Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 59 ( Saya Bersekongkol Dengan Teman Kursusnya )


__ADS_3

Di Indonesia, ada dua orang mengikuti pergerakan Victor sejak pemuda itu keluar dari rumahnya untuk jogging pagi di jam enam pagi.


Pagi itu Victor jogging bersama salah satu temannya yang tinggal satu komplek dengannya.


Meninggalkan rumah, mereka sungguh tidak sadar jika tengah di awasi dari jarak sekian meter. Itu karena mereka berpencar seolah tak mengenal satu sama lain. Satu orang seolah-olah tengah jogging berada di depan Victor. Satu lagi di belakang Victor.


Dua orang itu membawa alat rekam suara di tubuh mereka. Jika mereka mendekat pada dua orang itu, obrolan mereka pasti akan terekam, dan sampai pada Daddy Ken, Papa Zio dan Venom yang masih berada di kantor.


"Jadi bagaimana rencana ku?" tanya teman Victor. "Bagus tidak?"


"Rencana yang mana?" tanya Victor.


"Menculik Clarice lah! Rencana yang mana lagi?" jawab sang pemuda.


Victor tidak menjawab, dia hanya tersenyum miring. Sungguh sesuatu yang membuat sahabatnya penasaran


"Bagus tidak?" ulang teman Victor.


"Aku tidak tau..." jawab Victor.


"Haaahh!" menghela nafas kasar dan kesal. "Sudah aku kasih saran, rencana dan ide brilian untuk memaksa dia mau menjadi kekasihmu, malah tidak tau!"


"Aku tidak mau merusak hubungan orang lain..." jawab Victor.


"Demi cinta, Vick! Apapun halal untuk di lakukan! Asal jangan membunuh salah satunya saja!"


"Tapi dia adalah putri satu-satunya seorang Kenzo Adhitama. Kamu sendiri tau seperti apa beliau! Aku bisa mati sebelum mengucap maaf!"


"So?" tanya teman Victor seolah tidak ada takutnya dengan nama Kenzo Adhitama.


"Bermasalah dengan Kenzo Adhitama sama dengan mencari jalan untuk datang ke kuburan! You know lah!" jawab Victor. "Perusahaan Papa ku bisa hancur berkeping dalam waktu tidak lebih dari satu minggu!"


"Tapi... biasanya kamu selalu menggunakan saran yang aku berikan diam-diam?" sindir temannya sendiri.


"Jangan sembarangan kamu kalau bicara!" sembur Victor menyenggol lengan temannya dengan sedikit kasar.


"Hahaha!" gelak temannya tanpa rasa bersalah.


***


Sementara itu, apa yang mereka obrolkan telah sampai kepada Daddy Ken dan yang lain yang menunggu di kantor. Karena suruhannya berlari di belakang Victor dan temannya, dengan jarak yang masih terjangkau oleh microphone mini yang di bawa.


"Jadi bagaimana?" tanya Papa Zio yang sudah tidak sabar. "Aku jadi yakin dia pelakunya!"

__ADS_1


Mendengar obrolan Victor dan temannya, sesuatu yang di ragukan kini berubah menjadi yakin. Begitu juga yang di rasakan oleh Venom.


Bisa saja Victor menculik Cla diam-diam, bukan?


"Tangkap mereka!" perintah Daddy Ken dengan gigi yang sudah mengerat saking geramnya dengan dua anak muda yang merencanakan sebuah penculikan untuk putrinya. "Bawa dia ke sini sekarang!"


"Siap, Tuan!" jawab dua anak buah yang mengikuti langkah Victor dan temannya melalui saluran telepon khusus, dan satu orang lagi yang bertugas membawa mobil untuk mengangkut dua orang itu.


***


Maka di jalanan yang belum terlalu ramai namun sudah terlihat beberapa kendaraan berlalu lalang karena hari Senin adalah hari yang sibuk, sebuah mobil mengikuti langkah kedua anak muda itu.


Dua orang suruhan Daddy Ken berada di bagian depan dan belakang. Dan dengan gerakan yang sangat cepat, dua anak muda itu berhasil di bawa masuk ke dalam mobil dengan kepala yang di tutupi karung kecil berwarna hitam, serta tangan yang terikat di belakang.


Sedemikian cepat gerak para ahli penculikan. Hingga kini dua anak muda sudah ada di depan tiga punggawa tertinggi di Sebastian Group.


Victor dan temannya duduk di kursi dengan tangan dan tubuh di ikat pada kursi untuk tamu di ruang kerja Venom. Sedangkan Daddy Ken, Papa Zio dan Venom berdiri bagai hakim di depan mereka dengan terhalang oleh meja kerja sang CEO.


