
Semenjak menjadi istri dari seorang Kenzo Adhitama, tentulah bukan hanya sekali dua kali Mommy Cal pergi meninggalkan Indonesia. Berulang kali, sampai tak terhitung oleh jari. Hampir setiap libur sekolah anak-anak mereka pasti akan pergi berlibur keluar negeri.
Sehingga ketika sang putri di ketahui berada di New York, sesungguhnya Mommy Cal tidak heran dan tidak khawatir seperti apa Cla di perjalanan. Karena bukan hanya sekali dua kali Cla pergi keluar negeri. Hanya saja selalu di dampingi keluarga.
Bukan Mommy Cal melarang sang putri keluar negeri, hanya saja sebagai Ibu dari seorang gadis 21 tahun, tidak semua bisa dengan yakin dan percaya untuk melepas putri mereka berada di luar negeri sendirian. Berdampingan dengan budaya yang jauh berbeda dengan di tanah air.
Dan itulah yang di alami oleh Mommy Cal. Bukan tentang keamanan suatu negara yang di takutkan beliau. Yang di takutkan oleh beliau ialah pergaulan bebas di negara sana.
Pantaslah jika Mommy Cal sampai ingin menjemput putri satu-satunya. Apalagi jelas sang anak gadis sedang mengunjungi kekasihnya yang sudah lama berbaur dengan free life di New York.
"Kalau kamu dan Mas Zio menolak untuk menjemput Cla, biar aku sendiri yang menjemputnya, Mas!" pungkas Mommy Calina sudah lelah menahan kecewa pada keputusan sang suami.
"Jangan gegabah, Sayang... Jakarta - New York bukan Jakarta - Depok," jawab Daddy Ken.
"Memangnya kenapa kalau bukan Jakarta - Depok, Mas? Satu hari satu malam aku sudah sampai di sana! Aku sudah tidak bisa bersabar lagi membayangkan putriku di luar negeri bersama kekasihnya." engah sang Mommy.
"Kamu tau Cla tidak pernah berpacaran. Sekali nya dia menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah terbiasa hidup di luar negeri, banyak pengaruh yang ia dapatkan! Satu kalimat Arsen pasti akan sangat di percaya oleh Cla."
"Mama juga berpikir begitu, Kenzo...:" sahut Eyang Shinta.
Daddy Kenzo menarik nafas panjang sebelum berucap dan memberi penjelasan pada istri dan Ibu mertuanya yang keukeh untuk menjemput Clarice.
"Kamu lihat aku, Sayang..." pinta Daddy Ken serius. "Aku memiliki darah Australia, aku juga bertahun-tahun tinggal di luar negeri... Nyatanya aku tidak pernah menjalin hubungan cinta saat di Aussie dulu. Dan itu juga di alami oleh Arsen."
"Kamu tentu tidak lupa. Begitu bertemu dengan kamu, hampir setiap hari kita bersama, aku bahkan sering menginap di apartemen kamu untuk menjaga kamu dan Cla bahkan sebelum Cla lahir dan sebelum Mama Shinta datang."
Daddy Ken menatap lekat sang istri. "Katakan apa yang pernah aku lakukan padamu selama itu, Sayang?" tanya Daddy Ken.
Untuk sesaat ruangan itu terasa sepi seolah tak berpenghuni.
"Tidak ada yang berlebihan, kan?" tanya Daddy Ken setelah melihat sang istri hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Padahal jika aku mau, aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. Kita bisa melakukan tanpa gangguan siapapun. Karena satu gedung apartemen mengira kita adalah pasangan suami istri karena kamu hamil dan aku satu-satunya laki-laki yang sering bersama kamu!"
"Itu karena aku memang ingin menjaga kamu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri!" ucap Daddy Ken serius. "Tidak semua orang yang tinggal di luar negeri akan terbawa budaya bebas yang ada di sana. Dan aku yakin Arsen adalah salah satunya."
"Tapi saat itu aku sudah dewasa, Mas... Beda dengan Cla yang masih sangat labil dan baru mengenal cinta..." jawab Mommy Cal.
Daddy Ken berulang kali menarik nafas panjang dan menghembusnya seolah merasa resah.
