Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 25 ( Traktiran Tanpa Batas! )


__ADS_3

Cla melirik ke kiri, di mana bisa ia lihat Gwen tengah menjadikan tangannya sebagai penopang dagu, dan menyandarkan sikunya pada sandaran kursi yang ada di antara kursinya dan kursi Gwen.


"Hm?" jawab Cla tanpa mengubah posisi nya yang masih bersandar di bahu Arsen. Hanya ekor mata yang melirik ke arah kiri.


"Sen?" panggil Gwen pada pihak laki-laki.


Sontak Cla memicingkan matanya pada Gwen. Kenapa yang di panggil justru Arsen? batinnya.


"Hm?" jawab Arsen tanpa menoleh pada Gwen, hanya melirik sekilas melalui ekor mata saja. Dan itu membuatnya tidak bisa melihat Gwen dengan jelas.


"Habis ini kita ke Timezone, Okay!" usul Gwen dengan senyuman penuh makna.


"Gila kalian!" sembur Cla tertahan ketika langsung terkesiap dari posisinya. "Sudah minta nonton, pop corn, masih minta Timezone?" protesnya lirih.


"Sekali seumur hidup apa salahnya? Ya 'kan, Yang?" tanya Gwen menoleh sekilas Naufal yang tengah di belakangi olehnya.


Tanpa menjawab, Naufal mengacungkan ibu jari kanannya pada sepasang kekasih yang baru saja jadian. Sebagai tanda setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Gwen.


"Wah, parah sih ini..." gerutu Clarice yang merasa tidak enak hati dengan Arsen. Ia hempaskan kasar punggungnya pada sandaran kursi.


"Tak masalah! Sampai makan malam pun aku yang bayar!" sahut Arsen menarik pelan lengan Cla supaya berhenti menatap dua sahabatnya dengan tatapan seolah ingin memakan mereka. Kemudian ia lingkarkan tangan nya pada pundak Cla. Mengarahkan gadis itu untuk kembali berdekatan dengan dirinya.


"Tapi mereka ini benar-benar sedang mencari kesempatan!" gerutu Cla menoleh Arsen yang terlihat santai saja.


"Kesempatan bagaimana?" tanya Arsen menatap lekat sang kekasih.


"Memeras kamu!" jawab Cla lirih namun sangat menekan. "Kali ini kamu jangan khawatir, Timezone biar aku yang bayar! Mereka benar-benar menjengkelkan..." gerutunya.


Arsen tergelak dengan berbagai gerutuan sang kekasih. Semakin erat tangan Arsen memeluk pundak Cla, hingga tubuh Cla sudah menempel sempurna di dadanya sebelah kiri.


"Tidak masalah..." ucapnya kemudian. "Saat mereka jadian dulu, aku juga minta Naufal mendaftarkan aku dan Kak Axel untuk bisa mengikuti kejurnas Oneprix, balap motor di Sentul untuk dua kelas sekaligus!"


"What!" pekik Clarice.


"Hemh!" sahut Naufal menyindir dengan gelak tawa tanpa suara sebagai tanda kemenangan. Tak menyangka sang sahabat masih mengingat momen di mana Arsen ingin mengikuti perlombaan itu, bertepatan dengan hari jadi dirinya dan Gwen.


"Huuffh!" akhirnya Cla terdiam dan menurut saja apa yang di katakan oleh Arsen. Dan membiarkan dirinya kini di dekap sang kekasih untuk kembali melanjutkan nonton filmm yang masih tersisa waktu sekitar 30 menit lagi.


Sedikit banyak tentu ia tau, jika untuk mengikuti kejuaraan Oneprix, paling tidak harus merogoh kocek sekitar 1,2 juta untuk satu motor dan satu orang dalam satu kelas.


Maka jika untuk mengikuti di dua kelas dan dua orang plus motornya, itu artinya 4,8 juta harus di keluarkan Naufal untuk mendaftarkan Arsen dan Kakaknya dalam kejuaraan Oneprix.


' Baiklah! Kalian bertiga memang luar biasa! '


Ujar Cla dalam hati. Bukan ia tak punya uang sebanyak itu. Uang tabungan gadis yang bahkan belum pernah bekerja sama sekali ini bahkan cukup untuk membeli satu mobil sejenis miliknya.

__ADS_1


Hanya saja ia merasa tidak enak hati pada Arsen. Meski sang kekasih juga bukan anak orang sembarangan. Dan uang sedemikian itu hanyalah lembaran kecil bagi mereka.


***


Keluar dari ruang gelap bioskop, Cla berjalan di samping Gwen, sedang Arsen dan Naufal berjalan di belakang. Mengikuti kedua gadis itu menuju arena bermain Timezone.


"Kita harus beradu!" ujar Cla ketika sudah berada di depan salah satu permainan yang biasa di juluki pump it up.


"Siapa takut! Sudah lama kita tidak beradu, bukan?" jawab Gwen.


