Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 64 ( Teringat Masa Lalu )


__ADS_3

Tiga orang dewasa duduk berunding di meja kerja CEO Adhitama Group, yaitu meja kerja Venom. Mantan Asisten pribadi seorang Kenzo adhitama yang di angkat menjadi CEO.


Hanya saja yang duduk di kursi saat ini bukanlah Venom sang CEO. Tapi sang pemilik perusahaan, Kenzo Adhitama.


Apalagi yang mereka rundingkan, jika bukan tentang kaburnya anak sambung sang pemilik perusahaan, sekaligus anak kandung dari CEO Tama Bank yang kini cabangnya sudah meluas di pulau Jawa.


Sejak obrolan di mulai, Daddy Ken yang menjadi kunci dari segala keputusan masih terdiam membeku di kursi kerja CEO. Menyentuhkan ujung-ujung jemarinya tepat di depan wajahnya yang masih tampan rupawan meski usia sudah di kepala 5.


Dan sejak tadi, Papa Zio, selaku Ayah kandung dari sang gadis sudah tidak sabar untuk bisa segera menjemput putrinya. Namun ia tau, ada yang harus ia hormati di sini, tak lain adalah Ayah sambung putrinya yang jauh lebih mengenal putrinya di banding dirinya.


"Kita jemput sajalah!" celetuknya ketika melihat sang pemilik perusahaan masih diam seribu bahasa, tanpa ia tau apa yang sedang di pikirkan oleh Daddy Kenzo.


Sontak Daddy Ken melirik ke atas, pada dua orang yang duduk sejajar di kursi untuk tamu yang ada di depannya.


"SETUJU!!" sahut Venom yang sepemikiran dengan Papa Zio.


***


Jika di Indonesia ada Daddy Ken yang menunggu kabar dari Arsen, dengan cara berdiskusi dengan tiga lelaki yang sejak kemarin sama bingungnya untuk menemukan Clarice. Justru yang sedang membuat gempar beberapa keluarga, bahkan pihak kepolisian itu kini tengah asyik merayakan ulang tahun Arsen dengan cara yang cukup sederhana.


Hanya berdua di dalam kamar, setelah sesi ciuman yang membuat rindu mereka mereda sedikit demi sedikit, kini keduanya duduk berhadapan di atas ranjang dengan menghadap kue tart bulat berdiameter 18 cm dengan warna dasar fondant biru tua.


Kemudian ada fondant yang di bentuk bagai jalan raya dengan garis putih di tengah, seperti jalan raya sungguhan. Lalu sebuah motor balap berwarna merah ada di atasnya. Dan di buat dari bahan yang sama, sehingga aman untuk di makan.


Selain itu, miniatur anak laki-laki dan perempuan berbaju seragam sekolah Alexander International School ada di samping motor itu. Seolah menggambarkan jika itu adalah mereka berdua, beberapa tahun silam.


Arsen tertegun menatap kue tart itu. Sejak tadi ia terdiam bersila kaki menatap kue tart unik hasil pemikiran sang kekasih yang di kreasikan bersama seorang penghias kue tart di toko tempat ia memesan kue yang tak jauh dari apartemennya. Kedua tangan bertemu di dagu dengan siku yang bersandar pada lutut.


Sementara Cla tersenyum cerah melihat sang kekasih speechless dengan kue ulang tahun yang ia simpan di dalam almari dapur sejak di antar beberapa jam lalu sebelum ia memutuskan untuk tidur.


"Bagus tidak?" tanya Cla dengan mata berbinar.


Arsen mendongak menatap kekasihnya dengan masih menjadikan tangannya sebagai penyangga dagu. Kemudian memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak tanpa menyangga dagu.

__ADS_1


"Tidak hanya bagus, Baby!" jawabnya. "Ini sungguh menakjubkan! Aku seperti kembali pada masa sekolah yang aku habiskan hanya untuk bersenang-senang dengan hobiku!" lanjutnya berucap.


"Bolos sekolah! Kabur di jam pelajaran yang membosankan!" sahut Cla.


"Ya!" tergelak dengan sebuah gelengan kepala. "Sebelum aku mengenal dunia perkuliahan ku yang terkadang membuat kepalaku serasa ingin pecah." keluhnya.


"Balapan dan bermain gila-gilaan dengan Naufal!" sahut Cla kembali.


