
Jalanan tengah kota memang nyaris tidak pernah sepi. Dan itu membuat Arsen memilih untuk mengemudikan mobilnya dengan santai mengikuti arus kendaraan yang lain. Justru jika bisa ia ingin waktu tak lekas menuju larut malam.
Karena hari ini terasa begitu singkat untuk dirinya yang tengah di mabuk cinta.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika mobil putih milik Arsen memasuki perumahan elit Grand Blue Lagoon. Di mana kediaman Kenzo Adhitama berdiri dengan megah di antara bangunan megah lainnya.
"Aku yakin Daddy akan menanyai kamu tentang banyak hal..." gumam Cla menoleh Arsen yang tampak mengemudi dengan santai.
Meski sejak tadi Cla menceritakan betapa Daddy dan Papanya selalu mengharapkan kelak Cla akan di miliki oleh laki-laki yang bertanggung jawab. Dan akan turun tangan secara langsung pada laki-laki yang berani mempermainkan anak gadis mereka.
Arsen terlihat santai saja karena ia memang siap bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia pilih. Sudah mendapatkan apa yang membuatnya menolak banyak gadis yang mendekat, tak mungkin ia lepas dan menyerah begitu saja.
"Tidak masalah... Aku akan menjawab sesuai apa adanya diriku..." jawab Arsen sangat tenang. "Kamu tidak perlu khawatir, segala sesuatu memang butuh perjuangan, bukan?" lanjutnya.
"Justru semua akan hilang dengan mudah jika kita mendapatkannya dengan sangat mudah pula..." lanjut Arsen meraih jemari Cla dan menggenggamnya lembut. "Ingat... kita sudah lama memendam, menahan semua ini sekian tahun lamanya. Jangan sampai kita berpisah hanya karena enggan berjuang."
"Menghadapi orang tua mu, sudah menjadi tugas dan kewajiban ku sebagai laki-laki yang menginginkan putri mereka." ucap Arsen meremas lembut jemari Cla. Menyakinkan sang gadis jika semua akan baik-baik saja.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Baby... Apalagi orang tua kita bersahabat. Bisa jadi mereka justru akan senang kalau kita berjodoh..." ucap Arsen menenangkan hati lembut yang sedang di landa khawatir karena untuk pertama kali akan mengenalkan seseorang sebagai kekasihnya.
Tanpa persiapan dan juga tanpa ada pembicaraan sebelumnya. Karena semua terjadi hanya dalam waktu satu hari.
Jika di telaah lebih jauh, harusnya yang gugup saat ini adalah sang lelaki, karena akan menghadapi empat orang tua Cla.
Ya! jumlah orang tua Cla yang lebih banyak dari gadis pada umumnya tentu membuat Arsen harus berpikir keras untuk mengambil hati bukan hanya dua orang tua saja, tapi empat orang tua sekaligus.
Cla mengangguk paham akan maksud dari sang kekasih. Yang di khawatirkan selama ini hanyalah tentang Daddy Ken yang super duper over protective melebih Papa Zio yang notabene nya adalah Ayah kandung Clarice.
Mobil BMW itu mulai memasuki gerbang besi yang menjulang tinggi. Dimana security langsung membuka otomatis pagar begitu melihat Cla membuka jendela kaca di sisi kirinya.
"Mereka sudah pulang..." gumam Cla ketika melihat mobil merahnya sudah teraparkir dengan cantik di tempat parkir, dan tak menemukan mobil Naufal ada di sana.
Mobil berhenti tepat di tempat parkir mobil yang kosong, dan Arsen sigap bergerak cepat untuk membuka pintu di mana Cla akan turun dari mobilnya pertama kali.
"Lain kali tidak perlu lah membukakan aku pintu mobil, aku bisa sendiri... Seperti sinetron saja! Pintu saja di bukakan!" gerutu Clarice merasa terlalu berlebihan dengan sikap Arsen.
__ADS_1
Arsen tergelak, teringat kembali jika gadis yang kini menjadi kekasihnya ini dulu adalah gadis yang selalu ketus dan selalu mengatai dirinya pecicilan juga buaya darat.
Nyatanya selama di New York tak sekalipun ia menjalin hubungan dengan seorang gadis. Meskipun tinggal di negara yang penuh dengan kebebasan dan jauh dari pengawasan dan peraturan ketat orang tua.
"Baiklah, Nona..." jawab Arsen pasrah saja dengan segala permintaan ratunya.