"Arsen sudah berjanji akan menjaga Cla, dan aku yakin dia akan menepati janjinya. Aku percaya itu!"
"Meski aku tau dia pecicilan, tapi aku yakin dia pemuda yang baik. Dia di didik dengan baik. Tidak akan berani menghancurkan kepercayaan orang tuanya."
"Aku juga sudah menghubungi Jonathan dan Rania, meminta mereka mewanti-wanti Arsen untuk menjaga Cla dengan baik."
"Kita dan orang tuanya bersahabat baik, tidak mungkin dia berani menghancurkannya begitu saja, bukan?"
"Apa jaminannya?" tanya Mommy Calina masih menahan dentuman di dalam dada, meski apa yang di ucapkan Daddy Ken menurutnya sedikit ada benarnya.
"Tidak ada jaminan nyata, Sayang. Aku hanya yakin Arsen dan Cla masih punya pikiran yang jernih."
"Hanya bermodal kepercayaan?" tanya Mommy Calina setengah mencibir.
"Kita video call Arsen, supaya kita tau sedang apa mereka," pungkas Daddy Ken yang lelah memberi penjelasan pada sang istri. "Kamu bisa bertanya langsung dengannya."
"Kenapa tidak menghubungi Cla langsung?" tanya Nenek Nurita.
"Ponsel Cla masih mati sampai sekarang, Ma," jawab Daddy Ken. "Aku rasa dia sengaja mematikan ponselnya."
Setelah itu Daddy Ken langsung mengambil ponsel dan menekan tombol video call di nomor ponsel Arsen. Sedikit heran memang, banyaknya pesan yang di kirim sejak pagi, hanya di balas...
[ Siap, Uncle! Jangan khawatirkan Cla, aku akan menjaganya dengan baik. Kami sedang makan malam. ]
__ADS_1
Setelah itu sang pemuda menghilang dan tak membalas pesan lagi sejak tiga jam yang lalu. Mungkin sudah tidur pikir Daddy Ken. Mengingat di Amerika masih malam saat ini.
Bunyi panggilan yang tersambung, membuat seisi ruangan terdiam menunggu sang pemuda mengangkat panggilan video call dari Daddy Ken.
Sementara Mommy Cal menahan nafas sesaat sembari melirik layar ponsel sang suami yang menampilkan gambar foto profil Arsen. Di mana kali ini ada foto keduanya yang asli, alias sudah bukan lagi lukisan seperti beberapa jam yang lalu.
"Lama sekali!" gerutunya.
***
Sementara di New York, pemuda yang di nantikan menjawab panggilan video call tengah terlelap dalam tidur malam yang dingin di sofa ruang tamu. Lampu utama sudah di padamkan. Bahkan lampu yang berdiri di pojok ruangan dekat jendela pun di matikan. Karena Arsen lebih suka tidur dalam keadaan gelap.
Ponsel yang ia letakkan di meja bergetar, karena malam, sehingga getaran itu terdengar cukup keras di telinga snag pemuda. Dengan terpaksa ia meraba meja dan mengambilnya. Menatap layar dengan mata yang menahan malas untuk bangun.
Kemudian menyipitkan mata lelahnya untuk menemukan tombol hijau dan menggesernya tanpa melihat siapa yang menghubungi dirinya di tengah malam waktu New York. Yang ia lihat melalu mata sipit itu hanyalah sebuah lingkaran hijau dengan gambar kamera.
"Hmm?" jawab Arsen terdengar sangat serak dan sangat malas karena masih sangat mengantuk di tambah lelah yang tak tertolong.
Matanya yang baru saja terbangun dari tidur tentu merasakan silau oleh cahaya layar ponsle. Sehingga ia hanya membuka sedikit matanya, bahan terlihat masih sangat mengantuk.
"Kamu lihat..." ucap Daddy Ken lirih pada istrinya. "Dia tidur di sofa." lanjutnya ketika gambar Arsen yang berbaring di sofa terlihat di layar ponsel Daddy Ken, meski samar.
Sang Mommy masih diam, seolah belum bisa percaya seratus persen.
"Arsen?" panggil Daddy Ken.
Mendengar suara yang sangat tidak asing, sontak Arsen terbangun dengan sedikit melompat kaget.
"Uncle!"
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1