
Arsen tau, sorot mata sang kekasih mengarah pada satu titik di tengah lobby gedung apartemen. Sehingga ia mengikuti arah pandang kekasih nya, hingga sebuah nama lengkap ia bisikkan pada sang kekasih.
Lantas, reaksi yang di tunjukkan Cla pertama kali adalah melebarkan matanya hingga membulat sempurna, dengan titik pandangan tetap pada gadis pirang di tengah lobby.
"Lady...." gumamnya mulai bisa menyamakan gadis pirang di foto dan di dunia nyata.
"Hmm..." Arsen mengangguk pelan dan berharap tidak akan ada reaksi berlebihan setelah ini, antara sang kekasih dengan Lady.
Tapi apa daya, harapan Arsen hanyalah harapan tanpa jaminan. Karena nyatanya ekspresi yang di tunjukkan Cla sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
"Dia tinggal di lantai berapa?" tanya Cla penasaran dengan nada suara yang sudah berbeda dari sebelumnya.
"Aku tidak tau pasti, mungkin lantai empat!" jawab Arsen dengan ragu.
"Bagaimana kamu tidak tau? Kalian sudah tinggal di sini hampir empat tahun, bukan?" Cla menoleh dan menatap Arsen dengan mata yang memicing penuh intimidasi. "Jangan pura-pura tidak tau!"
"Karena aku tidak pernah mendatangi apartemennya, Sayang..." jawab Arsen. "Aku hanya mendengar dari teman-teman."
Cla kembali menoleh pada lobby, di mana gadis pirang itu masih asyik mengobrol dengan laki-laki yang entah siapa. Tatapan menghunus penuh benci dan rasa cemburu ia tujukan pada gadis itu. Apalagi setelah melihat secara langsung, dimana kenyataan mengatakan...
"Ternyata aslinya jauh lebih cantik!" gumam Cla dengan tatapan tidak suka melihat rival nyata yang ada di depan sana. "Sudah jam 10 malam begini saja masih angat fashionable!" lanjutnya bergumam memuji penampilan Lady, kemudian melihat dirinya yang masih memakai baju yang ia pakai untuk pergi ke New York.
Arsen mendengar setiap kata dari bibir Cla sembari menghela nafas panjang dan kasar. Ia sangat paham jika Cla tengah menahan rasa cemburu.
"Yang terpenting di mata ku, kamu adalah segalanya..." sahut Arsen lirih dengan mendekatkan wajahnya pada telinga Cla.
"Sudahlah, Sayang... jangan di lihat terus menerus..." pinta Arsen penuh harap.
"Dia sangat cantik! Bagaimana mungkin kamu bisa tidak menyukainya?" selidik Cla menggali berbagai kemungkinan.
Kembali, Arsen menghela nafas panjang. Ia tau hal ini pasti akan terjadi pada akhirnya. Tapi, mau tak mau ia harus menjawab meski sesungguhnya enggan membahas orang lain di dalam hubungan mereka setelah lama tidak bertemu.
Jemari Arsen bergerak, meraih sedikit helaian pirang rambut Cla dan melilitkan pada jemarinya.
"Karena dia bukan kamu!"
"Tch!" Cla berdecih. "Alasan klasik!"
"Kamu yang aku tunggu bertahun-tahun, bukan dia."
__ADS_1
"Tapi... bukankah setiap hari dia muncul di depan mata kamu?" tanya Cla. "Yakin tidak tertarik untuk mendekatinya?"
"Aku tidak suka gadis bule..." jawab Arsen menatap lekat sepasang mata yang sedang berusaha mengintimidasi dirinya pertanyaan-pertanyaan yang di anggap terlalu tidak penting. "Aku hanya suka kamu... cinta kamu... Dan tidak butuh yang lain lagi!"
"Apa buktinya?" kejar sang gadis.
"Buktinya aku men-jomblo sampai sedemikian lama, meski gadis itu hampir setiap hari muncul di depanku!" jawab Arsen yakin. "Itu karena hanya kamu yang aku tunggu. Terlalu sulit untuk menggantikan posisi kamu dengan gadis manapun di hatiku!"
"Please, Baby! Percaya padaku..." gumam Arsen membelai rambut pirang nan harum.
DEG!
Kali ini kalimat sang kekasih berhasil membuat jantung Cla sedikit berdebar. Kalimat Arsen menyentuh sedemikian dalam pada relung hati terdalamnya. Hanya saja ia masih malu-malu menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya.
"Awas kalau kamu macam-macam dengan dia!" ujar Cla dengan bibir yang cemberut.
"Never, Baby..." jawab Arsen lirih sembari mencium singkat bibir Clarice, dengan di sertai sebuah tatapan lembut penuh rasa ingin.
"I love you... only you..." bisik sang pemuda meraih rahang kiri Cla supaya tetap menghadap dirinya, dan kembali ia daratkan kecupan lembut pada bibir tipis berbalut lipstick orange tipis.
