
Pernah mencintai?
Pernah merasakan berhubungan jarak jauh, atau yang biasa di singkat LDR, alias Long Distance Relationship?
Jika pernah, pasti tau rasanya mencintai namun terbelenggu rindu karena jarak yang terbentang jauh. Akan tetapi semua itu tetap terasa memiliki makna, jika suatu hubungan sudah jelas terjadi dan terwujud benar adanya.
Lain cerita dengan yang di alami oleh muda mudi satu ini.
Mencintai sejak duduk di bangku kelas X Senior High School, namun tertahan dan tersembunyi bahkan hingga keduanya lulus Senior High School. Sangat tidak masuk akal sebenarnya. Mengingat dunia semakin canggih, dan pergaulan anak muda semakin luas.
Kemudian akibat satu kesalahpahaman, membuat salah satu dari mereka memilih menjauh. Bukan hanya menjauh dari kehidupan orang yang ia cintai, melainkan menjauh pula dari segala hiruk pikuk kehidupan yang ada di negaranya.
Sehingga dua cinta itu belum juga menyatu sampai usia mereka yang sudah melewati angka 20 tahun.
Luar biasa!
Lantas, satu kejelasan membuat dirinya akhirnya kembali ke tanah air setelah 3,5 tahun bak menghilang di telan Bumi. Tujuannya hanya satu, menemukan kebenaran dan menjelaskan semua. Untuk kemudian memulai semuanya dari nol. Menulis di lembaran yang baru, dengan sebuah harapan pena-pena penuh warna akan menghiasinya.
Bisa kah?
Apakah semudah itu? Di saat waktu terus berjalan... Di saat usia terus bertambah... Di saat perasaan bisa kapan saja berubah... Di saat orang-orang baru terus saja silih berganti bermuculan untuk mendekat.
Sepasang mata pemuda yang kini tengah berjuang meraih dua gelar sekaligus itu membeku tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan mata.
Ketika dengan sangat yakin yang ia lihat di depan sana adalah satu-satunya gadis yang memang ingin ia temui. Satu-satunya gadis yang membuatnya berjuang untuk bisa datang ke Indonesia, walau hanya memiliki libur empat hari saja. Yang artinya lusa ia sudah harus kembali ke negeri orang.
Arsen hendak membuka pintu, ketika melihat di sebrang sana Clarice tampaknya juga akan membuka pintu di sisi kanannya. Senyum sudah ia siapkan, bunga sudah ia raih menggunakan tangan kirinya.
Namun belum sempat Arsen keluar dari pintu yang sudah terbuka setengahnya, suara seseorang berlari dari arah dalam mall mengalihkan perhatian Arsen dan juga Cla yang sudah keluar dari dalam mobil, namun belum menutup pintu mobilnya.
Arsen kembali terpaku ketika melihat seorang laki-laki yang tak ia kenal berlari terburu-buru mendekati Clarice. Namun dari cara berpakaiannya, Arsen dapat menduga jika laki-laki itu bukanlah pekerja mall.
Dan Arsen semakin bingung, ketika melihat laki-laki itu berlari mendekati Cla dengan sebuah senyuman yang sangat menawan.
"Hai!" sapa orang itu yang juga bisa di dengar oleh Arsen.
"Hai, Kak!" jawab Cla sembari menutup pintu mobilnya.
Mendengar jawaban Cla, Arsen kembali menutup pintu mobilnya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil dan menghampiri Cla. Lebih tepatnya ia ingin mengamati situasi terlebih dahulu.
' Siapa laki-laki itu? Kenapa di panggil Kak? Setahuku Cla tdiak punya kakak laki-laki. '
__ADS_1
Gumam Arsen dalam hati dengan menyandarkan kepala pada kemudi bundar, supaya tidak terlihat.
"Sudah lama?" tanya laki-laki yang tak lain adalah Victor itu.
"Tidak juga! Aku hanya menunggu Naufal dan Gwen!" jawab Cla.
' Oh! Jadi benar mereka semua janjian... '
Batin sang pembalap, menatap orang-orang yang dulu sangat dekat dengan dirinya.
"Masih lama?" tanya Victor lagi pada Cla.
"Sepertinya tidak, Kak!" jawab Cla menoleh arah pintu masuk kendaraan ke lantai parkir A2.
Bersamaan dengan itu, muncul-lah Mercedes Benz C-Class berwarna putih yang tak lain adalah mobil Naufal.
"Nah! Itu mereka!" ucap Cla menunjuk mobil yang langsung mengambil posisi parkir di samping mobil Clarice.
"Oh, itu pacarnya Gwen?" tanya Victor sedikit berbisik, melihat pemuda yang ada di balik kemudi.
"Iya, kak! Namanya Naufal! Sahabat ku sejak Junior High School!"
"Hai!" sapa Victor ramah pada Naufal dan Gwen yang mulai berjalan bergerak mendekati Cla.
"Hemm!" jawab Naufal datar, bahkan bersikap sedikit dingin terhadap Victor. Di mana ini kali pertama ia bertemu dengan sosok Victor secara langsung. Karena biasanya ia hanya mendengar cerita dari sang kekasih semata.
