
Setelah dua tiket berada di dalam genggaman, Arsen langsung berjalan ke arah sang kekasih dengan raut wajah yang dingin. Sengaja memberi kesan tidak suka sejak awal pada pemuda yang terlihat mencoba untuk berkenalan dengan Cla.
"Sudah?" sambut Cla ketika Arsen sudah berada dua langkah di depannya.
"Hmm..." Arsen mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang kekasih, tapi matanya tajam melihat ke arah pemuda yang jelas terlhat lebih tua darinya.
"Sorry, brother!" ucap pemuda itu tanpa di minta, ketika tau jika Arsen menatapnya dengan penuh intimidasi. "Aku tidak bermaksud untuk mengganggu kekasih mu..." ucapnya bersamaan dengan Arsen yang langsung menarik pelan tangan Cla untuk berpindah berada di sisi kirinya.
"Hm?" tanya Arsen dengan memicingkan matanya dan bernada sangat dingin.
Hanya satu hm dengan di barengi tatapan yang teramat tidak suka dan mengintimidasi pada sang pemuda, pemuda itu tau jika Arsen seolah tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Baiklah... sorry! Sorry!" pemuda itu mengangkat kedua telapak tangan seolah benar-benar meminta maaf pada Arsen yang postur tubuhnya terlihat tak jauh beda dengan dirinya. Hanya justru terlihat lebih tinggi sedikit saja di banding dirinya.
"Aku mengaku salah! Aku sungguh tidak tau jika ternyata dia datang bersama kamu, kekasihnya. Aku pikir... dia hanya sendiri!" jawab pemuda itu melirik Cla sekilas.
Pemuda itu menyerah hanya dengan menatap sepasang mata Arsen yang semakin lama semakin tajam dan menusuk walau tanpa duri.
"Jadi tujuan pertama mu memang untuk mengganggu kekasihku?" tanya Arsen dingin.
"No! Bukan mengganggu, Bro... awalnya aku kira dia hanya sedang bersama teman perempuan seperti yang lain. Karena di sana ada seorang gadis juga yang sedang mengantri. Aku sama sekali tidak tau jika dia datang bersama kekasihnya." ucap pemuda itu.
"Sekarang tau, kan?" tanya Arsen masih dengan nada bicara yang terdengar sinis.
"Iya! Aku tau," jawab pemuda itu cepat dan lugas. "Dan aku juga tau, kalau cinta kekasihmu yang teramat cantik ini tidak akan semudah itu di goyahkan oleh laki-laki manapun..." ucap pemuda itu. "Jadi kamu tidak perlu terlalu cemburu seperti sekarang..."
"Apa maksudmu?" tanya Arsen tidak paham kenapa pemuda itu tiba-tiba bicara demikian.
__ADS_1
"Kalian sudah berpacaran selama hampir tujuh tahun, dan sampai sekarang masih terlihat saling mencintai satu sama lain. itu artinya kalian berdua sama-sama saling setia."
DEG!
Paru-paru Cla seketika terasa menahan nafas di dalam sana. Jantungnya berdebar kian kencang. Ingin rasanya menenggelamkan kaki hingga sekujur tubuhnya supaya tak terlihat oleh sang kekasih yang mengerutkan keningnya menatap pemuda asing tak ia kenal sama sekali itu.
Kebohongannya pada pemuda itu ternyata di ungkap di depan sang kekasih dengan begitu mudahnya. Baru saja di buat mati kutu oleh kalimatnya. Sekarang di buat salah tingkah pada kekasihnya, Arsenio Wilson.
' Orang ini benar-benar ingin aku kirim desa untuk jadi santapan sapi saja! '
Gerutu Clarice di dalam hati dengan jemari tangan kiri yang terkepal kuat.
"Hampir tujuh tahun?" tanya Arsen mengulang dengan lirih. Arsen menoleh dan menatap sang kekasih dengan tatapan penuh tanda tanya.
Namun sang pemuda yang cukup cerdas itu langsung paham begitu melihat ekspresi Cal yang tak berani menatap matanya. Justru membuang muka dari pandangannya.
"Ya! Kamu tau kami sudah berpacaran selama tujuh tahun! Jadi jangan ganggu perjuangan kami untuk bisa sampai ada tujuan kami, yaitu menikah!" jawab Arsen dengan entengnya, namun tatapan matanya masih tidak berubah pada pemuda itu.
"Nah! Itulah yang tadi aku sayangkan, brother!" seru pemuda yang di anggap Arsen hanya membuang-buang waktunya saja itu.
"Kalian sudah berpacaran selama tujuh tahun, kenapa tidak kunjung menikah!" lanjutnya menatap Arsen dengan tatapan yang mulai merasa diri menang satu langkah di depan Arsen.
