Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 51 ( Suara Siapa? )


__ADS_3

Jika di Jakarta pukul 10 pagi, maka di New York masih pukul 11 malam di kalender kemarin. Perbedaan waktu yang cukup jauh, sudah membuktikan jika jarak antara dua kota itu sangatlah jauh. Bukan lagi beda satu atau dua jam. Melainkan belasan jam.


Cla memperkirakan sang kekasih sudah tiba di New York sejak satu atau bahkan dua jam yang lalu. Namun sampai detik ini, belum juga ada kabar dari sang kekasih. Ingin menghubungi lebih dulu, tapi ragu, khawatir sang kekasih tengah sibuk. Atau masih dalam perjalanan darat yang melelahkan.


Dengan sangat malas, ia menggenggam ponsel yang sudah di beri proteksi khusus oleh Arsen itu untuk ia bawa ke balkon kamar. Meletakkan di meja bundar, lantas ia mendekati pagar balkon kamarnya.


Jemari dengan cat kuku berwarna merah maroon yang berasal dari henna, berpegangan pada dinding pagar. Sepasang mata lentik menatap setiap sudut dari rumah mewah yang sudah ia tinggali selama belasan tahun itu.


Hingga sepasang matanya mengarah pada satu titip spot parkir. Di mana tiga kali Arsen mendatangi rumahnya dengan selalu parkir di tempat yang sama. Seolah lokasi itu adalah titik terfavorit bagi sang pemuda untuk memarkirkan mobil mewahnya.


"Kamu belum sampai 'kah?" gumamnya lirih. Membayangkan wajah tampan turun dari kuda besi dengan sangat tampan dan gagah.


Hingga bayangan ciuman di pantai kembali melintas di depan matanya. Betapa syahdu suasana malam itu.


Hari libur yang kemarin-kemarin terasa begitu singkat berisi, kini serasa begitu panjang, ringan tak berbobot.


Karena tidak ada cerita menarik yang bisa ia ceritakan, atau ia lakukan hari ini selain menunggu kabar dari Arsen yang terakhir berkirim pesan semalam. Saat pesawat sedang transit.


"Hari ini begitu sepi..." gumamnya melamun. "Dua hari bersamamu itu ternyata sangat singkat. Dan satu hari tanpamu serasa... satu tahun..." lanjutnya terdengar sangat pilu.


Fokus menatap spot parkir yang selalu di gunakan Arsen, Cla seketika terkesiap ketika mendengar panggilan telepon masuk ke ponsel yang ia letakkan di atas meja.


Nama My Soul muncul di sana bersamaan dengan tanda love putih di sampingnya. "Finally!" seru sang gadis dengan sorak dalam hati yang tak bisa di jabarkan menggunakan kata-kata.


Cepat jemari lentik meraih ponsel dan menarik tombol warna hijau ke samping dan membuat detik mulai berjalan di atas sebuah foto yang entah sejak kapan sudah berganti menjadi foto berdua yang di edit menjadi sebuah lukisan.


' Dia memang sangat pintar mengambil hatiku... '


Gumam singkat di dalam hati, sebelum ia mengucap ...


"Halo?" sapa Clarice menahan debar.


"Hai!"


Suara tegas nan ramah dari sebrang seketika menggetarkan relung hati di dalam dadanya. Merambat melalui syaraf yang menjalar. Dari yang paling dekat dengan telinga, sampai yang paling jauh dari telinga, yaitu ujung kaki.


"Sudah... sampai?"  tanya Cla nyaris tergagap.


"Iya! Ini baru turun dari taksi...." jawab Arsen. "Apa yang sedang kamu lakukan, Baby?"

__ADS_1


"Tidak sedang apa-apa. Hanya menunggu kabar darimu..." jawab Cla jujur.


Terdengar suara sang lelaki tengah tersenyum di ujung telepon.


"Aku sudah sampai Baby... Istirahatlah, sudah malam..."


"Sudah malam?" tanya Cla mengerutkan kening. "Sepanas ini, sudah malam?"


"Ah! Aku lupa kita beda negara terlampau jauh!" Arsen menghela nafas, merasa bodoh sembari menggaruk keningnya yang tidak gatal sembari terkekeh malu.


Cla tergelak lirih , rindu semakin menyeruak dengan canda tawa sang lelaki yang saat ini sedang berjalan menuju lobby apartemen.


"Aku sudah merindukanmu sejak kemarin...." ucap Arsen ketika kaki mulai memasuki lobby, melewati seorang security yang menyapanya.


"Aku juga sangat merindukanmu..." balas Cla dengan suara sendu dan serius.


"Arsen!"


