
Menerima panggilan video call ketika tengah menunggu pesanan sembari memandangi rivalnya yang mengantri di depan meja kasir. Cla mengobrol dengan santai melalui video call sembari menebar senyum untuk sang kekasih yang tengah berada di kampus.
"Kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya Arsen pada Cla setelah mengatakan akan mengusahakan hari ini selesai supaya besok bisa berlibur dan jalan-jalan bersama.
"Bagaimana kalau... Central Park?" ucap Cla menyampaikan ide. "Aku mau naik perahu dengan kamu, Sayang!"
"Okay!" jawab Arsen. "Kenapa memilih Central Park?" tanyanya. "Banyak tempat lain yang bisa kita kunjungi.. Brooklyn, Lincoln center dan yang lainnya."
"Aku ingin naik perahu sama kamu..." keukeh Cla mengulang dengan senyum manisnya.
"Okay, apapun yang kamu inginkan aku turuti! Kita akan pergi kesana!" jawab Arsen. "Dan kita akan mendatangi satu persatu tempat berlibur di lain hari."
"Yup! Aku juga ingin ke Manhattan sama kamu..." jawab Cla masih dengan full senyum.
Dan itu terlihat sangat indah di mata Arsen. Namun selain melihat senyum sang kekasih, Arsen secara tidak sengaja melihat ke arah belakang punggung Cla, ketika menyadari ada sosok yang melintas di belakang kursi Cla.
Dan siapa sangka, sosok itu adalah Lady. Lady melintas di belakang punggung Cla dengan secara reflek menoleh pada ponsel Cla. Dan itu tentu membuat pandangan mata mereka bertemu dalam satu garis lurus secara tidak sengaja.
Dan semua itu tidak di sadari oleh Cla. Karena layar yang menunjukkan dirinya hanya sebuah kotak kecil di bagian bawah kanan.
' Lady! Mereka bertemu? '
Gumam sang pemuda tertegun untuk satu atau dua detik.
' Kenapa Cla tidak cerita? '
"Aku pernah datang ke Central Park bersama Daddy dan Mommy dan keluarga yang lain," ucap Cla membuat perhatian Arsen kembali tertuju pada sang gadis.
"Dan yang aku bayangkan ketika melihat sepasang kekasih naik perahu adalah... kelak aku akan pergi ke sana bersama laki-laki yang menyayangi dan mencintai ku dengan tulus! Dan itu harus terwujud!"
"Sekarang aku tanya... kamu tulus atau tidak sayang sama aku?" tanya Cla menatap sang kekasih dengan sedikit memicingkan matanya.
Meski ia sangat sadar pertanyaannya ini adalah pertanyaan konyol yang tak layak di tanyakan pada lelaki yang rela menjomblo bertahun-tahun karena gagal move on dari perasaan yang tumbuh untuknya di masa remaja.
"Ya Tuhan... masih di pertanyakan..." gumam Arsen membuat Cla sontak tergelak dengan menahan rasa ingin tertawa terbahak-bahak.
"Sekarang aku yang tanya," ucap Arsen. "Kamu tulus atau tidak sayang sama aku?" tanyanya. "Kamu kan dulu suka ngatain aku pecicilan, playboy, bad boy dan sebagainya!" ucapnya. "Kalau aku kan sejak dulu sudah manggil kamu Sayang... bahkan sebelum kita berpacaran."
"Emm..."
"Masa pakai mikir..." sindir Arsen mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Hehe! No! Aku mencintai kamu tulus... Hanya saja dulu aku terlalu membohongi diri. Munafik karena sesungguhnya aku suka ketika kita bersama. Sejak kelas 10 dulu..." jawab Cla bernada serius.
Tersenyum, "I love you ..."
"Love you too..." balas Cla sambil menyertakan kiss bye kecil.
"Ada siapa di Cafe?" tanya Arsen.
"Ada siapa?" tanya Cla bingung.
"Tumben tidak bilang..." sindir Arsen.
"Tumben tidak bilang?" ulang Cla dengan dahi berkerut.
"Di belakang kamu..."
Cla menoleh ke belakang dengan pelan-pelan, sampai akhirnya matanya menemukan Lady tengah duduk membelakangi dirinya. Seketika sang gadis kembali melihat pada layar ponselnya.
"Ooohh..." lirih Cla. "Dari mana kamu tau, ada dia?"
"Dia tadi lewat belakang kamu..." jawab sang pemuda apa adanya.
"Tau dari mana?"
"Dia masuk dari lantai empat!"
"Oh..." Arsen mengangguk paham.
