Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 20 ( Debaran Yang Berbeda )


__ADS_3

Dua pasang anak manusia bertemu kembali setelah sekian tahun berjauhan, dan bahkan menghilang tanpa kabar. Tidak ada yang berubah dengan sorot mata keduanya. Semua seolah masih sama. Sama-sama menyimpan sesuatu yang tidak semudah itu untuk di ungkapan.


"Maafkan aku... Tanpa izin aku melacak keberadaan mu..." ucap Arsen menatap semakin lekat wajah cantik di hadapan.


Jika ada pertanyaan kenapa Arsen tidak terlihat gugup atau bagaimana, tunggu dulu, kawan!


Bisa di bilang... Arsen cukup pandai mengontrol semua syaraf yang bekerja di dalam tubuhnya. Sehingga ia terlihat tidak gugup dan biasa saja.


Padahal Arsen sendiri merasa tengah gemetar setengah mati. Ia pun seolah ingin pingsan saja ketika berhadapan dengan Clarice secara langsung begini. Di mana ia pernah meluruhkan harapan untuk bisa berada sedekat ini dengan sang gadis.


Beruntung, ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi semua ini. Beruntung, cara bicaranya tidak sampai gagap seperti Clarice. Sehingga tidak sampai terlihat seperti dua orang gagap sedang mengobrol. Karena jika sampai terjadi, sudah pasti obrolan tidak akan kunjung selesai.


Clarice mengedipkan matanya beberapa kali untuk mengurangi rasa gugup yang menjalar di sekujur tubuh. Tapi jika bisa, sungguhlah ia ingin berteriak sekencang yang ia sanggup. Melepaskan semua rasa yang campur aduk di dalam dada. Ada rindu, ada kesal, ada juga berbagai pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan pada sang pembalap.


Apa yang terjadi saat ini bukan lagi sekedar kejutan semata, tapi juga suatu perwujudan dari sebuah mimpi yang di anggap mimpi kosong.


Mendengar suara Arsen setelah sekian lama adalah sesuatu yang sangat menggetarkan dari daun telinga hingga sekujur tubuhnya.


Dan yang paling mendebarkan hingga tembus ke dalam relung hati saat ini adalah posisi keduanya yang sangat dekat. Bahkan jarak antara dadanya dan dada bawah Arsen hanya sekitar 5 cm saja.


Di kurung sedemikian rupa, hingga punggungnya menempel sempurna pada wastafel. Kemudian tangan tak lagi bisa berkutik selain jemari yang saling mengunci satu sama lain di depan perut. Dan lagi... tatapan Arsen yang begitu lekat hingga membuat kaki terasa lemas tak bertulang.


Mendengar Arsen meminta maaf karena sudah melacak nomor ponselnya tanpa izin, bukanlah sesuatu yang di anggap jahat oleh Cla. Justru ia senang... Karena ternyata Arsen masih berusaha untuk mencari keberadaannya secara sembunyi-sembunyi.


Cla mengangguk canggung, sangat canggung... bagai anak remaja yang sedang jatuh cinta dan salah tingkah saat bertemu.


"Cla...?" panggil Arsen sangat lirih dan lembut namun terdengar sangat dalam.


"Hm?" Cla kembali mendongak. Menatap wajah tampan yang semakin di lihat, semakin menimbulkan mata beresiko terserang diabetes.


Eh! Emang ada mata diabetes?


Entahlah... perumpamaan apapun tak mampu menggambar dua sosok anak muda yang sedang di landa bahagia atas pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun lamanya berpisah akan alasan yang sangat tidak masuk akal.


"Maafkan atas segala kesalahpahaman ku padamu kala itu..." ucap Arsen menatap lekat sepasang mata lentik Clarice.


Clarice tersenyum tipis dan langsung menunduk dalam, menutupi senyum salah tingkah juga rona merah di pipi ketika mengingat momen 3,5 tahun yang lalu. Ketika ia membaca kata I love you yang di tuliskan Arsen melalui surat pendek.

__ADS_1


Akankah Arsen akan mengulang kalimat itu saat ini?


Selain tersenyum salah tingkah membayangkan masa itu, Cla juga membayangkan jika Arsen akan mengucapkan kalimat itu secara langsung.


Ah, gadis mana yang tidak malu ketika harus berhadapan dengan situasi seperti ini?


Cla yakin sedikit banyak, Arsen sudah mengetahui apa yang ia rasakan. Meski Cla tidak tau, jika sesungguhnya Naufal sudah menceritakan semua yang terjadi pada Arsen.


' Jangan terlalu percaya diri, Cla... Bisa saja perasaan itu sudah berubah... '


Lirihnya masih menunduk dalam. Tanpa bisa membalas kalimat yang di ucapkan oleh sang pembalap.


"Aku terlalu bodoh karena tidak menyaksikan semua sampai akhir..." lanjut Arsen penuh penyesalan. "Kalau saja kala itu aku tau kamu menolak Vino, tentu aku tidak akan pergi..."


"Maafkan aku membuatmu menunggu sampai selama ini..." ucap Arsen serius.


