
Arsen terus saja tertawa hingga wajahnya memerah dan perut terasa sedikit sakit. Sejak tadi sesungguhnya ia sudah ingin tertawa. Karena setiap kata dari cerita sang kekasih sungguh menggelitik perutnya.
"Baiklah, aku keluar saja!" ujar Cla karena Arsen masih saja tertawa meski sudah ia ancam sekalipun.
Sang gadis hendak menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya bagian perut hingga ujung kaki. Namun sebelum ia berhasil menyibak selimut tebal itu, tiba-tiba sesuatu mengunci dengan cara menindih tubuhnya dari atas selimut. Dan itu membuatnya tak bisa bergerak.
Sontak Cla terdiam dan menghadap ke atas, di mana sudah ada lelaki yang tak lain adalah kekasihnya sendiri yang tengah menindih tubuhnya hingga wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tak lebih dari 15 cm saja.
Melirik ke kanan dan ke kiri, di mana ada dua lengan kekar Arsen di sisi kanan dan kiri pundaknya.
Kembali menoleh ke atas, dan itu membuat sorot mata mereka bertemu dan menimbulkan sebuah getaran luar biasa hingga membuat lidah Cla terasa kelu untuk berbicara. Apalagi tawa Arsen sudah lenyap dan berganti menjadi raut wajah dingin yang membuatnya terasa membeku karena saking tampannya.
"Sekarang giliran aku yang berbicara, Baby..." ucap Arsen menatap lekat mata sang kekasih yang terlihat cukup tegang.
"Aku dan Naufal memang sering berkomunikasi sekarang. Dan dia memang menanyakan hal yang sama, Sayang..." ucap Arsen lirih, pandangan matanya mengamati cantik rupa Cla dari jarak yang sangat dekat.
"Karena memang seperti itulah cara bercanda laki-laki. Bukan hanya aku dan Naufal, tapi hampir semua laki-laki membahasnya."
"Dia berulang kali mengatai aku bodoh, bahkan mengatai aku impoten! Karena sampai detik ini kita belum pernah melakukannya..." lanjut Arsen dengan suara yang cukup berat.
Posisi mengungkung sang kekasih di bawah tubuhnya seperti ini memang sungguh sulit untuk bisa menahan hawa nafsu nagi seorang laki-laki. Dan juga terlampau intim untuk sepasang kekasih yang tidak terbiasa dengan **** bebas.
Sementara Cla mengerutkan keningnya mendengar sang kesih di katai impoten oleh Naufal. Tentu ia tau apa itu impoten walau belum pernah membahas secara intens. Di mana seorang lelaki tidak bisa melakukan hubungan suami istri, karena sesuatu yang juga masih belibet di dalam pikiran gadis polos satu ini.
"Aku tidak meminta ataupun mengajak kamu, tidak pula merayu kamu untuk melakukan hubungan itu, bukan berarti aku tidak mencintaimu, Sayang..." ucap Arsen menatap lekat sepasang mata lentik sang kekasih.
"Aku mencintai mu, bahkan sangat mencintaimu..." ucapnya terdengar sangat serius.
Apalagi di tambah sebuah kecupan yang dalam di kening sang gadis yang sontak memejamkan matanya sembari menarik nafas panjang.
Cla merasakan syahdunya setiap detik waktu ketika bibir sang pemuda menyentuh keningnya. Ia hirup dalam-dalam bau tubuh Arsen yang mana lehernya tepat berada di depan hidungnya. Harum parfum sang pemuda memang sangat memikat untuk gadis muda manapun. Hingga ia sendiri laut di dalam ketenangannya.
Arsen menarik kembali kepalanya dan mengambil posisi seperti semula. Hanya saja kini tangan kirinya membelai rambut, pipi dan juga bibir sang gadis. Sehingga hanya tangan kanan saja yang masih menjadi penyangga tubuhnya.
Arsen sampai menelan ludahnya sendiri ketika mengagumi betapa indah paras kekasih hatinya ini. Sebagai lelaki normal, tentu semua ini membuat tubuhnya terasa panas, karena aliran darah yang mulai terasa lebih cepat. Dan hingga membuat sesuatu berubah bentuk.
Dan yang di tatap dan di belai sedemikian lembut hanya bisa terdiam dengan jantung yang berdetak kian kencang, hingga jemari reflek meremas selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Jika Gwen bertanya, apa aku tidak pernah bernafsu setiap hari melihat kamu di apartemen? Jujur, tentu saja aku sangat bernafsu, Sayang! Aku normal, sama seperti Naufal dan laki-laki pada umumnya." ucap Arsen.
"Pulang kuliah melihat kamu tidur atau tengah melakukan apapun, selalu membuat aku ingin memakan mu. Karena tugas di kampus cukup membuat aku pusing. Dan bercinta mungkin bisa mengurangi pusing itu, sekaligus bisa menyenangkan ku."
__ADS_1
"Apalagi setiap melihat kamu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi dan rambut yang basah... Jika kamu mau tau, di saat seperti itu birahi ku sungguh tak terbendung. Dia berdiri tanpa ku pinta." ucap Arsen melirik bagian tengah kakinya yang tidak sengaja di ikuti oleh Cla.
Di mana sang gadis langsung menutup mata rapat-rapat begitu tau arah pandang Arsen tertuju pada apa.
"Dan aku harus cepat-cepat mengendalikan diriku!"
' Pantas saja dia sering tiba-tiba meninggalkan kamar begitu aku keluar dari kamar mandi masih menggunakan jubah mandi! '
Gumam Cla dalam hati sembari menghela nafas kasar yang disertai kegugupan.
"Saat kita berpelukan, saat itu juga aku merasa darah ku bergerak kacau balau di dalam tubuhku..." gumam Arsen.
