
"Kamu harus janji! Akan selalu menolak ajakan makan bersama dari gadis pirang secantik apapun itu?" ucap Cla menggali harapan, hanya saja kali ini dengan mengulum senyuman.
"I'm promise, Baby!" ucap Arsen mengangkat dua jarinya ke udara, berucap dengan serius. "Tidak akan ada gadis manapun yang berhasil menggoda ku... Apapun cara mereka!" yakin sang pemuda.
Toh selama ini saja ia bisa menjaga diri untuk tidak berhubungan dengan gadis manapun. Jadi ia berpikir, setelah memiliki gadis yang ia inginkan, ia akan semakin tidak tertarik untuk berhubungan dengan gadis macam apapun. Karena hatinya sudah tertambat di tanah air.
"Walau duduk berdampingan pun, aku akan menjauh kalau kamu bilang kamu tidak suka hal itu." lanjutnya dengan seulas senyum jahil.
"Ya! Aku memang tidak suka! Dan tidak akan pernah suka!" ujar Cla dengan bibir yang kembali mengerucut, membayangkan Arsen duduk berdampingan dengan gadis pirang yang semalam mengirim pesan chat pada Arsen.
' Oh no! '
"Tapi kita berjauhan, kalaupun kamu duduk berdampingan dan menggoda gadis lain di sana aku juga tidak akan tau!" ketus Cla seolah menyindir bahwa ia tidak percaya dengan sang kekasih. Hingga kedua tangan di lilitkan di depan dadanya.
Wajah cemberut itu kini justru terlihat semakin sedih. Pantulan sinar bulan tidak membuat wajah itu semakin cerah untuk saat ini. Dan itu membuat Arsen semakin gemas dengan pemikiran dan sikap sang gadis yang kini akan selalu menjadi penguasa rindunya.
Tangan yang semula menangkup rahang Cla, kini turun bersamaan. Satu mendarat di tengkuk leher bersentuhan dengan pundak Cla yang masih terlihat kulit putihnya. Dan satu lagi mendarat di pinggang ramping sang kekasih. Dan dengan satu kali tarikan lembut, tubuh Cla sudah dalam pelukan hangat sang pemuda. Jarak yang ada, terkikis sudah.
Reflek lengan Cla yang melilit terbuka dan kini berpegangan pada hoodie Arsen tepat di dada bagian samping sang pemuda. Tanpa di aba-aba terlebih dahulu, dadanya bertabrakan dengan dada bidang Arsen bagian bawah. Tidak untuk memantul kembali, melainkan justru menempel sempurna dan membuat apa yang ada di dalam sana berdebar dalam hitungan detik.
Sepasang mata lentik belum berani menatap wajah tampan rupawan yang sedang menatapnya dengan sangat lembut. Ia memilih untuk menatap ke arah depan, di mana leher Arsen beserta jakun yang bergerak berada tepat di depan matanya.
Betapa khas jakun milik seorang laki-laki, hingga membuat Cla menelan ludahnya sendiri saking gugupnya.
"Apa yang kamu mau... Pasti akan aku turuti..." ucap Arsen berbisik dengan suara yang terdengar cukup berat. Seolah ada sesuatu yang tengah menjadi beban sang lelaki.
Dan beban apakah itu?
"A..Aku..." tiba-tiba Cla tidak bisa berkata-kata. Hanya dada yang bergerak naik turun dan nafas yang kembang kempis saja yang bisa di dengar Arsen.
Tentu Arsen tau akan hal ini. Namun ia sendiri juga teramat gugup. Hanya saja ia pandai menutupi itu semua. Meski jantungnya kini berdetak tak kalah kencang dari detak jantung Cla.
__ADS_1
Jarak yang teramat dekat. Hingga tubuh bagian depan mereka menempel sempurna. Dan Arsen bisa merasakan sembulan kenyal yang menghentak dadanya ketika tubuh mereka bertemu.
Dan hal itu menimbulkan reaksi yang tidak main-main untuk laki-laki normal seperti Arsen.
"Katakan, Baby..." ucap Arsen masih dengan nada bicara yang sama, lirih dan berat. Hingga hidungnya mengeluarkan nafas hangat yang membuat Cla semakin merinding. "Apa yang tidak kamu izinkan ketika aku di sana?" lanjutnya tanpa mengubah cara bicaranya.
Cla yang semula banyak bicara, protes dan mengeluarkan segala kecurigaan dengan gamblang, kini mendadak tubuhnya membeku, lidah pun kaku hingga tenggorokan pun tercekat.
