Cinta Dalam Rindu

Cinta Dalam Rindu
Ct. 26 ( Sayang...Baby...Angel...My Queen? )


__ADS_3

Satu hari sudah ke empat anak muda menghabiskan waktu bersama di Mall. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, ketika mereka semua berjalan ke arah pintu keluar menuju area parkir A2.


Lelah sudah kaki mereka berkeliling mall. Mulai dari di Cafe, bioskop, Timezone, makan malam, dan tak lupa mengantar para gadis memasuki area aksesoris yang selalu memikat mata mereka.


Berjalan berdampingan dengan posisi Gwen dan Naufal ada di depan, maka ketika keluar dari pintu, Gwen langsung menoleh ke belakang dan menodong Cla.


Membuat mereka reflek berhenti berjalan.


"Berikan kunci mobil mu!" ucapnya pada Cla. "Biar aku yang bawa, dan kamu pulanglah bersama kekasih baru mu!" ujar Gwen tersenyum penuh arti melirik Arsen yang juga seketika berhenti begitu merasa Gwen dan Naufal berhenti berjalan.


"Hah!" pekik Cla terdiam sesaat.


Seketika ia merasa ada yang membuatnya membeku bagai patung es. Yaitu sebuah pikiran yang sudah menjalar kemana-mana. Apakah ini akan menjadi momen pertama kali ia di antar pulang oleh laki-laki yang berstatus sebagai kekasih?


Selain itu, bagaimana ia harus bersikap ketika hanya berdua di dalam mobil Arsen nanti?


Sedikit banyak semua pemikiran itu bergantian muncul di kepalanya. Selain rasa tidak percaya diri, ia juga bingung bagaimana cara bersikap ketika menjadi seorang kekasih yang baik dan tidak terlihat berlebihan dalam bertingkah.


Maklum, meski usia sudah di kepala dua, ini adalah pertama kali ia menjalani suatu hubungan yang tidak pernah di ajarkan oleh orang tuanya. Dulu ia hanya di larang berpacaran.


Dan setelah lulus sekolah ia izinkan untuk berpacaran, dengan berbagai peraturan salah satunya tidak boleh berlebihan dan harus menjaga diri dengan baik supaya tidak terlihat murahan.


Itulah yang di ajarkan oleh sang Mommy Calina. Tapi ia sama sekali tidak tau cara menjaga diri supaya tidak terlihat murahan.


Sementara yang ia tau, mereka yang berpacaran di depan matanya selalu bersikap seperti itu. Bergandengan tangan, menonton bioskop dengan cara seperti yang ia lakukan tadi. Lalu kecupan di keningnya tadi?


' Apa itu juga termasuk murahan? '


' Apa kata Mommy dan Daddy nanti kalau tau Arsen dan aku menjalin hubungan...? '


' Lalu aku harus bagaimana jika nanti hanya berdua di mobil? '


Batin Cla terus bertanya, bertanya dan hanya bertanya dalam hati.


"Ayo cepat! Mana kunci mobilmu!" ucap Gwen sedikit sarkas, sehingga kesadaran sang gadis kembali penuh.


"Berikan saja. Aku akan mengantar kamu pulang, sekaligus bertemu dengan Uncle Kenzo dan Aunty Calina." sahut Arsen. "Sudah sangat lama aku tidak bertemu mereka..." lanjutnya.


"Bertemu Mommy dan Daddy?" tanya Cla dengan sepasang mata yang membulat. "Untuk apa?" tanya Cla sedikit panik.


"Memangnya kenapa?"


"Apa kamu akan mengatakan hal ini?" tanya Cla sedikit berbisik pada Arsen.


"Memangnya kenapa kalau iya?" tanya Arsen balik, dan terlihat sangat santai.

__ADS_1


"Kalau iya, ya berarti bagus lah, Cla!" sahut Naufal.


Clarice menggaruk kecil rambutnya di bagian samping yang sesungguhnya tidak gatal.


"Aku belum siap... Apa yang harus aku katakan, dan apa yang harus aku lakukan setelah mereka tau?" tanya nya bingung.


Tiga orang yang ada di sekitar Clarice tampak saling tatap satu sama lain. Sama-sama bingung, dan sama-sama tidak tau jalan pikiran Cla.


Di mana seharusnya ia bangga jika kekasihnya berani menghadap orang tua. Tidak hanya berani mengajaknya keluar diam-diam. Toh dia sudah hampir 22 tahun, usia yang legal bahkan untuk menikah.


"Hemm... Baiklah..." jawabnya kemudian sembari mengeluarkan kunci mobil miliknya dan menyerahkan pada Gwen.


"OK! Bye kalian berdua! Kamu harus bangga, karena kekasihmu berani bertemu orang tua mu di hari pertama berpacaran..." ujar Gwen sebelum membalikkan badan dan mengajak Naufal untuk lanjut berjalan, meninggalkan Cla dan Arsen masih diam di tempat.


"Jam 10 malam masih panjang! Kalian bisa jalan-jalan dulu keliling kota, okay! Bye!" seru Naufal dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Arsen dan Cla yang membeku.


Untuk sesaat, Cla dan Arsen hanya diam menatap dua punggung sahabat terdekat mereka yang mulai memasuki mobil. Naufal memasuki mobilnya sendiri, dan Gwen memasuki mobil Clarice, dan siap mengantarkan si merah menuju kediaman keluarga Kenzo Adhitama.


