Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 85 ( I Need You! )


__ADS_3

Pagi hari, Arsen sudah harus kembali berangkat ke kampus. Setelah ciuman panas semalam berakhir dengan sebuah canda tawa yang membuat keduanya berakhir dengan tidur seperti saat malam pertama Cla datang di apartemen sang pemuda.


Cla tidur di kamar dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Sedang Arsen tidur di sofa ruang tamu dengan selimut tebal yang lain.


Itu karena apa? Karena ponsel Cla ada di samping laptop Arsen tiba-tiba berdering dengan nama sang Daddy muncul di sana. Yang mana membuat keduanya auto melompat dari area mini bar.


Dan kini, sang pemuda sudah berpakaian santai, celana jeans, kaos lengan pendek yang di balut dengan jaket berwarna biru muda yang membuat wajahnya terlihat bersinar di pagi yang cerah ini.


"Kamu memang tampan, pantas saja Lady sulit berkedip kalau melihat kamu..." gumam Cla yang kini berdiri di hadapan sang kekasih yang sudah berdiri di balik pintu utama apartemen dan siap keluar meninggalkan sang kekasih kembali sendirian di ruangan yang tidak terlalu besar itu.


Arsen tersenyum datar, "Kenapa selalu saja menyebut nama Lady dan Lady?" tanya Arsen santai. "Padahal aku hanya selalu menyebut namamu..." lanjutnya mendekat dan meraih pinggang ramping itu untuk di peluknya. "Hm?"


"Karena kamu tampan dan dia cantik! Bisa jadi kalian adalah primadona kampus!" jawabnya tersenyum bergurau, namun sedikit banyak apa yang di ucapkannya adalah perwakilan dari rasa cemburu yang tersimpan di dalam hati.


"Tapi primadona ku adalah kamu..." jawab Arsen menatap lekat Cla, hingga gadis berbalut dress selutut dengan lengan panjang itu tersipu malu dan salah tingkah.


Tersenyum, "Ya sudah, berangkat sana! Aku akan selalu setia menunggu kamu pulang..." ucap Cla memberikan sebuah kecupan singkat di bibir sang pemuda.


Arsen terdiam dan hanya menyungging senyum kecil ketika bibirnya di kecup sedemikian singkat.


"Aku tidak mau sesingkat itu..." gumam sang pemuda.


"Lalu?"


Arsen langsung mendekatkan wajahnya dan kembali mengulang apa yang sudah mereka lakukan berkali-kali selama Cla di apartemennya.


"Aku berangkat dulu, Sayang! Bye!" pamit Arsen mengakhiri sesi ciuman penyemangatnya pagi hari ini.


"Bye! Love you!"


"Love you too!" seru Cla mengikuti langkah Arsen keluar dari apartemen.


Dan menunggu hingga sang pemuda menghilang di balik sepasang pintu lift yang tertutup secara bersamaan.


Setelah Arsen menghilang dari pandangan, Cla kembali masuk ke dalam apartemen. Dan yang ia lakukan pertama kali adalah mencari ponselnya dan menghubungi nomor ponsel yang tak jarang pula berkomunikasi online dengannya.


Dalam saluran telepon...


"Halo, Cla?"


"Gwen? Sedang apa?" tanya Cla dengan nada sedikit tergesa-gesa.


"Baru pulang dari makan malam keluarga..." jawab Gwen sembari menaiki tangga rumahnya. "Ada apa?"

__ADS_1


"Setelah ini sibuk tidak?"


"Tidak..." jawab Gwen santai. "Ada apa sih?"


"I need you, my bestie!" seru Cla sumringah.


***


Satu jam sejak Cla menghubungi Gwen, kini sang gadis sudah berdiri di depan cermin rias di kamar Arsen. Tak ada banyak alat make up di meja rias Arsen. Karena laki-laki memang tidak sedetail perempuan yang wajib memiliki ini dan itu di atas meja maupun di dalam laci meja rias.


Rambut pirangnya yang panjang di buat bergelombang dengan alat catok rambut yang ia beli kemarin. Cla memang membeli banyak barang keperluannya secara mendadak. Demi semua misi berjalan dengan baik.


Dan semua barang belanjaannya yang mencapai hampir 1.000 dolar atau setara hampir 16 juta itu tentu di bayar oleh sang kekasih yang sudah berjanji untuk memenuhi segala kebutuhan Cla selama di New York.


Dan bagi Arsen sendiri, uang sebesar itu tidak akan membuatnya kesulitan. Karena uang bulanan yang ia terima dari sang Ayah mencapai 3 sampai 4 kali lipat dari itu setiap bulannya. Karena hidup di New York memang membutuhkan uang yang tidak sedikit.


Dan Arsen termasuk anak muda yang tidak terlalu banyak pengeluaran selama ini. Sehingga tidak akan salah jika uang tabungannya melampaui teman-teman seusianya.


Selesai dengan rambutnya, Cla menatap pantulan dirinya melalui cermin di depan mata. Ia masih memakai baju yang sama. Dress selutut dengan lengan panjang yang menutupi lengan putihnya.


