Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 48 ( Calon Menantu Ku! )


__ADS_3

Cla berdiri di depan pintu kediaman Jonathan Wilson setelah mendapat izin dari Security untuk masuk. Dan kini ia menunggu sampai ada yang membuka pintu untuknya.


Jantung sang gadis sudah berdebar sejak ia melajukan mobilnya di tengah jalanan yang masih cukup sepi. untuk pertama kali ia akan mendatangi rumah laki-laki yang di sebutnya sebagai kekasih atau pacar. Berbagai pemikiran menguasai isi daripada kepalanya.


Bagaimana jika nanti ia akan bertemu dengan Ayah Arsen? Ia sangat jarang bertemu dengan pria yang berusia sedikit lebih tua dari sang Daddy itu.


Dan kini bertemu untuk di kenalkan sebagai kekasih Arsen. Setidaknya begitulah yang Arsen ucapkan untuk rencana hari ini. Mengenalkan Cla sebagai kekasihnya.


Jika bertemu dengan Aunty Rania, Cla mungkin tidak perlu gugup. Karena keduanya masih sering bertemu ketika Mommy dan Aunty Rania berada dalam suatu acara di rumah, maupun di luar rumah.


Tapi nyatanya ...


"Aku bahkan sangat gugup jika harus bertemu dengan Aunty Rania..." gumamnya ketika ia memasuki komplek perumahan elit, Paragon House and Residence.


Clek...


Suara kunci terbuka, terdengar oleh Cla. Dan itu membuat kegugupan meningkat dua kali lipat. Bagaimana tidak, ia tidak sabar ingin tau, siapa yang akan muncul dari balik pintu.


Cla menahan nafasnya untuk sesaat. Sampai...


"Cla?" sapa seorang wanita yang sudah cukup mengenal sang gadis.


"Selamat pagi, Aunty!" sapa Cla mengeluarkan nafas yang sempat ia tahan, dan langsung memberikan senyum cerahnya.


Untuk pertama kali ia kembali bertemu dengan Mama Rania sebagai kekasih Arsen, yang tak lain adalah anak kedua dari wanita tersebut.


"Pagi juga, Cla..." jawab Mama Rania dengan senyuman mengembang penuh arti. "Ayo masuk!" ajak Mama Rania menarik lembut pundak Cla dan mengarahkan sang gadis untuk masuk ke dalam rumah mewahnya.


"Ya, Aunty..." jawab Cla melangkahkan kakinya memasuki rumah yang terakhir ia masuki ketika mengantar sang Ibu untuk acara arisan di rumah ini.


"Arsen belum selesai bersiap," ucap Mama Rania. "Semalam sepertinya ada yang harus di kerjakan, sampai tertidur terlalu larut."


"Mengerjakan apa, Aunty?" tanya Cla menoleh Mama Rania. "Seingat Cla, semalam Arsen bilang akan tidur sebelum jam 11."


"Entahlah... Aunty juga tidak tau. Semalam jam 12 malam ketika Aunty masuk ke kamarnya, ternyata dia masih di depan laptop yang masih menyala." jelas Mama Rania. "Duduk, Sayang..."


"Terima kasih, Aunty.." jawab Cla tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Meski ia terlihat menyahut dan bergerak dengan baik, nyatanya ada urat syaraf yang terasa begitu kaku. Menandakan ada kegugupan yang masih di rasakan oleh sang gadis.


Mama Rania menempatkan diri untuk duduk di sisi kiri sang gadis jelita. Dengan senyum ramah, Mama Rania menoleh dan menatap Cla dengan tatapan yang teduh. Ada yang ingin di katakan, tapi masih tertahan di dalam tenggorokan sang mantan model catwalk itu.


Tentu saja tatapan itu membuat Cla terlihat lebih gugup dari sebelumnya.


"Arsen sudah bercerita tentang kamu pada Aunty dan Uncle Nathan semalam..." ucap Mama Rania tiba-tiba.


Dan itu membuat Cla menahan nafasnya, hingga aliran darah seolah berhenti mengalir ketika menanti kalimat selanjutnya yang akan di sampaikan oleh wanita yang sudah melahirkan sang kekasih itu.


Senyum kaku tergambar dari wajah cantik jelita. "Apa yang di ceritakan, Aunty?" tanyanya dengan berusaha setengah mati untuk menahan diri, supaya tetap terlihat santai dan tidak gugup.


Tersenyum penuh makna, "Dia bilang... kalian pacaran..." ucap sang Ibu dua anak itu.


Wajah cantik bersemu merah tergambar dari gadis yang baru kali ini di sebut sebagai pacar oleh seorang laki-laki. Tanpa di sadari, jantungnya berdebar kian hebat. Beruntung, kakinya tidak bergerak naik turun dengan cepat.


"Itu benar?" tanya Mama Rania dengan penuh harap jawaban Cla sesuai dengan yang di ceritakan oleh putranya.


Mengangguk pelan tanpa melihat Mama Rania. "Benar, Aunty..." jawab Cla menoleh Mama Rania sekilas.


Cla salah tingkah di peluk sedemikian erat oleh Mama Rania. Selama ini ia memang sering di peluk oleh wanita yang masih terlihat sangat cantik dan centil di usia yang sudah tidak lagi muda itu. Hanya saja untuk pelukan ringan yang di sertai cipika cipiki.


