
Mobil Arsen terparkir dengan cantik di depan rumah Cla ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Keduanya baru saja tiba setelah melewati hari yang ternyata terasa begitu singkat untuk dua anak muda yang sedang di mabuk cinta. Dunia yang di penuhi dengan masalah ini seolah tak terlihat oleh keduanya.
Keluar dari mobil, Arsen mengantar sang kekasih sampai ke dalam rumah tentunya. Sembari berpamitan pada kedua orang tua Cla jika seandainya mereka belum tidur.
"Jangan lupa besok..." belum sempat Arsen berucap, tiba-tiba pintu utama kediaman Kenzo Adhitama terbuka ketika keduanya hampir sampai di depan pintu.
"Uncle.." sapa Arsen setelah menoleh ke arah pintu dan yang menyambut keduanya adalah pemilik rumah mewah itu.
"Hm..." jawab Daddy Ken datar dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.
"Aunty!" sapa Arsen ketika Mommy Calina muncul dari belakang Daddy Ken yang masih berdiri di ambang pintu.
"Iya, Arsen..." jawab Mommy Calina terdengar lebih ramah di banding Daddy Ken.
"Dari mana saja?" tanya Daddy Ken sedikit dingin.
Yaa... sepertinya Daddy Ken mudah sekali berubah mood. Tadi pagi sudah berucap menitipkan Cla pada Arsen dengan legowo. Tapi malam harinya sudah kembali ketus dan dingin.
"Jalan-jalan, Uncle.." jawab Arsen. "Ke Mall Neo Soho dan ke pantai..."
Daddy Ken yang cukup pandai membaca gelagat orang lain saat berbicara, tentu saja menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut kedua anak muda di hadapan. Tak ingin kecolongan, atau sejenis... di bohongi.
"Ke pantai sampai jam berapa?" selidik Daddy Ken menatap lekat pada kekasih putrinya yang sudah ia kenal sejak pemuda itu masih remaja.
"Jam tujuh, Daddy..." sahut Cla.
"Daddy bertanya pada orang yang hari ini bilang bertanggung jawab pada putri Daddy satu-satunya..." jawab Daddy Ken menoleh sang putri dengan tatapan yang kurang ramah, tapi juga tidak terlihat marah.
"Sampai jam tujuh, Uncle," sahut Arsen. "Lalu kami mampir untuk makan malam terlebih dahulu di salah satu restoran cepat saji.." lanjut Arsen tak ingin terlihat seperti pengecut di depan Ayah sang kekasih yang sudah ia tau seperti apa perangainya.
Dan benar saja, Daddy Ken langsung menoleh pada Arsen untuk mencari kejujuran dari cara Arsen melihat dirinya.
Memang Arsen terlihat sagat meyakinkan, meskipun dalam hati ada sesuatu yang membuat Daddy Ken tidak tenang.
Ya... melepas anak gadis bersama laki-laki meskipun itu kekasihnya memang tidak lah mudah untuk seorang Ayah. Apalagi keduanya pergi sejak tadi pagi hingga malam hari. Lebih dari 12 jam anak gadisnya meninggalkan rumah bersama seorang laki-laki.
Yang mana semua orang pasti tau, jika ada sepasang anak muda, maka yang ke tiga adalah.... setan.
Tapi ya sudahlah, usia anak gadis nya sudah lebih dari 20 tahun. Sudah memiliki pemikiran yang lebih dewasa di banding setelah lulus sekolah dulu.
Sedikit banyak Daddy Ken merasa beruntung, karena putrinya tidak langsung menjalin hubungan begitu anaknya di nyatakan lulus Senior High School.
__ADS_1
Menghela nafas panjang, Daddy Kenzo akhirnya mengangguk dan membiarkan Arsen ketika lelaki itu pamit untuk pulang. Dan sepasang kekasih itu pun berpisah tanpa melanjutkan kalimat yang sempat terputus.
***
"Dad, besok Cla mau mengantar Arsen ke Bandara..." ucap Cla pada kedua orang tuanya ketika tiga orang itu berjalan bersama menaiki tangga, dan Cla berjalan berjajar dengan sang Ibu mengekor sang Ayah.
"Jam berapa?" tanya Daddy Ken menoleh Cla sekilas tanpa menghentikan langkahnya.
"Pesawat take off jam 8 pagi, Daddy..."
"Jadi kamu berangkat jam berapa?"
"Mungkin jam 6 pagi..." jawab Cla.
"Hemm.. baiklah.. Hati-hati..." jawab Daddy Ken berhenti sesaat dan menatap sang putri dan istrinya secara bergantian.
"Thank you, Daddy!" ujar Cla sembari melangkah lebih cepat dan mendaratkan kecupan singkat di pipi kedua orang tuanya.
Sebelum akhirnya sang gadis berlari untuk memasuki kamarnya yang ada di lantai dua dengan senyum bahagia.
# # # # # #
Matahari masih malu-malu untuk menunjukkan wujudnya, tapi gadis cantik bertubuh sintal dengan rambut pirang sudah berdiri di depan meja rias dengan memoleskan make up tipis di kulit putihnya.