Mereka berjalan beriringan ke arah pintu utama kediaman Kenzo Adhitama dengan jantung yang berdegup cukup kencang. Hanya saja keduanya saling menyimpan apa yang terasa di dalam dada masing-masing. Agar tidak membuat khawatir yang lain.
Dan ketika sudah sampai di depan pintu, Cla langsung membuka pintu dan meminta Arsen untuk masuk ikut ke dalam rumah.
"Di sana saja..." ucap Cla menunjuk ruang tamu yang biasa di gunakan untuk menerima tamu orang-orang terdekat saja.
Dan di sana pula biasanya Mommy Calina menerima kehadiran Mama Rania ketika bertemu atau untuk undangan makan bersama.
"Hmm..." Arsen mengangguk.
Jika di luar tadi ia terlihat sangat santai, seolah semua akan sangat mudah di genggam. Nyatanya ketika kini ia sudah berada di rumah Cla dan cepat atau lambat orang tua Cla pasti akan muncul dan menemui dirinya, sang pemuda justru terlihat lebih gugup.
Bagaimana tidak, saat ini ia seolah tengah di persiapkan untuk menjadi santapan buaya di penangkaran.
"Mbak, buatkan minum untuk Arsen, ya?" ucap Cla pada wanita paruh baya yang memang bertugas di dapur.
"Siap, Mbak!" jawabnya.
"Mommy dan Daddy kemana?" tanya Cla setelah melihat lantai dua sepertinya sangat sepi.
"Kami di sini, Cla..." suara bariton terdengar dari pintu yang mengarah ke halaman belakang dan kolam renang yang menjadi saksi bisu ketika mereka menghabiskan waktu akhir pekan di masa remaja mereka.
Cla dan Arsen reflek menoleh ke sana, dan dari sanalah muncul sepasang suami istri yang melegenda. Di mana sang wanita adalah mantan istri anak buah sang lelaki yang terbuang karena ketidak adilan.
Dan kini kehidupan terasa begitu damai, dengan jalan yang dipilih atas keputusan bersama. Merawat Cla bersama, meski sudah menjalani kehidupan bersama pasangan yang baru.
"Daddy... Mommy..." sapa Cla dengan jantung yang berdebar. Karena dua langkah lagi, mereka akan melihat keberadaan Arsen yang duduk di sofa.
"Arsen...." sapa Mommy Calina ketika benar-benar menemukan Arsen duduk di sofa panjang yang ada diruang tengah.
__ADS_1
"Selamat malam, Aunty Calina! Uncle Kenzo!" sapa Arsen yang reflek berdiri begitu melihat orang tua Cla sudah sampai di area ruang tengah.
"Malam..." jawab Mommy Calina dengan senyuman yang ramah.
Jika Mommy Calina menyambut Arsen dengan ramah, maka ekspresi yang berbeda terpancar dari wajah tampan dan maskulin seorang Kenzo Adhitama.
Ya! usia sama sekali tidak mempengaruhi kadar ketampanan yang di miliki sang pengangguran kaya raya itu.
Aura dingin seketika bertebaran di ruang tengah begitu semua tengah berdiri untuk menyambut langah kedua orang tua Cla tiba di sofa.
Dengan satu gerakan tangan saja, semua bisa mengartikan jika Daddy Kenzo meminta semua untuk duduk di sofa yang tersedia.
Cla duduk di sofa yang sama dengan Arsen, jarak duduk mereka pun hanya satu jengkal saja. Sedang Mommy dan Daddy nya duduk di sofa yang hanya muat untuk dua orang saja. Di mana keduanya bagai raja dan ratu yang tengah menemu tamu mereka.
Dan saat ini, Arsen tengah menarik nafas panjang, sepanjang jalan kenangannya bersama Clarice. Lebay sedikit lah, ya?
"Apa kabar, Arsen?" tanya Mommy Calina.
"Baik, Aunty..."
"Kuliah juga baik?"
"Ya, Aunty."
"Mama kamu bilang... kamu kuliah di dua fakultas?"
"Ya! Karena dua ilmu itu sangat penting bagi Arsen..." jawabnya lugas dan tidak terbata.
"Ya! Kamu memang benar! Sebagai putra seorang Jonathan Wilson kamu memang harus seperti itu!" sahut Daddy Kenzo dengan nada yang cukup ketus. Dan itu membuat kedua anak muda di sofa panjang merasa tegang.
"Daddy..." lirih mommy Calina menyentuh lembut lengan Daddy Kenzo. Laki-laki yang sejak kemunculannya dalam sebuah cerita sudah menebar aura dingin di mana-mana.
Sementara Cla dan Arsen terlibat adegan saling lirik untuk sesaat.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1