Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 70 ( Keributan Sebelum Tidur )


__ADS_3

Di kamar Arsen, tengah terjadi obrolan kecil yang terasa cukup berat. Sang gadis tak ingin sang kekasih tidur di luar. Tapi ia takut jika tidur berdua di kamar itu.


Karena kapanpun sang Ayah bisa muncul di sana. Sang Ayah punya tim IT yang jam terbangnya sudah tidak main-main lagi. Pasti bisa dengan mudah meretas kode pin dari pintu apartemen sang kekasih.


Maka setelah mengganti baju dengan baju tidur yang di pinjam dari sang kekasih, Cla berucap...


"Aku jadi seperti spongebob!" gumam Cla menatap dirinya di depan cermin.


"Seperti apapun akan tetap cantik di mataku!" sahut Arsen berjalan mendekat dan memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Membuat kaos lengan panjang kedodoran miliknya yang di kenakan oleh Cla seperti terlilit gesper di bagian perut.


"Bohong..." ujar Cla dengan wajah memerah malu ketika melihat Arsen dari pantulan cermin. Dimana laki-laki itu tengah bermanja di pundaknya. Meletakkan pipi di pundaknya, dan menempelkan bibir tepat di lehernya sebelah kanan. Membuat rambut kepala dan keningnya saja yang terlihat dari pantulan cermin.


"Aku tidak bohong, Baby..." jawab Arsen setengah bergumam, karena ia tidak memberi jarak antara bibir dan kulit leher sang kekasih.


"Tapi ini sangat lucu! Jauh dari kesan seksi yang di tampilkan si Lady tadi..."


"Hmm..."Arsen menarik nafas panjang mendengar sang kekasih terus saja dan bahkan berulang kali menyebut nama Lady.


"Jangan membandingkan kamu dengan Lady, Sayang! Sungguh dia tidak ada apa-apanya di banding kamu..." jawab Arsen sembari mengecup pipi Clarice kemudian menghirup bau tubuh Cla sembari menyingkirkan helaian helaian rambut pirang sang kekasih.


"Tapi dia sangat cantik! Aku pasti tidak percaya diri kalau sampai bertatap muka dengannya!" dengkus Cla mengamati wajahnya yang kini tanpa riasan sama sekali selain cream malam yang baru saja ia oleskan.


Atas paksaan sang kekasih, akhirnya Cla berani untuk muncul dari kamar mandi dengan make up tipis yang ia hapus hingga bersih.


"Dia cantik karena dia selalu memakai saat keluar apartemen. Sementara kamu... kamu sangat cantik walau hanya dengan dandanan seperti ini." puji Arsen mengeratkan pelukan di perut sang kekasih, serta kembali mendaratkan kecupan di pipi Cla berulang kali.


"Kamu memang pandai menggombal sejak dulu!" ujar Clarice dengan wajah bersemu merah karena malu-malu setiap di puji sang kekasih dengan berbagai kalimat sederhana.


"Sekarang tidurlah..." ucap Arsen. "Lupakan baju yang seperti spongebob ini!" lanjutnya sembari menggerakkan secara paksa sang kekasih ke arah ranjang. Di mana di sanalah Cla sebelumnya tertidur pulas. Arsen mendudukkan sang kekasih di tepi ranjang setelah membuka selimut tebal miliknya.

__ADS_1


"Eiiittss!! kamu tidur di mana?" Cla menghentikan tangan sang kekasih yang hendak menutupi kakinya dengan selimut.


"Sofa." jawab Arsen singkat.


"Sofa di ruang depan?"


"Ya, sofa mana lagi? Aku hanya punya satu sofa panjang di sini, Baby!"


"Di luar akan terasa lebih dingin, Sayang!"


"Aku akan memakai selimut," jawabnya. "Jaket tebal!" lanjutnya menunjuk jaket yang ia kenakan.


"Tetap saja dingin dan tidak akan nyaman!" sahut Cla.


"Sudahlah, Sayaang... Aku sudah biasa tidur di ruangan seperti apapun. Bahkan kemarin satu minggu lebih aku tidur di lab, tanpa kasur dan hanya berbantal tas kuliah saja!"