"Sampai mereka bilang kamu seperti patung berjalan yang tidak punya rasa cinta..." Arsen berucap sembari tersenyum miris.


"Bodohnya aku pergi sebelum aku tau perasaan mu yang sebenarnya..." Arsen menggelengkan kepalanya lirih dan pilu, membuang muka dari memandang Clarice.


Cla terkesiap dan kembali mendongakkan kepalanya, mengerutkan kening dan menatap Arsen bingung.


"Dari mana kamu mendengar semua itu?" tanya Cla yang sepertinya sudah bisa mengendalikan diri untuk bicara dengan baik.


"Naufal..."


Cla semakin terlihat bingung. "Jadi kalian... sudah bertemu? Kapan?" tebak Clarice.


"Di New York!" jawab Arsen.


Clarice semakin terkesiap. "Jadi sebenarnya waktu itu kalian bertemu?" Cla terbelalak mendengar penyataan ini.


Jengkel iya, tapi sang gadis tidak mau marah begitu saja. Ia ingin mendengar penjelasan dengan sangat baik. Dan lagi, sikapnya yang dulu pernah ketus pada sang pemuda lenyap begitu saja.


"Hm..." Arsen mengangguk. "Aku yang melarang dia untuk mengatakan padamu... Karena aku tidak tau kapan bisa pulang... Kesibukan ku di New York tidak main-main, Cla... Maafkan aku sekali lagi.." ucap Arsen dengan tangan kanan yang reflek menyentuh lembut bagian sebelah kiri kepala Clarice. Dan membelai turun rambut pirang Cla.


Cla mengangguk dan kembali menunduk. Kini ia semakin merasa malu, selain karena perasaan nya sudah di ketahui Arsen, juga karena sentuhan jemari Arsen di rambutnya. Sungguh mendebarkan setiap urat nadi yang ada di dalam di tubuhnya.

__ADS_1


Bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ingin rasanya menembuskan kaki masuk ke dalam lantai dan tenggelam sampai ke inti Bumi. Atau menghilang begitu saja, bagai Ibu peri yang bisa datang dan pergi sesuka dalam serial dongeng sebelum tidur.


' Naufal pasti sudah cerita banyak tentang aku... Yaa Tuhan... Bagaimana ini? Malu sekali... '


Jerit Cla dalam hati dengan menggigit bibir bawahnya bagian dalam.


' Naufaall.... kamu lebih dulu mengenal aku! Tapi kenapa kamu lebih setia dengan Arsen! '


Gerutu sang gadis dalam hati, sembari meremas jemarinya sendiri, membayangkan seolah tengah meremas kepala Naufal. Saking gemasnya dengan sang sahabat yang bersikap demikian.


Arsen tau jika Clarice tengah malu-malu kucing, alias jinak-jinak merpati begitu mengetahui kenyataan jika sebenarnya Naufal dan ia sudah bertemu di New York dua minggu yang lalu.


Arsen sendiri juga merasakan malu sesungguhnya. Tapi ia berusaha untuk sebisa mungkin tetap tenang. Cla yang menunduk, membuat jarak kepala Cla dengan dadanya tidak terlalu jauh. Sementara tangan yang sempat membelai rambut Cla kini sudah kembali menabrak tepian meja wastafel.


Tentu saja di saat semua ini terjadi, naluri normal seorang laki-laki muncul begitu saja. Ruangan yang sepi, hanya ada mereka berdua, meski tengah berada di ruangan yang sangat tidak nyaman untuk mereka.


Dan yang paling pasti adalah... tidak aman tentunya. Karena siapa saja bisa masuk kapanpun toilet di butuhkan oleh mereka.


Di antara semua kemungkinan itu, ingin sekali sang pemuda memeluk gadis yang sudah sangat ia rindukan ini. Memeluk erat seperti yang pernah mereka lakukan di kolam renang hampir tujuh tahun yang lalu.


Tapi pantaskah memeluknya di saat pertama kali bertemu begini?


' Bagaimana kalau dia ternyata menolak untuk ku peluk? Aku pasti akan sangat malau.... '


Batin sang pemuda dengan dada yang sudah berdebar tidak karuan. Situasi ini benar-benar membuat nalurinya sebagai laki-laki bekerja cukup keras untuk menahan segala sesuatu yang ingin di perbuat.


Sudah tidak mampu menahan apa yang mengoyak-ngoyak di dalam dadanya, dengan sengaja Arsen menyentuhkan dadanya pada dahi Cla yang masih menunduk.


Deg!


Satu getaran ini terasa bersamaan di dalam dada keduanya. Ketika dahi menyentuh dada lelaki yang di sukai, pasti akan menimbulkan satu degupan yang tak biasa.


Dan ketika melihat gadis yang di sukai berada dekat di sisinya, tentulah sebagai lelaki normal akan merasa sangat bangga dan semakin ingin memeluk, melindungi dan juga mencium, jika memang bisa.


Tapi akankah semua itu terjadi dengan begitu cepat?


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2