Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 84 ( Siapa Dia? )


__ADS_3

"Dan?" tanya Cla begitu Arsen menggantung kalimatnya.


"Dan yang lain..." jawab Arsen.


"Lady?"


"Salah satunya!" jawab Arsen datar.


"Berarti ada banyak lagi?"


"Hmm... begitulah!" jawab Arsen santai.


"Cowok cewek?"


"Ya iyalah, Sayang! Teman satu kampus dan satu apartemen kan banyak."


"Oh..." Cla mengangguk pelan dan paham.


Waktu terus berjalan, dan dua anak muda itu masih asyik menghabiskan tiap menitnya di persimpangan Times Square dengan menikmati berbagai hidangan dari Cafe-Cafe yang ada di sana.


Selain itu Cla juga berbelanja di sekitaran Times Square. Membeli beberapa baju ganti dan keperluan di apartemen lainnya.


Setiap suasana berganti, maka keduanya akan berfoto di sana. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Pulang sekarang?" tanya Arsen ketika keduanya keluar dari salah satu supermarket 24 jam.


"Hmm..." jawab Cla mengangguk setuju.


***


Dengan membawa beberapa paper bag dan kantong belanjaan, keduanya kembali ke apartemen dengan menaiki kereta api. Butuh waktu sekitar 20-25 menit, untuk mereka bisa sampai di apartemen.


"Aku masih kepikiran... Dari mana Daddy tau kita sedang pergi?" gumam Cla ketika keduanya sampai di apartemen dan membereskan barang belanjaan Cla.


"Apa Uncle Ken punya teman di sini?"


"Aku tau beberapa, tapi kata Daddy ada banyak..." jawab Cla mengingat chatting nya dengan sang Daddy beberapa waktu lalu.


Arsen mengangguk paham. "Kamu mandi duluan sana, Baby!" ucap Arsen.


"Ok!"

__ADS_1


Sementara Cla mandi, Arsen langsung membuka laptop miliknya dan memasuki salah satu situs rahasia yang tak semua orang bisa membobolnya.


Sembari menunggu proses membukanya firewall, ia mandi dengan cepat di kamar mandi ruang tamu. Ketika mengambil baju ganti di kamar, suara shower di kamar mandi masih terdengar.


Ya, wanita selalu lama di dalam sana.


15 menit berlalu, dan ia kembali ke meja mini bar, kemudian matanya memicing begitu menemukan sesuatu yang mencurigakan.


' Sepertinya dia mata-mata Uncle kenzo! '


' Siapa dia? '


Gumam Arsen kemudian melakukan zoom pada sosok yang terlihat berulang kali melihat gerak-gerik Cla dan Arsen dari dalam Cafe apartemen. Ketika ia dan Cla mengobrol dengan Lady di depan lobby.


Sosok itu mengenakan masker dan topi yang membuat wajahnya tidak bisa terlihat dengan jelas.


Tidak patah semangat, Arsen mencoba meretas CCTV di jalan depan, bahkan halte dan stasiun.


Dan ia menemukan sosok itu turun bersama Cla dan dirinya di stasiun. Dan lelaki itu tak lagi terdeteksi setelah ia masuk ke area Central Park.


' Jadi kita tadi satu gerbong? '


Gumam sang pemuda.


Arsen kembali beraksi dengan meretas CCTV lain, hingga mendapati laki-laki berusia sekitar 40 tahun itu masuk ke dalam sebuah bus umum.


Terus mengikuti rute bus, laki-laki itu turun dan berjalan kaki sampai berakhir di sebuah rumah super mewah.


"Ah! Keamanan rumah itu sungguh bagus rupanya!" gerutunya. "Aku sampai tidak bisa meretas CCTV mereka!" gumamnya sembari memukul meja mini bar pelan.


"Jadi dia tadi tidak ikut masuk ke Central Park, itu artinya... kalau tadi aku dan Cla berciuman di sana pun dia tidak akan tau, bukan?" gumamnya dengan raut wajah masam karena menyesal misinya gagal.


"Kenapa?" tanya Cla muncul dari pintu kamar tidur sudah dengan piyama tidurnya. Satu set piyama celana panjang dan kaos oblong yang ia beli tadi.


"Sini, Sayang! Coba lihat!" Arsen menarik lengan Cla, dan mengulang adegan yang pernah mereka lakukan di kursi yang sama.