"Aunty tidak keberatan?" tanya Cla setalah beberapa saat ia di peluk oleh Mama Rania.


Mama Rania kembali dengan posisi semula, menatap Cla dengan mata berbinar dan bahkan bibir yang masih tersenyum.


"Mana mungkin Aunty Rania keberatan, anak cantik!" jawab Mama Rania dengan tangan yang masih bertengger di pundak Clarice. "Justru Aunty sangat senang karena kekasih Arsen adalah kamu!" ujar Mama Rania beralih menangkup wajah cantik Cal dengan gemas.


"Sejak dulu Aunty berharap kamulah yang akan menjadi kekasih Arsen," ucapnya. "Selain karena kamu anak sahabat Aunty, juga karena Aunty tau, bagaimana Daddy dan Mommy kamu menjaga kamu... Membuat dirimu berada di bawah aturan yang bahkan tidak pernah Aunty terapkan untuk anak-anak Aunty! Termasuk Aunty sendiri tidak pernah mendapat atUran-aturan yang Aunty rasa sangat sulit untuk di lakukan." lanjut Mama Rania terkikik.


"Dan itu membuat kamu terlihat sangat mahal untuk bisa di dapatkan, Sayang! Makanya kalau Arsen yang mendapatkan kau, tentulah halangan, rintangan atau badai sekalipun, biar Aunty yang melawan!" ujar Mama Rania dengan tawa sumringahnya.


Cla tersenyum manis nan ramah. "Tapi bagi Cla itu bukan aturan yang berat..." jawab Cla. "Karena sekarang Cla paham, kenapa lebih baik menghindari pacaran di usia muda daripada menyesal di kemudian hari..."


"Hmmm..." Mama Rania mengangguk dengan senyum senang yang tak lepas sedikitpun. "Dan Aunty bersyukur, karena selama di New York Arsen tak pernah sekalipun mengenalkan seorang gadis. Dan lagi, teman-temannya bilang Arsen tidak tertarik dengan gadis-gadis di sana!"


Cla tertegun untuk kalimat ini, berpikir jika apa yang di ucapkan sang kekasih itu benar dan pasti bisa di pegang. Dan janji itu tidak akan pernah di ingkari apapun alasannya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" suara yang sangat di kenali oleh dua perempuan itu tiba-tiba terdengar dari arah dalam rumah. "Sepertinya seru sekali..." ujar Arsen menyandarkan lengannya santai pada dinding dan menatap dua wanita yang paling ia cintai di muka Bumi ini.


"Eh! Anak Mama sudah turun!" ujar Mama Rania seketika berdiri dari duduknya dan menghampiri putra kesayangannya.


"Apa yang Mama bicarakan pada pacar ku?" tanya Arsen pada Mama Rania yang berjalan dengan senyuman untuk menghampirinya.


Sementara Cla semakin malu dan salah tingkah dengan wajah memerah akibat sebutan yang si sematkan sang kekasih untuknya di hadapan Mama Rania.


"Mama hanya tanya... kenapa Clarice yang cantik jelita seperti itu mau sama anak Mama yang sangat jail dan pecicilan ini?" jawabnya. "Apa tidak takut di jahili sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak!" lanjut sang Mama sengaja menggoda putranya yang memang terkenal jail.


"Mama ku yang cantik.... anakmu ini juga tampan! Mana mungkin ada gadis yang menolak untuk jadi pacar ku!" ucap Arsen bernada congkak. Meski itu hanya candaan.


"Ya..ya..ya... Mama tau!" jawab Mama Rania. "Tapi tidak semua gadis bisa mengambil hati Mama kamu yang cantik ini, you know?" lanjut Mama Rania yang sudah terbiasa dengan berbagai candaan sang putra.


"I know... Madam!" jawab Arsen menoleh sang Ibu yang bediri di sampingnya.


"Baiklah, sekarang cepat berangkat!" ucap Mama Rania. "Jangan lupa ajak Cla sarapan bersama! Mama yakin dia belum sarapan. Mama tidak mau calon menantu Mama kelaparan walau satu menit!" ucap Mama Rania pada sang putra.


"Yes, Mommy..." jawab Arsen membuang pandangan dari senyum sang Ibu dimana hanya dia yang bisa mengartikan senyuman menggoda itu.


"Good!" ucap Mama Rania memukul pelan lengan sang putra. "Bye, Cla... Nanti pulangnya hati-hati ya..."


"Iya, Aunty..." jawab Cla mengangguk


Setelah itu Mama Rania membalikkan badan dan tersenyum penuh arti pada sang putra.


"Anak pintar..." gumam Mama Rania lirih saking senangnya bertemu dengan kekasih putranya yang ternyata anak sahabatnya sendiri.


"Kita akan berbesan, Jeng Calina..." serunya sembari berjalan memasuki bagian lebih dalam rumah mewahnya.


Dan apa yang di ucapkan Mama Rania itu tentu terdengar oleh Arsen dan Cla yang langsung beradu pandang dan terdiam untuk beberapa detik.


Hingga akhirnya keduanya saling tergelak kikuk dengan membuang pandangan masing-masing.


Dan Arsen pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan posisi yang masih bersandar pada dinding.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2