Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 77 ( Lift yang Membeku )


__ADS_3

Cla bingung, ketika tiba-tiba sang Ayah meminta maaf atas nama beliau dan juga sang Mommy. Karena baginya yang salah adalah dirinya, dengan kabur dan membuat kepanikan seisi rumah.


Bertanya kenapa, tapi Cla justru mendapat jawaban yang membuatnya tersentuh.


"Daddy dan Mommy seperti lupa jika kamu sudah berusia 21 tahun... Dan beberapa bulan lagi akan genap 22 tahun."


"Maksudnya?"


"Daddy dan Mommy terlalu membuat banyak aturan untuk kamu. Ini dan itu, sampai akhirnya kamu pergi diam-diam meninggalkan kami... Bukankah begitu?"


"Daddy tidak bisa membayangkan... Jika kamu pada akhirnya meninggalkan kami selama-lamanya, karena aturan itu."


"Kehilangan jejak kamu selama dua hari saja sudah membuat Daddy seperti mau gila."


Cla tertegun mendengar jawaban sang Ayah. Ia sama sekali tidak keberatan, selama ini hidup dalam aturan yang ketat dan tidak sewajarnya untuk anak muda Ibukota yang lebih mengarah pada kehidupan bebas.


Salah satunya tidak di perbolehkan untuk berpacaran sebelum lulus Senior High School. Mungkin dia satu-satunya murid di sekolahnya yang mendapat aturan demikian.


Karena kenyataannya, ketika ia sudah memasuki usia untuk mendapat izin berpacaran, ia justru tidak menjalin hubungan sama sekali. Sampai akhirnya lelaki yang ia inginkan datang dan menawarkan cinta luar biasa yang sungguh-sungguh ia rasakan.


"Daddy... Cla tidak masalah dengan aturan apapun yang Daddy dan Mommy buat. Karena Cla paham, itu semua untuk kebaikan Cla." jawab Cla.


"Kalau saja sejak dulu Cla bebas melakukan apa yang Cla mau tanpa mengingat aturan yang Daddy, Mommy, Papa dan Mama Zahra buat, mungkin saja saat ini aku tengah menyesali sesuatu. Seperti yang di alami beberapa teman sekolah Cla."


Daddy Ken mengangguk lembut. Menatap sendu dan penuh rasa sayang pada putri sambungnya itu.


"Mommy Calina berusaha keras untuk menjaga anak gadisnya, Sayang..." ucap Daddy Ken. "Daddy harap kamu bisa mengerti... Meski pun menurut Daddy itu semua akan terasa sangat berat di lakukan oleh anak muda seperti kalian."


"Bagi Daddy yang terbiasa hidup di luar negeri, aturan yang di buat Mommy cukup bersebrangan dengan aturan yang di buat oleh Nenek Nurita."


"Tapi semua orang tua, pasti tau mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk anak-anak mereka."


"No, Daddy! Cla tidak masalah dengan semua itu... Hanya saja kali ini Cla nekat, karena ingin memberi kejutan Arsen untuk pertama kali."


Daddy Ken kembali mengangguk paham. "Lain kali kamu harus memberi tahu kami sebelum pergi kemanapun juga!" pesan Daddy Ken.

__ADS_1


"Siap, Daddy! Tapi janji, ya? Harus di beri izin!" pinta Cla mengerucutkan bibirnya. "Kalau tidak, Cla pasti bisa kabur lagi!"


Tersenyum tipis, Daddy Ken hanya mengangkat kedua pundaknya.


"Janji lah, Daddy! Please..." pinta Cla kembali merengek pada laki-laki yang paling tidak tahan jika ia sudah merengek.


"Hmm.. Baiklah!" jawab Daddy Ken kemudian.


"YEAAYY!!" seru Cla. "I love you, Daddy!"


"Love you too, my baby girl!" jawab Daddy Ken melihat wajah cantik itu terlihat bersinar ceria.


"Tapi ingat! Kamu harus bisa menjaga diri. Dan selalu mengingat pesan kami. Dan selalu menerima telepon dari kami. Kapanpun kami ingin menghubungi kamu..."


"Siap, Daddy!" seru Cla senang.


"Hm.." Daddy Ken mengangguk dengan. "Daddy akan mengirim uang untuk kamu di sana..." lanjut Daddy Ken.


