Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 23 ( Rival! )


__ADS_3

Cla berjalan dengan memasang raut wajah yang sulit untuk di artikan di artikan oleh Naufal dan Victor. Namun bagi Gwen, apapun ekspresi Cal saat ini, pasti ada satu kebahagiaan yang sedang tersimpan di dalam hati sang gadis.


Dan ketika ia muncul dan berhenti di pojok ruangan untuk menunggu Arsen yang sengaja berjalan lambat, membuat Naufal dan Victor semakin bertanya-tanya.


"Tidak mungkin dia kerasukan jin, kan?" gumam Naufal setela memanggil nama Cla, dan sang sahabat hanya diam membisu. Hanya senyum tipis yang nyaris tak terlihat saja yang terbit.


Namun ketika sosok lain muncul dengan aura dingin, berjalan dari arah belakang Cla dengan memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, saat itulah Naufal di buat mengumpat selayaknya ia ketika mengumpat di Inggris sana.


"Sh***ttt!!" umpat Naufal begitu sorot matanya bertemu dengan sorot mata sahabat yang ingin sekali ia cekik sejak pemuda itu menghilang bak di telan Bumi.


Sementara Gwen tersenyum senang sampai meletakkan kedua tangannya untuk menangkup wajahnya sendiri, ketika melihat Cla dan Arsen yang berdiri bagai Raja dan Ratu. Sangat serasi dan sangat pantas untuk bersanding sebagai kekasih.


"Manisnya...." gumam Gwen gemas melihat Cla yang terlihat salah tingkah.


Di antara ungkapan Naufal dan Gwen, ada Arsen yang sontak menoleh ke arah Victor. Tatapan yang dingin dan menusuk sampai ke ulu hati. Membuat sang Kakak tingkat Cla itu sampai memicingkan matanya, karena tidak akan mau kalah begitu saja.


Dan itu membuat ruangan VIP kini menjadi sunyi, dan nyaris beku. Padahal ada dua sorot tatapan yang memancar bagai api membara yang saling menyemburkan hawa panas untuk satu sama lain.


"Duduk! Duduk! Duduk!" Gwen dan Naufal berucap bersamaan.


Paham, jika ada sesuatu yang harus segera di luruskan antara dua laki-laki yang sedang saling tatap tanpa satu kata pun.


Gwen beranjak dan menarik satu kursi untuk di letakkan di meja bagian samping. Entah siapa yang akan duduk di sana.


Yang jelas meja yang semula di huni oleh 4 orang, kini harus di huni menjadi 5 orang. Tentu  hal itu akan membuat salah satu harus duduk di bagian sisi meja sendirian, seolah tengah menjadi ketua dalam suatu perkumpulan diskusi.


Cla mengangguk pada Arsen, seolah memberi kode untuk ikut bergabung bersamanya dan yang lain.


Meski sesungguhnya Arsen enggan karena ada Victor di antara mereka, namun akhirnya Arsen mengiyakan ajakan gadis yang mulai hari itu akan di sebutnya sebagi kekasih.


Sekaligus menjadikan momen ini menjadi momen pertemuan pertamanya dan terakhir dengan laki-laki yang sedikit banyak harus ia beri kode jika dirinya adalah kekasih Cla.


Arsen menarik mundur sedikit kursi yang di ambil oleh Gwen, dan memberi arahan pada Cla agar sang gadis yang duduk di sana. Sedang ia langsung duduk di sampirng Victor.


Tak mungkin kan, Ia membiarkan Cla untuk duduk di samping Victor seperti dirinya saat ini setelah obrolan panjang yang berakhir dengan satu keputusan yang mengubah segalanya?


Dengan sangat kaku dan terkesan malas, Arsen menoleh ke sisi kiri, dimana lelaki yang tengah berjuang untuk mendekati Cla duduk dengan tatapan yang penuh tanda tanya padanya.


"Arsen!" tanpa di minta, tanpa di perkenalkan, Arsen langsung mengulurkan tangannya pada Victor.


Victor melihat Arsen dan Cla secara bergantian, kemudian melirik ke bawah di mana tangan Arsen di sana meminta untuk di sambut.


"Victor!" jawab Victor setengah dingin menyambut uluran tangan Arsen.

__ADS_1


Sebagai pemilik Cafe sekaligus yang mengundang Cla dan Gwen, tentu Victor tidak suka jika tiba-tiba kursi yang di sediakan untuk Cla, justru di duduki oleh laki-laki lain secara sengaja tanpa permisi terlebih dahulu pada dirinya.


"Hm!" jawab Arsen menarik tangannya dari genggaman tangan dingin Victor.


"Kapan datang?" tanya Naufal setengah mengintimidasi. Menunjukkan pada sang sahabat jika ia masih sedikit jengkel dengan sang pembalap.


"Kemarin..." jawab Arsen melirik sinis pada Naufal.


Melihat sorot mata Arsen, Naufal langsung tergelak kecil. "Okay! Aku akui kamu selalu menepati janji!"


Arsen memiringkan bibirnya, malas sekali berada di situasi seperti ini. Sejak tadi ekor matanya selalu melirik pada Victor yang terus saja mencoba untuk mencuri pandang pada Cla.


"Em...Bang?" panggil Arsen pada Victor.


"Hah?" sahut Victor mengerutkan keningnya. "Bang?" ulang Victor tidak menyangka akan di panggil Bang oleh Arsen.


"Bisa geser sedikit?" tanya Arsen.


"Hah? Kenapa?" tanya Victor bingung.


"Supaya Clarice bisa duduk satu baris dengan kita. Kasian sekali bukan? Dia duduk tanpa teman..." lanjut sang pembalap menoleh Cla dengan menatapnya penuh arti.