"Kalau aku jadi kamu, punya kekasih yang cantiknya nyaris sempurna seperti ini, pasti sudah aku nikahi. Tidak akan aku sia-siakan. Sebelum dia di ambil orang..." lanjutnya sesumbar dengan tawa kemenangan.
"Orang seperti mu?" sahut Arsen memicing dengan ujung bibir yang tersenyum tipis setengah mengejek. "Lelaki dengan pemikiran yang pendek, dan masa depan tidak tergambar dengan baik?"
Jika Cla merasa sial dengan pertanyaan yang sama, Arsen justru terlihat santai sembari menatap penuh cibiran pada lelaki yang mulai salah tingkah akibat kalimat yang ia lontarkan. Bahkan senyum kemenangan berangsur memudar begitu saja.
__ADS_1
"Aku rasa... usia kita tidak jauh berbeda. Meski begitu, aku yakin kita beda visi dan kita juga beda misi. Vision mu belum tentu sama dengan vision ku."
"Dan pernikahan, bukan hanya tentang seberapa lama kalian berpacaran. Bukan pula tentang sebanyak apa usia kalian saat ini. Tapi tentang bagaimana rancangan kehidupan di masa depan." jawab Arsen dengan sangat santai dan lugas.
Jemari sang kekasih yang sejak tadi berada di dalam genggaman adalah penyempurna keberaniannya dalam menghadapi lelaki dengan banyak pasukan di belakangnya yang sedang menatap sedikit sinis pada dirinya saat ini.
"Kalau kamu sekarang sudah punya kekasih yang sudah kamu pacari sejak tujuh tahun yang lalu, apa mungkin sekarang kamu sudah punya rumah? Apa sekarang kamu sudah punya uang sekian milyar untuk memintanya menjadi istrimu dan memberikan sebuah pesta pernikahan sekali seumur hidupnya yang meriah sesuai impiannya?"
Lidah pemuda itu tercekat mendengar pertanyaan Arsen. Menelan ludah saja serasa seperti menelan keong pantai, teramat susah. Pertanyaan Arsen benar-benar membuatnya mati kutu.
"Memang tidak semua gadis ingin menikah dengan mewah. Tapi kita sebagai laki-laki harus tau bagaimana menciptakan momen yang hanya akan ia rasakan satu kali seumur hidup."
"Aku yakin, untuk saat ini uang di tangan kita tidak jauh berbeda." lanjut Arsen membuat pemuda di belakang lelaki itu saling tatap. Seolah apa yang di katakan Arsen benar adanya.
"Aku tau kamu bukan lelaki yang tidak ber-uang! Tapi kamu harus tau, lelaki yang baik akan menawarkan masa depan kepada kekasihnya dengan uang sendiri! Bukan uang pemberian orang tuanya!" ucap Arsen dengan sebuah tatapan yang kaya akan makna.
Sejak tadi sang mantan pembalap itu memang mengamati setiap inchi dari apa yang di kenakan oleh pemuda itu. tentu Arsen tau, jika lelaki itu juga tak kalah kaya dari orang tuanya.
"Dan lagi... pernikahan bukan hanya tentang itu. Tapi juga kehidupan setelahnya. Jangan biarkan bidadari mu merasakan pahitnya kehidupan seorang diri. Lihatlah!" Arsen menunjuk teman-teman pemuda itu di belakang sana. "Kamu bahkan masih suka keluyuran dengan mereka. Tidak semua wanita suka di tinggal laki-lakinya pergi untuk nongkrong bersama teman-temannya seperti yang sedang kamu lakukan."
"Hufff...." Cla membuang nafas lega secara samar dari mulutnya. Ia tak menyangka Arsen bisa menjawab dengan sedemikian santai dan lugas. Hingga lawannya mati kutu dan tak bereaksi sama sekali. Bahkan untuk satu kata iya saja tidak bisa terucap.
Arsen mengangkat tangannya, menepuk pelan lengan lelaki itu, dengan tatapan mata yang tajamnya belum juga berkurang.
"Ingat! Aku bukan saudaramu..." ucap Arsen. "Jadi tidak perlu repot-repot memanggilku brother...." sindir Arsen mencibir panggilan sok akrab dari pemuda id hadapan.
Kali ini Cla tersenyum tipis mendengar kalimat Arsen. Sungguh lucu dan menggelitik. Cla yakin pemuda itu saat ini sedang salah tingkah akibat kalimatnya sendiri. Terlihat dari cara berdiri pemuda itu yang mulai tidak percaya diri.
__ADS_1
"Bye!" ketusnya saat berpamitan.
...🪴 Bersambung ... 🪴...