Dua anak muda sudah duduk bagai pesakitan. Tatapan mata mereka sudah di penuhi dengan sorot ketakutan. Bahkan raut wajah teman Victor sudah jauh berbeda dengan ketika ia terlihat sangat mengentengkan seorang Kenzo Adhitama.


Sebuah hasil rekaman dari apa yang mereka bicarakan baru saja di putar di dalam ruangan, dan membuat keduanya tidak berkutik. Terutama Victor.


"Siapa namamu?" tanya ketus Daddy Ken pada teman Victor yang duduk dengan bulu kuduk yang merinding, dengan disertai keringat dingin yang menguar begitu saja.


"Jawab!" dengkus Papa Zio. "Kamu tadi terlihat sangat pemberani seperti menantangnya, bukan?" sindir sang CEO Tama Bank.


"A...Arka, Tuan!" jawabnya dengan mata yang melirik tiga punggawa yang terlihat menyeramkan di depan matanya.


"Arka..." desis Daddy Ken menatap lekat pada lelaki yang memiliki ide untuk penculikan putrinya itu.


"Sekarang di mana putriku?" tanyanya pada Arka.


"Sa..saya tidak tau, Tuan..." jawab Arka cepat.


"Jangan bohong, kalian!" hentak Venom menggebrak meja dengan satu tangan tepat di depan Arka. Hingga pemuda itu nyaris lompat dari duduknya.


Sayang, tubuh tinggi tegap itu terikat rapat, sehingga hanya pundak saja bergerak.


"Saya benar-benar tdiak tau, Tuan!" jawab Arka lebih cepat dengan kaki yang gemetar. "Saya hanya memberi saran. Tapi saya tidak melakukan apapun!"


"JANGAN BOHONG!"


Daddy Kenzo kembali menghentak meja dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Tentu itu membuat suara hentakan jauh lebih kuat dari yang di lakukan oleh Venom.

__ADS_1


Terbukti dengan dua anak muda itu yang benar-benar nyaris melompat, hingga kursi mereka nyaris roboh.


"Sa...saya tidak bohon, Tuan!" jawab Arka cepat.


Wajah pemuda ini pucat pasi, sangat jelas terlihat jika ia ketakutan dengan apa yang di lakukan oleh Daddy Ken.


"KAMU!" hentak Daddy Ken menatap tajam pada Victor yang sejak tadi masih membisu. "Kalau kamu tidak berani jujur... Aku pastikan perusahaan Ayah mu hanya akan tinggal nama..." ancam Daddy Ken dengan sebuah desisan mengerikan.


Tersenyum sinis, "Jika Ayah mu protes padaku, aku bisa dengan mudah menjawab.. jika ahli warisnya lah yang menyerahkan seluruh asetnya pada ku karena sudah berani berbohong padaku!"


"Ja..Jangan, Uncle!" ucap Victor tergagap saking tegangnya menghadapi situasi yang rumit ini.


"Cepat jawab! Apa kau terlibat dengan hilangnya putriku?" tanya Daddy Ken tepat di depan wajah Victor, hingga anak konglomerat itu kesulitan untuk sekedar bernafas.


"Maafkan saya, Uncle..." lirih Victor tanpa berani menatap mata Arsen yang menukik tajam padanya.


"Maaf untuk apa?" tanya Kenzo dingin dan terkesan memancing sebuah kejujuran.


Victor yang ketakutan, menatap satu persatu wajah lelaki dewasa yang sedang menghakimi dirinya. Jelas terlihat, jika mereka menatap benci pada dirinya. Haruskah ia jujur?


Tapi bagaimana jika dunia nya akan semakin rumit setelah ini?


Jantung Victor berdetak jauh lebih cepat dan kencang dari sebelumnya. Aliran darah terasa begitu cepat mengaliri setiap syaraf yang ada di dalam tubuhnya.


"Hari itu..." Victor berhenti berucap karena saking takutnya menghadapi tiga serigala di depan mata.


"Cepat!" sembur Daddy Ken sudah tak sabar.


"Hari itu... sa..saya bersekongkol dengan teman kursusnya yang merupakan teman saya waktu Junior HIgh School, Uncle!" ucap Victor dengan menunduk dalam.


Tiga laki-laki dewasa yang sedang bertindak sebagai hakim menarik nafas panjang dan dengan sorot mata melirik satu sama lain.


Bahkan Arka menoleh dan menatap tajam pada sahabatnya itu. Seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Victor.


"Untuk apa bersekongkol?" desis Papa Zio dengan menahan amarah di dalam dada yang siap meledak kapan saja.


"Em..." Victor tidak berani menjawab.


Menghela nafas jengah, "Aku rasa jemari ku cukup kuat untuk mencekik lehernya..." gumam Daddy Ken sembari meremat jemarinya sendiri.


"Menculik Clarice, Uncle!" jawab Victor cepat.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2