Cla masuk ke sela-sela kaki Arsen, dan bersandar nyaman di dada bidang Arsen. Dengan begitu jarak keduanya teramat dekat dan sangat romantis. Kepala Arsen ada di pundak kiri Cla, setelah menyingkirkan rambut Cla yang setengah basah.


"Aku menemukan sosok yang menjadi mata-mata Daddy Ken. Dan dia masuk ke rumah ini!" jelas Arsen.


"Oh, my God!" pekik Cla menutup mulutnya dengan mata yang terbuka lebar.

__ADS_1


"Kenapa?" giliran Arsen yang bertanya.


"Aku pernah di ajak ke rumah itu! Itu rumah salah satu teman Daddy saat kuliah program Pascasarjana di Aussie. Dan dia salah satu pengusaha minyak dunia!" jelas Cla.


"Pantas saja keamanan rumahnya sulit di tembus!"


"Hmm! Dia sangat kaya raya dan pintar!"


"Ini orang nya?" tanya Arsen menunjuk laki-laki bertopi dan bermasker tadi.


"Bukan, dia pasti salah satu ajudannya. Dia seumuran dengan Daddy Ken, 50 tahun lebih. Tubuhnya lebih besar dari laki-laki itu."


"Ohh..." Arsen mengangguk paham. "Tak apa, dia tadi tidak mengikuti setiap inchi dari apa yang kita lakukan sepanjang hari, Baby..."


"Hm!" Cla tersenyum senang karena ternyata tidak di mata-matai. "Mungkin di perintahkan untuk mengawasi aku sesekali."


"Sepertinya begitu..." jawab Arsen. "Kamu harum sekali..." puji Arsen mengendus rambut dan kulit leher Cla dengan lembut dan mata yang terpejam. Saking hanyutnya pada keharuman sang kekasih.


"Kamu suka harumnya?" tanya Cla berbinar yang di jawab dengan sebuah anggukan oleh Arsen. "Aku beli di supermarket tadi!" menoleh pada Arsen yang menatapnya dengan lekat.


Ah, di jarak sedemikian dekat, bagaimana mungkin tidak ingin melakukan hal lebih dari sekedar mencium keharuman sang gadis.


"Apapun yang kamu pakai, aku pasti suka..." ucap Arsen melingkarkan tangan di perut Cla dan mendekap erat.


"Apapun?" tanya Cla.


"Hmm.." Arsen mengangguk yakin dan tatapannya semakin dalam menatap wajah cantik Cla, hingga menghanyutkan sang gadis ke dalam lembah cinta yang dalam.


"Can I kiss you?" bisik Arsen pada akhirnya.


Cla tak lantas menjawab, meski ia terbawa arus oleh suara lembut dan syahdu dari sang pemuda. Ia membeku dengan tatapan mata yang hanya tertuju pada bibir dan mata Arsen secara bergantian. Kemudian detak jantung dan aliran darah di dalam tubuhnya mulai tidak beraturan.


Tanpa menunggu jawaban sang kekasih, Arsen langsung mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak bibir mereka. Membuat bibirnya dan bibir Cla bersentuhan. Dan ciuman tipis terjadi pada saat itu.


Namun hawa dingin malam kota New York, membuat sang pemuda bereaksi lebih cepat daripada biasanya.


Ia memutar pelan tubuh Cla agar berhadapan dengannya, kemudian ia dekap lebih erat tubuh mungil itu. Hingga dada mereka bertubrukan dengan lembut. Dan hawa panas semakin terasa di dalam tubuh sang pemuda, ketika dadanya tertabrak benda kenyal yang mana sebagai lelaki normal tentu ingin sekali menyentuh benda itu.


Apalagi secara sadar atau tidak Cla terus saja menggerakkan dadanya di sana setiap merasa ada yang aneh dengan suasana di dalam tubuhnya.


Namun yang bisa Arsen lakukan saat ini hanya membuat kedua tangannya merayap lembut di punggung Cla. Memperdalam ciuman dengan sebuah permainan lidah. Meski ada sesuatu di bawah sana yang mulai bergerak tidak karuan.

__ADS_1


"Harusnya kita melakukan ini di kamar?" tanya Arsen dengan suara yang terdengar sangat berat.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2