"Oh!"


Dengan terpaksa Mahasiswa pascasarjana itu menggeser kursinya untuk berbagi tempat atas permintaan Arsen. Selain itu ia juga tidak ingin ribut dengan lelaki yang di anggap sebagai sahabat Cla, di depan Cla.


Arsen menggeser kursinya hingga nyaris menempel pada kursi Victor. Kemudian ia berdiri dan meminta Cal untuk berdiri. Dengan cepat ia memindah kursi Cla ke sampingnya. Sehingga kini posisi duduk mereka berjajar tiga, dengan posisi Arsen berada di tengah.


Naufal dan Gwen saling lirik satu sama lain. Mencoba menelaah apa tujuan dari sang pemuda itu. Namun keduanya hanya berakhir dengan saling mengangkat pundak masing-masing.


' Dengan begini kamu tidak bisa melihat wajah Clarice... Bermain-main terlebih dahulu sepetinya sangat menyenangkan, bukan? Kau salah memilih rival, Boy! '


Kekeh Arsen di dalam hati.


"Em... sebaiknya kita lanjut makan kalau memang ingin menghabiskan hidangan dari Kak Victor ini." sela Gwen. "Sebentar lagi film nya akan di mulai! Kita belum beli tiket!" lanjutnya mencoba menyiram bara api di antara dua lelaki di hadapannya itu.


"Hm!" jawab Arsen. "Thank you!" lanjutnya sembari mengambil chicken fingers yang sebelumnya adalah pesanan Cla. Menyantapnya tanpa sungkan pada Victor.


Bahkan dengan sangat sengaja ia menyuapkan satu batang untuk Cla. Dan Cla menurut saja meski sedikit ragu dan malu-malu kucing.


***


"Kak Victor... benar-benar tidak jadi gabung dengan kita nonton bioskop?" tanya Cla ketika semua sudah selesai bersantai di Cafe milik Victor.

__ADS_1


"Tidak, Cla." jawab Victor tersenyum ramah. "Sepertinya Cafe sedang ramai. Sedikit banyak aku harus membantu temanku." jawab Victor terpaksa.


Padahal dalam hati sang pemuda ingin sekali bergabung dan duduk berdampingan dengan Cla di bioskop. Tapi sejak kemunculan Arsen sekitar satu jam yang lalu, semua keinginan itu menguar begitu saja.


Terlihat jelas bagaimana Arsen menunjukkan sikapnya yang tidak suka pada dirinya. Selain itu, Arsen terlihat sangat mendominasi Cla dari segi apapun.


Bahkan tak membiarkan Cla untuk sekedar berbincang dengannya, apalagi jika sampai terjadi obrolan yang membuat keduanya saling bertatapan. Maka Arsen akan langsung memutus pandangan keduanya, apapun caranya.


Tanpa di ketahui sang idola kampus, jika Arsen dan Clarice memang sudah resmi dan sepakat untuk jalan bersama. Untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar sahabat.


"Baguslah!" sahut Arsen sembari melempar pandangan ke arah lain. Seolah bersyukur atas keputusan Victor.


"Arsen!" pekik Cla memukul pelan lengan mantan sahabatnya itu.


"Sudahlah, Sayaang... kita pergi sekarang saja! Keburu tiket yang kamu inginkan habis!" ujar Arsen yang merasa sudah muak melihat rival yang mungkin hampir saja akan mendapatkan Cla jika ia tak kunjung datang.


"Sayang?" tanya Victor sedikit bergumam.


"Ya! Kenapa?" sahut Arsen cepat. "Aku sudah biasa memanggil Cla dengan sebutan sayang sejak kami pertama berkenalan. Jadi... Abang tidak perlu shock seperti itu..." jawab Arsen dengan entengnya setengah tersenyum culas.


"Oh..." jawab Victor dingin.


Ada sedikit rasa kecewa di dalam dada memang. Tapi menghadapi bocah yang berusia masih di bawahnya juga tidak bisa di anggap mudah. Mengingat anak muda lebih gampang tersulut emosi di banding menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


Arsen berjalan mendekati Victor, dan berdiri berdampingan dengan pemuda itu. Tinggi keduanya terlihat tak jauh berbeda. Sama-sama memiliki tinggi badan yang bagus dan ideal untuk laki-laki berusia 25 tahun ke bawah.


"Kita hanya beda 2 tahun! Aku tau apa yang ada di dalam kepalamu..." bisik Arsen dengan nada mengintimidasi.


Sontak Victor mengerutkan keningnya. Benarkah pemuda yang di anggapnya pecicilan ini tau apa yang sedang ada di dalam pikirannya?


"Aku tau, kamu selama ini mencari Cla melalui kelebihan mu sebagai seorang programmer! Kita sama, brother!" lirih Arsen lagi.


Dan itu membuat Victor semakin merasa kalah dengan Arsen. Ia sama sekali tidak menyangka sebelumnya jika Arsen satu golongan dengan dirinya dan Gwen.


"Setelah ini... kamu tidak akan bisa melakukan hal itu lagi!" ancamnya dingin.


Arsen tersenyum miring sembari menarik pelan tangan Cla untuk keluar dari area Cafe. Meninggalkan Victor dengan sebuah rasa kemenangan.


Jika Victor terdiam karena apa yang ia kerjakan secara sembunyi-sembunyi ternyata di ketahui laki-laki yang baru di kenalnya ini.


Maka ada tiga anak muda yang mengerutkan kening mereka dengan menajamkan pendengaran untuk bisa mendengar apa yang sedang di bisikkan Arsen.


Namun sayang, suara riuh Cafe membuat semua tidak bisa mendengar dengan jelas.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2