Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 24 ( Bersandar Pada Rasa Cinta )


__ADS_3

Layar lebar bioskop 21 telah menyala dengan tayangan film terbaru bergenre Action-Romantic yang sedang booming di seluruh jagat.


Sebuah tayangan yang membuat seisi bioskop di huni oleh mereka yang sudah berusia 18 tahun ke atas. Dan sebagian besar adalah pasangan kekasih, atau juga pasangan suami istri yang tidak sedang membawa anak mereka ke dalam bioskop. Atau bisa juga suami istri yang belum memiliki keturunan.


Maka sudah bisa di tebak seperti apa alur dair film garapan Hollywood satu ini. Menonton bersama pasangan, tentu menjadi tujuan utama mereka memilih film ini.


Karena bisa di tebak akan banyak pasangan muda mudi yang merasa salah tingkah, atau bahkan akan berlanjut menuju suatu tempat setelah keluar dari bioskop.


Cla dan Gwen duduk berdampingan. Pop corn berukuran besar sudah ada di atas pangkuan masing-masing, dan di dalam dekapan tangan masing-masing.


Sedang para lelaki ada di sisi mereka masing-masing. Naufal di sisi kiri Gwen, dan Arsen di sisi kanan Cla.


Dua pasang anak muda yang terlihat sangat serasi dengan pasangan masing-masing.


30 menit sudah durasi film berjalan. Jika Gwen asyik dan nyaman bersandar di pundak kekasihnya sembari memasukkan popcorn ke dalam mulutnya juga ke mulut Naufal secara bergantian. Maka di sisi kanan Gwen ada sepasang kekasih yang masih sangat baru, dan keduanya terlihat sangat kaku.


Terutama sang gadis. Ia terlihat tegang, namun juga menyimpan rasa ingin seperti pasangan yang lain.


Cla duduk dengan sedikit tegang menghadap layar lebar. Sang gadis tak berani sama sekali melihat ke arah Arsen, karena jantungnya selalu saja berdebar setiap menatap wajah Arsen.


Apalagi di layar sudah beberapa kali menampilkan adegan kissing. Di mana ia belum pernah melakukan hal semacam itu.


Selain malu karena tayangan, juga karena ini adalah hari pertama ia berstatus pacaran dengan pemuda yang sudah lama menghilang.


Melirik ke kiri, Cla justru di suguhi dengan pemandangan yang membuat dirinya merasa iri dan ingin mencoba. Tapi masih merasa sangat malu untuk di lihat orang yang ada di belakangnya.


Ah! tapi sungguh akan sangat memalukan jika ia tiba-tiba bersandar pada pundak sang kekasih, pikirnya.


' Mereka benar-benar tidak ada akhlak! '


Ujar Cla dalam hati, mencibir Gwen dan Naufal yang sedang asyik berdua, dengan lengan yang saling melilit.


Bukan tidak peka, Arsen tau jika Cla tengah bingung dan salah tingkah akibat adegan di layar lebar, juga akibat sahabat lucknut di sebelah sang gadis.


Hanya saja ia sendiri masih ragu, apakah Cla akan mau bersandar di pundaknya?


Tangan Arsen yang semula diam berada di atas sandaran, kini bergerak untuk mengangkat sandaran kursi ke atas. Menghilangkan pembatas antara kursi nya dengan kursi Cla.

__ADS_1


Dan hal itu tentu menarik perhatian Clarice. Hingga Clarice menoleh dan menatap bingung pada sang kekasih yang terlihat sangat santai.


Maka saat Arsen semakin terlihat santai dengan posisinya duduk, saat itu juga ia tarik pelan wajah Cla untuk kemudian ia sandarkan pada pundak kirinya. Di mana ia berusaha menjadikan pundak itu sebagai bantal ternyaman untuk sang gadis.


"Tidak ada salahnya seperti ini bukan?" tanya Arsen sangat lirih dengan seulas senyum teduh.


Apa yang di lakukan Arsen membuat Cla merasa sedang di bawa terbang setinggi langit. Ia tak menyangka Arsen akan melakukan hal seperti ini tanpa ia minta.


Meski terkesan meniru apa yang sudah di lakukan oleh Naufal dan Gwen, tetap saja menciptakan satu kebahagiaan yang tiada tara.


Apalagi ini adalah momen pertama, kesan pertama dari cinta pertama yang benar-benar ia dapatkan.


Arsen menoleh ke kiri, di mana wajah cantik terlihat tengah tersenyum manis dengan rona merah di pipi yang membuatnya semakin gemas sekaligus menyesal karena tidak membuat hal ini terjadi sejak dahulu.


Cla mendongak ke atas, menatap wajah rupawan yang sedang memberinya senyuman teduh.


