Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 52 ( Kemunculan Sosok Itu Lagi )


__ADS_3

Cekikikan dalam hati dengan setengah mati menahan agar tidak ada suara yang sampai keluar dan terdengar oleh sang kekasih di sebrang. Sembari menjauhkan ponsel dari bibirnya, Cla berangan... Andai saat ini ia berada di sana, pasti ia akan memeluk lengan sang kekasih dan menunjukkan pada si pirang itu jika dialah pemenangnya.


Hanya saja perbedaan negara yang teramat jauh ini membuat sang gadis hanya bisa tertawa jahat dalam hati.


"Halo, Sayang? Masih di sana?" tanya Arsen ketika tak mendengar suara Cla lagi sejak Lady menyapanya.


Secepat kilat Cla menetralkan dirinya dari rasa ingin tertawa. "Masih..." jawab Cla dengan datar seperti semula. "Kamu mengobrol dengan siapa?" tanya Cla pura-pura tidak tau.


"Lady..."  jawab Arsen jujur.


"Oh... Jadi itu suaranya Lady..." sahut Cla puas, karena sang kekasih memilih untuk jujur. "Terus... di mana dia? Kenapa suara nya menghilang?"


"Aku masuk lift sendirian. Mungkin dia kembali ke Cafe bersama teman-teman." jawab Arsen.


"Kamu yakin tidak ingin gabung dengan mereka?" tanya Cla semakin mencoba untuk menguji pendirian sang kekasih. "Sudah lama tidak bertemu, bukan?"


"Kalau aku sudah bilang ingin bersama mu saja, jadi ya... lebih baik bersama kamu, Baby..." jawab Arsen. "Lagi pula aku masih lelah. Dan lagi di sana ada Lady, kamu tidak suka dengan nya, bukan?"


"Sangat!" ketus Cla. "Tapi aku senang, kamu memperkenalkan aku sebagai kekasih mu..." ujar Cla berubah ekspresi menjadi penuh senyuman.


"Karena kenyataannya seperti itu.." jawab Arsen. "Kalau kamu di sini, aku pasti memperkenalkan kamu pada mereka jika you're is mine!"


Tersenyum dengan wajah merah merona, Cla selalu salah tingkah dengan perlakuan manis sang kekasih. "Tapi kenapa foto ku di jadikan foto lukisan? Bukan foto asli kita?"


"Mau tau jawabannya?" tanya Arsen sembari keluar dari lift.


"Hmm.." Cla tetap mengangguk meski tak terlihat sekalipun oleh Arsen.


"Supaya kecantikan kamu tidak di nikmati laki-laki lain..." jawab Arsen terdengar begitu serius.


Cla tergelak karena semakin salah tingkah. Reflek tangan terangkat untuk menutupi mulutnya supaya tidak tersenyum terlalu lebar.


"Kamu memang penuh dengan sejuta alasan!" ujar Cla. "Tapi ketika menghilang 3,5  tahun lalu? Tidak ada alasan yang terucap!" sindir Cla mengerucutkan bibirnya.


Arsen tergelak lirih sembari mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video, karena ia sudah memasuki apartemen dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa panjang yang empuk.


Panggilan telepon kini sudah berubah menjadi panggilan video. Melalui layar ponsel Cla, wajah tampan Arsen terlihat memenuhi layar.


"Aku tidak akan menghilang untuk kedua kalinya! I promise!" Arsen mengangkat dua ibu jari dengan menampilkan senyum sempurna untuk gadis cantik yan terpampang di layar ponselnya.


Cla pun tersenyum, menatap penuh damba pada wajah sang kekasih yang ia sadari selalu memikat di manapun berada.


"I love you..." ucap Arsen.


"I love you too.." jawab Cla. "And, I miss you..."


"Me too, Baby!"

__ADS_1


Obrolan terus berlanjut, melepas rindu yang sudah mulai tertanam di hati masing-masing. Padahal hari yang ahrus mereka lewati dalam keadaan terpisah seperti ini masih sangat panjang.


# # # # # #


Hari-hari terus berganti, waktu pun terus berjalan, hingga tanpa terasa satu bulan lebih dua insan yang sedang jatuh cinta itu terpisah jarak.


Arsen sudah kembali ke kampus sejak keesokan harinya setelah ia sampai di New York. Sementara untuk Cla, hari ini menjadi hari pertama sang gadis untuk memasuki kuliah di semester akhir dan siap dengan tema skripsi yang sudah ia kerjakan.


Selesai dengan urusannya dengan dosen pembimbing, Cla duduk di kantin bersama Gwen untuk makan siang di jam 12 siang.


Di antara waktu yang ada, satu ponsel yang sedang bersandar di tas kuliah dalam keadaan aktif dan menunjukkan sebuah panggilan video call di sana. Itulah ponsel Cla.


Di dalam layar itu Arsen tengah duduk di meja belajarnya, sebuah laptop menyala ada didepannya. Sedang ponsel disenderkan pada botol air besar di sisi kiri laptop. Membuat sang pemuda bisa leluasa melihat layar laptop dan wajah kekasihnya di layar ponsel.


"Sen! Bukannya di situ sudah malam? Masih betah aja ngobrol!" sahut Gwen yang duduk di samping Cla.


