
Tidak pernah berpacaran sebelumnya, membuat gadis cantik tak terlalu pintar dan tak tau cara mengendalikan perasaan diri sendiri dan juga kekasihnya.
Emosi seorang wanita memang susah di tebak. Berbagai faktor begitu mudah membuat emosi mereka up and down dengan sendirinya. Apalagi ketika sedang PMS. Senggolan kecil bisa berakibat buruk.
Dan itulah yang sedang terjadi pada Clarice saat ini.
Mendengar sangat jelas suara seorang gadis yang sudah menjadi momok sejak awal hubungannya dengan sang kekasih, berhasil membuat sang gadis akhirnya mengakhiri saluran telepon secara sepihak.
Jengkel sudah Cla mendengar suara Lady yang memang duduk di samping kekasihnya. Nada suara Lady terdengar begitu jelas jika di buat-buat untuk bisa terdengar menarik di telinga Arsen.
Meski di sana saat ini Arsen telah menjauh dari teman-temannya terutama Lady, dan memilih untuk kembali ke apartemennya tanpa menghiraukan panggilan Lady.
Nyatanya yang ada di dalam pikiran Cla adalah kekasihnya tengah mengobrol hangat, dan lebih bebas karena Arsen tidak lagi menggunakan headset karena saluran telepon sudah ia putus.
Hubungan jarak jauh seperti ini memang sering sekali menimbulkan masalah yang berasal dari dugaan dan hasil pikiran sendiri. Yang rata-rata selalu berpikir untuk tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh kekasihnya.
Cla menekan lingkaran merah dengan dada yang bergemuruh. Padahal malam ini ia ingin mengobrol sampai puas dengan sang kekasih. Setidaknya sampai pukul satu dini hari.
"Tapi yang ada hanyalah gangguan si pirang sialan itu!" gerutu Cla meletakkan ponsel di atas meja dengan sangat kasar.
"Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan di sana?" gumam Cla. "Bukankah Arsen seharusnya menjauh dari si pirang itu?" tanyanya.
"Dia kan bisa pindah tempat duduk, supaya tidak bersebelahan dengan gadis itu. Padahal dia tau, aku sangat benci dengan si Lady itu!"
"Arsen menyebalkan sekali!" gerutunya menggenggam jemarinya sendiri sembari menarik nafas kasar dan menghembusnya dengan kasar pula.
Tak berselang lama, ponsel di atas meja kembali menyala dengan sebuah panggilan dari nama yang baru saja tersambung dengannya.
Melirik kejam, Cla sedang tidak mood untuk berkomunikasi lagi dengan sang kekasih untuk saat ini.
"Aku tidak akan mengangkat panggilan telepon dari kamu..." ucap Cla menatap layar ponsel yang menunjukkan foto dirinya dan sang kekasih yang sudah di edit bagai lukisan.
"Weekk!" Cla menjulurkan lidahnya ke arah layar yang masih menunjukkan foto mereka.
Beberapa puluh detik kemudian panggilan itu terputus. Cla kembali menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Namun detik berikutnya justru panggilan video yang muncul dari Arsen.
"Kalau kamu masih bersama Lady di samping kamu, jangan harap aku mau bicara! huh!" ucapnya melirik jahat pada ponselnya sendiri.
__ADS_1
Tanpa sang gadis tau, jika Arsen saat ini sudah berada di dalam apartemennya sembari membuat kopi sendiri untuk mengganti kopinya yang belum ia habiskan di Cafe tadi.
"F*ck!" umpatnya ketika sang kekasih tak menerima panggilan telepon darinya. Bukan untuk mengumpati Cla, ia hanya kesal dengan Lady yang selalu muncul tiba-tiba dan membuat ia harus kembali bermasalah dengan Cla untuk kesekian kalinya sejak mereka berpisah dua bulan lalu.
Hingga ia memutuskan untuk melakukan video call, supaya Cla tau jika ia sudah di apartemen dan tidak ada Lady di sekitarnya.
Namun sia-sia saja, Cla masih tidak berminat untuk menerima telepon darinya. Sementara itu ia tidak akan bisa tenang jika masih ada sesuatu yang belum terselesaikan dengan sang kekasih.
"Rasanya tidak mungkin kalau dia langsung tidur setelah mematikan telepon..." gumamnya sembari mengaduk kopi cappucino miliknya.
Akhirnya sang pemuda memutuskan untuk mengetik pesan pada Cla. Satu demi satu penjelasan ia kirim untuk sang gadis yang tengah merajuk. Namun tak satu pesan pun yang di baca oleh Cla.
Pesan dalam chat...