"No, Daddy! Cla sudah memperhitungkan semuanya, dan uang Cla masih sangat cukup untuk di sini beberapa hari." ucap Cla. "Dan lagi... hmm!" Cla menunjukkan satu kartu ATM yang tadi di tinggalkan oleh kekasihnya.


"Yap!" jawab Cla. "Dia memberi Cla kartu ini! Katanya selama Cla di sini, semua kebutuhan Cla akan di tanggung olehnya..." Cla terkikik sembari menutup mulutnya.


Daddy Ken mengangkat ujung bibirnya sebelah kiri. Tersenyum melihat kisah cinta anak muda yang dulu tak ia  rasakan.


"Yang benar adalah di tanggung Jonathan Wilson!" sahut Daddy Ken kemudian.


"Hihihi!" kikik Cla. "Daddy benar!" sahutnya masih tergelak.


Karena uang jajan Arsen tentu saja berasal dari sang Ayah, Jonathan Wilson. Karena untuk saat ini Arsen memang masih sebagai penikmat harta orang tua. Belum memiliki penghasilan sendiri. Selain hadiah-hadiah berupa uang yang bisa ia raih dalam berbagai kompetisi.


Tapi apalah uang hadiah. Sama sekali tak sebanding dengan uang jajan dari sang Ayah yang melimpah ruah. Apalagi hidup di New York membutuhkan banyak biaya.


"Ya, sudah... jangan sampai telat makan. Daddy mau istirahat." pami sang Ayah.


"Jadi... Daddy tidak akan menjemput Cla, kan?" tanya Cla sebelum panggilan benar-benar berakhir.

__ADS_1


"Daddy akan menjemput kalau kalian berdua mengkhianati janji kalian pada kami..."


"Heheh! Never!"


***


Waktu menunjukkan pukul pukul 11 siang. Gadis yang di tinggal sendirian di apartemen itu perutnya mulai merasa butuh asupan tambahan.


Maka ia raih kartu ATM Arsen yang ada di atas meja makan. Dengan membawa kartu dan ponsel, sang gadis berjalan keluar untuk pergi ke Cafe yang ada di lobby apartemen.


Mengenakan baju yang sama, Cla tidak peduli jika akan ada yang mengatai dirinya aneh dan sebagainya. Yang penting dia nyaman dengan apa yang di kenakan.


"Memasuki lift, Cla hanya seorang diri untuk ikut lift bergerak turun. Sampai akhirnya lift yang ia naiki berhenti di lantai 4. Sepertinya akan ada yang ikut memasuki lift.


Sehingga Cla memilih untuk bergerak ke sisi kanan satu langkah. Supaya ruang lift yang kosong lebih luas untuk siapapun yang akan masuk.


Cla tak melihat ketika pintu lift itu terbuka. Ia hanya tetap menunduk sembari memainkan ponsel miliknya, menunggu sang kekasih menghubunginya di jam santai. Hingga rambut pirangnya yang di gerai menutupi sebagian wajah cantiknya.


Sepasang pintu lift telah terbuka, dan seseorang masuk dari dalam lantai empat, untuk bergabung dengan Cla yang tak menyadari siapa yang masuk.


Merasa tidak saling mengenal, rasanya tidak perlu untuk bertegur sapa, bukan? Toh Cla bukan penghuni permanen apartemen itu.


Meski sesungguhnya Cla akan mengenali siapa yang masuk baruan. Karena orang itu adalah Lady.


Lady memasuki lift dan langsung mengambil posisi di sisi kiri. Sejajar dengan Cla, karena lift hanya di huni oleh dua orang saja.


Lift kembali bergerak turun, dan dua orang itu masih tidak saling mengenali. Karena Lady sendiri tidak memperhatikan dengan jelas siapa di sisi kanan.


Sampai akhirnya Cla menarik nafas panjang ketika lift melewati lantai dua. Dan ia menggerakkan kepalanya ke kiri untuk menyibak rambut yang menutupi wajahnya.


Cla menatap pintu lift, bersamaan dengan Lady yang juga menoleh secara tidak sengaja ke pintu lift sang sama. Hingga membuat sorot mata mereka bertemu dalam pantulan pintu lift.


Untuk tiga detik keduanya membeku dalam diam. Ingatan dan pikiran bekerja sama untuk mengungkap siapa satu sama lain.


Dan barulah, ketika detik ke empat, keduanya saling mengakhiri adu pandang itu dengan menatap ke arah dinding di depan masing-masing dengan nafas yang sama-sama memburu dan jantung yang cukup berdebar.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2