Tidak hanya sekali, Arsen mengulang sampai tiga kali, dan di akhiri dengan sebuah ciuman yang lebih dalam dan saling balas. Tanpa peduli dengan tatapan orang lain yang mungkin melihat aksi keduanya. Toh New York tidak ada aturan untuk berciuman di ruangan pribadi.
Dialah lady Charlotte!
Laki-laki yang mengobrol dengannya tadi adalah Marvin yang baru saja kembali entah dari mana. Dan ketika lelaki itu pergi, Lady menoleh ke arah Cafe, karena tujuannya turun adalah untuk membeli minuman hangat di Cafe lobby.
Namun apa yang ia lihat di dalam Cafe adalah adegan yang sangat mengejutkan pandangan matanya. Bahkan menghentak hatinya yang selalu saja terasa kosong.
Arsen, pemuda yang sudah ia sukai sejak tiga tahun lalu tengah bercumbu dengan seorang gadis berambut pirang yang duduk membelakangi dirinya.
Jantung yang semula baik-baik saja sontak berdetak lebih kencang. Aliran darah di dalam tubuhnya bergerak sedemikian cepat, hingga hawa tubuhnya berubah menjadi lebih panas dari sebelumnya.
Jika sebelumnya ia membutuhkan minuman hangat untuk menghalau hawa dingin kota New York yang merasuki kulit putihnya. Mungkin sekarang ia justru butuh minuman dingin untuk menormalkan kembali hawa tubuhnya yang naik bersamaan dengan rasa cemburu.
' Apa dia kekasihmu yang ada di foto profil mu, Sen? '
Batin sang gadis pirang dengan tatapan nanar ketika melihat Arsen kembali mencium bibir gadis itu. Apalagi jelas terlihat ciuman itu lebih intim dari sebelum-sebelumnya.
' Secantik apa dia sesungguhnya, Sen? '
__ADS_1
' Kenapa kamu terlihat begitu memujanya? '
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak gadis pirang yang cantik nan anggun. Yang mana gadis itu juga tengah menggeluti dunia modeling sejak usia muda.
' Bagaimana dengan aku? '
' Aku sudah lama menunggumu membuka hati untuk ku, Sen... '
' Kenapa dia bisa ada di sini, Sen... '
Lirih pilu sang gadis di dalam hati.
Sementara itu, Arsen dengan sengaja melakukan semua itu, karena ia tau, jika Lady yang berdiri di tengah lobby pasti akan menoleh ke arah Cafe setelah Marvin melangkah pergi.
Arsen sungguh tak peduli jika nantinya Lady akan kecewa. Justru itu lebih baik, pikir sang pemuda. Ia sudah lelah di kejar terus-menerus. Apalagi gadis itu yang selalu membuat sang kekasih marah tidak jelas akibat satu kata, cemburu.
***
Arsen mengakhiri ciuman itu dengan sangat lembut tanpa membuat sang gadis mengaduh karena suatu gigitan-gigitan kecil.
Mata langsung melihat ke arah tengah lobby setelah mendaratkan kecupan di kening Cla, dan gadis pirang itu ternyata masih berdiri di sana, menatap dirinya dengan nanar dan penuh rasa kecewa.
' I'm sorry, Lady... '
Gumam sang pemuda di dalam hati. Bagaimanapun, ia memang pernah dekat dengan gadis itu pada suatu masa. Saat awal-awal kehadirannya di New York. Gadis itu pula yang membantunya melupakan patah hatinya karena mengira Cla dan Vino berpacaran.
Tapi sejak awal memang semua hanya ia niati untuk murni hubungan pertemanan dekat, bukan untuk suatu kisah cinta.
Hanya saja tidak ada yang menyangka jika Lady akhirnya akan benar jatuh hati padanya.
Jika di rasa, memang tak akan mudah bagi seorang gadis untuk melawan rasa kagum pada sosok tampan, gagah dan berpendidikan seperti Arsenio Wilson. Belum lagi nama belakangnya yang sudah sangat di kenal sebagai gudang uang.
Di mana perasaan kagum itu bisa dengan mudah berubah menjadi perasaan cinta yang mendalam. Dan itulah yang di rasakan oleh Lady.
Tanpa berkata apapun ketika tatap mereka bertemu dalam satu garis lurus, Lady memalingkan pandang, kemudian membalikkan badan dan meninggalkan lobby untuk kembali ke kamarnya tanpa membawa minuman apapun.
Rencana turun untuk membeli minuman di Cafe, justru berakhir membawa kecewa yang teramat dalam ke dalam apartemennya.
Lantas seperti apa reaksi Cla jika ia tau, bahwa suatu masa Arsen dan Lady memang pernah berteman dekat? Tidak berjauhan seperti sekarang.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...