
"WHAT!!"
Cla terpekik begitu mendengar sang kekasih berkata jika ia sudah memberi tahu Daddy Ken. Bahwa dirinya kabur ke New York, menemui Arsen yang sedang berulang tahun.
Reflek ia bangkit dari pangkuan sang kekasih dengan mata terbelalak menatap tak percaya pada sang kekasih yang terlihat santai saja berkata demikian.
"Oh my God....." gerutunya memegang kepala kanan dan kirinya sembari berjalan ke kanan dan ke kiri dengan cepat seperti orang kebingungan.
Arsen menatap heran dengan apa yang di lakukan sang kekasih. Bola matanya mengikuti pergerakan Cla yang seperti bola pantul bertali. Sehingga akan kembali ke tempat semula, untuk kemudian memantul lagi ke arah lain dan kembali lagi ke tempat asal.
"Kenapa, Sayang?" tanya Arsen.
"Huaaa..." tak menjawab, Cla justru berteriak tertahan seperti orang yang tengah menangis meratapi nasib yang buruk.
"Ada yang salah?" tanya Arsen memicingkan matanya bingung.
"Aku yakin, tidak lama lagi Daddy, Mommy, Papa atau bahkan Mama Zahra akan menjemput ku kemari!" ujarnya menatap kecewa pada sang kekasih.
"Susah payah aku kabur kesini, kenapa kamu malah memberi tau mereka, Sayaaanggg....?" protes Cla ingin marah, tapi mana bisa? Ia berjuang keras untuk bisa sampai di apartemen ini, menemui sang kekasih tanpa sepengetahuan keluarganya bahkan kekasihnya sendiri demi sebuah kejutan.
"Jadi aku salah?" tanya Arsen bingung.
"Aku masih ingin di sini...." jawab Cla masih dengan nada merengek, dan kaki yang menghentak lantai pelan.
"Aku hanya tidak ingin mereka kebingungan, Sayang..." jawab sang pemuda dengan nada yang lembut. "Karena semua orang tua yang kehilangan anaknya secara tiba-tiba sudah pasti akan stress. Terutama Mommy kamu..." jelas Arsen.
"Dan itulah yang terjadi pada mereka. Bahkan Mama ku juga menghubungi ku..." lanjut Arsen berusaha menarik pinggang sang kekasih untuk kembali di dudukkan di pangkuan.
Namun sang gadis justru menghindar dengan cara mundur satu langkah, dan kepala yang menggeleng tanda tak mau.
Cla menatap lekat dan sedikit tajam pada mata Arsen. Satu tatapan yang sulit untuk di artikan. Ada rasa kecewa, ada juga rasa ingin membenarkan kalimat sang kekasih. Karena ia pun sadar, jika apa yang di lakukan sangat tidak patut untuk di contoh.
__ADS_1
Jakarta - New York bukan jarak yang dekat untuk bisa di tempuh. Butuh waktu satu hari untuk bisa sampai. Dan rasa khawatir akan menjadi alasan terbesar untuk keluarganya mendatangi dirinya di New York.
"Sayaang... please!" gumam Arsen lirih dan memohon. "Satu kota mungkin tengah gempar dengan menghilangnya anak pengusaha ternama," ucap Arsen. "Bagaimana jika ada yang menyalah gunakan berita menghilangnya kamu?"
"Kamu anak seorang pengusaha kaya raya yang cukup terkenal di tanah air, Baby..." lanjut Arsen.
"Bagaimana kalau mereka tiba-tiba datang menjemput?" tanya Cla setelah menghela nafas panjang. "Aku masih mau di sini. Aku masih rindu kamu, aku ingin liburan dengan kamu di New York! Aku sudah memutuskan untuk mengambil libur kuliah 10 hari di mulai dari hari kemarin!"
"Semua akan sia-sia kalau tiba-tiba Daddy datang lalu aku di ajak pulang!" protesnya dengan nada merengek seperti anak kecil.
"Kamu tau seperti apa Daddy Ken!" serunya merengek ingin menangis saja rasanya. Ia berjalan menghentak mendekati jendela kamar Arsen yang tadi gordennya ia ganti dengan warna yang ia inginkan. Gorden yang ia beli saat membeli satu set baju untuk ganti.
Berdiri dengan bibir yang cemberut, Cla menatap sedih pada kota New York yang selalu terlihat glamour dari seluruh mata dunia memandang. Kota yang seolah menjadi pusat fashion dan juga trend di dunia.
Arsen terdiam menatap punggung kekasih yang enggan untuk di sentuh gara-gara keputusannya memberi tahu Daddy Ken. Padahal niatnya adalah baik, supaya tidak ada yang menyalah gunakan hilangnya sang putri kesayangan Kenzo Adhitama.
