Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 76 ( Jangan Jemput Cla, Please! )


__ADS_3

Menghilang dari dunia maya kurang lebih dua hari, membuat ponsel gadis yang sengaja menghilang dari keluarganya mendapat notifikasi yang jumlahnya tidak main-main.


Barisan nama orang-orang terdekatnya muncul di sana dengan jumlah pesan yang berbeda-beda.


Satu persatu pesan di buka oleh Cla. Dan yang menurutnya penting, akan ia balas. Sementara yang menurutnya tidak terlalu penting cukup ia baca saja.


Chat terpenting tentu datang dari keempat orang tuanya yang selalu mengkhawatirkan dirinya. Namun dari keempat orang itu, Cla di buat memicingkan matanya.


Bagaimana tidak? Semua mengirim pesan paling akhir semalam. Sementara sejak kalender berubah, tak ada lagi pesan dari mereka walau satu chat pun.


"Apa mereka sudah tidak mencari ku?" gumam sang gadis merasa ada yang aneh.


"Atau... Mereka justru tengah dalam perjalanan ke sini?"


Sontak mata Cla kembali membulat membayangkan satu kemungkinan ini.


"Oh, No! Ini pasti berakhir sangat gawat! Mereka sungguh mencurigakan!"


"Mereka pasti sudah dalam perjalanan kemari!"


"Tapi jam online terakhir mereka masih normal!"


Cla terus berpikir dan berpikir. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi tanpa sepengetahuan dirinya, bukan?


Akhirnya sang gadis memilih untuk membalas pesan dari Daddy Ken terlebih dahulu di banding pesan yang lain. Karena jumlah pesan dan notifikasi dari Ayah sambungnya itu melampaui pesan dari yang lain. Alias paling banyak.


Pesan dalam chat!


[ Sorry, Daddy...(emoticon love) Cla baik-baik saja. ]


[ Please... jangan khawatirkan Cla. Cla baik-baik saja di sini. Arsen pasti menjaga Cla dengan baik! ]


[ Cla akan pulang satu minggu lagi... Jangan di jemput yaa, Daddy? Please... (emoticon memelas) ]


Pinta sang gadis berharap sang Ayah tidak akan menjemputnya sampai ia kembali dengan sendirinya.


Siapa sangka satu detik setelah pesan terakhir masuk ke ponsel sang Daddy, saat itu juga panggilan masuk ke ponselnya dengan nama yang sama.


"Oh my God!" pekik Cla membulatkan matanya lebar. "Daddy benar-benar tidak di bantah!" gerutunya.


Dengan jemari yang menahan getar karena gugup, Cla menggeser tombol biru dengan gambar kamera ke atas sembari menghembuskan nafas pelan namun berat.


Karena ia pasti akan sangat takut jika tiba-tiba sang Daddy mengamuk. Ia tak pernah mendapat amukan dari Daddy Ken. Tapi sejarah Daddy Ken ketika marah tentu tidak sekali dua kali ia dengar dari netizen. Atau bahkan melihat dengan mata kepala sendiri ketika Daddy Ken mengamuk dalam rapat ketika ia mengunjungi salah satu perusahaan terbesar di Ibukota itu.


Obrolan dalam saluran telepon ...

__ADS_1


"Hai, Daddy?"


Cla menatap wajah dingin sang Ayah yang terlihat sudah mengenakan piyama tidur, karena di Indo tentu sudah malam saat ini.


Bibirnya tersenyum kaku dan setengah di paksakan. Karena sesungguhnya ia takut saat pertama kali melihat wajah sang Ayah sambung muncul di layarnya.


Meski di mata sang Ayah ia justru terlihat tak merasa bersalah sama sekali karena sudah membuat seisi rumah histeris dan kepusingan.


Cla menyapa dengan penuh senyuman palsu karena jantungnya tengah berdebar menanti kalimat pertama sang Ayah sambung.


Tapi sang Ayah justru terlihat diam tanpa senyuman sama sekali. Karena sang Ayah tengah memeta wajah cantik yang terlihat mengenakan kemeja laki-laki.


Ada dentuman di dalam dada Daddy Ken, ketika pertama kali melihat sang putri mengenakan baju laki-laki. Namun sebisa mungkin ia menahan dentuman itu agar tidak sampai meledak hebat.


Pikiran sang Ayah berusaha untuk tetap jernih dengan mengatakan pada diri sendiri jika Cla memang pergi tanpa membawa baju ganti sama sekali. Itu terlihat dengan dua koper sang gadis yang masih utuh di dalam kamarnya.


Satu koper roda biasa, dan satu lagi koper skuter yang selalu di bawa Cla ketika bepergian.


"Daddy... marah, yaa? Maaf...." rengek Cla ketika melihat sang Ayah hanya diam membisu. Dan hanya tatapan matanya saja yang terlihat tengah mengamati dirinya.


"Jangan diam saja, Daddy... Please..." mohon sang gadis. "Daddy boleh kok mengomel... Tapi jangan marah juga... Cla bisa mati di sini kalau Daddy meneriaki Cla..." pinta Cla membuat perut sang Ayah terasa mulas.


Karena ingin sekali tertawa melihat putrinya yang selalu seperti itu. Merengek dan memohon dengan kata-kata yang membuat beliau pusing sendiri.


