Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 62 ( Dua Korban )


__ADS_3

Tiga tahun berada di sekolah yang sama dan satu tahun di kelas yang sama. Terpisah karena satu kesengajaan, lalu kembali bertemu setelah tiga tahun lebih berpisah. Kemudian menyatukan cinta yang telah lama terpendam dalam waktu yang sangat singkat.


Hanya dua hari mereka bertemu, bertatap muka setelah mendeklarasikan hubungan mereka pada keluarga. Kemudian kembali berpisah, dan setelah itu dua bulan lebih tidak bertemu.


Hingga akhirnya beberapa hal membuat sang gadis memilih untuk meninggalkan tanah air demi menyusul sang kekasih yang berada di negeri paman Sam sana.


Gilanya, ia melakukan itu tanpa sepengetahuan siapapun juga. Tanpa izin pada siapapun juga, termasuk keempat orang tuanya.


Memesan tiket secara diam-diam, kemudian menonaktifkan ponsel tanpa berniat menyalakan kembali, bahkan setelah ia turun dari taksi dan mencari apartemen sang kekasih yang sudah dengan sengaja ia catat pada secarik kertas.


Ia sangat paham, jika ia menyalakan ponsel sudah pasti siapa saja bisa melacak keberadaannya. Ia sangat tau, orang-orang tim IT yang berada di bawah naungan Adhitama Group adalah orang-orang pilihan yang sangat berpengalaman.


Bahkan mungkin mampu meretas ponsel miliknya yang sudah di berikan perlindungan oleh Arsen.


Tanpa peduli jika ada dua anak muda yang sedang di hakimi oleh kedua Ayahnya dan satu orang kepercayaan sang Daddy di ruang kerja CEO. Hingga dua pemuda itu harus menahan rasa ingin kencing akibat hentakan yang berulang kali mereka dapatkan dari tiga serigala yang seolah ingin mencincang habis tubuh mereka.


"APA!" pekik empat orang yang ada di dalam ruangan CEO setelah mendengar penjelasan dari Victor yang sangat mengagetkan mereka.


"Iya, Uncle! Dia tidak di temukan setelah bilang katanya ke toilet sebentar!"


"F*ck you!" pekik Arka mengibaskan kepalanya ke kiri karena kesal dengan ulah sang sahabat.


"Beraninya kau mengumpat di depanku!" dengkus Daddy Kenzo menatap tidak suka pada sikap Arka.


"Maaf, Tuan! Saya hanya jengkel dengan dia!" jawabnya melirik Victor yang menyebikkan bibirnya ke kiri tanpa rasa bersalah pada Arka.


"Kau yakin tidak sedang menipu ku?" tanya Daddy Ken dengan suara yang masih mengintimidasi.


"Sangat yakin, Uncle!" jawab Victor cepat. "Saya sudah sangat sadar berhadapan dengan siapa. Mana mungkin saya berani berbohong lagi!"


"Kalau sampai kau berbohong, aku akan dengan sengaja membekukan semua harta yang di simpan oleh Ayahmu di Tama Bank! Kau paham itu?" ancam Papa Zio tak ingin terkecoh lagi.


"Jangan, Uncle! Saya sudah jujur! Saya pikir pagi itu Clarice pulang. Karena saya pun sekarang tidak bisa melacak ponsel Clarice. Tidak taunya ,ternyata dia benar-benar menghilang. padahal rencana saya gagal total! Saya sungguh tidak tau di mana Clarice sekarang berada, Uncle! Maafkan saya!"


"Ya! Memang sekarang tidak semua orang bisa melacak ponsel Clarice!" sahut Daddy Ken membenarkan ucapan Victor sembari menghela nafas panjang.


Karena anak buahnya saja kesulitan untuk melacak ponsel Cla kemarin. Butuh waktu yang tidak singkat untuk menembus pertahanan yang di buat oleh Arsen. Dan sampai di sini, Daddy Ken merasa cukup bangga untuk kepintaran kekasih putrinya itu.


"Hemm... Jadi kekasih putri ku yang bahkan belum selesai S-1 itu lebih pintar dari kamu?" sindir Papa Zio tiba-tiba membuat tiga orang lainnya memicing padanya kemudian menoleh pada Victor.

__ADS_1


"Dan jauh lebih cerdas sepertinya!" sahut Venom tersenyum miring.


' penghinaan ringan ini namanya... '


Gumam Arka dalam hati.


Ting! Ting! Ting!


