Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 58 ( Masih Mencari )


__ADS_3

Sebuah foto lelaki yang di perkirakan paling sering menemui Cla di kampus terpampang di layar komputer yang berada di depan salah satu tim IT.


"Namanya Victor Yaala, dia Mahasiswa pascasarjana, Pak Kenzo." sahut salah satu tim yang menghadap layar yang menunjukkan sebuah data pribadi tentang pemilik foto itu.


"Victor Yaala..." gumam Daddy Kenzo seperti mengingat-ingat nama yang tidak asing baginya.


"Saya yakin dia anaknya Gao Yaala!" sahut Venom.


"Gao Yaala..." ulang Kenzo. "Pengusaha berdarah China itu..." lanjutnya sudah mulai mengingat pemilik marga itu.


"Benar, Pak! Nama Ayahnya Gao Yaala dan Ibunya Niken Yaala." jawab orang yang sama.


"Ya! Kita memiliki kerja sama yang baik!" jawab Kenzo. "Aku bahkan datang ke pesta ulang tahun pernikahannya."


"Terlihat jelas dari sorot mata laki-laki ini ketika melihat Nona Clarice." sahut yang menghadap foto Victor. "Jika laki-laki ini memiliki perasaan untuk Nona Clarice, Pak!" lanjutnya berasumsi.


"Ya! dia lah laki-laki yang di maksud oleh Arsen." gumam Daddy Ken. "Tapi dia anak Gao Yaala... apa mungkin dia berani mengambil keputusan gila dengan menculik putriku?" lanjutnya bergumam.


"Apa dia tidak tau siapa aku?" tanyanya entah pada siapa. "Kalau sampai benar laki-laki itu menculik Cla, pasti akan aku cincang semua yang membawa nama Yaala!" ujar sang pengusaha kaya raya.


"Aku pun tak akan gentar untuk membuat mereka meminta ampun jika sampai Cla lecet walau seujung kuku!" sahut Papa Zio yang juga ikut emosi jika sampai apa yang mereka sangkakan benar adanya.


"Apa kamu punya firasat jika dia yang menculik Cla?" tanya Kenzo pada Venom.


"Saya tidak yakin, Pak!" jawab Venom. "Mengingat keluarga Yaala sangat menjunjung tinggi nama Adhitama."


"Aku juga tidak yakin," sahut Papa Zio. "Tapi semua itu bisa saja terjadi, bukan?" tanyanya. "Hal seperti ini sangat besar kemungkinan untuk di lakukan ketika cinta mereka di tolak!"


"Aku setuju dengan mu!" sahut Daddy Ken menatap tajam pada sepasang mata Victor yang terpampang pada layar monitor.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Pak?" tanya Venom. "Sebentar lagi sudah pagi..."


"Aku ingin kalian bertiga cari tau posisi Victor, kemudian kalian bertiga bergantian berjaga untuk memastikan posisi Victor. Pagi nanti aku akan menyuruh orang untuk mengikuti pergerakannya." jelas Daddy Ken.


"Siap, Tuan!" sahut tiga tim IT bersamaan.


"Jika ada pergerakan mencurigakan dari laki-laki itu, kita langsung bergerak dan menangkap basah bajingan itu!" lanjutnya memberi instruksi.

__ADS_1


"Siap, Bos!" sahut Papa Zio dan Venom bersamaan.


***


Arsen melangkahkan kakinya menuju apartemen dengan sedikit tergesa-gesa. Jarak yang cukup dekat antara kampus dan apartemen membuat sang pemuda memilih untuk menempuh menggunakan kaki. Selain lebih mudah juga lebih sehat, bukan?


Sepanjang waktu kaki berayun, sepanjang itu pula Arsen memikirkan sang kekasih. Di mana dan bagaimana keadaannya, itulah yang terus menguasai pemikiran sang pemuda.


Hari akan menjelang gelap sekitar satu atau dua jam lagi. Tapi ponsel yang sejak tadi ia gunakan untuk mendeteksi ponsel sang kekasih tak kunjung menunjukkan hasil yang memuaskan.


Sementara baterai ponsel hanya tersisa 13% saja.


' Kamu di mana, Cla.... '


Lirih sang pemuda di dalam hati ketika memasuki lobby apartemen.


"Arsen! Kamu sudah selesai tugas?" tanya seseorang yang berpapasan dengannya di tengah lobby.


"Hmm!" jawab Arsen datar. Tidak ada tampang ramah di wajah tampannya. Ia justru terus berjalan, tanpa ada niatan untuk berjalan beriringan dengan sosok yang menyapanya.


"Boleh aku main ke apartemen kamu?" tanyanya ragu namun sorot mat penuh pengharapan.


"Tapi, Sen! Kenapa kamu selalu menolak ku untuk bermain ke apartemen kamu?" tanya nya protes.