Menghela nafas pelan dan panjang, Arsen berdiri dan melangkah gontai mendekati sang kekasih yang sedang merajuk kesal, entah pada siapa.
"Baby?" panggil Arsen lirih menyentuh sisi kanan dan kiri lengan sang kekasih dari belakang.
Ah! Baru juga beberapa waktu yang lalu keduanya berpelukan dan berciuman mesra. Tapi saat ini sang gadis kembali merajuk seperti seminggu yang lalu. Hanya saja kini gadis itu ada di depan matanya. Ia bisa merayu secara langsung.
Dan yang paling penting adalah gadis itu ada di kamarnya. Di mana dirinyalah yang berkuasa di ruangan ini. Seharusnya seperti itu. Tapi tidak ada yang tau siapa yang akan berkuasa di sana.
"Bisa saja sekarang Daddy sudah dalam perjalanan ke sini..." gerutu Cla tidak ingin itu terjadi.
Arsen berpikir sejenak. Ia harus menemukan solusi dengan cepat untuk bisa membuat sang kekasih kembali tersenyum dan memaafkan dirinya.
Setelah berpikir, ia memilih untuk mengambil keputusan yang tegas, meski nantinya harus menghadapai orang tua Cla yang tidak bisa di anggap remeh.
Namun sebelum itu, Arsen memeluk erat sang kekasih dengan gerakan yang cukup cepat, sehingga tidak di sadari oleh Clarice yang sejak tadi menolak untuk di sentuh.
__ADS_1
Tidak peduli dengan pemberontakan yang di lakukan oleh Cla. Yang terpenting tubuh gadis itu harus berada di dalam dekapannya.
Toh, kekuatan gadis itu tidak akan sebanding dengan kekuatan laki-laki, bukan?
Arsen membiarkan tubuh ramping itu memberontaknya untuk sesaat. Hingga kesabarannya menghadapi wanita yang merajuk manja itu membuahkan hasil. Karena pada akhirnya tubuh Cla diam dan pasrah di peluknya dari belakang seperti itu. Tidak lagi memberontak juga tidak lagi terlihat ingin kabur.
"Maaf jika keputusan ku memberi tau Daddy Ken salah, Sayang..." bisik Arsen kemudian mengecup pipi kanan Cla dengan lembut dan beralih mencium dua titik leher sebelah kanan sang gadis, untuk kemudian membiarkan bibirnya bersentuhan dengan titik terakhir dari leher Cla yang reflek bergerak kecil karena geli.
Dan ya! Kelemahan seorang wanita ketika marah adalah sebuah pelukan hangat, kecupan bertubi nan menghanyutkan. Terakhir kata maaf yang terucap dengan sangat lembut dan terdengar seolah penuh penyesalan.
Tidak menjawab, Cla hanya terus menatap kosong dan hampa pada keramaian kota New York di kala malam.
"Kamu mengambil libur 10 hari, apa kamu tega, Sayang? membuat mereka mencari mu selama itu?" tanya Arsen lirih dengan bibir yang tak henti mengecup sisi kanan Cla.
"Bayangkan Mommy Calina, dia akan menjadi orang pertama yang paling terpukul dengan menghilangnya kamu..."
"Bayangkan... kelak kita juga akan menjadi orang tua, aku menjadi Ayah dan kamu menjadi Ibu. Bagaimana jika tiba-tiba putri kita menghilang?"
"Hm?" tanya Arsen kembali mendaratkan kecupan di pipi kekasihnya. Berusaha membuat tubuh itu teta tenang dengan cara menyiraminya dengan cinta yang di salurkan melalui kecupan berulang.
"Aku yakin, hal pertama yang akan kamu lakukan adalah menangis..." ucap lembut Arsen sembari meraih jemari kanan Cla dan mengusap lembut tangan dan jemari sang gadis.
"Benar kan?" tanya Arsen kini menatap wajah cantik yang langsung berpaling ke kiri ketika wajah Arsen bisa melihat wajahnya dnegan jelas melalui sisi kanan.
"Come on, Baby..." pinta Arsen mencoba untuk memutar tubuh itu supaya menghadap dirinya.
Cla mencoba untuk memberontak dan enggan menghadap sang kekasih. Namun apalah daya, kekuatannya bahkan tidak ada setengah dari kekuatan sang lelaki.
"Look at me..." pinta sang lelaki.
Hingga sang kekasih mau tak mau akhirnya menatap matanya. Dan yang di rasakan sang gadis setiap menatap mata itu adalah adanya cinta luar biasa yang terpancar dari dalam sana.
__ADS_1
"Alasan ku memberi tau mereka karena..." gumam Arsen. "Aku akan menjadi tersangka pertama jika terjadi hal buruk kepada kamu..."
...🪴 Bersambung ... 🪴...