Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 34 ( Saling Pantau )


__ADS_3

Sementara itu, di kamarnya yang ada di tanah air, tepatnya di kediaman utama keluarga Jonathan Wilson, Arsen tengah tersenyum tipis. Setelah memasang pelindung pada ponsel Cla, agar tidak mudah di retas oleh siapapun juga. Arsen berselancar dengan segala sesuatu di dalam ponsel Cla.


Beberapa foto pribadi Cla, bisa dengan mudah dan sepuasnya ia pandangi satu persatu. Banyak sekali foto pribadi yang memperlihatkan betapa cantik sang gadis, baik di foto maupun aslinya.


Berbagai video perjalanan Cla ketika berlibur pun bisa dengan mudah ia tonton. Memperlihat wajah cantik sang gadis dari tahun ke tahun saat keduanya lama tidak bertemu.


Arsen terpaku dengan bibir yang untuk pertama kali di kecupnya singkat, ketika ia melihat sebuah foto yang hanya menunjukkan kesempurnaan wajah Clarice. Dalam hati ia berkata, ia harus mendapatkan ciuman pertama dari gadis cantik yang kini menjadi kekasihnya.


Harus ia yang mengajarkan pada Cla bagaimana menikmati sebuah ciuman yang hangat dan mendebarkan. Hanya saja, waktu untuk dia ada di tanah air tinggal tersisa besok saja. Apakah besok ia bisa mewujudkan keinginan itu.


Rasanya akan sangat sulit!


Arsen tak ingin, sang kekasih berdekatan dengan laki-laki manapun lagi. Tapi bagaimana cara mengontrolnya? Jarak akan menjadi pemisah mereka sampai gelar sarjana ia dapatkan di negeri orang.


"Biarlah! Setidaknya mulai hari ini kamu adalah milikku!" gumam Arsen tersenyum tipis. "Segala bentuk hama ketika kita berjauhan akan aku singkirkan dengan kelebihan ku sebagai seorang Hacker!"


Arsen beralih pada aplikasi chat. Ada beberapa pesan yang masuk ke ponsel Cla yang belum terbuka. Salah satunya adalah pesan dari Gwen yang mengucapkan selamat malam dan selamat atas hubungan baru mereka.


Arsen membalas pesan itu dengan sebuah kalimat singkat yang ia ketik, dan berpura sebagai Cla.


*Thank you, my best friend!*


Selanjutnya adalah chat dari seseorang yang membuat hati Arsen mendidih tidak tertolong. Bagaimana tidak, pesan itu berasal dari sebuah nomor yang sudah di simpan dengan nama datar dan wajar, Kak Victor.


Meski nama itu adalah nama yang wajar untuk di sematkan ketika menyimpan nomor seseorang, tetap saja Arsen yang notabene nya sangat cemburuan tidak suka dengan kenyataan sang kekasih yang menyimpan nomor laki-laki yang jelas menjadi rivalnya.


"Awas saja kalau si brengsek ini masih berani berusaha menjebol pengaman yang sudah aku buat!" gumam Arsen geram. "Akan aku kirim virus ke ponselmu, you stupid *****!" umpatnya kesal.


Arsen membuka chat dari Victor tanpa berpikir panjang. Ia langsung membaca pesan yang dikirim oleh Victor.


Pesan dalam chat ...


*Selamat malam, Cla? Maaf tadi tidak bisa ikut bergabung dengan kalian... Karena aku harus membantu teman ku.*

__ADS_1


"Memangnya di kira penting permintaan maaf ini!" gerutu Arsen mencibir dengan gerakan bibir kesal.


*Kalau boleh tau, kamu dan Arsen ada hubungan apa?*


*Maaf, aku tadi tidak sengaja melihat kalian di parkiran.*


Arsen tersenyum miring, "Dan aku sengaja melakukan itu di parkiran supaya kamu tau kalau aku dan Cla ada hubungan yang spesial!"


Kekehnya mengingat kejadian tadi siang, di mana ia sengaja mengunci tubuh Cla, karena ia tau ada Victor yang baru saja masuk ke sebuah mobil yang ada di seberang mobil Arsen sebelum Gwen meminta kunci mobil Cla.