[Baby... Aku di apartemen... Tidak ada Lady atau siapapun di sini. Please, jangan marah lagi, ya...]
[Aku mencintaimu teramat sangat. Seorang Lady tidak seharusnya membuat kamu seperti ini, bukan?]
[Dia tidak sebanding dengan kamu yang selalu terlihat sempurna di mataku...]
Pesan demi pesan terkirim dan langsung centang dua. Hanya saja tanda terbaca tak serta merta ia dapatkan.
Arsen menghela nafas berat dan panjang. Antara resah dan bingung harus berbuat apa. Ia sungguh tak ingin hal semacam ini terjadi ketika status hubungan jarak jauh yang mereka jalani masih berlangsung sampai beberapa bulan ke depan. Tapi semua resiko memang harus mereka lalui, jika ingin mengetahui sekuat apa rasa cinta dan saling percaya satu sama lain.
Belum selesai urusannya dengan sang kekasih, sebuah panggilan masuk ke ponsel Arsen yang membuat nya membuang nafas dari mulutnya saking lelahnya diri di semester akhir ini.
"Yes, Sir!"
Panggilan dari salah satu dosen yang bisa saja membuat kepala Arsen pecah jika tidak dalam keadaan baik dan kondisi tubuh yang fit.
***
Di dalam kamarnya yang luas, kini Cla sudah di atas tempat tidur sejak tidak menggubris panggilan video call dari kekasihnya. Lama ia hanya terdiam dan membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada hubungannya dengan Arsen.
Misalnya... Arsen tiba-tiba berniat untuk selingkuh ketika ia marah seperti ini.
Atau ia juga membayangkan jika saat ini Arsen dan teman-temannya tegah berfoto bersama. Dan ada satu foto mesra antara Lady dan Arsen yang tak di posting.
__ADS_1
"AAAAAAAA!!!" teriak Cla menutup wajahnya dengan bantal. Mnegeluaran segala rasa yang tidak karuan di dalam dirinya. Hingga suara itu terdengar seperti tertahan.
Berulang kali mendengar ponselnya menerima pesan, dan sesekali suara panggilan telepon terdengar, membuat Cla akhirnya membuat ponsel itu dalam mode silent. Dan ia memutuskan untuk tidur, meski akhirnya gagal. Dan berakhir dengan menonton Drakor di televisi yang sudah tersambung dengan internet.
# # # # # #
Matahari sayu-sayu menyapa Bumi bagian Ibukota, di mana gadis cantik terlelap di balik selimut tebal, dengan kepala yang berlapis bantal super empuk yang sangat nyaman. Hanya saja televisi berukuran 32 inchi yang ada di kamarnya masih menyala.
Itu karena sang gadis terlelap tanpa di sadari. Hingga televisi dengan obrolan menggunakan bahasa Korea masih menggema di ruang kamarnya.
Begitu menggeliat, pendengaran sang gadis langsung bereaksi begitu mendengar salah satu bahasa asing yang juga ia pelajari di tempat kursus. Itu saking ia senangnya dengan drama Korea maupun China.
"Oh my God!" pekik Cla reflek mencari remote control yang entah semalam ia lempar di mana. Rasa jengkel pada sang kekasih membuat sang gadis berbuat semaunya.
Berhasil mematikan televisi, benda lain yang menyedot perhatiannya adalah ponsel yang ada di atas meja nakas.
Ingat jika semalam ia tengah merajuk, cepat ia menyambar benda pipih yang semalam ia silent itu. Menyalakan layar, Cla di buat menutup mulutnya dengan menggunakan tangan.
Bagaimana tidak ...
"31 panggilan tidak terjawab! 67 pesan dari Arsen!" gumam Cla menatap tak percaya dengan notifikasi dari nomor yang sang kekasih.
Merasa semalam tidak berencana untuk marah, maka ia cepat membuka chat dari Arsen. Satu persatu pesan dari Arsen ia baca. Di mana setiap kata tak memperlihat kan jika sang kekasih marah padanya yang sedang merajuk.
Hal yang pertama membuatnya tertegun ialah...
Pesan dalam chat ...
[Aku akan sibuk selama satu minggu ke depan. Mungkin ponsel ini tidak akan selalu bersamaku...]
[Maaf, jika pesan tidak ku baca sampai lebih dari satu hari.]
[Jangan marah lagi, Baby... I love you...]
Dan sebuah daftar pekerjaan yang harus di lakukan oleh Arsen berada di dalam sebuah foto yang di kirim oleh Arsen di akhir kalimat.
"Oh, my God!" pekik Cla.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...