Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 42 ( Ini Bukan New York )


__ADS_3

Memiliki perasaan cinta sejak enam tahun yang lalu. Dan cinta itu kini benar-benar terwujud dan menyatu. Apa yang mereka inginkan sudah menjadi milik mereka secara tidak tertulis.


Dan cinta yang bersemi, selalu menggiring setiap orang untuk selalu merasa ingin bersama di setiap detik mereka melaluinya.


Di bilik dengan penutup yang hanya setinggi satu meter, kemudian di sambung dengan bunga-bunga kecil, ada sepasang muda-mudi yang tengah di mabuk cinta.


Tubuh berdekatan dalam wujud pelukan hangat yang di paksa oleh sang lelaki, membuat keduanya bisa merasakan jika cinta mereka di penuhi dengan ketulusan. Meskipun kisah ini baru di mulai hari lalu.


Ingin sekali Cla untuk tetap dalam posisi saat ini. Berpelukan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih sembari menghirup bau parfum yang di pakai sang lelaki.


Memuaskan hati untuk membuat diri merasakan memiliki lelaki yang banyak di idolakan para gadis itu secara nyata. Sebelum akhirnya besok mereka akan berpisah sampai waktu yang tidak bisa di tentukan.


Menjalin hubungan percintaan dengan pasangan yang seusia memang sedikit banyak pasti ada kendala. Entah itu menyangkut emosi atau sebagainya. Seperti Cla dan Arsen yang kini tengah menjalani semester akhir di negara yang berbeda.


Sungguh akhir semester yang tidak mungkin bisa mereka tinggalkan demi tetap bersama. Karena itu adalah waktu yang akan menentukan mereka lulus dengan predikat yang seperti apa.


"Cium atau begini sampai waiters datang dan sampai kita selesai makan?" tanya Arsen yang menawarkan sebuah pilihan yang sama-sama menguntungkan untuk dirinya.


Cla tergelak kesal dengan pilihan yang di berikan oleh Arsen. "Malu!" ketus Cla tanpa suara.


Tak menjawab lagi, Arsen hanya tersenyum simpul dengan tatapan yang mengandung isyarat kata, ya sudah begini saja.


Sebagai Mahasiswi psikolog, tentu sedikit banyak Cla bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran sang pemuda melalui ekspresi.


Akhirnya dengan memberanikan diri dan membuang rasa malu, Cla mencium singkat pipi Arsen yanng berada di dekat wajahnya.


Cup!


Satu kecupan pertama dari Cla mendarat dengan sangat singkat di pipi putih Arsen. Dan itu hanya menghadirkan sebuah senyum simpul yang meski singkat namun meresap sampai ke jantung.

__ADS_1


Tapi bukan kecupan di pipi yang di inginkan oleh Arsen.


"No like that, Baby..." bisik Arsen memprotes.


"So?" tanya nya mengulum senyuman. Tentu sesungguhnya ia tau apa yang di maksud sang kekasih, hanya saja... ya.. begitulah.


Arsen menatap lekat wajah cantik yang hanya berjarak tak lebih dari 15 cm dari wajahnya. Matanya menatap satu persatu apa yang terlukis indah di wajah cantik rupawan itu. Mulai dari alis, sepasang mata, hidung dan terakhir adalah... bibir merah muda yang di poles lipstick orange tipis.


Dan ketika melihat bibir itu, membuncah lah apa yang di takdirkan Tuhan di dalam dirinya sebagai laki-laki normal. Hingga ia menelan ludahnya sendiri.


Cla memperhatikan dengan seksama, bagaimana jakun laki-laki yang memiliki daya pikat tersendiri itu bergerak ketika sang kekasih menelan ludah. Dan itu membuatnya reflek melakukan hal yang sama.


"Aku akan mengajarimu sesuatu yang baru..." lirih Arsen masih dengan posisi yang belum berubah.


"Apa?" tanya Cla dengan polosnya, namun ia tau ada sesuatu yang tergambar dari sorot mata sang kekasih. Yaitu perasaan ingin akan sesuatu yang belum ia pahami dengan betul.


Di mana semakin jarak terkikis, maka dentuman di dalam dada akan terasa semakin kencang. Hingga bisa di rasakan satu sama lain.