Meski tak melihat, ia bisa merasakan jika Arsen masih betah berlama-lama menatapnya sedemikian lekat. Di jarak yang tak lebih dari 10 cm saja.
"Hm?" suara Arsen kembali terdengar lebih berat lagi.
"Aku... tidak suka gadis pirang yang mengirim pesan ke nomor kamu berdekatan dengan kamu..." ucap Cla mengumpulkan tenaga yang tersisa.
Asren tersenyum tipis, karena akhirnya sang kekasih membahasnya juga.
"Namanya Lady Charlotte! Dia Mahasiswi Psikologi sama seperti kamu..."
"Hm..." jawab Arsen mengangguk sedikit.
"Tau dari mana?" Cla memicingkan matanya. "Bahkan ponsel kamu masih di tas ku!"
"Arsen yang sekarang tidak bisa kamu remehkan seperti dulu, Baby..." jawab Arsen lirih dengan sepasang mata yang menatap lekat mata lentik.
Sontak Cla tergelak lirih, hingga reflek menutup bibirnya dengan satu tangan karena malu. Mengingat betapa ia dulu selalu ketus dan jual mahal pada sang pemuda.
Tangan Arsen yang merangkul pundak Cla terayun untuk menyingkirkan jemari yang menutupi bibir merah muda yang sempat di poles ulang sebelum saat di toilet mall tadi. Membuat tawa Cla berangsur menghilang dan menatap Arsen dengan tatapan penuh tanda tanya.
Ada gelagat yang tidak bisa ia artikan dari tatapan dan juga rengkuhan Arsen di tubuhnya. Namun dapat ia rasakan, jika dirinya sangat di inginkan oleh sang kekasih.
Dan benar saja, wajah Arsen terlihat bergerak mendekati wajahnya. Nafas yang semula baik-baik saja, tiba-tiba terasa keluar masuk paru-paru dengan di hantarkan oleh debaran tidak tertolong.
__ADS_1
Arsen mendaratkan bibir tipisnya tepat di dahi Cla. Begitu lembut dan cukup lama. Hingga Cla reflek memejamkan matanya dalam. Merasai setiap aliran darahnya yang terasa berjalan sangat tenang, bagai aliran sungai di pegunungan. Tak menyangka, kecupan di keningnya menghadirkan ketenangan yang luar biasa.
Hati yang semula di penuhi rasa cemburu berangsur memudar. Dan berganti dengan perasaan tenang dan damai di dalam jiwa dan raga.
Sungguh, jika boleh meminta pada Tuhan... Ia tak ingin menjauh dari tubuh yang tengah memeluknya dengan penuh kasih sayang ini.
Kurang lebih satu menit, keduanya terdiam dalam dalam sebuah pelukan dan kecupan hangat di kening sang gadis. Sebelum akhirnya Arsen menarik bibirnya dan diam membeku menatap wajah yang hanya berjarak tak lebih dari 5 cm saja.
Merasa Cla nyaman dengan apa yang ia lakukan, maka naluri kelakian Arsen mulai unjuk gigi. Yaitu menginginkan lebih dari sekedar mengecup kening.
Maka ia mengulangnya kembali, dengan mengecup pipi sebelah kiri Cla. Cla reflek tersenyum dan mendongak ke atas. Dan itu justru menjadi kesempatan emas untuk Arsen mencium leher Cla untuk yang kesekian kalinya.
"Yaang..." rengek Cla karena geli. Menarik sedikit lehernya, namun tidak menolak ketika bibir Arsen mengejar dan kembali mendaratkan kecupan di area yang teramat sensitif dengan rasa geli itu.
"Hahaha!" gelak Cla mendorong paksa wajah Arsen, hingga wajah Arsen sedikit menjauh. "Geli tau!" ujar Cla.
"Tapi geli ini berbeda, Baby..."' jawab Arsen.
"I know!" jawab Cla tersenyum malu dengan pipi yang merah, semerah tomat segar.
"Mau lagi?" tawar Arsen.
"Malu di lihat orang!" jawab Cla melirik kanan kiri.
"Siapa?" tanya Arsen. "Pantai sudah sepi, Sayang! Kamu tidak lihat? Bahkan mobil ku idak punya teman di sana!" ujar Arsen melirik mobilnya yang terparkir di jalanan tepi pantai.
la menoleh ke arah mobil Arsen, dan matanya membulat begitu tak melihat ada roda empat yang terparkir di sekitar sana.
"Jadi?" tanya Arsen mengerling manja dengan tatapannya yang nakal.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1