"Perfect!" gumam Cla merasa sudah cukup dengan tampilannya pagi itu.


Dengan langkah percaya diri, Cla meraih ponsel di atas meja mini bar, kemudian keluar dan meninggalkan apartemen Arsen dengan sebuah senyum miring kecil yang entah apa artinya.


***


Pintu lift kembali terbuka, dan dengan langkah yang sama, Cla berjalan dengan menatap satu pintu ke pintu yang lainnya. Ekspresi wajahnya terlihat biasa saja, namun ada debar yang tidak ingin ia tunjukkan saat ini.


Ada empat pintu di lantai yang saat ini di injaki oleh Clarice. Masing-masing pintu memiliki nomor masing-masing. Dan akhirnya Cla menemukan nomor yang ia cari.


Tersenyum, Cla puas sekali dengan hasil kerja Gwen. Gadis itu cukup cekatan dalam dunia coding dan pemrograman. Hingga ia bisa menemukan pintu apartemen yang mana di dalamnya di huni oleh seorang Mahasiswi cantik yang juga berprofesi sebagai model majalah fashion.


Sebelum menekan bel, Cla mengintip ke dalam lubang intip kecil di pintu dengan kaki yang berjinjit. Namun sayang, lubang itu terlihat gelap karena memang di tutup dari dalam.


Maka yang ia lakukan adalah... Tangan kanan menutup lubang intip kecil itu, sedang tangan kiri menekan bel yang ada pada dinding sisi kiri pintu.


Satu kali tekan, tak ada reaksi yang ia terjadi. Tekan dua kali, hasil masih sama. Dan setelah menekan bel untuk ketiga kalinya, barulah pintu itu terbuka secara perlahan.


"Hai!" sapa Cla dengan senyum dan wajah ceria bersahabat.


Namun yang di dapat Cla adalah... gadis di hadapannya terlihat membeku dengan tatapan mata yang seolah tak percaya dengan kemunculannya di depan pintunya. Dan itu membuatnya terdiam sembari mengamati sosok itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan kembali ke atas.


"Ka...ka..kamu...?"

__ADS_1


"Clarice..." sahut Cla menyebutkan namanya. "Lupa dengan namaku?" tanya Cla tersenyum. "Aku bahkan masih sangat ingat nama kamu, Lady..." lanjut Cla masih dengan senyum manisnya.


"Ah..." Lady tersenyum kikuk. "Maafkan aku... nama kamu cukup sulit untuk di ingat, Clarice..." jawab Lady.


"Ya, aku tau..." jawab Cla tersenyum.


"Aku hanya ingat jika kamu... kekasihnya Arsen..." sahut Lady terlihat cukup kaku ketika menyebut dirinya sebagai kekasih Arsen.


Tersenyum, "Terima kasih, setidaknya kamu masih mengingatku!" jawab Cla. "Emm... Apa boleh aku masuk?" tanya Cla meminta izin dengan sangat baik pada gadis yang sempat membuatnya minder di dalam hati.


' Ia selalu terlihat cantik dan menawan! '


Gumam Cla dalam hati ketika keduanya hanya saling diam, saat Lady terlihat lupa pada dirinya.


"Oh... silahkan..." jawab Lady memberi jalan untuk Cla bisa masuk ke apartemennya.


"Thank you!"


Melangkah pelan, pandangan mata Cla mengamati apartemen dengan ukuran yang tak jauh berbeda dengan apartemen yang di huni Arsen.


Hanya berbeda nuansa saja, karena di desain lebih girly di banding apartemen Arsen yang lebih manly.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Cla menoleh ke belakang, di mana Lady mengikuti langkahnya.


"Emm.." Lady mengangguk. "Aku sendirian..." jawabnya. "Duduklah, mau minum apa?"


"Oh, tidak perlu!" jawab Cla membalikkan badan, mencegah Lady yang memasuki bilik pantry. "Aku hanya ingin berkenalan lebih dekat dengan kamu..."


Tersenyum manis, meski terlihat masih sangat kaku. "Untuk itulah, untuk menjalin hubungan pertemanan yang lebih baik, aku tidak akan membiarkan tamuku kehausan..." jawab Lady mengambil dua kaleng minuman bersoda.


"Aku tidak minum itu..." sahut Cla.


"Hah?" pekik Lady. "Lalu?"


"Air putih saja!" jawab Cla berjalan mendekat dan mengambil sendiri air minum dari tempatnya.


"Oh... baiklah..."


"Aku bosan di apartemen sendiri. Arsen sudah berangkat kuliah, dan biasanya pulang malam." ucap Cla sembari membawa gelas minuman untuk melihat-lihat setiap foto yang di pajang oleh Lady di dinding, maupun di meja nakas.


Lady mengangguk dengan tersenyum kaku. Ia sama sekali tak tau apa yang harus ia lakukan. Karena ia tak menyangka Cla cukup pintar memulai pembicaraan.


"Ini Arsen?" tanya Cla menunjuk salah satu foto.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2