Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 74 ( Not Today! )


__ADS_3

New York, kota yang di anggap tidak pernah tidur itu kini terlihat samar oleh matahari yang tidak lama lagi akan muncul dan menyinari segala hiruk pikuk duniawi di belahan sana.


Di dalam apartemen yang di miliki oleh seorang pemuda masih terlihat gelap, karena dua penghuninya masih tertidur dengan lampu yang padam.


Arsen, pemuda itu memang memiliki kebiasaan bangun pagi. Berbeda dengan Clarice yang sesungguh nya malas untuk bangun. Tapi entah, apakah kebiasaan itu masih akan ia bawa sampai ke New York?


Begitulah sepasang kekasih ataupun sepasang suami istri. Tidak selalu perempuan yang selalu bangun lebih awal.


Dan kini pun, Arsen yang lebih dulu menggeliat di atas sofa empuk ruang tamu apartemennya. Meski semalam ia terbangun akibat panggilan telepon dari lelaki yang ia yakini akan menjadi mertuanya kelak.


Dan ia tidak bisa tidur sampai setengah jam setelah ponsel kembali hening.


Sepasang mata belum terbuka lebar, namun ia sudah teringat jika hari ini ia harus kembali ke kampus jam 9 pagi untuk menyelesaikan tugas terakhirnya dalam job desk yang ia kerjakan selama delapan hari lamanya tanpa tidur di apartemen.


Namun sang kekasih tengah ada di apartemen, apa mungkin ia tinggal di apartemen sendiri?


Sontak mata terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang masih gelap dan langsung terkesiap untuk bangun dan mencuci muka singkat di kamar mandi ruang tamu lalu kembali meraih ponsel sembari menyalakan lampu utama ruang tamu.


Cepat ia mencari nomor dosen yang membimbingnya selama seminggu terakhir untuk...


Dalam saluran telepon ...


"Hm? Ya, Arsen?"


"Halo, Sir? bisakah hari ini saya izin untuk tidak datang ke kampus?" tanya Arsen penuh dengan nada memohon.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang lebih penting dari job desk yang akan sangat berguna untuk masa depan kamu?" tanya sang dosen.


Dari nada bicara, Arsen tau jika ada rasa ketidak sukaan akan permintaannya yang di tunjukkan oleh sang dosen secara tidak langsung.


"Emm..."


Dan bingung lah sang pemuda, karena pendidikan dan Clarice sama-sama aset penting masa depan bagi sang pemuda.


Jika tugasnya kali ini akan sangat berarti untuk membangun bisnis impiannya di masa depan. Maka Cla adalah sosok yang sangat berarti untuk mendampinginya di masa depan.


Sang pemuda terdiam di tepi jendela, menatap langit di luar yang tidak sepenuhnya gelap, dan tidak sepenuhnya terang.


"Ada apa, Arsen? cepat katakan? Kenapa kamu hari ini tiba-tiba minta izin?"


"Karena.. saya ada tamu dari Indonesia, Sir!"


"Lantas?" tanya sang dosen.


"Saya ingin menemani dia, setidaknya untuk hari ini..."


"Tidak bisakah kamu undur lain waktu? Besok misalnya! Siapa tau proyek kita ini besok sudah selesai." keukeh sang dosen meminta Arsen untuk tetap datang hari ini.


Menghela nafas berat, terlihat jelas Arsen mengeluarkan segala sesak yang ada di dalam dadanya. Hati ingin menemani sang kekasih. Tapi otaknya di minta untuk kembali pada tanggung jawab.

__ADS_1


Di saat semua itu merasuki kegundahan hatinya, tiba-tiba jemari lembut terasa merayap dari sisi kanan dan kiri perut hingga sampai ke perutnya. Lalu jemari itu mengunci tepat di depan pusarnya.


Kemudian di susul dengan punggung yang di hentak pelan dari belakang oleh bagian depan tubuh seorang perempuan. Karena jelas terasa sesuatu yang lembut menempel di punggungnya.


Arsen menoleh ke kiri, dimana rambut pirang Cla yang masih sedikit berantakan terlihat di balik pundaknya. Cla memeluknya dengan sangat erat hingga sang gadis memejamkan mata di balik tubuh gagah Arsen. Menempelkan tubuh hingga kepalanya di punggung sang pemuda.


Di peluk sedemikian erat di kala pagi, rasanya Arsen ingin berjuang supaya bisa mendapatkan izin tidak kuliah saja hari ini.


Bukan hanya Arsen, lelaki mana saja mungkin akan memilih untuk tetap tinggal di apartemen bersama kekasihnya dari pada harus kembali dengan urusan rumit di kampus yang entah akan sampai jam berapa ia di kampus.


"Arsen! Kenapa kamu diam saja!" seru sang dosen dari sebrang.


Samar-samar Cla sempat mendengar apa yang di obrolkan oleh Arsen dan sang dosen, sehingga memberi kode untuk menuruti keinginan sang dosen.


"Baiklah, Sir... Aku akan datang!" pungkas sang pemuda sembari meraba dan menggenggam lembut tangan Cla di perutnya.


"Hmm, bagus!" jawab sang dosen langsung mengakhiri panggilan telepon Arsen.


Arsen menghela nafas kasar sembari menarik ponsel dari telinganya. Bersamaan dengan itu, bergeraklah tubuh ramping kecil di belakangnya hingga membuat keduanya kini berhadapan di dekat jendela ruang tamu, dengan gorden yang sudah tersibak.