"Justru itu, Sayang! Harusnya malam ini kamu tidur di ranjang yang empuk!" bantah Cla yang tak kunjung merebahkan diri meski berulang kali Arsen mendorong pundaknya untuk segera rebah di atas tempat tidur.


"AAA... Aku pasti aku bisa mati berdiri kalau ketahuan tidur sama kamu..." Cla berseru dengan menangkup wajah dengan menggunakan kedua telapak tangannya.


"So? Kita harus bagaimana?" tanya Arsen ingin sekali menggali apa yang sebenarnya ada di benak kekasih polosnya ini. Karena keinginannya terkadang cukup sulit untuk di artikan oleh otaknya yang beberapa tahun terakhir hanya di penuhi dengan mata kuliah saja.


Cla menatap sang kekasih yang masih berdiri di depannya dengan bibir manyunnya, tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


Arsen tergelak tanpa suara, "Sudahlah, Sayang... tidurlah! I'll fine!" ucap Arsen memaksa tubuh sang kekasih untuk rebah di tempat tidur, kemudian menyelimuti tubuh ramping itu dengan selimut tebal miliknya untuk menghalau hawa dingin New York di musim gugur.


"Tapi..."


"Selamat tidur!" potong Arsen dengan mengecup bibir Cla. Tak ingin lagi mendengar kalimat bantahan apapun dari sang kekasih. "Mimpikan yang indah tentang aku, kamu dan masa depan kita"! ucap Arsen mengecup dalam kening Cla yang sudah terbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu juga!" sahut Cla menatap sedih pada kekasih yang akan tidur di sofa ruang tamu.


"Pasti!" sahut Arsen sembari menutupkan selimut pada tubuh Cla sampai di atas dada. "Bye, Baby!" pamit Arsen sembari berjalan ke arah almari untuk mengeluarkan satu selimut yang akan ia bawa untuk tidur di luar.


"Bye, Honey!" jawab Cla masih dengan tatapan sedih, sampai Arsen mematikan semua lampu yang menyala dan meninggalkan kamar Arsen yang entah sampai kapan akan ia kuasai.


***


Sementara itu, di Indonesia sendiri, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang di hari selasa. Perbedaan waktu yang cukup jauh memang antara New York dan Jakarta.


Dan di tanah air, ada Daddy Ken yang duduk di jok belakang mobil mewah miliknya untuk perjalanan pulang setelah meeting dan mengambil keputusan yang di sepakati dengan Papa Zio dan juga Venom.


Hal pertama yang harus ia sampaikan pada sang istri ketika sampai di rumah adalah menceritakan semua, kemudian memberi penjelasan dan pengertian agar sang istri memahami pula apa yang di rasakan oleh gadis seusia Clarice.


Tidak untuk mudah untuk setiap orang tua melepas putrinya pergi keluar negeri dan tinggal bersama laki-laki yang di ketahui sebagai kekasihnya, tanpa di dampingi oleh keluarga sama sekali.


Karena bahaya besar pasti akan selalu mengintai mereka. Seperti apa yang sering di ucapkan.


Jika ada dua anak manusia beda jenis kelamin berdua-duaan, maka yang ketiga adalah setan.


"Mas!" pekik Mommy Calina dengan suara sumbang begitu melihat sang suami memasuki rumah mewah kediaman Kenzo Adhitama.


"Ken!" Nenek Nuritha ikut memanggil putranya dengan suara yang lirih.


"Bagaimana, Kenzo?" tanya Eyang Shinta pada sang menantu satu-satunya. "Ada kabar tentang cucu ku?"


Nenek Nuritha dan Eyang Shinta sejak kemarin sudah mendampingi Mommy Calina yang di landa pilu karena putrinya menghilang.


Daddy Kenzo tidak lekas menjawab. Beliau memilih untuk langsung duduk di sisi istrinya dan mengusap pundak sang istri sebelum menyampaikan kabar mengejutkan tentang putri sambungnya.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2