"Perkenalkan! Aku Victor!" Victor mengulurkan tangan pada Naufal.
"Naufal!" jawab Naufal menyambut singkat tangan Victor.
Victor tentu bisa merasakan jika Naufal terlihat sengaja bersikap dingin dan setengah ketus padanya. Meski ia tak tau apa yang menjadi penyebab Naufal bersikap demikian. Padahal ini adalah kesan pertama mereka bertemu.
Berbeda dengan Naufal, Gwen justru tersenyum manis dan ramah pada Victor. Seakan keduanya sudah saling mengenal baik satu sama lain. Ini kali kedua ia melihat Victor dari jarak yang sedemikian dekat. Dan kali kedua ia berbincang dengan Victor.
Sadar jika sang kekasih tengah tersenyum dan bersikap manis pada Victor, Naufal langsung meraih lengan Gwen agar jarak keduanya semakin dekat. Kemudian ia rangkul pundak Gwen dengan sangat posesif.
Seolah menjelaskan tanpa kalimat pada Victor, jika dirinyalah kekasih Gwen. Dan Gwen, tidak untuk di ganggu siapapun.
"Haram hukumnya tersenyum seperti itu pada laki-laki selain aku!" bisik Naufal lirih namun terdengar sangat serius di telinga Gwen.
"Eh... hukum dari mana itu? Siapa yang buat?" tanya Gwen menoleh Naufal yang melirik sinis pada Victor yang terlihat kembali mengajak Cla untuk mengobrol.
__ADS_1
"Tentu saja aku!" bisik ulang Naufal. "Awas kalau senyum-senyum seperti itu lagi pada dia!" ucap Naufal mentoel hidung Gwen.
"Iya..iyaa, Tuan muda!! Maafkan aku, Sayang!" Gwen melingkarkan tangannya di pinggang Naufal, dan menatap manja pemuda yang sudah menjadi kekasihnya lebih dari empat tahun itu.
"Good!" ujar Naufal menabrakkan hidungnya pada pipi putih mulus seorang Gwen Arabella.
Clarice melirik jengah pada dua sahabatnya yang selalu terlihat sama-sama bucin itu. Hanya saja hal seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari setiap pergi bersama dua bocah itu.
"Ya, sudah! Ayo ke Cafe ku sekarang!" ajak Victor. "Aku sudah menyiapkan menu makan siang yang kemarin belum kamu coba untuk kalian, Clarice."
"Eh, Kak! Seharusnya Kak Victor tidak perlu repot-repot... Minuman khas Cafe Kakak saja sudah cukup. Kenapa sampai menu makan siang segala!" ucap Clarice merasa tak enak hati.
"Sama sekali tidak repot! Anggap saja salam perkenalan dariku!" jawab Victor.
"Ya sudah, ayo! Lapar ini!" sahut Naufal dengan sedikit ketus lagi dan lagi.
"Yang!" pekik Gwen mencubit perut Naufal bagian samping. Seolah memperingatkan jika cara bicara Naufal tidaklah sopan untuk satu momen perkenalan pertama. Apalagi yang di ajak bicara adalah Kakak tingkat yang harus ia hargai.
Namun Naufal yang merasa jika Cla tidak cocok dengan Victor, dan hanya cocok dengan Arsen sahabatnya pun hanya mengaduh kecil sembari tersenyum jahil. Tanpa berniat untuk meminta maaf.
"Auh!" pekiknya menarik lembut tangan Gwen yang mencubit perutnya.
Terkekeh kecil. "Sudah! Tak apa. Ayo!" sahut Victor yang berusaha untuk bersikap dewasa menghadapi mereka yang masih berusia dua tahun di bawahnya.
Dan pergilah tiga sahabat itu mengikuti langkah Victor yang berjalan paling depan mendekati pintu masuk mall. Dan Cla berjalan di belakang Victor. Sedang Naufal dan Gwen berjalan paling belakang beriringan, tentu saja dengan jemari yang saling bertaut.
Semua itu, apa yang yang sedang mereka obrolkan, apa yang mereka bicarakan tak luput sedikit pun lepas dari pandangan dan pendengaran Arsen. Kecuali apa yang di bisikkan oleh Naufal pada Gwen tadi.
"Oh! Jadi itu Kakak tingkat yang di maksud Naufal..." gumamnya menatap punggung-punggung itu mulai memasuki area mall.
"Victor..." gumamnya mengingat nama Kakak tingkat Cla, ketika Victor menyebutkan namanya saat berkenalan dengan Naufal.
"Sepertinya mereka masih dalam tahap pendekatan..." lanjutnya tampak berfikir keras. Jemari mengetuk-ngetuk kemudi bundar miliknya.
"Baiklah... Kali ini aku harus tau dengan yang sebenarnya!" serunya sembari membuka dashboard mobil, mencoba untuk menemukan masker.
"Aku tidak akan melepasnya begitu saja kali ini..." desisnya ketika mulai melangkah memasuki mall. Mengikuti empat orang itu secara diam-diam untuk menemukan momen yang tepat supaya bisa bertemu dengan Cla.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
✍️ Yang sudah tidak sabar mereka ketemu, see you tomorrow... 🤩
__ADS_1