Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 53 ( Cemburu )


__ADS_3

Victor Yaala, Mahasiswa pascasarjana yang saat ini sedang mengejar gelar S-2 nya itu duduk termenung di meja kantin. Menatap punggung gadis cantik yang ia ketahui hanya kemungkinan kecil untuk bisa di kejar.


Karena secara langsung ia pernah di tegur dan di peringatkan oleh kekasih gadis itu.


Namun hati yang sulit untuk bisa jatuh cinta itu serasa kecewa, ketika ia sudah merasa menemukan satu yang cocok, justru berakhir dengan cara seperti ini.


' Aku dengar mereka LDR... Tapi tampak santai-santai saja... '


Gumam sang pemuda dalam hati.


' Sepertinya Arsen memang cukup pintar! Aku benar-benar tidak bisa menembus perlindungan yang di berikan untuk ponsel Clarice. Seolah ilmu ku sebagai seorang Hacker sangat tidak berguna untuk sekedar menemukan titik lokasi Clarice! '


Victor terus berangan, hingga ia mengabaikan beberapa Mahasiswi yang menyapa nya seperti biasa. Yaitu Mahasiswi yang biasa mencari perhatian senior yang menjadi idola di kampus itu.


# # # # # #


Waktu yang terus berjalan, dan kesibukan yang tidak ada habisnya di semester akhir ini, membuat sepasang kekasih yang sedang menjalin LDR tidak menyadari jika dua bulan sudah keduanya menjalani kisah kasih tanpa pertemuan.


Cla duduk di balkon kamarnya, ketika waktu sudah larut, yakni pukul 10 malam di malam minggu. Di mana di New York masih hari sabtu jam 9 pagi.


Karena malam minggu, Cla memilih membuat malamnya menjadi lebih panjang dengan berkomunikasi bersama sang kekasih melalui pesawat telepon. Meski tidak bisa atau bahkan belum pernah keduanya menghabiskan malam minggu bersama sejak menjadi kekasih, membuat sang gadis memilih cara ini.


Headset bluetooth menempel di telinga kiri Arsen, dan sang pemuda tengah bersama Marvin dan beberapa teman kampus lainnya di Cafe lobby apartemen yang ia huni.


Obrolan dalam saluran telepon, menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan obrolan Arsen dan teman-temannya anggap saja menggunakan bahasa Inggris.


"Tidur, Sayang... Di sana sudah malam.." ucap Arsen sembari menikmati kopi di atas meja namun mata tak hentinya memeriksa tugas-tugas melalui layar laptop di depannya.


"Aku ingin menemani kamu menghabiskan pagi hari di sana..." jawab Cla menolak perintah dengan bayangan indah jika seandainya mereka menghabiskan akhir pekan bersama.


"Tidak capek?" tanya Arsen.


"No..." jawab Cla.


"Bagaimana dengan skripsi kamu?"


"Sampai saat ini mash bagus..." jawab Cla berbinar. "Kamu tidak perlu khawatir! Meskipun ada kesalahan, tapi semua sungguh baik!" jawab Cla bersemangat. "Dosen pembimbing cukup baik padaku! Entah karena memang skripsi ku bagus, atau karena dia teman Daddy saat masih Senior High School! Haha!" ujar Cla cekikikan sendiri.


"Teman akrab?"


"Tidak juga... Hanya saja Dosen bilang kalau pernah di tolong Daddy dulu saat masih sekolah!"


"Oh..." Arsen mengangguk.


"Ada siapa saja yang sedang bersama kamu?" selidik Cla. Dalam hati tak ingin ada perempuan yang tergabung dengan sang kekasih.


"Marvin dan yang lain.. Baby.." jawab Arsen sembari memeriksa grafik di layar laptop.


"Apa saja yang kalian obrolkan kalau sedang bersama begini?" tanya Cla penasaran. "Pasti seru!"


"Seru apanya? Mereka semua rata-rata makhluk gesrek yang berusaha pindah alam saja menjadi mahasiswa." gelak Arsen melirik teman-temannya satu persatu.


"Hihihih!" Kikik Cla dari sebrang sana.

__ADS_1


Sedangkan teman-teman yang di lirik oleh sang pemuda justru asyik mengobrol masing-masing. Karena memang tidak tau apa yang sedang di bicarakan Arsen melalui panggilan suara itu.


Mereka semua tidak ada yang berasal dari Indonesia. Sehingga tidak tau apa yang sedang di bahas oleh Arsen. Tidak tau pula jika Arsen dan Cla tengah menertawakan mereka.


Yang mereka tau, Arsen tengah mengobrol dengan kekasihnya. Dan cekikan Arsen justru di anggap jika Arsen tengah saling bertukar canda dengan kekasihnya.


"Hai!" seru seseorang dari arah belakang Arsen.


Arsen tak menoleh pada seseorang yang dengan jelas jika suara itu tengah menyapa mereka. Meski ia tau dan hafal siapa pemilik suara ini.


"Hai, Lady!" Marvin menjawab sapaan Lady.


"Hai, Vin!" Lady melambai pada Marvin dan beberapa teman laki-laki lain yang ada di sana. Dan semua membalas sapaannya kecuali...


"Hai, Arsen!" sapa Lady yang sudah berdiri di samping Arsen.


"Hmm.." jawab Arsen datar dengan sedikit mengangguk tanpa menoleh pada sumber suara yang menyapanya.


"Boleh aku duduk di sini bersama kalian?" tanya Lady menunjuk kursi kosong di samping kiri Arsen.


"Duduk saja! Untuk apa bertanya?" sahut Marvin yang duduk di depan Arsen. "Bukankah kita sering nongkrong di sini?" ujarnya.


"Terima kasih!" ucap Lady sembari duduk di kursi samping kiri Arsen.