Suara seseorang memanggil dari arah kursi luar Cafe yang berada di dalam lobby. Dan suara itu tentu sampai pula ke telinga Cla.


Jika Arsen reflek menoleh ke arah sumber suara, maka di sebrang Cla sedang mengerutkan keningnya, mengira-ngira suara siapa sekaligus mengukur perkiraan usianya pemiliki suara yang baginya asing itu.


Arsen menoleh ke sumber suara, tersenyum tipis sembari melambai ringan dan singkat pada beberapa teman-teman dari Columbia University yang tinggal satu gedung apartemen dengannya.


"Teman-teman..." jawab Arsen terlihat santai dengan masih terus berjalan menuju lift.


"Sen! Sini lah! Dari mana kamu? Lama tidak terlihat?" suara seorang laki-laki terdengar pula oleh Cla yang ada di tanah air.


Arsen menjawab ajakan teman-temannya dengan menunjuk earphone bluetooth yang menempel di telinga kirinya.


"Ada banyak?" tanya Cla penasaran.


"Iya..." jawab Arsen santai.


"Tidak ingin bergabung?" selidik Cla, meski di dalam hati ia akan sangat tidak rela jika Arsen ikut bergabung. Karena suara perempuan tadi sudah cukup membuat sang gadis ingin merasa curiga.


Apakah itu Lady yang di maksud oleh Arsen? Mengingat mereka tinggal di apartemen yang sama.


"Aku rasa mendengarkan suara kamu lebih menyenangkan, ketimbang mengobrol dengan mereka..." jawab Arsen tanpa menoleh lagi pada kumpulan teman-temannya di teras afe, di mana salahh satunya adalah Marvin. Tetangga apartemennya yang pernah menampung Naufal sementara.

__ADS_1


Cla tersenyum salah tingkah. Meski lirih, tetap saja terdengar oleh sang mantan pembalap liar itu.


"Setelah sampadi di apartemen, kita video call, ya?" pinta sang pemuda.


"Arsen? gabung, yuk?"


Belum sempat Cla menjawab, tiba-tiba suara seorang gadis terdengar begiitu dekat dan jelas oleh Cla. Yang mana artinya suara itu tengah berada dekat dengan sang kekasih di lobby apartemen yang memang cukup luas.


Sontak sang gadis merasakan satu hentakan ringan di dalam dadanya. Meski sudah mengantisipasi untuk tetap tenang menghadapi hal semacam ini dan percaya pada sang kekasih, nyatanya ketika benar terjadi sekecil ini pun sudah bisa menimbulkan percikan kecil di hatinya.


"Sorry, aku lelah..." jawab Arsen terdengar sangat datar.


"Memangnya kamu dari mana?" tanyanya. "Sudah lima hari aku tidak melihat kamu..." lanjutnya.


Sementara di Bumi Pertiwi ada seorang gadis tengah menahan dadanya supaya tidak menghela nafas kasar. Tanpa bertanya siapa yang mengajak Arsen mengobrol, rasanya sang gadis bisa menebak siapa gadis di sebrang sana.


' Jadi ini suara aslinya... '


Gumamnya dalam hati sembari menunggu Arsen menjawab pertanyaan si pirang yang sudah tergambar untuk membuat seorang Brighta Clarice Agasta meras cemburu.


"Pulang..." jawab Arsen sembari terus berjalan menuju lift.


"Siapa yang bersama kamu di profile picture?" tanya gadis pirang yang tak lain adalah Lady Charlotte itu.


DEG!


Kali ini jantung Cla berdebar tidak karuan. Di negeri paman Sam sana, seseorang tengah mempertanyakan foto profil yang saat ini tengah di pandangi oleh Cla.


Dalam hati ia sudah tidak sabar menunggu sang kekasih menjawab pertanyaan itu. Apakah status yang akan di perkenalkan oleh sang kekasih pada teman-temannya.


"Kekasihku..." jawab Arsen dengan sangat jelas melirik sekilas pada gadis yang sontak berhenti melangkah dan menatapnya tak percaya.


' Mamp*s lu, pirang! '


Seru Cal dalam hati dengan sorak yang tak bisa di dengar oleh siapapun selain dirinya sendiri.


Arsen melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift, meninggalkan Lady yang masih membeku di tempat. Menatap Arsen dengan tatapan yang sulit di artikan, namun jelas ada kecewa di dalam sana.


Arsen menatap tegas pada gadis pirang yang ia ketahui sudah menaruh harap padanya sejak semester satu dulu. Seolah memberi penegasan jika ia sudah tidak bisa di harapkan lagi oleh siapapun.

__ADS_1


Hingga tatapan itu berakhir ketika pintu lift tertutup dengan sendirinya setelah Arsen menekan salah satu angka.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2