"Aku tidak yakin, kamu sungguh-sungguh tidak tau dia tinggal di lantai empat!" sindir Cla dengan bibir yang cemberut.
"Oh, Baby... please..." melas sang pemuda, karena malas jika sampai harus berdebat tentang Lady untuk kesekian kalinya. "Jangan membuat aku nekat pulang dan meninggalkan tugas-tugas ini."
"Hehehe! Sorry..." Cla terkikik dengan menunjukkan semua barisan gigi putihnya, seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
Obrolan mereka memang tak di mengerti oleh seisi Cafe, kecuali kata I love you dan love you too. Karena mereka mengobrol menggunakan bahasa Indonesia.
Tapi jika di dengar dari suara lirih tawa Cla, dan raut wajah sang gadis serta kalimat cinta, sudah cukup menunjukkan jika asing ini terlihat sangat happy dengan obrolan yang di lakukan bersama seseorang di sebrang sana.
Dan itu juga yang di rasakan oleh Lady yang duduk di meja belakang Cla, dengan saling memunggungi. Saling beradu kepirangan, meski satu asli dan satu lagi buatan manusia.
Tak apa, asal tidak di cat warna hitam! Begitulah pesan Mommy Calina pada saat Cla izin untuk mengecat rambut untuk terlihat berbeda.
__ADS_1
' Kalian memang pasangan yang serasi... '
Gumam Lady dalam hati.
Lady, gadis itu sama sekali tdiak mempermasalahkan penampilan Cla yang siang itu terlihat sangat apa adanya. Meski ia adalah seorang model yang sangat totalitas dalam menjaga penampilan.
Yang di permasalahkan hanyalah... Cla bisa dengan bebas menggunakan baju-baju Arsen. Dan lagi... keberuntungan Cla yang di cintai oleh Arsen sedemikian nyata.
Di mana sejak saat itu, hubungan nya dengan sang pemuda semakin jauh merenggang. Bahkan tidak ada harapan untuk bisa kembali seperti beberapa tahun silam.
' Apa yang bisa aku lakukan sekarang? nothing! '
Tanya dan jawabnya sendiri. Ia merasa insecure karena tidak bisa memiliki Arsen meski jutaan manusia mengatakan dirinya cantik. Terutama akan foto-fotonya yang berseliweran di berbagai iklan dan majalah fashion.
***
Cla kembali ke apartemen dengan satu kantong kresek berisi taco dan hot dog, juga segelas minuman coklat dingin, di musim gugur yang masih terasa dingin karena suhu masih berada di bawah 20 derajat celcius.
"Aku benar-benar gila!" gumamnya. "Kenapa aku memesan ice coklat! Padahal udara masih terasa cukup dingin!" gerutunya menyesali satu gelas ice coklat seharga 2 dolar itu, atau setara 31 ribuan.
"Gara-gara Lady aku jadi tidak fokus!" gumamnya menghempaskan tubuhnya pada sofa yang semalam di tempati oleh Arsen untuk tidur dengan hotdog di genggaman.
Dan yang bisa ia lakukan untuk menghabiskan hari sepinya itu adalah menonton drama Korea romantis, walau hanya seorang diri. Scroll aplikasi untuk menemukan sesuatu yang lucu. Kemudian tertawa tanpa perlu khawatir di dengar tetangga, karena apartemen Arsen yang kedap suara.
Dan semua itu benar-benar mengantarnya untuk menghabiskan hari sampai hendak menjelang malam.
Jendela apartemen masih terbuka. Lampu-lampu kota New York yang indah mulai menyala satu persatu. Dan keindahan kota mulai terlihat sempurna ketika waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 waktu New York.
Selain karena langit yang belum seutuhnya menggelap, juga karena lampu yang bertabrakan dengan cahaya langit yang tersisa.
"Setiap hari dia menghabiskan waktu di kampus..." gumam Cla menatap gedung kampus yang terlihat dari tempat ia kini duduk. Di balkon ruang tamu yang menghadap jalanan besar, dan gedung Columbia University ada di sebrang jalan meski tidak sejajar.
Beberapa Mahasiswa tampak keluar masuk pagar besi yangn terbuka dengan seorang penjaga berdiri di sana.
"Arsen tak juga terlihat..." gumamnya. "Aku sudah rindu..." lanjutnya menoleh bingkai foto mereka berdua yang sejak sore tadi ia letakkan di atas meja nakas pojok sofa ruang tamu melalui dinding kaca yang bersih.
Hingga akhirnya ia terlelap di sofa ruang tamu dengan memeluk sebuah novel yang ia temukan di rak buku Arsen.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
✍️ : Besok libur dulu ya.... 1 hari ☺️
__ADS_1