Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 60 ( Dia Kabur! )


__ADS_3

Satu kalimat yang di ucapkan oleh Victor membuat semua yang ada di dalam ruangan itu melotot tajam pada sang pemuda. Termasuk sahabatnya sendiri.


"Kamu gila, Vick!" sembur Arka tak menyangka Victor benar-benar melakukan seperti yang didugakan. "Kamu tadi bilang tidak! Ternyata kamu benar-benar menculik Clarice! Sekarang aku juga kena imbasnya!" protesnya.


Victor melirik Arka melalui ekor matanya. Meski tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi jengkel Arka padanya. Tapi ia bisa menggambarkan seperti apa kira-kira jika sahabatnya sedang marah.


"Sekarang di mana putri ku?" tanya Daddy Ken dengan gigi yang mengerat kuat. "Kau lupa berurusan dengan siapa?"


"Maaf, Uncle!" Victor kembali menunduk. "Sabtu lalu saya memang berencana untuk menculik Clarice. Saya mengenal salah satu teman Clarice di tempat kursus bahasa asing. Karena kami juga berteman baik, dan saya menceritakan semua tentang Clarice, dia bersedia membantu saya supaya bisa jalan berdua dengan Clarice." jelas Victor tanpa berani melihat mata siapapun dari tiga orang dewasa itu.


"Teman saya menunggu Clarice di sebuah warung makan, yang saya pastikan tidak ada CCTV di daerah sana yang bisa merekam kejadian itu. Karena saya tau, jika kekasih di New York bisa dengan mudah meretas berbagai situs apapun."


"Kemudian teman saya mengatur supaya Cla datang dengan memakai taksi online yang di pesan Clarice sendiri, dengan dalih pulang nya akan di antar oleh teman saya."  lanjutnya. "Padahal saya yang menyarankan Clarice tidak membawa mobil, dengan begitu mau tidak mau dia pasti akan ikut bersama mobil saya."


Untuk sementara Victor terdiam, seolah tak berani untuk menceritakan apa yang terjadi selanjutnya.


"Lalu?" kejar Papa Zio dengan sedikit menghentak dan ketus.


Setelah bertemu di warung makan itu, Clarice dan teman saya mengobrol sebentar. Setelah itu..." Victor melihat satu persatu para petinggi perusahaan di mana dirinya tengah di sandera.


"Lalu... Clarice menghilang setelah bilang katanya ke toilet!" jawab Victor. "Dia kabur sebelum misi berhasil!"


"APA!!!" pekik empat orang yang mendengarkan cerita Victor dengan seksama.


***


Sementara itu di New York, Arsen yang merasa tubuhnya kelelahan di tambah dengan pikiran yang runyam akibat kekasihnya yang menghilang, memilih untuk segera mandi lalu kembali mencari kabar tentang keberadaan sang kekasih.


Mencari dan berpikir dalam keadaan tubuh yang segar sepertinya akan lebih baik, bukan?

__ADS_1


Berjalan dengan beban berat di pundaknya, Arsen mendekati pintu kamar satu-satunya yang ada di apartemennya.


Membuka pintu dengan pelan sembari menghela nafas panjang, mata ngantuk nya terpaksa harus kembali terbuka normal, saat melihat ada yang berubah dengan kamar tidurnya.


Mengamati satu persatu sudut kamarnya, dan ia tertegun dengan segala sesuatu yang entah sejak kapan menjadi seperti ini.


Sebuah bucket bunga berukuran sedang yang di tengahnya terdapat sebuah syal berwarna biru tua, ada di atas meja belajarnya.


Beberapa balon berwarna biru tua, gold dan silver bergerak dengan bebas hingga menabrak atap kamarnya. Pemandangan yang sungguh aneh dan pertama kali ini terjadi.


Dan yang lebih membuatnya heran, gorden abu-abu tua yang biasa menggantung, justru berubah menjadi gradasi warna ungu dan putih di bagian bawah yang terlihat sangat unik untuk seorang Arsenio Wilson.