Tiba-tiba tiga pesan masuk secara berurutan ke dalam ponsel Daddy Ken. Di tengah penghakiman Daddy Ken memilih untuk mengecek ponsel miliknya. Karena khawatir itu pesan dari sang istri yang sedang bersedih di rumah sana.


"WHAT!!!" pekik Daddy Ken membaca pesan yang di kirim oleh Arsen.


"Ada apa, Pak Kenzo?" tanya Papa Zio dan Venom bersamaan.


Menoleh pada Papa Zio dan Venom secara bergantian menatap mereka dengan malas, kemudian dengan menahan perasaan yang campur aduk beliau berucap...


"kalian tau kemana putriku pergi?" tanyanya dengan nada suara yang lemas.


"Kemana?" tanya dua orang dewasa bersamaan.


"Cla pergi ke New York untuk memberi kejutan pada Arsen!"


"WHAT!!!" pekik empat orang dengan mata terbelalak lebar.


"Kenapa juga kita tidak kepikiran untuk cek penerbangan!" sahut Venom lesu.


"Aku terkecoh oleh putriku sendiri!" jawab Daddy Ken merasa lega dan jengkel secara bersamaan. Menatap lesu pada dua anak buahnya yang juga berekspresi sama.


"Cla memusingkan kita dengan cara yang tidak main-main..." gumam Papa Zio menggelengkan kepalanya pelan dan heran.


"Dan kita sudah membuang waktu satu hari satu malam dengan mencari dua anak ingusan ini!" sahut Venom menatap tak percaya dengan kabar yang baru saja di dengarnya.


"Ah! Sialnya aku hari ini!" gumam Victor lirih.


"Makanya jangan sok-sokan menculik anak orang!" sahut Papa Zio bereaksi.


"Putri Uncle memang luar biasa!" jawab Victor.


"Jadi aku rasa... justru ide mu yang di pergunakan Clarice untuk kabur!" sahut Venom. "Dia memang pintar!"

__ADS_1


"Huufff!" Victor membuang nafas kasar.


' Lebih baik aku menyerah! Dari pada harus berurusan dengan mereka bertiga seperti ini. Terlalu menyeramkan! '


Gumam sang senior di dalam hati.


***


Dan kini gadis yang tak tanggung-tanggung kabur hingga ke tanah Amerika itu tengah melengkung di balik selimut tebal karena malu keberadaannya telah di ketahui oleh sang kekasih terlebih dahulu sebelum misinya memberi kejutan berhasil.


"Kamu keluar dulu!" jawabnya ketika Arsen bertanya kenapa enggan membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Kenapa?"


"Wajah ku pasti seperti buruk rupa!"


Tergelak, Arsen merasa gemas sendiri dengan tingkah Cla yang selalu saja malu-malu padanya.


"Percuma di tutupi juga. Aku sudah melihatnya sejak tadi..." jawab Arsen. "Dan kamu tetap terlihat cantik di mataku! Tidak ada yang berkurang!"


"Bohong!" sahut Cla tidak percaya.


Arsen tertawa dengan menahan suaranya agar tidak sampai keluar. Hingga ia meremas jemarinya sendiri.


"Ayolah, Sayaang... untuk apa malu?" rayu Arsen. "Aku bahkan belum mandi dari kemarin. Bajuku saja masih baju kemarin!" ujar sang pemuda.


"APA!!" pekik Cla reflek membuka selimutnya hingga seluruh wajah dan lehernya tak lagi tertutupi.


Arsen tersenyum karena sang kekasih akhirnya membuka selimut dan menunjukkan muka bantalnya yang tetap terlihat imut di matanya.


"Hmm.. Untuk apa mandi? Musim gugur masih cukup dingin untuk mandi setiap hari, bukan?" tanya Arsen. "Yang penting cuci muka dan menyisir rambut dengan rapi!" lanjutnya memuaskan matanya menatap wajah cantik sang gadis.


Cla terdiam sesaat, kemudian otak membenarkan kalimat sang kekasih. Karena ia pun sering melakukan hal yang sama ketika berlibur keluar negeri di musim dingin, atau bahkan musim salju.


"Kamu tetap cantik!" gumam Arsen menyadarkan Cla yang tak menyadari jika ia membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"AAAA!!" teriaknya setengah merengek karena malu, dan kembali mencoba untuk menutupi wajahnya dnegan selimut.


Namun aksinya kali ini harus gagal. Karena ada tangan yang bergerak cepat untuk mencegahnya melakukan hal itu.

__ADS_1


"Eiits!!!" cegah sang pemuda. "Berhenti bermain petak umpet dengan ku, Baby!" desis sang pemuda.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2