"Puas? Sudah membuat seisi rumah seperti orang gila?" tanya Daddy Ken terdengar sangat dingin di telinga anak gadisnya yang langsung mengerucutkan bibirnya.


"Maaf, Daddy..." gumam Cla ketika Daddy Ken men-jeda kalimatnya.


"Meretas CCTV tanpa izin... Sesungguhnya Daddy tidak suka. Tapi demi menemukan kamu, Daddy sampai melakukan hal itu dan satu hal konyol lainnya. Kamu tau apa?" tanya Daddy Ken.


"Apa?" tanya Cla mengerutkan kening.


"Menculik Victor dan temannya!" tukas Daddy Ken.


"Hah? Kenapa menculik Victor dan temannya?" tanya Cla mengerutkan keningnya. Meski sedikit banyak ia bisa menduga, karena misinya untuk kabur lancar akibat ajakan teman kursusnya itu.


"Kamu terakhir bertemu dengan dia, kan?" tanya sang Ayah.


"Iya..."


"Apa kamu tau, hari itu dia ingin menculik kamu?" tanya Daddy Ken mulai terlihat serius.


"Hah!" pekik Cla. "Menculik Cla?"


"Ya!" jawab sang Daddy. "Hari itu dia ingin menculik kamu. Ternyata kamu kabur sebelum berakhir di bawa pergi oleh mereka."

__ADS_1


"What?" pekik Cla seolah tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh sang Daddy. "Untuk apa mereka menculik Cla? Apa mereka sudah gila?"


"Karena Victor ingin mengajakmu pergi dan jalan-jalan berdua. Dia sekongkol dengan teman kursus kamu.."


"Fiuuh..." gumam Cla. "Berarti Cla lolos dari aksi penculikan dong, Dad?" tanya Cla wajahnya berubah menjadi lebih ceria dan full senyum.


"Claa... bisa-bisanya kamu tersenyum seperti itu?" tanya Daddy Ken. "Daddy rasanya mau gila mencari kau, dan kamu dengan santai nya sengaja tidak memberi tau Daddy akan pergi keluar negeri." protes sang Ayah.


"Memangnya kalau Cla izin... akan di beri?" tanya Cla membulatkan mata.


"Tidak," jawab Daddy Ken datar.


"Nah! Karena itulah Cla tidak izin, Daddy!" jawab sang anak gadis.


Daddy Ken menarik nafas dalam mendengar jawaban Cla. Jika di lihat dari usia, 21 tahun memang sudah sangat layak untuk di beri kebebasan. Karena ia sendiri bahkan sudah bebas saat berusia genap 17 tahun.


Tapi prinsip sang istri yang bersebrangan dengan cara didik Nenek Nurita memang tidak bisa ia anggap sepele. Dari harus ribut dengan istri, pikir anak sulung keluarga Adhitama itu.


"Daddy di rumah, kan? Daddy, Mommy, Papa dan Mama Zahra tidak menjemput Cla, kan?" tanya Cla berbinar.


Daddy Ken tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Cla yang di sertai wajah melasnya.


"Kalaupun Daddy tidak menjemput, Daddy punya beberapa kenalan di sana yang bisa Daddy pinta untuk menjemput kamu di apartemen Arsen dan membawa kamu kembali pulang ke Indonesia."


"Oh my God! No....." gumam Cla dengan nada seolah tengah menangis. "Jangan lah, Daddy... please..." pinta Cla merengek. "Cla pasti baik-baik saja. Cla janji akan menjaga diri dengan baik! Ini saja Cla hanya di apartemen saat Arsen pergi kuliah!"


"Ya?" pinta Cla lagi memohon.


Namun sang Ayah hanya menjawab dengan mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban tidak bisa memberi keputusan.


"Huuuhhh..." Cla kembali cemberut untuk kesekian kalinya.


"Dengan apa kamu mengganti air mata Mommy yang terbuang hampir dua hari ini?" tanya sang Ayah sambung. "Dan sekarang baru jam 9, tapi Mommy kamu sudah tertidur karena saking lelahnya menangis dan kehilangan rasa lapar. Bahkan kemarin malam tidak bisa tidur." ucap Daddy Ken menoleh sang istri yang terbaring di dalam kamar. Sementara Daddy Ken di balkon kamar utama, duduk di kursi balkon dengan memegang ponsel.


"Hah?" pekik Cla lagi. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang menjurus pada bakti terhadap orang tua.


"Hm?"


Cla menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak tau. Namun raut wajah sang gadis terlihat sedih kali ini. Bukan lagi cemberut ngambek. Seolah menyesal tapi berat untuk pulang secepat itu.


Daddy Ken menarik nafas panjang dan menghelanya pelan. Mengubah raut wajah dinginnya menjadi wajah hangat yang selalu ia tampilkan untuk anak-anaknya. Terutama untuk anak gadis nya yang kelewat manja satu ini.


"Maafkan Daddy dan Mommy, Sayang..." ucap Daddy Ken terdengar begitu lembut dan sendu.


"Hah?" Cla mengerutkan keningnya ketika mendengar justru kini sang Daddy yang meminta maaf. "Maaf untuk apa, Daddy? Cla yang salah... sudah membuat Mommy menangis..." lirih Cla merasa tidak sepantasnya orang tuanya meminta maaf padanya.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2