Baru satu malam ia tak pulang, kenapa kamarnya yang dominan dengan laki-laki berubah menjadi sedemikian aneh?


Nalarnya mulai bekerja, senyum simpul mulai terbit di ujung bibir, ketika melihat selimut tebal yang kemarin masih terlipat rapi, kini menutupi sesuatu di bawahnya. Gundukan seukuran manusia terlihat di atas tempat tidurnya yang nyaman.


Ya! Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke 22 tahun.


Dengan sangat pelan, ia menutup pintu kamarnya. Lalu melangkah dengan kaki yang hanya berbalut kaos kaki menuju tempat tidurnya. Musim semi di New York, sepertinya membuat hari-harinya ikut bersemi entah sampai kapan.


Dalam pikirannya, tidak ada yang tau sandi apartemennya selain...


Dengan sangat pelan, Arsen mendudukkan tubuhnya di bagian tempat tidur yang kosong. Tersenyum lebar melihat beberapa helai rambut pirang yang menjuntai keluar dari selimut dengan tatapan tak percaya.


Membaringkan tubuhnya di samping gundukan itu, dan dengan sangat pelan, ia buka selimut yang menutupi bagian kepala.


Sedikit demi sedikit ia bisa melihat siapa pemilik wajah cantik rupawan di sana. Ada sepasang mata yang tengah terpejam dengan damai. Deru nafas terdengar lirih oleh telinga sang pemuda. Dan senyum lega dan rasa tak percaya terbit di bibirnya.


Menggelengkan kepalanya, Arsen sungguh tak menyangka jika apa yang ada di depan mata adalah sesuatu yang nyata.

__ADS_1


Sempat tak percaya dengan apa yang ia lihat. Namun ketika ia melihat tubuh di hadapan menggeliat lembut, ia menjadi sangat yakin jika apa yang ia lihat adalah nyata. Semua ini bukanlah mimpi semata.


"Baby..." panggil Arsen pada gadis pirang yang entah sejak kapan tiba di apartemennya, dan tertidur di sana dengan pulas.


Tak merespon, gadis yang tengah menjadi pencarian di Indonesia itu tetap tertidur dengan nyenyak. Seolah tidak peduli dengan apa kegemparan yang tengah di lakukannya.


Di mana membuat kedua Ayahnya pusing mencarinya, dan dua Ibu nya yang terus saja menangis dan berharap ia segera bisa di temukan.


Arsen tersenyum simpul, "Kenapa harus pergi diam-diam?" gumamnya tergelak masih tak percaya dengan apa yang ada di hadapan.


Cepat-cepat ia mengambil ponsel dan mencari nomor Daddy Kenzo, dengan kamera dari ponsel termahalnya itu ia mengirim foto Cla yang masih terlelap.


Arsen tersenyum melihat hasil jepretannya. Sang kekasih masih tetap cantik walau sedang tidur.


[ Uncle, ternyata Cla di apartemen ku. Aku tidak tau kapan dia datang. Yang jelas, saat aku tiba, dia sudah tertidur di kamarku. ]


[ Hari ini aku ulang tahun, mungkin dia sengaja memberi ku kejutan. Please, jangan marahi dia setelah ini... ]


[ Jangan khawatir, aku akan menjaga dia dengan baik! ]


Pesan singkat ia sertakan dalam sebuah foto yang ia kirim. Entah, bagaimana respon Ayah kekasihnya itu setelah menerima pesan darinya.


Meletakkan ponselnya di atas nakas, Arsen beralih kembali fokus pada sang kekasih. Tangan berayun, mengusap pipi lembut dengan penuh kasih sayang. Ia daratkan pula sebuah kecupan yang dalam di keningnya.


Menyalurkan, melepaskan dan menguarkan rindu yang sudah berbulan-bulan tidak bisa di salurkan.


"Wake up, Baby..." bisiknya lirih dengan ibu jari yang mengusap lembut pipi putih bersih Clarice.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2