"Kamu masih sangat sibuk, Sen?" tanya Lady.


"Hemm.." Arsen mengangguk dengan jemari yang sesekali menekan keyboard.


Arsen menggelengkan kepalanya pelan. "Aku berbeda dengan kalian..." jawab Arsen.


"Iya juga, sih..." gumam Lady kemudian.


"Lady, semalam kenapa kamu tidak datang ke klub 88?" tanya salah satu teman Arsen.


"Aku ada urusan..."


"Padahal seru!"


"Nanti malam lagi?" tanya Lady.


"Ya! Jangan lupa datang!" sahut Marvin. "Kalau bisa, ajak dia. Dia juga tidak pernah datang sejak kembali dari negaranya!" lanjutnya menunjuk Arsen dengan gerakan mata.


"Pernah sekali!" protes Arsen. "Waktu ulang tahunmu, lupa?"


"Oh, iya juga ya!" kikik Marvin.


"Kenapa kamu semalam juga tidak datang, Sen?"


"Ada urusan..."


Meskipun Arsen tampak cuek, tetap saja berbeda dengan apa yang di pikirkan oleh Cla. Hubungan jarak yang cukup jauh, dua bulan tidak bertemu, di tambah dengan Cla yang baru saja menjalani kisah cinta, tentu saja semua terasa begitu menyebalkan untuk sang gadis.


Cla belum pandai untuk bisa positif thinking. Ia masih di penuhi rasa tidak percaya diri, dan juga sesekali bersikap egois tanpa di sadari. Curiga dan merasa di khianati seolah bergantian menghampiri pikiran dan hati sang gadis. Apalagi jika Arsen tak kunjung membalas pesannya.

__ADS_1


Sesekali yang di pikirkan sang gadis justru Arsen tengah berduaan dengan gadi lain ketika ia tidur malam. Karena ketika ia tidur, di sana tengah siang hari. Dimana Arsen pasti sedang beraktivitas di luar apartemen.


"Apa saja yang kalian lakukan?" tanya Cla sudah kehilangan senyumnya. "Sepertinya seru sekali..." sindir Cla dengan nada suara yang sudah bisa di tebak oleh Arsen seperti apa ekspresi sang gadis.


"Tidak ada yang seru..." jawab Arsen lirih. "Mereka hanya membahas acara semalam yang tidak aku ikuti. Ulang tahun salah satu teman kami yang di adakan dua malam berturut-turut."


"Kenapa bisa samaan dengan Lady yang juga tidak ikut?" selidik Cla, karena pikiran kotor benar-benar merasuki kepalanya.


"Hanya kebetulan, Sayang... Aku juga baru tau kalau semalam dia juga tidak datang!"


"Yakin?" tanya Cla ketus.


"Tentu saja, Sayang! Aku selalu berusaha untuk jujur sama kamu... Mana mungkin aku bohong." jawab Arsen sembari mengeluarkan sedikit tekanan di dalam dada.


"Janjian kemana nanti malam?"


"They are, not me, Baby..." jawab Arsen mulai merasa sang kekasih akan terbakar api cemburu.


Lady seketika menoleh ke arah Arsen, ketika dapat memperkirakan apa yang sedang di obrolkan oleh Arsen melalui headset di telinga kiri Arsen.


Sebelumnya Lady hanya diam saja, karena ia tidak tau apa yang sedang di bicarakan Arsen. Karena ia pun tak bisa menggunakan bahasa Indonesia. Namun sebutan Baby yang di sematkan membuat gadis pirang itu tau jika Arsen tengah berbincang dengan kekasihnya.


"Yakin tidak akan datang?" tanya Cla.


"Kamu tau? Sekarang saja, berkumpul dengan teman-teman begini aku bawa laptop untuk menyelesaikan tugasku. Jadi untuk apa aku membuang waktu untuk pergi ke klub malam bersama mereka?" tanya Arsen membuka logika sang kekasih yang sedang gelap gulita oleh rasa cemburu.


"Bisa saja kan sekarang kamu kejar untuk selesai, supaya nanti malam bisa ikut!" ucap Cla cemberut teramat sangat. Dan itu jelas terdengar oleh Arsen.


Negative thinking, itulah yang menguasai gadis polos itu.


"Baby, please..." pinta Arsen dengan sedikit memohon, ia tidak bisa mendengar suara cemberut seperti ini.


"Ada apa, Arsen?" tanya Lady menoleh pada Arsen dan menatap lekat lelaki yang sesungguhnya tak bisa begitu saja ia lupakan meski ia tau Arsen sudah punya kekasih.


TUT!


Satu detik setelah Lady bertanya, sambungan telepon putus secara sepihak. Dan itu Cla yang sengaja mengakhiri pembicaraan mereka.


"Oh my God..." lirih Arsen terdengar cukup memilukan sembari membuka ponsel yang sudah tida lagi memunculkan tanda panggilan masuk dari -e.


"Kenapa, Sen?" tanya Marvin.


"Tidak ada!" jawab Arsen datar bahkan sedikit ketus.


"Kalau ada apa-apa cerita saja, Sen..." ucap Lady mencoba untuk menyentuh pundak Arsen. Namun dengan cepat di tepis oleh sang lelaki dengan gerakan yang cukup menghentak perasaannya.


"Tidak perlu..." jawab Arsen sembari mengemasi barang-barangnya. "Aku balik duluan. Ada urusan penting!" pamit Arsen sembari beranjak dari duduknya.


"Sen?" Lady mencoba untuk mencegah kepergian Arsen. Namun sang pemuda tidak tertarik untuk sekedar menoleh ke belakang.


Maka Lady hanya bisa menghela nafas panjang dan sedih karena selalu di tolak oleh Arsen. Lelaki yang kini berjalan menuju lift apartemen.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2