
Cla dan Arsen memesan beberapa menu makan siang olahan khas Marea Restauran. Dan hidangan cumi-cumi menjadi pilihan untuk sang gadis yang memang menyukai makanan laut.
Sedang Arsen olahan udang pedas menjadi menu pilihan makan siangnya kali ini.
Di tengah acara makan siang yang diselingi obrolan santai dan sesekali canda tawa yang menggelitik perut, tiba-tiba ponsel yang di letakkan Cla di atas meja setelah sempat membalas pesan dari Felia, sang saudara tiri, kembali berdenting beberapa kali.
Cla yang tengah meminum minuman khusus racikan Marea Restaurant, segera beralih pada ponselnya, begitu melirik layar dan melihat nama Daddy Ken ada di sana dengan beberapa pesan yang menyertai.
Cla membaca pesan sembari mengerutkan kening dengan tatapan mata yang tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kemudian kepalanya celingak celinguk ke kanan dan ke kiri, seolah mencari seseorang yang mungkin mencurigakan.
Hingga membuat kekasih nya bertanya.
"Coba baca..." pinta Cla menyodorkan ponsel pada Arsen yang duduk di sampingnya.
[ Daddy mengirim 10.000 dolar untuk mu, Sayang! Kamu bisa pakai beli apapun yang kamu mau di sana. Jika kurang kamu bisa bilang Daddy. ]
[ Jangan terlalu membebani Arsen dengan barang dan makanan mahal, ya? Daddy tidak mau, anak Daddy di bilang memanfaatkan kekasih nya selama di luar negeri. ]
[ Dan lagi... Jangan pulang lebih dari jam 11 malam! Udara dingin tidak baik untuk kamu... ]
[ Ok! ]
[ Daddy tau kamu di mana... Have fun, my baby girl! ]
Sebuah emoticon senyum dengan satu mata yang berkedip di gunakan sang Daddy untuk mengakhiri pesan yang beliau kirim untuk anak sambungnya yang sudah berusia 21 tahun tapi masih saja di anggap bayi.
"Ha?" pekik Arsen tak percaya dengan pesan Daddy Ken. "Maksudnya Uncle Ken mengirim mata-mata?" tanya Arsen.
"Mana aku tau!" jawab Cla mengangkat kedua pundaknya.
Menghela nafas, Arsen ikut menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari seseorang yang mencurigakan, atau mungkin seseorang yang sudah ia temui sejak masih di apartemen tadi. Namun tak satupun yang terlihat mencurigakan.
"Daddy Ken memang luar biasa!" gumam Cla lirih. "Dia selalu s
"Kalau begitu jangan sampai kita ciuman di sembarang tempat seperti mereka!" ujar Arsen menunjuk sepasang kekasih yang sedang bermesraan dan berciuman lembut.
Hal itu memang wajar saja di lakukan di sana. Tidak akan ada yang merasa terganggu, selama tidak menimbulkan keributan dan suara berlebih.
"Hahaha!!" Cla tertawa sembari menutup mulutnya mendengar argumen Arsen yang terdengar sangat lucu di telinganya.
Karena sejak tadi keduanya sudah ingin mencoba budaya barat yang tak bisa ia lakukan saat di tanah air. Namun keduanya masih menyimpan di dalam hati, untuk menunggu waktu yang tepat. Mungkin karena belum terbiasa.
__ADS_1
Namun sayang, sebelum eksekusi berlangsung, sebuah alarm berbunyi dengan sebuah peringatan yang jelas namun tidak tertulis secara detail dan lugas.
"Aku bisa pulang tanpa kepala kalau sampai Uncle Ken tau, dan tidak mempercayai aku lagi!"
"Kita hanya bisa mengulang adegan cium pipi saja, Baby!" keluhnya berwajah cemberut.
"Hahaha!" Cla semakin terkekeh dengan pernyataan sang kekasih yang terdengar sungguh lucu di telinganya.
"Padahal aku ingin seperti mereka!" Arsen kembali menunjuk pasangan muda lainnya yang melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh pasangan yang di tunjuknya pertama kali.
"Memamerkan kemesraan, dan menunjukkan pada dunia! Kamulah bidadari ku!" ujar Arsen menatap lekat sang kekasih yang masih tersenyum dan terlihat sungguh cantik menawan.