Arsen mengangguk dan kembali terkekeh karena teringat kembali dengan masa mudanya yang hanya di habiskan untuk bersenang-senang. Sekarang pun ia masih muda, hanya saja tanggung jawabnya sebagai Mahasiswa di dua fakultas sekaligus benar-benar menguras waktunya.


Belum lagi nama besar Wilson di belakang namanya yang harus ia pertanggung jawabkan sejak dini.


"Thank you, Sayang!" ucap Arsen sembari mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan kepalanya dengan wajah Clarice. Kemudian mendaratkan kecupan di kening sang kekasih.


"Sama-sama..." jawab Cla menyambut kecupan Arsen di keningnya dengan memeluk tubuh gagah yang kini berusia 22 tahun.


"Tiup lilin!" seru Cla mencari korek api di atas meja nakas dan mulai menyalakan lilin.


Lagu singkat happy birthday ia nyanyikan sembari bertepuk tangan ringan. Hingga Arsen meniup lilin dengan angka 22 tahun berukuran kecil yang ada di atas kue.


"Thank you, Sayang!" jawab Arsen masih memeluk pinggang kekasihnya yang berdiri menggunakan lutut sebagai tumpuan tubuhnya di sisi kirinya.


Setelah itu Cla melompat dari atas tempat tidur, meraih buket bunga berisi bunga mainan dan sebuah syal dari brand kenamaan Dior.


"Hadiah buat kamu, syal untuk musim dingin!" ujar Cla menyerahkan buket itu. "Meskipun musim gugur tak lama lagi akan berakhir!" lanjutnya terkikik tanpa suara.


"Hmm... thank you, Baby!" Arsen mengangguk menerima buket dari sang kekasih dengan senyuman manis, sembari menarik pinggang ramping itu untuk lebih dekat, dan mendudukkan sang kekasih di paha kanannya. Sementara tangan kirinya masih memegang buket hadiah pemberian Cla.


Malu-malu dan salah tingkah Cla duduk di paha kanan Arsen. Ada perasaan tidak enak karena khawatir tubuhnya di anggap terlalu berat. Meski kenyataannya Arsen tampak santai saja.


"Aku berat?" tanya Cla menatap ragu pada Arsen.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kamu... keberatan atau tidak aku duduk begini?" tanya Cla.


"Berat." jawab Arsen datar.


"Aku duduk sendiri saja." tukas Cla saah tingkah dan malu.


Namun belum sampai pantatnya terangkat, tangan Arsen sudah lebih dulu melingkar di perutnya dan membuatnya tak bisa bergerak apalagi berdiri.


"Tidak ada yang berat selama itu berhubungan dengan kamu!" ucap Arsen. "Yang berat hanya jika kita berjauhan, Sayang!" lanjut Arsen mengecup singkat pipi kiri Cla.


Yang mana kecupan singkat itu berhasil membuat wajahnya memerah karena malu.


Menatap buket sesaat, lalu menoleh pada wajah Cantik gadis di pangkuannya. "Ada yang ingin aku tanyakan, Sayang..."


"Apa?" tanya Cla dengan dada yang mulai berdebar. Karena nada bicara Arsen terdengar cukup serius.


"Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" tanya Arsen membuat Cla sontak menahan nafas sesaat sebelum akhirnya menghela panjang dan bersiap menjawab.


"Aku naik pesawat!" jawab Cla tak ingin obrolan ini akan terasa menegangkan.


"I know, Baby... Mana mungkin kamu naik becak kemari." celetuk Arsen. "Maksud ku... yang aku tau Daddy Ken selalu over protective pada anak gadisnya. Tapi kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya Arsen lebih jelas dan serius. Karena tak ingin obrolan ini menjadi candaan.


Sedikit banyak ia pasti akan di mintai pertanggung jawaban oleh orang tua Cla yang berjumlah empat orang itu. Dan semua tau, tidak mudah menghadapi dua di antara empat orang itu.


"Emm...." Cla tampak berpikir sebelum menjawab. Karena ia ragu jika ia terlalu cepat menjawab jujur, maka semua akan cepat selesai dan di jemput dalam waktu singkat.


"Aku hanya memanfaatkan kesempatan!" jawabnya. "Walau sangat sempit!" lanjutnya.


"Kesempatan seperti apa?" tanya Arsen menatap lekat wajah Cal.


' Emm... jujur tidak, ya? '


Gumam sang gadis dalam hati.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2