"Hm!"


"Lama sekali mereka!" gerutu Gwen melihat Arsen dan Naufal yang berada di meja kasir.


Cla pun akhirnya ikut menoleh ke arah sana, menatap punggung dua lelaki yang masih membuatnya tidak menyangka hari ini akan terjadi seperti ini.


Memandang punggung Naufal, Cla teringat jika ia pernah menyukai lelaki itu saat masih Junior High School. Kemudian menatap punggung Arsen, yang mana lelaki itu kini menjadi kekasihnya. Dan yang lebih gila, keduanya bersahabat bagai saudara.


Sama sekali ia tidak menyangka, jika sejak hari ini ia tidak lagi menyandang status jomblo.


Arsen dan Naufal kembali dengan membawa kartu untuk bermain, atau yang biasa di sebut sebagai power card di tangan masing-masing.


Kartu yang di miliki Naufal berjenis Gold Crad yang di isi sebanyak 2.000 TIZO oleh Arsen. Atau senilai 1,4 juta rupiah.


"Main sepuasnya!" ujar Naufal merangkul pundak Gwen dengan memamerkan gold card miliknya yang sudah di isi saldo oleh Arsen.


"Siipp!" seru Gwen. "Aku mau coba ini dulu dengan Cla!"


"Hm!" Naufal menggesek power card pada swiper yang berada di bagian permainan pump it up.


Maka dua gadis yang memiliki standar kecantikan yang menarik itu beraksi di atas papan dance. Menginjak 5 tombol yang ada di lantai dengan gerakan yang sangat cepat, mengikuti gambar yang muncul pada layar.


Sedangkan dua pemuda berdiri di belakang keduanya, memperhatikan pasangan masing-masing yang terlihat sama-sama lincah di atas lantai pump it up..


"Apa iya, kita hanya akan memperhatikan mereka?" tanya Naufal melirik Arsen yang tak sedikitpun melepas pandangan dari Cla.


"Lalu?"


Naufal melirik sekitar. "Kita basket saja lah!" jawab Naufal menunjuk beberapa Arcade Basketball yang berbaris.


"Okay!" sahut Arsen. "Kita beradu!"


"Siapa takut!"


"Yang kalah traktir makan malam!" seru Arsen sembari berjalan menuju arena bermain basket.

__ADS_1


"Eittss! Tidak bisa!" sahut Naufal. "Hari ini adalah milikmu, jadi semua biaya hidup kita hari ini, kamu yang tanggung!" lanjutnya tersenyum misterius.


"Cih!" Arsen berdecih mendengar celoteh sang sahabat.


Keseruan demi keseruan di ciptakan bersama oleh dua pasang kekasih.


Saling beradu dengan pasangannya, juga bermain dengan cara beregu.


Selesai dengan pum it up, Cla dan Gwen menghampiri dua lelaki yang sedang beradu di arena basket. Maka ketika mereka permainan beregu pun di mulai.


Dan kali ini, Cla bukan lagi Clarice kelas X-3 yang tidak bisa memasukkan bola ke dalam ring.


Karena Cla 21 tahun adalah Cla yang sudah mengenal bola basket. Meski tidak sepandai Arsen dan Naufal.


Tapi imbang jika di adu dengan Gwen.


Puas di sana, mereka beralih dari satu permainan ke permainan lain.


Hingga Cla kini menggendong sebuah boneka beruang salju, hasil dari tangkapan Arsen bermain mesin capit.


Sedang Gwen membawa boneka ubur-ubur lucu, hasil tangkapan Naufal.


Have fun, you all!


***


Waktu bermain terus berjalan. Entah, sudah berapa TIZO yang sudah keluar dari masing-masing kartu. Yang jelas ke empat anak manusia itu terlihat sangat senang karena seharian bersama dengan pasangan baru, yang mana mulai lusa sudah harus bersiap untuk Long Distance Relationship.


"Waktunya makan!" seru Gwen ketika sudah berada di salah satu restoran kelas atas. Di mana saat hendak keluar nanti, paling tidak Arsen harus menyiapkan uang sekitar 7-10 juta untuk membayar makan malam empat orang.


Dan lagi-lagi hal semacam ini sudah sering mereka semua lakukan. Di mana dalam satu kali watu makan di restoran mewah, maka harus menyiapkan dana berlebih.


"Ak!" Cla meminta Arsen untuk membuka mulutnya dan menyuapkan satu potongan sushi yang ia pesan.


"Kamu juga!" giliran Arsen menyodorkan olahan lobster yang ada di piringnya.


Melihat apa yang ada di depan mata, membuat Gwen dan Naufal akhirnya melakukan hal yang sama.


"Memangnya mereka pikir kita tidak bisa?" tanya Naufal pada kekasihnya. "


Anda salah, Tuan! Nona!" seru Naufal menyindir.


"Buka mulutmu, Sayang!"


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2