Sendal slip on berwarna putih menutupi kakinya bagian depan. Tulisan Givenchy berada di atasnya dengan ukuran nyaris penuh sudah bisa mewakili kisaran harga dari sandal itu.
Rambut pirangnya di ikat sebagian, tepat di belakang kepala bagian atas. Dan kini tas selempang sudah berada di pundaknya. Maka kunci mobil pun segera ia raih untuk kemudian meluncur ke rumah sang kekasih bahkan di saat jam belum menunjukkan pukul 6 pagi.
Turun dari tangga, Cla tak melihat siapapun di lantai dua, ruang tengah, bahkan ruang makan sekalipun.
"Sepertinya Mommy dan Daddy belum bangun..." gumam sang anak gadis.
Berjalan cepat, melintasi ruang tamu hingga ia membuka pintu utama, dan barulah ia cukup terkejut ketika melihat kedua orang tuanya ada di depan rumah sudah mengenakan baju olah raga mereka, dan tengah melakukan pemanasan.
"Mom? Dad?" sapa Cla menghampiri.
"Berangkat sekarang?" tanya Mommy Cal.
"Yes, Mommy!" jawab Cla kembali mencium pipi sang Ibu.
"Tidak pergi dengan sopir?" tanya Daddy Ken ketika melihat Cla memegang kunci mobil.
__ADS_1
"No, Daddy! Cla akan baik-baik saja!" jawab Cla berpamitan dengan cara yang sama. "Bye, Daddy!" ucapnya mengecup pipi sang Ayah sambung.
"Hmm.. hati-hati.."
"Yes, Daddy!" jawab Cla tersenyum cerah di pagi hari yang juga tampak cerah, sembari meninggalkan Daddy dan Mommy nya.
"Dia terlihat lebih bahagia..." gumam Daddy Kenzo menatap punggung Cla yang mulai memasuki mobil mini cooper merah.
"Iya, Mas..." sahut Mommy Calina merasakan hal yang sama, menatap sang anak gadis hingga mobil Cla menghilang di balik gerbang tinggi menjulang.
"Kamu pernah merasakan LDR?" tanya Cla pada sang suami tanpa melihat Daddy Ken.
"Ha?" pekik Daddy Ken menoleh sang istri dengan tatapan yang tak percaya jika sang istri akan menanyakan hal semacam ini.
"Pernah LDR atau tidak?" ulang Mommy Cal menatap sang suami dengan tatapan yang resah.
"Tidak..." Daddy Ken menggelengkan kepalanya heran.
"Anak kita akan menjalani LDR, apa Daddy yakin dia akan sanggup?" tanya Mommy Calina. "Mengingat ini momen pertama dia menjalin hubungan pacaran..." lanjutnya kembali membuang tatapan ke arah gerbang yang sudah di tutup oleh Security.
"Aku bisa tau dari mana di akan sanggup atau tidak, kalau dia bahkan belum pernah berpacaran..." jawab Daddy Ken ikut menatap gerbang. "Selama yang aku baca hanya seperti apa perasaannya pada keluarga."
"Kamu kan cukup pintar membaca gelagat seseorang, Mas..."
"Iya tidak sedetail itu, Sayang!" jawab Daddy Ken semakin heran. "Aku bisa menilai seseorang dari sorot matanya, dan saat ini yang di tunjukkan Cla hanya sorot mata bahagia. Aku bahkan belum pernah melihat bagaimana jika ia patah hati... Atau bagaimana sikapnya saat cemburu dengan kekasihnya." jawab Daddy Ken.
"Toh, ini baru hari ke-3 mereka berpacaran, mana mungkin pula aku bisa mengenali keduanya." jawab Daddy Ken. "Aku hanya sering mendengar Jonathan heran putra bungsunya tak pernah mengenalkan gadis manapun sebagai kekasih meskipun sudah 3,5 tahun tinggal di New York."
"Dan ternyata dia menjalin hubungan dengan anak kita..." sahut Mommy Cal.
"Hmm.. mereka sedang berbahagia. Kita hanya bisa membiarkan dan mengawasi agar tidak terlalu jauh..."
"Hemmm..." Mommy Cal menghela nafas panjang. "Ya, Mas! Kamu benar! Saat ini ia sedang bahagia..."
"Ya, jadi biarkanlah... setelah ini aku rasa ia akan memasuki masa sulit, di mana kepercayaan mereka akan segera di uji..."
"Seperti saat kamu pergi ke luar negeri berminggu-minggu?" tanya Mommy Cal.
"Ya... itu hanya kecurigaan kamu saja, Sayang! Dan itu hanya dalam hitungan minggu. Sedangkan mereka akan menjalani selama berbulan-bulan. Apalagi Arsen kuliah di dua fakultas. Bisa jadi waktunya akan terkuras untuk tugas kuliahnya."
"Oh my God..." lirih Mommy Calina membayangkan perasaan sang anak gadis. Ketika LDR dan kekasihnya tak punya banyak waktu untuk berkomunikasi karena kesibukan yang tidak main-main.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...