
Arsen membuka pintu penumpang bagian depan mobilnya untuk Cla, dan saat itulah Cla di buat mengerutkan keningnya ketika melihat satu bucket mawar merah terbaring di atas jok mobil.
"Bunga siapa?" tanya Cla penasaran.
Meskipun ia bertanya, tapi dalam hati ia berangan jika itu pasti untuknya.
Ketika itu Arsen baru ingat, jika ia membawa satu buket bunga untuk Cla. Arsen mengambil bunga itu dan menyodorkan pada gadis yang sudah berhasil ia dapatkan meski tanpa buket bunga itu.
"Jika saja aku tidak melihat Victor mendatangi mu di mobil tadi, aku pasti sudah memberikan bunga ini untuk kamu..." ucap Arsen menceritakan jalan cerita yang tidak sesuai harapannya. "Terimalah..."
Cla semakin tersipu dengan apa saja yang ia dapatkan hari ini. Kejutan demi kejutan yang belum pernah ia dapatkan, di berikan oleh Arsen.
Dengan tangan bergerak pelan, Cla meraih bunga itu dengan senyuman mengembang. Ia arahkan ke hidung dan hirup harum mawar asli yang merekah dengan sangat indah.
"Harum..." lirihnya.
Bukan kali pertama ia mendapatkan bunga semacam ini. Tapi entah, kali ini rasanya sungguh sangat berbeda. Terasa sangat spesial hingga menembus ruang di bagian hati yang terdalam.
"Jadi pulang atau tidak?" tanya Arsen ketika Cla tak kunjung masuk ke dalam mobil, dan justru menikmati harum bunga pemberiannya tanpa henti. Meski ia tau, jika Cla tengah sangat senang dengan buket bunga pemberian darinya.
"Iya!" jawab Cla langsung masuk dan duduk di jok penumpang bagian depan.
Arsen menutup pelan pintu mobilnya, dan memutari bagian depan untuk masuk ke pintu bagian kemudi.
Ketika Arsen menutup pintu, Cla seketika teringat momen di mana untuk pertama dan terakhir kalinya ia menaiki mobil ini. Yaitu ketika mereka pergi ke Dufan bersama saat masih kelas XII. Dan ia duduk di jok belakang, karena di depan ada Shandy.
Adik kelas yang pernah dekat dengan Arsen saat masih di Senior High School.
Dan kala itu membuat Cla merasa canggung, karena serasa menjadi obat nyamuk dalam hubungan orang lain. Apalagi di dalam mobil yang sempit, di mana tidak ada ruangan lain untuk ia bisa lepas dari situasi itu.
Namun kini... Dirinyalah yang duduk di kursi ini, dirinyalah yang di akui oleh Arsen sebagai kekasih. Bukan gadis yang lain.
Meskipun terkesan lambat dan terllau jauh dari waktu itu, tetap saja semua ini terasa begitu indah dan ajaib.
Biarlah momen yang buruk itu menjadi kenangan ketika momen indah dan sempurna sudah ada di dalam genggaman sang gadis.
Arsen masuk ke dalam mobil, sebelum ia memakai seat belt miliknya, ia menoleh pada Cla yang terlihat hanya tersenyum menatap bunga pemberiannya.
__ADS_1
Arsen bergerak, menggerakkan tubuhnya mendekat pada sang gadis jelita. Dan apa yang di lakukan Arsen tentu terbaca oleh Clarice. Reflek sang gadis menoleh ke sisi kanan, di mana tubuh Arsen mengarah pada tubuhnya, bahkan jarak wajah mereka semakin terkikis.
Jantung yang sejak tadi siang di pompa kini kembali di pompa lebih kencang. Di mana wajah Arsen kini hanya berjarak 15 cm saja dari wajahnya.
' Apa yang akan dia lakukan? '
Batin sang gadis dengan nafas yang terasa semakin sulit untuk keluar masuk paru-paru. Bahkan sepasang mata tak bisa berkedip dengan normal.
gerakan Arsen yang seolah ingin mencium Cla itu benar-benar membuat sang gadis hampir kehabisan nafas. Dari jarak 15 cm kini hanya 10 cm saja. Dan ketika jarak itu semakin dekat, mata Arsen bergerak menatap Clarice.
Dua pasang mata kembai beradu dalam jarak yang sangat dekat. Jantung sang gadis sudah ingin melompat saja.
Bukan hanya Cla, Arsen sendiri merasakan debaran yang luar biasa. Hanya saja lagi-lagi ia pandai menyembunyikan semuanya.
"Pakai seat belt dengan benar..." bisik Arsen sembari menarik seat belt dari sisi kiri Clan, dan menancapkan pada pengait yang ada di sisi kanan sang gadis.
Clarice tergelak tanpa suara begitu melihat tangan Arsen menyatukan dua anak kunci yang akan mengamankan perjalanan mereka.
Sungguh kepalanya sudah terlalu besar dengan mengira Arsen akan menciumnya. Karena nyatanya Arsen hanya ingin memakaikan seat belt yang ia lupakan arena terlalu terpesona dengan buket bunga di pangkuan.
"Sebegitu terpesonanya dengan bunga dari ku... sampai melupakan seat belt!" sindir Arsen yang kini memiringkan tubuh dan menghadapkannya pada Cla.
