
Sepulang Arsen dari kediaman mewah dan megah keluarga Kenzo Adhitama, Cla kembali ke kamarnya, tanpa bertemu dengan orang tuanya lagi. Karena Daddy Ken dan Mommy Cal sudah tak berada di tempat ketika ia kembali memasuki rumah mewah itu.
Dan kini waktu sudah semakin larut. Setelah mengguyur tubuhnya di bawah shower air hangat dan membalut tubuhnya dengan baju tidur, Cla langsung menyambar ponsel milik Arsen yang malam ini ia gunakan.
Ada senyum yang tak bisa hilang setiap mengingat kejadian apa saja yang terjadi hari ini. Setiap detiknya, sejak ia melihat wajah tampan Arsen di dalam toilet, hingga akhirnya sebuah kecupan mendarat di bibirnya, tak akan pernah terlupakan.
Semua itu benar-benar menjadi penguasa di dalam ingatan Cla. Dan hari ini, tanggal ini tak akan pernah lepas dalam ingatan sang gadis.
Apalagi kini melihat ponsel berlapis case warna hitam milik sang pemuda tengah ada di dalam genggamannya.
Tentu ada rasa bangga yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata karena di percaya oleh seorang lelaki yang di cintai untuk memainkan sesuka hati ponsel miliknya.
Rasa ingin yang terwujud, cinta yang terbalas dan kisah baru akan ia jalani. Menjadi imbalan akan kesabarannya untuk menunggu selama ini.
Memasukkan kode yang di maksud Arsen, yaitu tanggal hari ini. Di mana Cla mulai berfikir...
"Apa itu artinya kode ini menandakan... hari jadi kita?" gumam Cla.
Tersenyum dengan debaran yang tak tertahan, "Kamu lucu sekali..." lanjutnya terkekeh gemas. "Kapan dia menggantinya?" gumam Cla sembari memasukkan 6 kode yang merupakan tanggal hari ini.
Kemudian terbukalah layar kunci ponsel dan menunjukkan layar utama ponsel Arsen. Yang pertama kali menarik perhatian Cla tentu saja wallpaper yang di gunakan oleh Arsen.
Tenggorokan Cla tercekat begitu melihat foto yang terpasang sebagai wallpaper ponsel Arsen. Sungguh tak pernah terpikir, jika wallpaper Arsen adalah foto itu.
Tubuh Cla membeku di atas tempat tidurnya untuk beberapa saat. Berangan sejak kapan Arsen menggunakan foto ini sebagai layar ponselnya?
Sejak mengenal Arsen, baru kali ini Cla memiliki kesempatan untuk bebas memegang ponsel Arsen.
Sebuah foto yang di ambil Arsen sekitar 6 tahun yang lalu. Foto itu adalah foto pertama mereka di arena balap ketika untuk pertama kali ia melihat secara langsung Arsen turun sebagai juara.
Foto berdua, di mana keduanya terlihat masih sangat polos dengan wajah natural tanpa warna rambut dan skin care apapun juga.
__ADS_1
Foto itu, adalah foto yang pernah membuat dirinya dengan seorang Kakak kelas terlibat masalah di kantin dan membuat ketiganya masuk ruang BK dua hari sebelum ujian tengah semester 1 kelas X.
Cla tersenyum lirih, mengingat kembali masa sekolahnya yang di penuhi dengan warna warni dunia remaja. Emosi yang menggebu dan sifat yang masih kekanak-kanakan.
Ia usap lembut wajahnya yang polos dan wajah Arsen yang memang sudah terlihat tampan sejak dahulu.
"Aku tidak menyangka dia masih menyimpan foto ini di ponsel terbarunya..."
Gumam Cla sambil menoleh pada dinding di atas meja belajarnya. Di mana di sana juga tertempel foto yang sama yang sudah di cetak dan di buat berjajar dengan foto yang lain.
Hanya saja foto itu sudah menempel sejak mereka masih duduk di bangku Senior High School. Yang artinya ia memang sengaja memasang itu sebagai kenangan terindah.
"Bukankah seharusnya kita punya foto berdua untuk saat ini?" gumam Cla kembali menatap layar ponsel Arsen. "Jadi tidak perlu memajang foto lama kita..."
Tenang dengan senyum tipisnya ketika menatap ponsel Arsen, tiba-tiba ponsel itu bergetar, dan barisan nomor dengan kode luar negeri masuk ke dalam aplikasi chat milik Arsen.