Arsen menarik tubuh kecil untuk di peluk hingga tubuh keduanya menempel sempurna. Tiada jarak walau hanya satu senti meter saja.


"Kenapa kamu sudah bangun?" tanya Arsen menatap sendu wajah cantik yang terlihat sudah cuci muka. "Terganggu aku telepon?"


"Tidak... aku sudah bangun beberapa menit yang lalu sebelum aku dengar kamu menelepon seseorang..."


"Good morning, Baby..." ucap Arsen.


"Morning too, Sayang!" balas Cla sembari mendaratkan kecupan singkat di bibir tipis sang kekasih dengan tangan yang melingkar erat di leher sang pemuda.


"Kenapa mau izin kuliah?" tanya Clarice sedikit mendongakkan kepala, menatap Arsen yang memiliki tinggi lebih dari tinggi tubuhnya.


"Aku ingin menemani kamu hari ini... berlibur... menghabiskan hari-hari selama kamu di New York."


"Tapi aku datang tidak untuk menjadi pengganggu kuliah kamu, Sayang!" jawab Cla menangkup muka bantal Arsen yang masih tetap terlihat tampan walau baru bangun tidur sekalipun.


"Aku akan menunggu di sini, sampai kamu pulang!" ujar Cla tersenyum ceria.


"Aku tidak tau akan pulang jam berapa, Sayang! Tapi aku janji akan berusaha untuk mengerjakan dengan cepat"


"Hmm! Tidak masalah. Kita bisa jalan-jalan lain kali. Tidak harus hari ini!"


"Emm..." Arsen menatap lekat wajah Cla sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tapi bagaimana kalau ternyata kamu lebih dulu di jemput, bahkan sebelum aku datang?" tanya Arsen berpura tidak tau jika sang Daddy Ken tidak akan menjemput.


"Emm..." Cla tampak berpikir dengan bibir yang cemberut sekian senti meter ke depan. "Apa iya mereka akan menjemput ku?" tanya Cla.


Namun Arsen hanya menjawab dengan menaikkan kedua pundaknya sebagai jawaban tidak tau. Alias pura-pura tidak tau.


"AAAH!" kesal Cla. "Apa mereka menghubungi kamu?" tanya Cla lagi.

__ADS_1


"Hanya semalam..." jawab Arsen.


"Mereka akan menjemput?"


"Mereka hanya bertanya kamu sedang apa?"


"Lalu kamu jawab apa?"


"Kamu tidur..."


"Em... lalu Daddy sedang ada di mana katanya?"


"Aku tidak berani menanyakan hal itu, Sayang..." jawab Arsen berpura tidak tau. Meski sesungguhnya semalam adalah sebuah video call. Yang mana itu menunjukkan Daddy Ken tengah berada di ruang tengah kediaman Kenzo Adhitama.


Seketika wajah cantik Cla berubah menjadi dua kali lebih masam dari sebelumnya. Dan itu membuat Arsen kesulitan mengulum rasa ingin tertawanya. Karena gadis cantik yang masih mengenakan baju miliknya itu terlihat sungguh menggemaskan dengan drama tidak tau yang ia buat.


"Kenapa mereka itu tidak memberi aku kesempatan untuk bisa terbang bebas seperti kamu dan teman yang lain..." gerutunya memukul pelan dada bidang Arsen yang tak bersalah dalam hal aturan keluarga Kenzo.


"Baru juga ketemu kamu satu hari, masa mereka sudah mau menjemput!" lanjutnya menggerutu.


"Mungkin saja mereka takut aku memakan mu..." jawab Arsen setengah bercanda.


"Jangan bercanda, ya!" sahut Cla mencubit gemas lengan atas kanan dan kiri Arsen.


Tergelak, Arsen menundukkan wajahnya dan mendekatkan bibirnya ke arah leher Cla.


"Karena sepertinya kamu sangat enak untuk di makan, hmm..." bisiknya sembari mengecup leher Cla di tiga titik berbeda.


Cla tergelak geli dengan apa yang di lakukan sang kekasih. Hingga menggerakkan pundak dan tangan yang seolah mendorong dada Arsen. Padahal tidak ada kekuatan sama sekali yang ia keluarkan untuk menjauhkan bibir Arsen dari lehernya.


"Ampun, Tuan muda Wilson..." kikik Cla terdengar begitu manja, dan sama sekali tidak menolak dengan hujan kecupan yang terus di tambahkan oleh Arsen sampai ke pipinya.


"I love you!" pungkas Arsen mengecup bibir tipis yang tampaknya sudah terlihat sedikit mengkilap.


"I love you more!" balas Cla berjinjit dan membalas kecupan Arsen dengan sebuah ajakan ciuman.


Oh no, ini pertama kalinya sang gadis meminta sebuah ciuman yang cukup dalam meski tidak berlangsung lama.


Mana mungkin sang pemuda menolaknya?


Dengan masih berdiri, keduanya saling berciuman dengan sebuah pelukan yang erat dan hangat. Seolah tak ingin kehilangan satu sama lain. Dan tak akan ada yang bisa memisahkan keduanya.


"Aku akan memesan sarapan untuk kita." Arsen mengakhiri ciuman itu. Karena sebagai lelaki normal ia sangat merasakan efek dari ciuman ketika pagi hari.


Apa itu?


Ya, sesuatu yang langsung bereaksi dengan sendirinya. Yang mana sesungguhnya sudah mulai terasa sejak ia di peluk dari belakang oleh sang kekasih.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2