Ah! Sungguh ia ingin mencium bibirnya saat ini. Apalagi bibir itu baru saja meneguk minuman manis, yang pasti menambah rasa manis bibir tipis sang kekasih.
' Ini sungguh gila! '
Pekik sang pemuda di dalam hati.
"Aku juga ingin, Sayang! Tapi apa mau di kata! Sepertinya kita hanya bisa berciuman di apartemen saja!" sahut Cla menahan tawa sekaligus menahan sesuatu yang sulit untuk di ungkapkan.
"Hmm..." Arsen mengangguk sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Semua sungguh rumit untuk di jelaskan di lakukan.
"Ya! Itu waktu terbaik untuk kita menikmati jalanan menuju Times Square!" sahut Arsen. "Ini akan menjadi pengalaman pertama ku ada di Times Square bersama kekasihku!" lanjutnya mencuri sebuah kecupan di pipi Cla.
"Eits!" pekik Cla menatap sang kekasih dengan tatapan bergurau. "Tidak takut ketahuan Daddy Ken?"
"Hanya mencium pipi! Paling cuma kena semprot Mommy Calina seperti saat aku memelukmu pertama kali di kolam renang!" kekeh Arsen sembari memainkan kedua alisnya.
"Yakin, Daddy Ken tidak akan marah?"
"Emm... Paling beliau cuma memarahi ku sebagai formalitas saja!"
"Kenapa seyakin itu?" tanya Cla penasaran dengan keyakinan sang kekasih yang tak sama dengan keyakinannya.
"Karena beliau juga pernah tinggal di luar negeri."
"Lalu?"
"Beliau pasti pernah atau sering melihat hal demikian di lakukan oleh pasangan kekasih. Jadi, aku yakin! Sebenarnya beliau tidak akan marah. Namun karena istrinya adalah Aunty Calina, jadi dia harus memarahi ku!"
"Seyakin itu?"
__ADS_1
"Hm!" Arsen mengangguk yakin.
"Tidak menjamin sama sekali!" ejek Cla mencibir sembari membuang muka ke arah lain.
"Hehehe!" kekeh Arsen mencubit pipi Cla yang putih nan mulus. "Tapi aku sangat yakin!"
Cla membalas pesan Daddy Ken, dan berbagai kalimat terima kasih dan maaf ia ucapkan pada Daddy sambung yang teramat menyayanginya.
"Nanti aku transfer ke P*yP*l kamu, yaa?"
"Buat apa?"
"Kamu ambilkan pakai rekening kamu..."
"Aku sudah bilang... semua kebutuhan kamu selama di sini, aku yang tanggung."
"Tapi kata Daddy..."
"Ssstt!" Arsen memotong kalimat Cla dengan menutup mulut sang kekasih menggunakan jari telunjuknya.
***
Sore yang di tunggu telah tiba. Waktu yang tepat untuk berjalan kaki menuju Times Square. Suasana sore, di bawah langit senja yang cerah di musim gugur, bersama hawa dingin membuat siapa saja merasa nyaman dan senang berjalan kaki di sore hari. Apalagi jika bersama pasangan.
Persimpangan utama kota New York yang terkenal dengan sebutan Times Square itu memang menjadi salah satu ciri khas dari kota New York. Karena selalu ramai oleh wisatawan. Baik lokal maupun interlokal.
"Dulu... setiap aku ke sini bersama teman-teman, lalu ada wajah aktris atau aktor yang mempromosikan film atau apapun di salah satu videotron, aku selalu teringat dengan mu, Baby..." ucap Arsen ketika mereka sudah sampai di Times Square dan duduk di salah satu kursi Cafe yang ada di luar.
Mereka sudah puas berfoto bersama, dan kini saatnya menikmati minuman hangat di saat langit mulai menjelang gelap.
"Jadi kalau tidak lihat mereka kamu tidak ingat aku?" tanya Cla membuka matanya lebar.
Tersenyum, "Dulu aku berpikir... aku harus melupakan kekasih orang!" jawab Arsen. "Karena aku pikir kamu benar-benar berhubungan dengan Vino."
Cla mengerucutkan bibirnya. Menatap Arsen yang kini tersenyum salah tingkah, mengingat kebodohannya di masa lalu.
"Biasanya dengan siapa saja kamu ke sini?" tanya Cla kemudian.
"Banyak! Marvin, Edo, Ben saat masih di sini dan ..."
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1