"Tugas ku masih sangat banyak, Gwen!" jawab Arsen datar.


"Harus selesai hari ini?" tanya Cla masih sembari mengunyah makan siangnya.


"Ya begitulah, Baby..." Arsen menghela nafas lelah. Karena memang ia jarang memiliki waktu untuk istirahat panjang untuk dua skripsi yang sedang ia kejar.


"Butuh bantuanku?" tanya Gwen mengingat salah satu study Arsen sama dengan dirinya.


"No!" sahut Arsen cepat menoleh pada layar, menatap lengan Gwen yang terlihat sedikit dari layar Arsen. "Aku tidak terlalu percaya dengan hasil kerjamu!" guraunya.


Cla tergelak dengan adu mulut antara kekasih dan sahabatnya itu, namun ia tak begitu fokus dengan layar ponselnya, karena perutnya yang lapar tidak bisa di ajak bercanda saat ini.


Saat Cla tak menatap layar, Arsen justru tengah menatap layar untuk menanggapi cibiran Gwen. Tapi ternyata gadis itu sudah tak lagi terlihat di layarnya. Dan yang terlihat adalah sesuatu yang memekakkan mata sang pemuda.


Beberapa meter di belakang Cla, terlihat sosok yang tak asing berjalan di antara space kursi kantin yang ada. Jelas terlihat jika sosok itu berjalan mendekat ke arah di mana meja Cla berada. Terbukti dari sorot matanya yang mengarah pada posisi Cla.


Arsen yang semula fokus dua arah kini memilih untuk anya fokus pada ponsel. Memastikan pandangan dna menajamkan pendengaran untuk tetap bisa mendengar apa yang akan di obrolkan oleh mereka.


"Belum selesai makan, Baby?" tanya Arsen dengan nada bicara yang sedikit berbeda.


Sadar nada bicara Arsen ada yang berbeda, Cla langsung menghadap layar, dan membuat wajahnya memenuhi layar. Itu membuat Arsen tak lagi bisa melihat sosok yang sedang berjalan mendekat ke arah Cla.


"Hampir..."  jawab Cla sembari memeta wajah tampan kekasihnya.


"Cukup makan berdua dengan Gwen, jangan ada yang lain lagi, okay!" ucap Arsen tiba-tiba.


"Ha?" Cla memicingkan matanya, karena tak paham dengan maksud Arsen.


"Apa maksudnya, Sen?" Gwen ikut menyahut.


"Pokoknya cukup makan berdua!" ulang Arsen lebih tegas.

__ADS_1


"Hai, Clarice! Hai, Gwen!"


Bersamaan dengan Arsen menjawab, suara seseorang muncul dari sisi kanan Cla, membuat dua gadis itu reflek menoleh ke kanan.


"Kak Victor!" pekik Cla dan Gwen bersamaan.


Sontak sosok di layar menarik nafas panjang dan menghelanya berat. Raut wajah berubah menjadi masam sampai menunggu sang kekasih menoleh padanya.


Dugaannya tidak akan salah jika mengenai satu itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan, ketika sedang berjauhan seperti ini? Selain menguping apa yang akan mereka bicarakan.


"Boleh gabung?" tanya Victor.


Seketika Cla terkesiap. Cepat ia menoleh pada layar ponsel miliknya begitu menyadari inilah yang di maksud oleh sang kekasih. Mata Cla membulat lebar begitu merasa sang kekasih seperti cenayang yang atau apa yang akan terjadi.


"Sepertinya sudah lama kita tidak bertemu?" ulang Victor setelah lama menunggu dua gadis di depannya tidak kunjung menjawab.


Cla yang masih menatap wajah kekasihnya, mulai paham harus berbuat apa.


"Ah... maaf, Kak! tapi kami sudah selesai..." ucap Cla dengan senyum kaku yang di paksakan.


"Oh.. begitu..." Victor mengangguk kemudian tanpa bertanya ia langsung duduk di depan Cla begitu saja. Dan Arsen juga bisa tau dari gerak bola mata Cla yang mengikuti pergerakan Victor.


"Bangku ini kosong, kan?" tanya Victor setelah duduk.


"I..Iya..." jawab Cla bingung.


"Kita jadi ke perpustakaan sekarang?" tanya Gwen yang paham jika Cla sedang bingung.


"Ah?" pekik Cla karena merasa tidak ada rencana untuk ke perpustakaan sebelum ini.


Gwen cepat memberi kode, hingga Cla akhirnya mengangguk.


"Oh, iya! Sekarang saja!" sahut Cla langsung mengemasi barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Termasuk ponsel yang masih menampilkan wajah kekasihnya.


"Kita pergi dulu ya, Kak?" pamit Gwen melambai kecil.


Sementara Cla hanya mengangguk dan tersenyum kecil sembari satu kali lambai.


"Oh, iya..." jawab Victor yang tak lagi bisa mencegah seperti biasanya.


"Kamu ini sangat tidak peka!" gerutu Gwen mengomel sang sahabat ketika keduanya memasuki lorong kampus untuk pergi ke kelas Cla.


"Ng-blank sih aku!" gelak Cla.


"Tenang, Sen! Bakal aku kunci anak satu ini!" ucap Gwen.


"Hmm.. thanks!"

__ADS_1


...🪴 Bersambung... 🪴...


__ADS_2