Jarak bibir yang semula tidak lebih dari 15 cm, kini hanya tersisa 2 cm saja. Di mana hembusan nafas gugup mulai terasa satu sama lain.


Hingga akhirnya bibir Arsen menyentuh lembut bibir Cla. Bersentuhan dengan sangat pelan dan terasa begitu syahdu. Hingga tanpa sadar keduanya reflek menutup mata ketika bibir mereka bertemu dengan cara yang sangat indah.


Hanya sesaat, dan terjadi dalam dua kali sentuhan lembut. Karena Arsen langsung menarik kembali wajahnya, begitu kecupan singkat itu sudah terasa sekitar dua detik lamanya untuk satu sentuhan. Dan keduanya membuka mata secara bersamaan dan lambat.


Dua pandang mata beradu di jarak yang tak lebih dari 10 cm saja. Jarak yang begitu dekat dimana masih bisa merasakan hembusan nafas hangat lawannya yang ternyata tak membuat kegugupan mereka berkurang begitu saja.


Untuk sesaat keduanya hanya membeku dalam posisi itu. Diam dan saling tatap satu sama lain. Dua pancaran indah yang sama-sama menunjukkan ada cinta yang menggebu di dalam sana.


Merasa cukup dengan jeda, dan di rasa tidak ada penolakan berarti, Arsen kembali mendekatkan bibirnya. Mencoba untuk merasai lebih dalam akan kenikmatan nyata yang mulai membakar hasratnya.

__ADS_1


Semakin dekat jarak yang di kikis, maka jarak bibir keduanya akan semakin dekat. Dari 10 cm, kini hanya tersisa 5 cm saja.


Dan ketika hanya tersisa 3 cm, tangan putih mulus tiba-tiba menutup bibir merah muda dengan menggunakan punggung tangan. Sementara telapak tangannya menutupi bibir Arsen yang sudah tidak sabar ingin merasai lebih jauh tentang satu hal yang belum pernah ia rasakan.


Itu adalah tangan Cla, dan apa yang di lakukan Cla, benar-benar berhasil menghentikan apa yang sudah hampir terjadi satu detik lagi.


Untuk sesaat keduanya hanya kembali diam membeku. Dua pasang mata mereka bertemu dengan tatapan mata yang sama-sama menginginkan. Hanya saja... situasi tidak mendukung.


Merasa sudah tenang dan tidak menggebu akan penolakannya kali ini, Cla mendorong pelan wajah Arsen untuk kembali memberi jarak di antara keduanya.


Senyum manis di bibir Cla terpancar lembut dengan masih menatap lekat wajah tampan yang terdiam membeku. Tidak ada senyuman, tapi juga tidak terlihat marah, emosi maupun kesal.


Dengan memberanikan diri, Cla mengangkat wajahnya dan mencium singkat bibir tipis sang pemuda yang sejak ia turunkan tangannya dari menutup mulut sang pemuda, mata itu sudah menatap mata dan bibirnya secara bergantian.


"Ini bukan New York, Boy..." lirih Cla menatap sendu dengan senyum tulus yang menawan.


Tangan yang ia turunkan tadi jatuh tepat di dada bidang Arsen, dan kini kembali terangkat ke atas. Mendarat pelan di pipi Arsen, membelai lembut, mengusap wajah tampan menggunakan ibu jari secara perlahan.


Sedang jemari yang lain bergerak mundur, melintasi telinga dan menyusup di antara helai rambut pendek berwarna brown cinnamon di belakang kepala sang pemuda. Dengan mata lentiknya, ia sungguh mengagumi ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna di hadapan.


Keadaan ini berlangsung hingga dua menit lamanya, sampai akhirnya tangan Arsen ikut bergerak, tapi kali ini meraih tangan yang membuatnya merasa sangat nyaman karena di belai sedemikian lembut.


Meraih jemari lentik, mengecup lama dan menghirup dalam-dalam buku-buku jari sang gadis dengan memejamkan matanya. Sang pemuda menikmati lembut dan harumnya body lotion yang di gunakan oleh kekasihnya.


Membuka mata, beralih menatap mata sang kekasih dengan Ibu jari yang masih mengusap jemari lentik itu, Arsen berucap...


"I love you ..."


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2