"Kenapa?" tanya Arsen.
Namun sang gadis hanya menggelengkan kepalanya saja. Tanpa bisa menjawab jika ia sudah salah menduga. Cla memalingkan wajah ke kiri, menatap luar jendela di mana ada barisan mobil yang terparkir.
"Cla?" panggil Arsen lirih.
"Hem?" jawab Cla menoleh ke kanan, dan saat itulah tanpa sengaja bibirnya mencium pipi Arsen yang memeng sengaja di dekatkan setelah memanggil nama sang kekasih.
Setelah kecupan tanpa diniati Cla terjadi, sebuah senyuman tipis terbit dari bibir sang pemuda yang tak merasa bersalah dengan apa yang di lakukan.
Sedang Clarice sendiri shock setengah mati begitu menyadari apa yang baru saja terjadi. Hingga ia reflek menyentuh bibirnya yang baru saja mencium pipi Arsen tanpa sengaja.
Sadar Clarice salah tingkah, Arsen semakin menggoda dengan menarik tangan Cla menjauh dari bibirnya sendiri.
Tanpa permisi, tanpa aba-aba tanpa satu katapun Arsen menyentuhkan bibirnya pada bibir Cla. Sebuah kecupan mendarat singkat di bibir ranum yang belum pernah di sentuh oleh siapapun.
__ADS_1
"Kamu juga boleh melakukan hal ini padaku!" ujar Arsen dengan melebarkan senyuman dengan di sertai tatapan mata yang hangat dan memabukkan.
Cla masih membeku dengan hal-hal baru yang di alami olehnya, sedang Arsen langsung kembali memperbaiki posisi duduk nya. Memasang seat belt tanpa melihat pada wajah merona yang masih tertegun dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Arsen dapat menduga, jika Clarice tengah tertegun dengan ulahnya. Tapi semua itu di anggap wajar di lakukan oleh sepasang kekasih, bukan?
Maka Arsen masih mengulum senyum bahagia karena berhasil mencium bibir yang sudah sejak tadi ingin ia rasakan itu. Walau sekedar kecupan semata. Tangan dan kaki nya mulai bergerak untuk melajukan mobil meninggalkan area parkir.
Sementara Cla masih speechless dengan apa yang terjadi. Hingga ia hanya bisa melirik kanan kiri, lalu kemudian tersenyum samar.
Dan setelah kesadarannya kembali, dan rasa malu mulai berkurang, ia menoleh pada Arsen di sisi kanannya. Menatap wajah tampan itu dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang, bahagia, tak percaya juga rasa jengkel karena seharian ini Arsen sudah berbuat yang di anggap Cla terlalu jauh.
"Kamu... berani sekali..." gerutu Cla, ingin protes tapi takut sang lelaki kecewa padanya. Mengingat ia bahkan sudah terbiasa melihat Gwen dan Naufal melakukan hal itu.
Arsen menoleh ke kanan, menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat lebih dewasa di banding terakhir mereka bertemu.
"Aku tidak punya banyak waktu di sini, Baby... Lusa aku sudah harus kembali kek New York." jawabnya kemudian kembali menatap pada jalanan di depan sana. Yang mana jalanan mulai cukup padat oleh orang-orang yang beraktivitas di luar rumah.
"Kalau tidak sekarang aku mencium mu, kapan lagi?" tanya Arsen.
"Apa hubungannya?" tanya Cla bingung.
"Setidaknya aku harus memberi penegasan, bahwa tidak ada lagi yang boleh mencium mu selain aku!" jawab Arsen. "Apalagi si Victor yang sok keren itu! Idola kampus katanya?" tanya Arsen. "Cih! Dia tidak akan laku di Columbia!" ejek Arsen.
Meski sesungguhnya ia ragu dengan kalimatnya sendiri. Tapi bagaimanapun ia harus tetap terlihat keren di hadapan sang kekasih, bukan?
"Memangnya siapa yang berani mencium ku?" tanya Cla. "Selama ini tidak ada yang melakukan hal itu padaku..."
Arsen tergelak, tidak menyangka pemikiran Cla masih sepolos ini. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Ingin heran, tapi hal inilah yang memang ia cari. Memiliki kekasih yang masih polos, di mana dirinya akan selalu menjadi yang pertama dalam hal apapun.
"Kalau aku sudah mencium mu, kamu tidak akan mengkhianati ku dan meninggalkan aku!" ucap Arsen kemudian. "Bahkan jika boleh.. Bukan hanya mencium mu saja sebagai jaminan kamu tidak akan meninggalkan aku!"
"Lalu?" tanya Cla bingung.
Arsen tergelak lirih. Bagaimanapun sang pemuda masih waras dan masih punya otak dalam menjawab pertanyaan yang bersifat sensitif. Akhirnya ia hanya menggelengkan kepala saja sebagai jawaban.
"Aku tidak akan mengkhianati kamu, walau kamu lama di New York..." ucap Cla bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Arsen kembali tersenyum. "Aku tau..." jawabnya sembari menoleh ke kiri, menatap penuh cinta pada Clarice yang masih terlihat begitu lugu dalam urusan percintaan anak muda. "Dan aku percaya..."
...🪴 Bersambung ... 🪴...