"Jika menurut kalian para gadis, sentuhan lelaki adalah bentuk cinta... Sekarang aku tanya, Sayang..." ucap Arsen sembari membelai pipi Cla, meminta sang gadis untuk membuka mata.
"Apa?" lirih Cla menatap gugup wajah Arsen yang terlihat tidak biasa-biasa saja.
Tanpa berkata apapun, tangan yang semula membelai pipi Cla, kini beralih turun dan merayap dari lengan kiri, keatas dan berhenti sesaat di pundak. Dimana sang pemuda tau jika Cla mulai merinding dengan sentuhannya.
Beberapa detik berhenti, kini tangan kekar sang pemuda kembali merayap turun hingga berhenti tepat di atas dada Cla sebelah kiri, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik sang kekasih.
"Ekkhm!!!" pekik Cla tertahan engan sepasang mata yang membulat dan tangan kiri yang reflek memegang kencang lengan Arsen, namun tidak menariknya untuk menjauh dari dadanya. Nafas sang gadis terlihat sangat berat, dengan dada yang bergerak naik turun.
Di tanya begitu, Cla hanya bisa membuang nafas kegugupan dari mulutnya.
"Nyaman?" tanya Arsen lagi. Namun sang gadis masih diam membisu dengan mata yang masih membulat lebar, dan tangan yang masih mencengkeram kuat lengan Arsen.
Arsen sudah lama ingin melakukan hal ini, tapi setengah mati ia selalu berusaha untuk menahan diri agar tidak bertindak bodoh.
"Semua ini memang sangat indah, Sayang... siapapun menyukainya..." ucap Arsen sembari meremas kecil.
"HEMMHH!" Cla berteriak dengan mata yang tertutup rapat dan mulut yang terkunci.
Meski begitu, entah kenapa. Ia sama sekali tidak membuat tangan Arsen menjauh dari buah dadanya yang sedang di remas lembut dan kecil oleh Arsen. Seolah iapun beku dengan segala sesuatu yang di lakukan Arsen.
"Sayang, please! Aku tidak siap! Aku sangat malu!" ucap Cla masih dengan menutup matanya, bahkan menggunakan telapak tangan kanannya.
Darah di dalam tubuhnya sudah mengalir dengan sangat cepat merasakan untuk pertama kali bagain itu di jamah oleh orang lain, meski itu kekasihnya sendiri.
Arsen sendiri menahan deru nafas yang nyaris tersengal, karena untuk pertama kali ia meremas benda kenyal seperti ini secara nyata. Meski tidak sekali dua kali ia melihat berbagai macam film biru melalui ponsel. Apalagi saat masih Senior High School dulu. Naufal selalu pintar dalam menemukan judul baru.
"Sayang..." rengek Cla, tanpa berani membuka mata. Juga tak ingin menarik paksa lengan Arsen.
__ADS_1
Dalam hati ia berucap...
' sepertinya aku pun memiliki iman yang lemah, sama seperti Gwen. Ini sungguh luar biasa. Benar kata Arsen, sangat nyaman! '
"Sayaang... Ini..."
Belum selesai Cla berucap, ia merasa Arsen sudah tidak lagi menindihnya. Dan dada nya pun sudah tida di sentuh oleh sang kekasih.
Cla yang masih di landa kegugupan, membuka mata secara perlahan. Bahkan mengintip sedikit melalui sela-sela jemari tangan kanan. Dan benar, sang kekasih sudah tidak ada di atasnya.
Membuka mata, melirik ke kanan karena ia bisa merasakan jika Arsen berbaring di sana.
"Sayang?" panggilnya menoleh sedikit ke arah sang pemuda yang terlentang dengan menatap langit-langit kamar.
Entah, apa yang sedang di pikirkan oleh sang pemuda saat ini. Tatapannya lurus ke atas, dan kedua tangan ada di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
"Sayang?" panggilan Cla lagi menoleh lebih dekat. "Kamu marah.. karena aku tidak siap di sentuh seperti itu?" tanya Cla ragu.
Namun sang pemuda masih diam membisu. Ia seperti tengah melamunkan sesuatu.
"Sayang?" panggil Cla terlihat sedih. Ia raih tangan kiri Arsen dan menggenggamnya. "Please... jangan marah..." pintanya.
Mendengar rengekan Cla, Arsen menoleh ke kiri, dan menatap wajah sang kekasih dengan lembut.
"Mana mungkin aku marah, Sayang..." ucap Arsen berganti menggenggam tangan Cla dengan kedua tangan, lalu mengecup punggung tangan Cla. "Maafkan aku..." lanjutnya masih meletakkan tangan sang kekasih di bibir.
"Maaf?"
"Hm.. maaf sudah berbuat tidak sopan..." lirihnya menatap sendu sang kekasih. "Kamu hanya perlu tau, jika aku sangat mencintaimu.. Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan kamu... Kamu adalah gadis pertama yang aku sentuh..." Arsen kembali menempelkan tangan Cla di bibirnya.
Cla tersenyum dengan wajah yang memerah malu. "Dan kamu adalah orang pertama yang menyentuh dadaku... Aku tidak akan rela jika kamu meninggalkan aku!" ujar Cla memiringkan tubuh dan mengecup singkat bibir Arsen.
"Hm! Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang baru saja aku lakukan! Kita tidak boleh saling meninggalkan!" ucap Arsen.
"DEAL!!" seru Cla..
"I lover you, Baby!" Arsen mendekatkan wajahnya untuk kemudian mencium bibir tipis sang kekasih berwarna merah muda.
"I love you, too!" balas Cla ketika ciuman mereka berakhir dan berganti dengan bibir yang sama-sama tersenyum.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1