serius. Hingga ia menangkup kembali wajah cantik Cla.


Tersenyum manis dan memberanikan diri menatap mata Arsen. "Aku mencintaimu, Arsenio Wilson!"


Arsen tersenyum puas. Menatap penuh damba pada wajah cantik berambut pirang ini. Ah! Mulai detik ini, ia tidak lagi di sebut jomblo.


"Deal?" tanya Arsen mengulurkan jari kelingking tangan kanannya pada Cla.


Cla menunduk sedikit, menatap kelingking Arsen dengan senyuman penuh. Ia toleh sekilas Arsen yang menunggu kelingkingnya di sambut.


"Deal!" jawab Cla menyambut kelingking Arsen dengan kelingkingnya.


"Stempel!" ucap Arsen menunjukkan ibu jari dari kelingking yang bertaut.

__ADS_1


"Hm!" jawab Cla menempelkan ibu jari yang sama pada ibu jari tangan Arsen.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Arsen penuh harap.


Cla menahan senyum malu-malu namun tak bisa menolak permintaan Arsen. Karena ia pun ingin sekali memeluk tubuh tegap di hadapan.


Cinta yang tersimpan di dalam hati sudah sangat merindukan tuannya. Dan kini tuannya sudah ada di hadapan, mana mungkin ia tolak begitu saja.


"Boleh..."' jawab Cla.


Suasana menjadi hening untuk sesaat. Hanya dua pasang mata yang saling memandang dengan penuh debaran saja yang terasa.


Hingga akhirnya tangan Arsen mulai bergerak dengan tubuh yang bergerak mengikis jarak. Dan dengan rasa bahagia yang tak terkira, ia raih tubuh di hadapan, dan memeluk dengan sangat erat.


Begitu pula dengan Cla. Gadis yang semula malu-malu itu membalas pelukan Arsen dengan sangat erat pula. Ia dekap punggung Arsen, dan dengan perasaan lega, ia rebahkan kepala di pundak kokoh sang pemuda.


Sudah tidak ada jarak lagi di antara mereka berdua. Tubuh telah bersentuhan seutuhnya. Menunjukkan pada dunia, jika keduanya kini saling memiliki satu sama lain. Tidak ada lagi boleh memeluk seperti ini, selain mereka sendiri.


Tapi kita tidak tau apa yang akan terjadi didepan, bukan?


Perjalanan masih sangat panjang. Sementara hubungan mereka belu terikat akan janji suci suatu pernikahan.


Di era gempuran sosial media, di era banyaknya orang bermata gelap. Apapun bisa terjadi.


"I love you..." bisik Arsen menempelkan bibirnya pada helai rambut Cla bagian belakang. Mencium dengan samar, namun menghirup keharumannya secara terang-terangan.


"I love you too..." balas Cla dengan mata yang terpejam. Merasakan kehangatan dan kenyamanan yang luar biasa akibat pelukan yang berasal dari dalam hati.


Satu menit kemudian, keduanya kompak melepaskan pelukan dengan bibir yang terus saja tersenyum.


"Kita ke depan... sekarang?" tanya Cla.


"Hemm..." Arsen mengangguk dengan mempersilahkan Cla untuk berjalan terlebih dahulu.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


✍️ Terkadang... Novel atau bahkan drama series memang terlihat berjalan lamban. Padahal sesungguhnya tidak juga.


Kalau semua di buat grasak grusuk, dan langsung bertemu ujungnya, rasanya tidak perlu membuat jalan ceritanya.


Cukup selesaikan cerita di bagian sinopsis saja.. Hehe..


Selamat pagi... Selamat beraktivitas di Senin yang padat dna macet... ☺️


Dan satu lagi, Senin pagi ini terasa begitu... 🥶🥶🥶🥶


Salam manis,


Lovallena ❤️

__ADS_1


__ADS_2