"Hemm..." jawabnya mengangguk sembari kembali membenarkan posisi kepala dan tubuhnya untuk membuat lebih nyaman.


Ketika Cla sudah merasa nyaman dengan apa yang tengah mereka lakukan, Arsen menarik tangan kanan Cla untuk merangkul lengan kirinya. Dan dengan manja ia meminta untuk di suapi pop corn seperti Gwen yang menyuapi Naufal.


Clarice tak menyangka jika hari ini tiba-tiba kedatangan seseorang yang sudah lama di nantikan.


Ia sama sekali tak menyangka jika mulai hari ini ia akan memiliki kekasih yang pasti akan di harapkan untuk bisa menjadi pendamping hidup selamanya.


Dan siapa sangka di hari pertama menjalani status barunya ini, dirinya akan terlihat kaku untuk suatu perlakukan yang belum pernah ia lakukan.


"Rasanya memang lebih enak jika berasal dari tanganmu..." ucap Arsen.


Tak bisa menjawab, Cla hanya bisa tergelak gemas dengan kalimat Arsen yang cukup pintar mengambil hatinya sejak keduanya di toilet tadi.


"Mau lagi?" tawar Cla kembali menyodorkan biji pop corn ke mulut Arsen.


Arsen melirik wajah Cla dengan lirikan yang penuh makna. Bukan mata ataupun kecantikan Cla yang sedang di tatap oleh sang pemuda. Tapi ...


Ketika dua anak muda berada di dalam kedekatan yang tiada jarak. Kemudian di lilit oleh rasa cita yang sudah lama terpendam, dan ketika bertemu, apa yang ingin di lakukan?


Pastilah ingin merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Sesuatu yang hanya ingin mereka lakukan dengan seseorang yang memang mereka inginkan.

__ADS_1


"Aku mau di suapi menggunakan... bibirmu..." ucap Arsen lirih, dan hanya bisa di dengar oleh Cla. Karena Arsen berucap sembari mendekatkan bibirnya pada kening Cla.


"Hush!" sahut Cla memukul pelan dada Arsen menggunakan punggung tangannya yang memegang biji pop corn.


Tergelak, "Pasti rasanya akan lebih enak!" ucap Arsen semakin menggoda sang kekasih. Ia bahkan mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan mencuri kesempatan, ya!" desis Cla menatap sang kekasih bagai pedang yang menghunus lurus ke arah mata musuh.


"Hahah!" Arsen tergelak lirih. "Kalau mencium kening mu... boleh?" tanya Arsen yang kini sudah tidak lagi fokus pada film yang sedang di tayangkan.


"Emm..." Cla tampak berfikir sembari melirik kanan kiri, bahkan atas kepalanya. Seolah menemukan jawaban yang tidak akan membuatnya menyesal.


"Tak kunjung menjawab berarti... boleh!"


Cup!


Kalimat Arsen benar-benar di akhiri oleh sebuah kecupan di kening Clarice dengan sangat lembut dan terasa begitu tulus.


"Arsen!" pekik Cla reflek mencubit perut Arsen bagian kiri dengan cukup kencang.


"Auw!" pekik Arsen dengan gelak tawa yang terdengar lirih.


"Berani sekali kamu, yaaa!" gerutu Cla menatap manja pada wajah tampan di hadapan.


Meski terlihat sedang marah, nyatanya wajah Cla memerah karena malu. Malu jika sampai terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Tetap juga senang ketika mendapat perlakukan yang belum pernah ia dapatkan dari laki-laki manapun selain Daddy dan sang Papa.


Jika Cla sok marah padahal dalam hatinya sedang berdebar sedemikian hebat, maka Arsen justru tengah tertawa gemas melihat sang kekasih yang malu-malu mau.


Karena bagi Arsen, hal semacam ini sangat wajar di lakukan oleh sepasang kekasih. Kehidupannya di New York membuat sang pemuda sudah biasa melihat berbagai adegan dalam berpacaran terjadi di depan mata secara langsung. Mulai dari lingkungan kampusnya, taman, mall, bahkan tepi jalan sekalipun.


Maka jika kecupan seperti ini terjadi di bioskop, menurut Arsen hal itu masih sangat wajar. Karena di luar negeri sana bioskop bagai sebuah ruangan yang tertutup rapat. Tanpa peduli jika di tengah gelapnya ruang bioskop, tetap ada sinar merah yang menembus kegelapan.


Cla kembali menatap layar lebar yang sudah mencapai durasi satu jam lebih. Sedang Arsen menempelkan pipinya pada puncak kepala Cla yang bersandar di pundaknya.


"Eghm!" suara deheman terdengar dari sisi kiri Cla, dan sudah bisa di tebak siapa pelakunya.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2