Cla mengerutkan keningnya, ketika membaca singkat pesan yang masuk dan terlihat di layar bagian atas layar ponsel. Sebuah pesan chat yang ditulis menggunakan bahasa inggris.
( Anggap saja text bahasa Inggris... )
*Arsen? Apa kamu baik-baik saja? Dari kemarin lusa aku tidak melihatmu di kampus. Bukankah seharusnya kamu sedang mengerjakan skripsi Informatika?*
Cla mengerutkan keningnya. Merasa ada yang aneh dengan nomor yang tak tersimpan dan juga pertanyaan yang di ajukan. Tidak mungkin sembarang orang yang mengirim pesan chat demikian.
Tak berselang lama, ponsel kembali bergetar. Dan nomor itu muncul kembali dengan sebuah pesan yang membuat jantung Cla mulai sedikit berpacu.
*Apa kamu pulang ke Indonesia? Ada urusan apa pulang mendadak? Bukankah kamu dulu bilang ingin menjauh dari negara mu dan segala sesuatu yang ada di sana?*
"Siapa dia?" tanya Cla ketika sekilas melihat foto profil yang muncul adalah seorang gadis berambut pirang. "Sepertinya cukup mengenal Arsen dengan baik!"
Sudah tidak sabar lagi, Cla langsung mencari aplikasi chat milik Arsen dan nomor tanpa nama itu berada di barisan teratas.
__ADS_1
Pesan sebelumnya belum di buka oleh Cla, tapi sudah masuk lagi pesan susulan yang membuat Cla ingin rasanya meminta penjelasan pada Arsen, saat ini juga.
"Kapan kamu punya waktu untuk..." gumam Cla membaca pesan yang berada di bawah nomor tanpa nama itu. Pesan itu terputus, dan harus di buka bar nomor itu untuk melihat kelanjutannya. Tapi... hal itu akan membuat gadis pirang itu tau jika pesannya telah di buka.
"Apa kelanjutan pesan ini?" gumam Cla. "Ingin sekali aku membukanya!" gerutunya dengan dada yang bergemuruh.
Sebelum membuka pesan, Cla membuka terlebih dahulu foto profil. Ingin sekali melihat lebih jelas gadis yang mengirim pesan chat pada kekasihnya.
Jika di lihat dari chat yang sudah terbaca, jelas gadis ini bukan sembarang gadis yang ada di sekitar Arsen di New York.
Gadis berambut pirang panjang dan lurus terpampang dengan wajah cantik khas negara barat. kulit putih bule memperjelas asal pemilik nomor.
"Bukan pacar Arsen di sana, kan?" gumam Cla ingin sekali sekarang juga menelpon nomornya dan meminta penjelasan pada Arsen tentang gadis pirang satu ini.
"Kenapa tidak ada namanya? Sengaja di hapus supaya tidak ketahuan oleh ku atau bagaimana?" gerutunya mulai sedikit ada prasangka buruk.
"Atau ini rahasia yang di maksud Arsen tadi?" Cla semakin merasa geram. Rasa cemburu mulai mengorek-ngorek apa saja yang ada di dalam dadanya.
Nafas pun bahkan mulai menggebu seiring dengan tangan yang nyaris gemetar karena kesal. Tidak pernah menjalin hubungan sebelum ini. Tentu saja rasa takut kehilangan dan kecewa masih penuh teramat banyak di dalam hatinya. Dan bahkan ia sendiri belum tau cara mengontrol rasa saling percaya dengan pasangan.
Dan belum apa-apa, kenyataan di depan mata sudah seperti ini. Sudah ada seseorang yang membuatnya curiga di negeri paman Sam sana, tempat sang kekasih menimba ilmu. Sementara lusa Arsen sudah akan kembali ke sana.
Lantas bagaimana dengan dirinya jika tidak bisa memantau Arsen di sana?
Sedikit banyak itulah yang ada di dalam pikiran sang gadis cantik yang kini mulai tumbuh semakin dewasa, namun masih terlalu polos.
"Awas saja, kalau sampai dia membohongi ku!" geram Cla meremas kesal ponsel Arsen.
Jika saja itu adalah benda yang mudah patah, pasti sudah patah dan hancur. Atau jika itu squishy, pasti sudah tidak lagi berbentuk.
"Arsen bilang aku boleh melakukan apapun dengan ponselnya, bukan?" gumam Cla berpikir. "Itu artinya aku boleh membuka pesan chat yang ada di dalam ponsel ini!" lanjutnya menyeringai.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...