Namun sang pemuda diam membisu sembari menunggu lift terbuka. Menganggap pertanyaan yang tertuju padanya adalah pertanyaan yang tidak berbobot.


"Kenapa, Sen? Sementara Marvin dan yang lain boleh main ke apartemen kamu?" protesnya berdiri mensejajari Arsen. "Jawab, Sen!"


Risih sudah telinga sang pemuda dengan berbagai protes yang di layangkan oleh gadis di sampingnya itu.


"Kamu adalah perempuan, Lady! Aku tidak suka menerima tamu perempuan! Apalagi hanya kamu seorang!" jawab Arsen ketus, sangat ketus.


"Walau aku sama Marvin pun kamu selalu menolak!" tandas Lady tidak terima.


Arsen menghela nafas jengah. "Sudahlah, aku lelah! Aku mau tidur!" seru Arsen langsung masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


"Cowok tampan idola New York datang!" ujar Arsen tiba-tiba menoleh ke arah pintu lobby, dan langsung menekan tombol naik ke lantai di mana apartemennya berada.

__ADS_1


Reflek Lady ikut menoleh ke arah yang sama, dan mencari sosok lelaki yang di maksud Arsen. Memang ada pemuda yang cukup di idolakan di New York. Dia adalah sosok aktor muda yang tinggal di apartemen itu.


Hanya saja, ketika Lady menoleh ke arah lobby, yang ada hanyalah seorang security memasuki lobby bersama seorang Cleaning Service.


Setelah Arsen menghilang di balik pintu, barulah Lady sadar jika ia tertinggal. Karena sesungguhnya ia ingin bersamaan dengan Arsen untuk menuju lantainya berada.


"Oh, my God! Ternyata Arsen begitu licik!" pekik Lady meninju udara dengan kesal. "Semudah itu aku tertipu!"


***


Di tengah kebingungannya, Arsen bergegas untuk bisa segera sampai di apartemennya. Tujuan utamanya adalah menemukan charger ponselnya.


Setelah menekan rangkaian angka untuk membuka kunci, maka terbukalah pintu digital yang di set olehnya menjadi kunci digital anti retas.


Berjalan cepat mendekati jendela, membuka lebar gorden besar yang menghalangi cahaya untuk masuk ke dalam apartemennya. Begitu cahaya matahari sore menyorot masuk, ia segera mencari charger yang ada di dekat nakas ruang tamu, dan langsung menyambungkan pada ponsel miliknya.


Terakhir mendatangi apartemennya adalah kemarin sore, ketika harus mandi dan mengganti bajunya. Dan membawa satu set baju lain untuk di pakai hari ini.


Tanpa mandi maupun mengganti baju terlebih dahulu, setelah melepas jaket Arsen langsung menghempaskan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu.


"Kamu di mana sebenarnya, Baby..." gumam Arsen menghela nafas panjang dan berat. "Sampai saat ini ponsel tidak aktif! Tidak ada kabar terbaru dari rumah..." gumamnya sangat resah.


Meraih laptop yang ada di atas meja, Arsen mencoba untuk masuk ke dalam jaringan-jaringan tertentu yang bisa memberinya petunjuk untuk bisa menemukan Cla.


Sampai akhirnya ia menemukan nomor ponsel sopir taksi online yang membawa Cla untuk pulang. Cepat ia menghubungi nomor tersebut. Dan jawaban yang ia dapat adalah...


"Saya berani bersumpah, Tuan... Nona itu tadi hanya minta turun di depan warung makan... Setelah nya saya tidak tau lagi..." jawaban dari sebrang membuat Arsen mengerutkan keningnya, percaya atau tidak?


"Saya baru saja keluar dari ruang pemeriksaan kantor polisi karena pertanyaan yang sama, Tuan..." lanjutnya dengan memelas.


"Polisi sedang menyelidiki sekitaran warung makan untuk menemukan CCTV yang ada dan sebagainya..." jawabnya lagi.


"Ini masih sangat pagi, Tuan... Saya ingin istirahat. Semalaman saya di kantor polisi untuk di periksa!"


"Ya, sudah! Tidurlah!" jawab Arsen frustasi sampai tidak bisa lagi mengatakan apapun lagi selain menguarkan emosi yang ada di dalam dada.


Menghela nafas berat, semua sungguh di luar harapannya. Ingin melepas lelah tugas dengan menatap wajah cantik sang kekasih. Justru harus mencari sang kekasih dari jarak yang sangat jauh.

__ADS_1


"Aku butuh istirahat! Mata dan tubuh ku sangat lelah. Tapi bagaimana aku bisa tidur, kalau Cla belum di temukan..." lirih sang pemuda menatap nanar pada jam dinding.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2