"Ayo..." ajak Arsen merangkul pundak Cla dan mengarahkan sang kekasih hati untuk mendekati mobilnya yang terparkir dengan sangat manis.


Sebelum membuka pintu mobil untuk Cla, Cla mengarahkan tubuh Cla untuk bersandar pada pintu penumpang bagian depan yang masih tertutup.


Membuat dua tubuh anak manusia itu saling berhadapan seperti momen saat di toilet tadi. Arsen mengunci tubuh Clarice dengan kedua telapak tangan yang bersandar pada roof mobil.


Jika tadi Arsen mengungkung Cla di tempat yang sepi, maka kini Arsen kembali mengungkung Cla di mana sesekali ada mobil yang melintas. Dan bahkan beberapa orang mendatangi mobil mereka. Dan seolah melirik aneh pada mereka.


"Sen?" panggil Cla setelah tiga menit Arsen hanya mengungkung tubuhnya dan menatap matanya dengan sangat lembut dan teduh. Tanpa satu kalimat pun yang keluar dari bibir sang lelaki. Dan itu membuatnya salah tingkah.


Sementara ia ingin segera mengakhiri momen yang membuatnya merasa malu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Hm?" jawab Arsen santai.


"Kamu tidak malu... di lihat oleh banyak orang seperti ini?" tanya Cla sedikit berbisik.


"Why?" tanya Arsen. "Aku sering melihat adegan yang lebih gila dari kita di tempat umum. Bahkan pinggir jalan sekalipun."


"Tapi itu di New York! Hal itu biasa saja. Tapi kalau di sini...." Cla menoleh sekitar dengan sangat kaku. "Mereka seolah menatap kita dan mengatai kita tidak tau malu..." lanjutnya lirih.


Arsen tergelak, "I don't care!" ujarnya santai.


"Sebenarnya... kenapa kamu begini?"


"Cla?"


"Em?" jawab Cla degan dada yang berdebar. Menunggu hal apa yang akan di sampaikan olek Arsen.

__ADS_1


"Mulai hari ini... bukankah aku berhak mengakui mu sebagai kekasih ku?"


Cla menelan ludahnya dengan sangat gugup. Hingga ia hanya bisa mengangguk pelan.


"Terlepas dari apa hubungan kita sebelum ini... bisa kah jika mulai hari ini aku memanggilmu seperti Naufal memanggil Gwen?" tanya Arsen lirih namun terdengar sangat serius.


Cla kembali menelan ludahnya dengan sangat susah. Selain apa yang di tanyakan oleh Arsen, tentu juga karena posisi mereka yang sangat berdekatan. Belum lagi perasaan berdebar karena mungkin saja candaan Arsen memanggilnya sayang akan berubah menjadi satu panggilan yang sangat serius.


Di mana hanya di sengar saja, semua orang akan tau status hubungan keduanya.


"Hem?" ulang Arsen.


Cla kembali mengangguk dengan seulas senyum yang teramat sangat gugup.


"Kamu ingin aku memanggilmu apa?"


"Ha?" Cla terkesiap dan sontak menatap sepasang mata Arsen yang tak lepas sedikitpun dari sorot mata Cla.


"Kamu ingin aku memanggil kamu apa? Sayang... Baby... Angel...Queen? My Queen...?" ulang Arsen.


Cla yang gugup semakin di buat tidak bisa bernafas. Panggilan-panggilan semacam ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Terserah kamu saja... Yang penting manis dan sopan. Tidak terkesan merendahkan aku..." jawabnya tersenyum kaku.


"Hemmm...." Arsen mengangguk paham. Ia sangat paham seperti apa seorang Brighta Clarice.


"Baby..." lirih Arsen kemudian. "Terserah kamu mau panggil apapun, aku tak masalah! Asal bukan namaku, dan bukan panggilan yang merendahkan seperti yang kamu bilang." lanjutnya tersenyum manis sangat manis.


Sampai gadis di hadapan rasanya mau pingsan saja melihat sesuatu yang mampu membuat matanya sampai tidak bisa berkedip.


"Kamu mau pulang...atau jalan-jalan?" tanya Arsen.


"Mungkin kita pulang saja. Bukankah sudah lelah seharian sudah di luar rumah?" tanya Cla.


Arsen tersenyum dengan masih menatap dalam wajah cantik di hadapan. Tangan yang bersandar pada roof tergerak, hingga membelai rambut pirang Clarice yang tergerai.


Mengusap dengan lembut, menyelipkan pada jemari dan membawa jemarinya meluncur turun ke bawah dengan lembut. Dan berakhir pada ujung rambut.


Tidak di lepaskan, melainkan ujung rambut itu ia bawa ke atas, mendekat pada hidung dan dengan lembut, ia hirup dalam keharuman yang menguar dari setiap helainya. Sementara mata masih tak lepas dari wajah cantik sang kekasih.


Sungguhlah, perlakuan kecil seperti ini benar-benar membuat hati Cla sudah berdebar kian hebat dan tak tertahan. Sungguh baik Arsen memperlakukan dirinya. Tidak ada satu hal pun yang membuat sang lelaki terlihat kasar. Dan itu ia tau sejak masih sekolah.


"Kita pulang..." ucap Arsen sembari menarik handle pintu penumpang yang berada di dekat pinggang kiri Clarice.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2