"Dasar bodoh!" gerutu Arsen yang lebih realistis untuk menyatakan ketidaksukaannya pada seseorang.


Istilahnya ia lebih memilih untuk berkelahi di banding pura-pura baik.


"Yaa.. kami berpacaran..."


ucap Arsen sembari mengetikkan kalimat itu untuk di kirim pada Victor.


*Oh! Sejak kapan? Kenapa aku baru melihatnya sejak kita berkenalan?


Balas Arsen dengan senyum culas dan tidak memperdulikan seperti apa gaya Cla ketika membalas pesan Victor. Ia bahkan tidak peduli jika Victor curiga, kalau dirinya lah yang membalas pesan.


Dan sepertinya dugaan sang pembalap benar adanya. Victor sudah tidak lagi membalas setelah ia membalas dengan kalimat yang panjang dan begitu jelas kemana arahnya.


"Tidak membalas lagi memang lebih baik!" gerutu Arsen menghapus sisa chat dari Victor setelah ia mengecek tidak ada obrolan antara Cla dan Victor yang menjurus pada sesuatu yang sensitif.


Puas mengeksplore ponsel sang kekasih, Arsen mencoba untuk meretas ponsel miliknya yang di pegang oleh sang kekasih.


Arsen tersenyum, ketika mengetahui ternyata ponsel miliknya tengah di mainkan oleh kekasihnya. Segala sesuatu tengah coba untuk di telusuri oleh Cla. Hampir sama seperti yang tengah ia lakukan.


Bedanya, Cla tidak membalas pesan dari gadis pirang, yang merupakan mahasiswi Psikologi semester terakhir di Columbia University.


Padahal, jika Cla ingin membalas, Arsen tidak akan pernah melarang apalagi marah. Ia tidak peduli apapun yang akan di balaskan oleh Cla. Tapi ternyata sang gadis memilih untuk mode diam.

__ADS_1


"Apa besok kamu akan menanyakan tentang dia?" gumam Arsen tersenyum miring dan tidak khawatir sama sekali. Karena merasa si pirang itu bukanlah sesuatu yang patut untuk di cemburukan oleh Cla.


Sampai akhirnya, ponsel miliknya tampak mulai sengaja di tutup setelah satu jam lebih di mainkan oleh Cla.


Dan saat itulah, baru ia memilih untuk mengirim pesan selamat malam untuk pertama kali pada sang kekasih.


Tak lupa ia sematkan nama MY SOUL yang juga di tulis menggunakan huruf besar semua dan emoticon love berwarna putih untuk nomornya di ponsel Cla.


***


Sementara itu di balkon sebuah kamar perumahan tak kalah mewah, ada pemuda yang tengah menghadap laptop miliknya dengan geram. Ia tidak bisa melacak keberadaan ponsel adik tingkatnya seperti biasa.


Jangankan meretas, melacak lokasi saja dia tidak bisa. Karena lawannya rupanya memang cukup cerdas di bidang coding code dan programming.


Ia juga kesal, karena ketika mengirim pesan pada nomor itu, balasan yang ia terima sangat mencurigakan.


"Clarice tidak pernah membalas pesan dengan kalimat dan nada bicara yang terbaca menyebalkan!" gerutunya lirih.


"Pasti pemuda itu yang membawa ponsel Clarice!" lanjutnya meremas jemarinya sendiri.


"Dari sekian banyak Mahasiswi di kampus, kenapa baru kamu yang membuat aku ingin terus bertemu, Clarice!"


Gumam sang Mahasiswa pascasarjana yang tak lain adalah Victor Yaala. Anak pengusaha kaya raya yang rupanya cukup sulit untuk jatuh cinta.


"Aku menyesal karena terlambat mengatakan cinta padamu. Harusnya sejak kemarin-kemarin aku mengatur waktu untuk kita bisa jalan berdua."


Sesal sang idola kampus.


"Tapi dari yang aku lihat, sikapmu pada Arsen memang cukup berbeda... Apa kalian sudah lama saling mencintai?"


"Yaa Tuhan... Kenapa aku harus menyukai gadis yang menyukai orang lain...?" lirihnya meletakkan kepala pada sandaran sofa. Menengadahkan kepala menatap atap balkon kamarnya.


"Dunia tidak sesempit itu, Vick!" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2